----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: teuku simarinding

Kalau negara bangkrut karena ulah Soeharto, maka banyak bank-bank yang
bangkrut karena ulah pemilik ataupun management-nya.
Dengan adanya Team Pengelola Sementara (TPS) atas nama BPPN yang
mengambil alih bank-bank yang dilikuidir kemarin ini nampak amburadulnya
management bank-bank tersebut. Dalam keadaan sekarat , mulai akhir tahun
lalu pemilik dan management bank, sudah banyak yang menyembunyikan
assets banknya. Assets tersebut sudah dilarikan sehingga BPPN tinggal
menerima pepesan kosong saja. Kasihan rakyat yang punya pemerintahan
yang  mudah dikibulin . Akhirnya uang rakyatlah yang buat nombokin. Para
pemilik Bank ini berbuat apa saja yang dia mau layaknya
Soeharto-Soeharto kecil, karena yakin mereka tidak akan diapa-apakan.
Selain itu banyak bank yang melakukan praktek diskriminasi yang
keterlaluan. Para cukong gajinya saja Rp 40 juta/bulan, pegawainya ada
yang masih terima Rp 300 ribu. Ketimpangan ini yang menyebabkan pada
hari pertama beberapa pimpinan bank disandra oleh para karyawannya
sendiri sampai tengah malam. Itu di bank swasta. Bagaimana bank
Pemerintah?
Keadaannya tidak lebih baik. Lihat saja di BankExim. Dirut lamanya SNK -
akrab dipanggil  Mr. Snake  - sudah mirip raja kecil, atau mini
Soeharto.
Kredit diprioritaskan untuk cukongnya sendiri yang yang berasal dari
Medan, kampung halamannya dan bernama A Hong. Pengusaha kacamata ini
diberi banyak sekali kredit jumlahnya sampai Rp 1 trlyun. Bunganya
kurang dari 1%, bisa sampai 0,70 % per tahun. Jangka waktu kredit bisa
20 tahun. Siapa yang tidak mau? Belakangan kredit ini dipakai untuk
membeli saham anak-anak perusahaan Dana Pensiun Exim.  Celakanya  yang
dibeli adalah anak perusahaan yang memiliki saham besar di gedung
PlazaExim yang baru dan megah disebelah Komdak itu. Jadi sekarang A Hong
adalah salah satu pemilik gedung 31 tingkat tersebut. Tega-teganya Mr.
Snake jual asset gedung yang katanya milik 3 generasi karyawan Exim
kepada cukongnya di Medan! Sudah begitu para pejabatnya, termasuk Dirut
Dana Pensiun, tidak ada yang berani melawan. Persis menteri-menteri di
zaman Soeharto yang bisanya cuman ngangguk-ngangguk saja, demi kursinya
yang empuk!
Maksiat yang sudah tersebar luas adalah permainan valas. Moertomo,
pengusaha tol asal Surabaya adalah kroni Mr. Snake yang tidak tahu
apa-apa mengenai dagang valas. Nama Moertomo dipakai Mr. Snake untuk
dagang valas dengan cara margin trading. Modal yang dipakai ya modal
Exim. Moertomo hanya dipakai namanya saja. Akibatnya semua sudah tahu
Exim rugi valas jumlahnya Rp 20 trilyun. Coba kalau untung kan masuk
kekantong mereka sendiri. Persis Dicky dari Bank Duta yang sudah
ngerasain penjara. Jumlah ini sudah ditutup Pemerintah dengan
persetujuan penambahan modal Exim sebesar Rp 20 trilyun yang ditanda
tangani Soeharto sesaat sebelum lengser. Maklum, waktu itu Mr. Snake mau
besanan sama mbak Tutut.
Posisi Dirut anak perusahaan Dana Pensiun yang lain, yang juga pemilik
gedung PlazaExim, dipercayakan kepada saudara Mr. Snake, seorang
pensiunan brigjen polisi lalu lintas, yang tidak bisa bekerja dikantor
karena biasa ngurusin traffic light saja. Sekarang, gliran diganti dia
nuntut macem-macem.
Sekarang Mr. Snake sudah lengser, tapi masih pakai rumah dinas Exim di
jalan Teuku Umar 27, belum diutik-utik oleh M. Ghalib karena duwitnya
banyak sih. Quo Vadis Pemerintah? Kalau begini terus, kepercayaan pada
Pemerintah nihil, mana ada investor masuk? Mana ekonomi bisa jalan
normal? Rakyat lagi jadi korban!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Mar 1999 jam 07:57:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke