----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

KETIDAK PEDULIAN, SUATU PENYAKIT KHRONIS
YANG MERUNTUHKAN SUATU PEMERINTAHAN
Rudy Bera

PEDULI (Perduli) mempunyai arti memperhatikan atau menghiraukan sehingga
tidak peduli berarti tidak memperhatikan atau tidak menghiraukan.
Dengan sifat tidak peduli yang dimiliki oleh suatu bangsa merupakan
suatu penyakit dan kalau penyakit ini telah ada lama sekali,
bertahun-tahun bahkan puluhan tahun maka penyakit tersebut merupakan
suatu penyakit khronis yang merongrong suatu kepemerintahan dan pada
akhirnya kejatuhan suatu kepemerintahan.  Perhatikan saja sejarah pada
masa kerajaan dimana raja-rajanya tidak perduli akan keluhan,
kesusahan,
penderitaan rakyatnya yang bertahun-tahun bahkan puluhan tahun lamanya
sehingga pada akhirnya sampai pada titik rakyat tidak bisa tahan lebih
lama lagi karena mereka telah melarat, maka pecahlah kesabaran rakyat,
mereka menuntut keadilan dan kepatutan untuk mereka dengan cara cepat
dan kekerasan, yang dinamakan Revolusi sedangkan yang yang dilakukan
dengan ada unsur kesabaran dan sesuai aturan dan peraturan disebut
Reformasi karena tujuan reformasi adalah merubah suatu keadaan yang
dirasakan tidak adil oleh suatu masyarakat ke perbaikan dan
kesejahteraan untuk masyarakat tersebut.  Yang mengalami revolusi oleh
suatu negara kerajaan seperti Perancis dan Rusia pada zaman lalu.
Demikian juga yang dialami oleh Kekaisaran seperti negara Cina zaman
dulu,  Semata-mata karena tidak peduli akan keluhan, kesusahan, jeritan
kesengsaraan rakyatnya timbullah revolusi, mereka menghendaki suatu
perubahan secara cepat.
Untunglah kita tidak lagi mengalami revolusi pada peristiwa bulan Mei
1998 yang lalu, yang kita alami meskipun sangat menyakitkan rakyat pada
umumnya adalah suatu reformasi.  Biarlah revolusi yang kita alami
hanyalah sekali saja semasa kita membebaskan diri dari penjajahan
Belanda, karena suatu revolusi selalu membawa pengorbanan jiwa dan
harta
benda yang banyak.
Penyakit ketidak perdulian yang pada akhirnya menjadi penyakit khronis
dimulai sehari- hari pada lingkungan kecil yaitu keluarga, dimana
masing-masing suami isteri saling tidak perduli, mengambil jalan
sendiri-sendiri dengan segala kesibukannya atau menyibukkan diri
sehingga lupa pada kewajibannya sebagai seorang suami atau isteri yang
baik.  Orang tua demikian pasti juga tidak perduli kepada anak-anaknya,
yang penting KUHP (Kasih Uang Habis Pusing), sebaliknya anak-anak pun
akan tidak perduli lagi terhadap ajaran orang tuanya (kalau ada), agama
dan sopan santun, maka keluarga demikian akan berantakan, Suami cari
hiburan/wanita lain, demikian juga Isteri mencari huburan/pria lain, si
anak karena tidak diberi kasih sayang dan perhatian sebagaimana
mestinya
dari orang tuanya, akan mencari hiburan dan lingkungan sendiri yang
biasanya teman-teman bergajulan sehingga terkena penyakit kelamin,
ganja
dan sejenisnya, minuman keras sehingga berurusan dengan hukum karena
untuk memenuhi kebutuhan mereka demikian mereka memerlukan uang.
Mereka
memperolehnya dari hasil kejahatan semula memeras kemudian merampok
dengan atau tanpa penganiayaan/pembunuhan, karena tidak semua orang tua
bisa memberi KUHP.  Belum lagi tawuran antar pelajar atau pemuda yang
membawa korban luka atau kematian disamping kerugian harta benda
sendiri
atau orang lain seperti toko-toko, mobil, sepeda motor pada jalur yang
dilaluinya.
Pada lingkungan sekolah pun terjadi penyakit tidak perduli itu,
seperti
pelajar yang merokok, datang terlambat, tidak membuat PR, tidak patuh
dan hormat kepada gurunya, tidak menyapa kepada guru ketika guru lewat.
Demikian pun guru, tidak perduli akan disiplin waktu atau mutu
pelajaran
berkurang karena harus mengejar pekerjaan tambahan untuk mencukupi
kehidupan keluargnya, berbuat tidak senonoh terhadap pelajar putri,
memberi contoh yang kurang baik dalam kehidupan sehari-hari yang
dilihat
oleh para pelajar, tidak memperhatikan dengan cermat keadaan
siswa-siswanya. Keadaan ini pun  berlaku bagi mahasiswa dan dosen,
meskipun tentunya kadarnya berbeda, bisa berkurang bisa juga bertambah.
Pada kehidupan sehari, seperti tukang sapu jalanan, menyapu daun yang
berguguran dan pasir pada pagi hari pukul 06:00-07:00 tanpa dibekali
kantong plastik atau gerobak namun hasilnya jalanan bersaih, kemana
larinya kotoran sampah itu? Tidak lain ke got, akhirnya got semakin
lama
menjadi penuh, dan ketika musim hujan tiba langsung saja jalanan
banjir,
masuk rumah, menimbulkan kerusakan harta benda dan penyakit, ini
disebabkan oleh ketika perdulian , tidak perduli membuang sampah tidak
pada tempatnya.  Terlalu sering saya melihat orang intelek dan kaya
naik
mobil mentereng, kaca jendela dibuka, tangan keluar sebentar, puntung
rokok , kantung makanan, bungkusan rokok dan makanan dibuang ke jalanan
(dianggapnya tempat sampah yang besar sekali jalanan itu). Tidak
perduli
jalanan kotor, tidak perduli kotoran demikian akan masuk ke got berkat
sapuan sapu lidi, tidak perduli got menjadi mampat, tidak perduli
menjadi banjir, toh bukan saya ini, karena si kaya berpikir rumahnya
letak diketinggian dari jalanan.  Akibat dari banjir, orang-orang tidak
dapat kerja, produktivitas berkurang banyak menimbulkan kerugian bagi
Pemerintah dan Rakyatnya.
Keadaan di jalanan umum seperti di tol, lazimnya sudah berlaku berlalu
lintas kanan seperti di Amerika, padahal kita masih tetap berlalu
lintas
kiri.  Mereka justeru jalan pelan di sisi/jalur kanan, memaksakan
kendaraan yang mau lewat dari sisi kiri, karena meskipun diberi tanda
dengan lampu atau di klaksonkan, tetap saja kendaraan tersebut tidak
beranjak dari sisi kanan itu, padahal Ia tidak buta (dapat melihat
tanda
lampu dinyalakan) dan tidak budek (karena klakson telah berkali-kali
dibunyikan).  Ini gara-gara dia tidak perduli apalagi si pengemudi
adalah orang yang berkuasa, wah susah deh rakyat, tidak dapat dan tidak
boleh marah, karena akan galakan dia.  Bus dan Truk harus berada di
jalur kiri, tetapi mereka tidak perduli tetap juga berada di jalur
paling kanan. Orang menyeberang di jalan Tol, tidak perduli akan
peraturan, bagaimana kalau tertabrak luka atau mati, siapa yang salah,
kalau bukan supir dipersalahkan, tidak perduli peraturan yang tidak
memperoleh pejalan kaki berada di jalan umum apalagi di jalan tol,
supir
yang dipersalahkan.
Polisi yang melihat penjual koran, makanan dan pengamen dan
peminta-minta berada di jalan umum dan tol, dibiarkan saja padahal tahu
betul itu tidak diperbolehkan oleh peraturan.  Motor dan mobil mereka
tidak perduli, parkir saja seenaknya di trotoar atau jalur rumput,
padahal peraturan melarangnya, kalau dilakukan oleh rakyat, maka
langsung peraturan ditrapkan, kalau kepada mereka tidak berlaku.
Rakyat
membawa radio, ditanyakan oleh polisi barang siapa itu atau dengan
kalimat lain, dapat dari mana atau curi dari mana?  Mereka tidak tahu
akan Undang- undang bahwa barang siapa yang memegang suatu barang
dianggap oleh Undang-undang sebagai pemiliknya tanpa harus
membuktikannya, si penanyalah yang harus membuktikan kebalikannya.
Mereka yang menanyakan demikian tidak perduli akan hak orang lain yang
dilindungi oleh Undang-undang.
Pencopet, penggarong, penjarah,  pembunuh tidak perduli akan hal orang
lain, yang diperdulikannya adalah kehendaknya sendiri.  Demikian pun
penindas karena kekuasaannya tidak perduli akan nasib tertindas yang
selalu adalah rakyat, jeritan kesengsaraan dan kelaparan tidak
diperdulikan, kalaupun ada hanya dibibir yang manis saja, buktinya
dalam
kesengsaraan dan kelaparan rakyat mereka tidak tertanggulangi, karena
yang tidak perduli itu sibuk terhadap utama, menyelematkan diri,
menyelamatkan "kursinya yang empuk",  sibuk mempertunjukkan kepandain
masing-masing, maklum bertitel lebih dari satu, sedangkan rakyat sama
sekali tidak mempunyai apa-apa lagi. Mereka sudah kelaparan, putus
sekolah sudah terlalu banyak, rakyat tanpa pekerjaan sudah terlalu
banyak, jeritan mereka tidak diperdulikan, seorang ibu berdiri
dipinggir
jalan depan Hotel Indonesia mengeluarkan jeritan kepedihan akan susu
yang sudah tidak dapat dibeli untuk anaknya karena beliau sangat
perduli
akan nasib anaknya, tidak diperdulikan oleh Pemerintah, sampai-sampai
Menteri Sosial tidak perduli dengan tidak membelanya ketika Ibu itu
ditangkap dan diadili."Tidak perduli, bukan gue ini" .
Ketidak perdulian rakyat dan Pemerintah dalam bidangnya masing-masing
yang membawa kesengsaraan pada umumnya.  Namun yang paling jahat
penyakitnya adalah KETIDAK PERDULIAN Pemerintah terhadap jeritan
keperdulian rakyatnya, suara-suara yang baik dari wakil-wakil rakyat
yang perduli tidak digubris malahan dipetieskan atau disingkirkan.
Raja-raja zaman dulu baik di Indonesia maupun diluar negeri tidak
perduli akan jeritan rakyatnya, penderitaannya, kelaparannya, yang
diperdulikannya adalah terutama diri sendiri dan pajak-pajak yang harus
dipungut dari rakyat yang sudah miskin itu, tidak perduli sekali lagi
tidak perduli, harus bayar pajak kalau tidak dihukum, yang akhirnya
penderitaan rakyat itu sampai pada puncak ketahanannya, maka pecahlah
pemberontakan, yang tadinya Pemerintah paling ditakuti, sekarang yang
paling menjadi sasaran mereka untuk disingkirkan, sejarah membuktikan
demikian .  Raja-raja dan Kaisar-kaisar dan Presiden-presiden
bertumbangan karena tidak perduli pada rakyatnya yang telah sengsara
dan
kelaparan.
Hukuman yang paling berat bagi yang tidak perduli pada rakyat seperti
Pemerintah yang zalim dan para koruptor, pemeras rakyat adalah bukan
penjara dengan kehidupan yang teratur dan makanan yang teratur tetapi
haruslah dihukum buang kedaerah yang miskin yang tandus yang mereka
tidak diperdulikan itu, sekarang mereka harus hidup diantara mereka
yang
kelaparan, tidak ada pekerjaan , sedangkan untuk hidup mereka
diharuskan
kerja sendiri, tanpa pekerjaan tidak dapat  makan sedangkan pekerjaan
tidak ada, mereka harus diisolir, mereka harus disadarkan bahwa
tindakan
mereka selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tidak perduli kepada
rakyat adalah suatu penyakit dan dosa terbesar sepanjang zaman yang
akhirnya SELALU meruntuhkan suatu kepemerintahan apapun bentuk
kepemerintahannya.
Maka tidak berkelebihanlah kalau saya katakan KETIDAK PERDULIAN
MEMBAWA KERUNTUHAN SUATU PEMERINTAH

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 05:22:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke