----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Siapa yang Akan Selamat?

Oleh : Riswandha Imawan

    ANDA bingung hendak memilih partai apa dalam Pemilu 1999 yang
disebut- sebut
sebagai "pemilu pencerahan" itu? Tidak usah khawatir. Anda mungkin hanya
salah
satu dari sekian juta warga negara Indonesia yang punya hak pilih, yang
bingung.
Laporan berbagai pihak dari pelosok tanah air, bahkan menyatakan, banyak
warga
negara kita yang tidak tahu, bahwa tahun ini akan diadakan pemilu lagi!

    Waktu yang kelewat sempit untuk menyiapkan dan melaksanakan Pemilu
99, serta
perkembangan sosial-politik-ekonomi yang tidak menggembirakan akhir-
akhir ini,
membuat banyak orang bertanya "apakah Pemilu 99 jadi dilaksanakan?"
Bahkan bila
dilaksanakan sekali pun, pertanyaannya lebih serius "apakah kendali
politik masih
tetap di tangan tokoh reformis, atau justru kembali ke kelompok
pendukung
status-quo?"

    Jawaban terhadap pertanyaan pertama sudah sangat jelas : pasti
dilaksanakan. Sebab
untuk melakukan perubahan terhadap jadwal pelaksanaan pemilu, harus
dilakukan
Sidang Istimewa MPR lagi, spesial untuk mengubah ketentuan yang
menyatakan
bahwa Pemilu 1999 ditetapkan pada tanggal 7 Juni 1999. Pemilu tinggal 11
minggu
dari hari ini. Mana mungkin dilakukan SI-MPR lagi? Jadi mau tidak mau
pemilu
terpaksa dilakukan.

    Bagaimana dengan perkembangan sosial-politik-ekonomi yang memburuk?
Dalam
situasi seperti yang terjadi di Timor Timur, Ambon, maupun Sambas akhir-
akhir ini,
jangankan melaksanakan pemungutan suara, berkampanye saja tidak mungkin.
Bila
situasi berkembang lebih buruk lagi, sementara hari "H" pemilu mendekat,
bukan
mustahil Pemilu 1999 dibatalkan, dan lahirlah pemerintahan junta
militer.

    Mungkin saja militer tidak berniat masuk lagi ke politik. Tapi
mereka tidak akan
tinggal diam bila melihat negara dan bangsa ini di ambang disintegrasi.
Persoalan
lain, seperti skenario perbaikan ekonomi memang akan menjadi berantakan
lagi. Tapi
kita sudah sepakat bahwa dalam kondisi apa pun, persatuan dan kesatuan
bangsa
Indonesia tidak boleh dikorbankan.

    Kalau begitu, sudah, di daerah yang proses pemilunya diperkirakan
bermasalah,
pemilu tidak usah dilaksanakan. Ini memang ideal. Namun ketentuannya
adalah,
pemilu dilakukan secara serentak pada hari yang sama di seluruh wilayah
hukum RI.
Artinya, bila ada daerah yang tidak melaksanakan pemilu, pemilunya batal
demi
hukum.

***
    BAIKLAH, pemilu terpaksa dilaksanakan. Lalu siapa di antara 48
partai yang ada
saat ini yang masih memiliki peluang untuk tetap ikut pada pemilu
berikutnya?
Setidaknya ada 5 (lima) variabel yang bisa kita jadikan patokan untuk
menilainya.

Pertama, pemimpin dan kepemimpinan. Di era reformasi saat ini, pemimpin
yang
diharapkan muncul adalah mereka yang sama sekali tidak terkena "aroma
Soeharto".
Reformasi yang identik dengan demokratisasi menghendaki pemimpin yang
berjiwa
egalitarian, yang mau duduk bersimpuh bersama rakyatnya membahas
masalah-masalah kenegaraan yang dihadapi. Bukan pemimpin yang bergaya
arogan,
yang untuk minta maaf saja harus menunggu hari raya Idul Fitri.

Pemimpin yang dikehendaki adalah yang visioner, memiliki visi jangka
panjang
sehingga mampu memainkan peran pencerahan kepada rakyatnya. Selain itu,
mengingat ancaman disintegrasi yang kita hadapi, serta kemerosotan moral
yang luar
biasa, maka pemimpin yang didambakan rakyat saat ini adalah yang jiwa
nasionalismenya kuat serta beretika. Tidak dikehendaki, misalnya,
pemimpin yang
mengaku tidak punya uang satu sen pun tetapi bisa membeli rumah di
London.

Kedua, basis massa yang jelas. Hanya partai yang memiliki akar massa
yang bisa
bertahan pada Pemilu 1999. Selain menjadi penjamin perolehan suara
minimal, basis
massa itu menjadi semacam modal bagi partai yang bersangkutan untuk
menyebarkan "dagangannya" selama masa kampanye. Otomatis sebaran
konsentrasi
massa juga sangat menentukan. Sekalipun massanya banyak tapi
terkonsentrasi di
satu tempat, sangat tidak mendukung upaya partai menambang suara pemilih

sebanyak-banyaknya.

Pemilu 99 jelas merupakan ujian bagi partai, apakah mereka benar-benar
memiliki
massa. Khusus bagi dua partai lama, Golkar dan PDI yang selama ini
menikmati
perlindungan yang diberikan oleh pemerintah melalui semacam mobilisasi
dukungan,
Pemilu 99 merupakan ajang pembuktian bahwa mereka bisa survive tanpa
perlindungan dan fasilitas apa pun.

Ketiga, basis ideologi. Partai harus memiliki ideologi, satu gambaran
lengkap dari
berbagai dimensi tentang kehidupan sosial-politik yang diidamkan.
Ideologilah yang
membedakan satu partai dengan partai lain, yang membuat pemilih yakin
partai yang
akan dipilihnya. Di sini harus dibedakan antara ideologi partai dengan
ideologi negara.

Semua partai harus tunduk pada ideologi negara ; sebab partai hanyalah
bagian (part)
dari satu bagian bangsa (nation). Ideologi partai berusaha menggambarkan
tafsiran
atas ideologi negara, tentang bentuk ideal kehidupan kemasyarakatan
menurut
pandangan mereka.

Keempat, basis material. Hanya partai yang memiliki sumber keuangan yang
cukup,
yang memadai untuk setidaknya menggerakkan roda organisasi, yang masih
akan
tetap ada setelah Pemilu 99 berakhir.

Kekhawatiran masyarakat akan politik uang (money politic) bersumber pada

kenyataan bahwa salah satu partai memiliki "dana raksasa" yang tidak
mungkin lagi
dihitung dengan kalkulator. Kekuatan raksasa ini sudah mereka tunjukkan
dengan
kampanye terselubung, bagi-bagi uang "untuk kepentingan organisasi".
Konon,
uang itu milik pribadi sang tokoh, dan bagi-bagi uang itu dinilai
sebagai zakat mal.
Waduh, kalau begitu pendapatan tokoh itu bisa sampai ratusan milyar
rupiah
sebulan !

Politik uang memang mengkhawatirkan. Apalagi dengan kondisi ekonomi yang
makin
sulit, akan banyak pemilih yang menentukan pilihan dengan pertimbangan
sesaat,
pragmatis. Ini potensial membuat masukan aspirasi masyarakat menjadi
manipulatif,
dan keluaran dari sistem itu juga manipulatif. Akibatnya, kita saksikan
sendiri, apa
pun yang dilakukan pemerintah tidak cocok dengan agenda masyarakat, yang

berujung pada runtuhnya satu pemerintahan atau satu rezim politik.

Kelima, tersedianya infrastruktur organisasi yang memadai. Tidak perlu
didebat,
hanya segelintir partai-partai reformis saja yang memiliki infrastruktur
yang mampu
mengimbangi infrastruktur partai-partai lama. Melalui jaringan
infrastruktur yang
dimiliki, ditambah kekuatan keuangan yang besar sekali, bukan mustahil
partai-partai
lama bisa mengalahkan partai-partai baru.

***
LALU, siapa yang akan tetap ada setelah Pemilu 99 berakhir? Melihat
bentang
ideologis yang tidak demikian variatif dalam masyarakat kita, serta
sedikitnya isu-isu
sosial-politik yang bisa dikelola untuk dijual dalam kampanye pemilu,
bisa dipastikan
bahwa jumlah partai yang memiliki kekuatan yang cukup untuk terlibat
membentuk
satu pemerintahan akan turun drastis dari angka 48 partai.

Bila diikuti basis pembilahan ideologi yang ada, yang jumlahnya tidak
lebih dari 4
(empat) akar pokok, dan bila diasumsikan bahwa tiap akar akan melahirkan
dua partai
yang mendapat suara paling menonjol, maka jumlah partai yang bisa
terlibat dalam
pemerintahan tidak lebih dari 8 (delapan) buah. Kalau pun derajat
militansi
digunakan, ada partai yang sangat militan, setengah militan dan moderat,
maka
jumlah partai yang survive tidak akan lebih dari 12 buah.

Berapa pun jumlah partai yang muncul, tampaknya Pemilu 1999 merupakan
ajang uji
coba terhadap kekuatan politik yang ada di Indonesia. Selain itu,
kelemahan yang
masih mencolok dalam tiga UU Politik yang menjadi landasan Pemilu 99
tampaknya
masih harus diperbaiki lagi untuk Pemilu 2004. Artinya, boleh jadi
pemilu yang
sebenarnya, yang aturannya benar-benar dipahami rakyat sehingga mereka
bisa
menikmati positive freedom, baru akan terjadi pada Pemilu 2004.

Dengan demikian dapat diramalkan, bahwa hasil Pemilu 99 adalah
terbentuknya
sistem kepartaian yang disebut Polarized Pluralism, ada beberapa partai
yang
membentuk pemerintahan dan beberapa partai yang berkoalisi untuk
membentuk
oposisi. Bagaimana pun, cerita ada partai yang demikian gagah perkasa
terhadap
partai yang lain sudah tamat. Reformasi menghendaki keseimbangan antar
kutub-kutub politik yang ada dalam sistem politik kita.

Kaki Merapi, 25 Maret 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Mar 1999 jam 07:57:12 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke