---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Dirgahayulah . . . . Bangsa dan Tanah Airku INDONESIA Oleh: Ibrahim Isa 1 April 1999 I.) Memang hari ini bukan hari ulangtahun Proklamasi 17 Agustus 1945, maka judul diatas "Dirgahayulah . . . Bangsa dan Tanah Airku Indonesia" bukan sehubungan dengan ultah Republik Indonesia. Judul di atas tercetus sehubungan dengan rasa kepedulian yang bergejolak di rongga dada berkenaan dengan munculnya (bukan belakangan saja, tapi sudah cukup lama) pelbagai suara 'prihatin' dan memprihatinkan serta ucapan maupun tulisan yang mencerminkan kekha-watiran bahwa dalam masa-masa mendatang ini dunia akan menyaksikan 'kehancuran' suatu negara: Republik Indonesia Boleh ditambahkan bahwa suara-suara serupa juga mencerminkan harapan berbagai kalangan supaya Republik Indonesia kita ini secepat mungkin ambruk dan luluh digiling oleh kerusuhan, kekacauan dan khaos yang disebabkan oleh pertentangan etnis, agama ataupun suku. Saya ingat, beberapa tahun yang lalu, di Belanda, suatu negeri yang terk enal karena perannya sebagai penguasa kolonial di Indonesia selama ratusan tahun, telah muncul suatu tulisan atau statement yang tidak bisa dilalukan begitu saja. Karena ia tipikal mencerminkan suatu 'wishful thinking'. Namun bisa berdampak korosif. Statement itu berjudul "Indonesie bestaat niet". Artinya "Indonesia itu tidak ada". Mereka membikin suatu penemuan: ada 'kolonialisme' baru di Indonesia, yaitu 'kolonialisme Jawa'. Betul, di Belanda tidak sedikit terdapat simpati dan setiakawan berbagai lapisan masyrakat terhadap rakyat Indonesia , khususnya kaum buruh dan kaum cendiakawannya. Ingat Multatuli. Ingat Prof. Dr. Wertheim. Namun, dewasa ini, di Belanda dan mungkin di tempat lain juga, fikiran yang mengharapkan hancurnya Republik Indonesia , masih ada! Statement tsb berargumentasi bahwa Indonesia sebetulnya hanya ada di dalam khayalan sementara orang yang menamakan dirinya orang Indonesia. Mereka-mereka yang memprakarsai statement tsb maupun pendukung-pendukung nya, yang terang-terangan maupun yang terselubung menyokong dari sampingan , memperoleh inspirasi untuk statementnya itu, kemungkinan besar dari sementara kekuatan yang mendukung gerakan-gerakan yang mengatasnamakan sementara daerah di Indonesia, seperti Maluku selatan, Aceh dan Papua. Mereka itu bertujuan untuk mendirikan negara tersendiri di wilayah Indonesia . Gerakan seperti itu lebih dikenal sebagai gerakan separatis. Begitu keluar, statement itu sudah ditanggapi dan dibantah oleh para pendukung Republik Indonesia di negeri Belanda, dll. Jadi di Belanda, statement itu sudah tidak bergema lagi. Namun, keinginan dan harapan sementara fihak agar Indonesia hancur dan berantakan tetap masih ada. Nah, dengan muncul dan berlarut-larutnya pelbagai isu SARA yang direkayasa oleh kekuatan "Statusquo" belakangan ini , maka terdengar lagi suara-suara sumbang tentang nasib Indonesia di hari depan yang katanya mungkin akan sama dengan nasib Yugoslavia dan Uni Sovyet. Di bawah ini marilah kita kutip lagu kebangsaan Indonesia, untuk menyegarkan kembali semangat dan perasaan kebangsaan kita, menoleh ke belakang untuk menatap ke depan, dalam memasuki lebih lanjut pemikiran mengenai Indonesia dan haridepannya,,sbb: INDONESIA RAYA ( Lagu Kebangsaan Indonesia) Indonesia Tanah Airku Tanah Tumpah Darahku Di sanalah Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku Indonesia Kebangsaanku Bangsa dan Tanah Airku Marilah Kita Berseru Indonesia Bersatu Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku Negeriku Yang Kucinta Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya * II.) Lagu Kebangsaan Indonesia. , ciptaan seniman patriotik Wage Rudolf Supratman, seperti yang dikutip di atas, bukan begitu saja suatu lagu kebangsaan, t i t i k h a b i s. "Indonesia Raya" adalah suatu lagu kaum pejuang nasional dan patriotik yang khas, yang kemudian, ketika berdirinya Republik Indonesia disahkan menjadi Lagu Kebangsaan Republik Indonesia yang resmi, "the national anthem of the Republic of Indonesia", begitulah kata orang Inggris. Ia diciptakan di tengah-tengah perjuangan bangsa Indonesia untuk kemerdekaan, jauh sebelum lahirnya Republik Indonesia. Selama puluhan tahun Lagu Kebangsaan Indonesia Raya merupakan salah satu sumber inspirasi penting dari nasion ini dalam perjuangan panjang yang berliku-liku untuk dibangunnya suatu 'nationhood' di tengah masyarakat bangsa-bangsa terhormat di dunia ini. "Indonesia Raya" dalam arti tertentu merupakan perlambang dari suatu usaha besar rakyat yang selama ribuan tahun menghuni kepulauan Nusantara dari Sabang sampai ke Marauke. Ia merupakan perlambang dari kesatuan dan persatuan yang dibina dan ditempa, yang terpenting a.l. oleh pemuda-pemuda Indonesia yang ketika itu tergabung dalam "Jong Java", "Jong Sumatra", " Jong Ambon" , dll. Organisasi yang ketika itu masih berorientasi kedaerahan. Melalui perjuangan anti kolonialisme Belanda untuk kemerdekaan nasional, tumbuhlah suatu kesadaran yang mendalam, suatu pemahaman tentang perlu ditegakkannya dan dikonsolidasinya persatuan di kalangan seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari pelbagai suku. Bangsa Indonesia tegak dan berkembang atas dasar fundamen kokoh perjuangan senasib-sepenanggungan, satunya hasrat dan satunya cita-cita. Tanpa persatuan dan kesatuan, tanpa nation-building yang susah payah tak bisa dibayangkan kemerdekaan nasional bangsa Indonesia bisa terwudjud. Melalui daya upaya susah payah perjuangannya sendiri bangsa ini telah menegakkan, membina dan mengokohkan nasion baru yang menghuni kawasan- yang terpampang diantara dua benua :Asia dan Australia. Sungguh suatu prestasi besar dan historis yang tidak banyak duanya dalam proses terbentuknya nasion-nasion di dunia ini. Tentu hal ini tidak bisa terlepas dari peranan positif yang dimainkan oleh para "founding fathers" dari bangsa kita: Sukarno dan Hatta. Jangan salah duga, prestasi ini bukan dimaksudkan untuk ditonjol-tonjolkan, ataupun disombong-pamerkan. Bukan, ia bukanlah alasan yang dibuat-buat atau dicari-cari apalagi direkayasa untuk menepuk dada tanpa dasar. Hal itu dikemukakan di sini, semata-mata karena ia adalah fakta sejarah yang masih terus berproses dan berkembang tumbuh. Suatu kenyataan yang tidak mungkin bisa dihapus oleh apapun, apalagi oleh sepotong pernyataan bahwa "Indonesie bestaat niet". Nasion Indonesia lahir, tumbuh dan mendewasa bukan karena sesuatu yang dipaksakan dari atas atau oleh komando suatu kekuasaan tirani. Ia lahir dari kebutuhan, keharusan dan kesadaran sejarah rakyat negeri ini. Bersyukurlah kita bahwa kesadaran dan pengertian mengenai hal ini membikin kita tidak mudah goyah, tidak gampang panik ataupun menjadi pesismis mengenai nasib bangsa kita selanjutnya. Sedarilah dan camkanlah: Indonesia bukan negara seperti Federasi Yugoslavia yang sudah rontok menjadi Serbia dan Montenegro. Indonesia bukanlah Uni Sovyet yang sudah bang- krut dan porak-poranda. Hal ini perlu dicamkan baik-baik oleh kita semua. Khususnya perlu difahami oleh para "pakar Indonesia", "Indonesia Watcher", "pengamat politik Indonesia", "pejuang HAM", oleh setiap pejuang reformasi dan demokrasi.. Belakangan ini sementara kalangan dan fihak seperti bingung atau putus asa oleh berlarutnya kekerasan , kerusuhan dan kekacauan berbau SARA di Indonesia yang sesungguhnya direkayasa oleh para pendukung "Statusquo" di Indonesia. Hal itu juga terjadi di kalangan pengagum-pengagum mereka di luar Indonesia, khususnya di Eropah Barat. Disini tidaklah dimaksudkan untuk menganggap sepi dan meremehkan adanya soal-soal yang disebabkan oleh perbedaan tertentu yang terdapat dikalangan suku bangsa-suku bangsa Indonesia. Juga tidak dimaksudkan untuk menutup mata terhadap dampak negatif yang disebabkan oleh politik transmigrasi pemerintah Suharto selama puluhan tahun. Juga sekali-kali bukan dimaksudkan untuk membenarkan kebijaksanaan Orba yang menterlantarkan daerah, dan politik pembangunan ekonomi yang berat ke pusat. Hal-hal tersebut harus dikoreksi dengan jalan memberlakukan otonomi luas kepada setiap propinsi dan daerah, dengan cara mentrapkan prinsip-prinsip hak demokrasi serta hak-hak azasi manusia. Pendeknya dengan memberlakukan reformasi dan demokrasi secara konsekwen. III.) Nasion Indonesia akan tumbuh dan menjadi lebih kuat dalam proses perjuangan untuk reformasi dan demokrasi. .Optimisme ini didasarkan atas pengalaman di masa lampau dimana Indonesia berhasil melampaui berbagai ujian sejarah dalam eksistensi dan pertumbuhannya. Ujian-ujian berat di masa lalu yang pada pokoknya datang dari fihak Barat: yaitu kolonialisme Belanda dan Inggris, maupun oleh imperialisme Amerika. Bukanlah suatu yang kebetulan bahwa menjelang kekalahannya di Indonesia, pemerintah Belanda aktif membentuk 'negara-negara' bagian untuk mengepung dan mencekik Republik Indonesia dalam suatu negara Republik Indonesia Serikat. Tetapi kekuatan kebangsaan Indonesia telah berhasil menggagalkan rencana kolonialisme baru Belanda tsb. Juga rencana-rencana neo-kolonialis seperti "APRA" (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dikepalai oleh kaptem Belanda Westerling, "Republik Maluku Selatan", "Darul Islam". "Negara Islam Indonesia", "PRRI" dan "Permesta", semua telah menemui kegagalannya dihadapan perlawanan yang dilakukan oleh kekuatan patriotik Indonesia. Republik Indone- sia dan rakyatnya bukan saja telah muncul sebagai pemenang, tapi sekaligus bertambah kuat, menjadi lebih berpengalaman dan mendewasa. Sudah jelas, proses persiapan pemilu yad, menunjukkan bahwa perjuangan dan pergesekan akan berlangsung terus, kadang-kadang agak mereda, kadang-kadang memuncak seakan-akan mendekati ke suatu bentrokan frontal. Bisa jadi keredaan di Ambon dan Sambas akan diikuti oleh letupan baru di tempat lain. Mungkin lebih ganas. Semua itu menunjukkan bahwa kekuatan"pro Statusquo" tidak mau begitu saja melepaskan kedudukan istimewa dan elitis- nya dewasa ini. Mereka takut setengah mati pada pemilu yang jurdil dan pada kemenangan kekuatan pro reformasi dan pro demokrasi. Rakyat kita akan mampu melalui dan mengatasi dengan berani dan mantap segala ujian dan kendala tsb. Kepercayaan dan optimisme kita amat beralasan. Indonesia Tanah Airku Tanah Tumpah Darahku Di Sanalah Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku. . . . . . Marilah Kita Berseru Indonesia Bersatu! Hiduplah Indonesia Raya! * * * ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Apr 1999 jam 03:55:50 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
