---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: yusuf SATU KEJUTAN YANG TAK MENGEJUTKAN Great empires die of indigestion - Negara2 besar mati karena (kerusakan) pencernaan, demikian ungkapan Napoleon pada suatu ketika. Memang kebanyakan negara2 besar telah tumbang karena kehilangan kontrol keatas wilayahnya yang luas; karena kurangnya kebanggaan bersama (collective pride) dikalangan penduduk yang mempunyai latar belakang sejarah yang berbeda, dan karena absen nya pelaksanaan demokrasi. Begitulah nasib Kerajaan Rom dan Hindia Belanda dulu, dan demikian juga dengan nasib Uni Soviet dan Yugoslavia baru2 ini. Roda dunia terus berputar, sejarah berulang, dan Indonesia pun yang telah melengkapi kondisi2 diatas tadi, tidak boleh tidak akan menemui nasib yang serupa, yaitu disintegrasi. Banyak diplomat dan pengamat asing begitu terkejut atas ucapan Menlu Indonesia, Ali Alatas, mengenai kemungkinan akan dilepaskan Timor-Timur dari Republik Kesatuan Indonesia, kalau mereka tidak mau menerima otonomi yang dicadangkan Jakarta. Tetapi buat Ramos Horta dan kawan2nya, good news itu merupakan satu kejutan yang tidak mengejutkan; ia tidak begitu becus berdansa dengan iringan musik gamelan Jakarta; ia kelihatannya menanggapi kejadian ini sebagai satu perminan politik Indonesia yang tidak ada bona fide nya. Benarkah semua tanggapan ini? Syahdan, ketika seorang diplomat muda yang bernama Ramos Horta datang ke Jakarta pada tahun 1974 dan bertemu tiga kali dengan mendiang Menlu Adam Malik, diplomat muda itu mengajak Adam Malik datang ke Timor-Timur, yang dijawabnya sbb: "Saya akan hadir dalam acara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan anda (Tmor-Timur)." Dan, dalam sebuah suratnya kepada Horta, Adam Malik juga menegaskan bahwa "kemerdekaan itu adalah hak dari setiap bangsa dan tidak terkecuali kepada bangsa Timor-Timur." Setahun kemudian, diplomat muda itu datang lagi ke Jakarta. Kali ini ia bertemu dengan Jenderal Ali Moertopo, tangan kanan Suharto. Moertopo berikrar bahwa Indonesia akan menjalin hubungan baik dengan Timor-Timur dan tidak akan mencampuri urusan dalam negeri jiran nya itu. Tidak lama kemudian, Indonesia melakukan invasi besar2an keatas Timor-Timur yang telah menyebabkan sepertiga rakyat Timor telah mati dalam atau akibat daripada invasi tersebut. Dari peristiwa tersebut diatas tadi dan berdasarkan pengalaman2 pahit lain nya, sebagai seorang diplomat yang selalu membaca setiap gerak bibir politisi Indonesia, tentu saja Horta dan kawan2nya tidak begitu antusiastik dengan 'begawan solo' yang didendangkan Ali Alatas itu. Ia dan kawan2nya telah belajar bahwa ucapan seorang sipil seperti Adam Malik dan Ali Alatas sungguh sangat ringan, didalam sebuah negara yang dikuasai militer, dibandingkan dengan kata2 Ali Moetopo atau Wiranto. Nah, saya rasa disinilah letaknya keraguan dari sebagian pemimpin2 Timor-Timur dalam menanggapi perkembangan yang terbaru ini. Tetapi walaupun demikian, kita harus sadar bahwa Indonesia betul2 tidak sanggup lagi memikul beban Timor-Timur diatas bahunya, dan sekarang sedang mencari-cari jalan bagaimana melepaskan Timor tanpa kehilangan prestige nya diluar negeri. Indonesia sekarang sedang menghadapi dua tekanan (preassure) yang sama berat: diluar dan didalam. Kalau Timor-Timur itu sudah lepas, maka tekanan luar - international pressure - akan jauh berkurang, sebab, kebanyakan tekanan luar itu datang dari lobby Timor-Timur dibandingkan dengan Aceh dan Papua Barat. Dengan selesainya persoalan Timor, maka asumsi Indonesia untuk menghadapi tekanan2 dari dalam di Aceh dan Papua Barat akan lebih mudah lagi. Justeru karena itulah maka pernyataan Ali Alatas sekarang jauh lebih berat dan mempunyai substans tertentu yang perlu ditelaah dibandingkan dengan ucapan2 nya sebelum Suharto lengser. Sebagaimana Ramos Horta, saya juga tidak mau dikejutkan (saya memang agak terkejut) dengan berita baru itu, bukan saja karena Indonesia tidak boleh dipercayai, tetapi saya menyadari bahwa cepat atau lambat Timor-Timur akan dilepaskan, yang dalam waktu singkat Aceh dan Papua Barat akan menyusul juga. Sebab, kemauan yang besar dari satu2 bangsa untuk merdeka tidak dapat dipadamkan walau dengan senjata apapun. Sejarah telah mengajar kita daripada perjuangan bangsa Aceh lawan Belanda dan Indonesia, bangsa Chechenia lawan Rusia dan Bosnia lawan Serbia. Disini kita dapat melihat dengan jelas betapa Rusia dan Serbia mengerahkan seluruh kekuatan nya untuk menghancurkan pejuang2 kemerdekaan itu melalui apa yang dinamai 'ethnic cleansing', tetapi tidak pernah berhasil. Demikian juga halnya dengan kejadian2 di Aceh dalam masa sepuluh tahun ini, dimana Abri telah menggunakan semua kekerasan yang pernah dipraktekkan manusia untuk mengagalkan keinginan bangsa Aceh untuk merdeka: rakyat Aceh dipaksa menjadi avant-garde - barisan yang paling depan - untuk melacak Aceh Merdeka di gunung2; rakyat Aceh dipaksa membunuh sesama sendiri, sampai2 anak dipaksa membunuh ayah kandungnya atau sebaliknya; Panglima2 Tentera Indonesia di Aceh, seperti Majen Pramono, yang berperan sebagai agent provocateur, telah meng-instruksi-kan semua rakyat Aceh membawa pisau atau senjata2 tajam sejenis untuk membunuh siapa saja yang dicurigakan sebagai anggota Aceh Merdeka. Pokoknya semua jenis kekerasan telah dilakukan di Aceh, namun semangat rakyat Aceh untuk merdeka malah semakin bertambah membara-bara. Timor-Timur akan dilepaskan dari RI, bukan saja karena persoalan Timor itu sudah dianggap sebagai kerikil dalam sepatu Indonesia, tetapi juga karena kerikil itu telah membesar menjadi karang - menurut bekas Menlu Australia Gareth Evans; Papua Barat juga sudah sepatutnya Merdeka, bukan saja karena Papua Barat menganggap dirinya tergolong kedalam kolompok bangsa2 Malanesia di Laut Selatan, tetapi juga karena mereka lebih banyak persamaan dan lebih mudah berintegrasi dengan Guinea Bissau di Afrika sebelah Barat, daripada dengan bangsa2 lain di kepulauan Melayu; Aceh juga akan lepas dari RI, bukan saja karena Aceh merupakan, menurut ahli sejarah Anthony Raid, satu bangsa yang bangga dengan ke-Aceh-an nya dan memiliki "a national pride and warlike spirit un-matched in the archipelago" - semangat perang yang tidak ada bandingannya dirantau ini, tetapi juga karena dikhawatirkan Aceh akan menjadi 'letupan di Sarajevo' yang mencetuskan Perang Dunia Pertama. Aceh sering dikatakan daerah modal, bukan saja karena Aceh telah berjasa dalam membiayai RI yang miskin itu di awal2 kemerdekaan, tetapi Aceh jugalah yang bertahan sebagai daerah de facto Indonesia ketika Belanda mengumumkan kepada dunia bahwa semua wilayah Hindia Belanda telah diambil kembali. Dengan kata2 lain, karena Aceh lah maka Indonesia itu merdeka, dan, kalau hukum karma itu berlaku, kemungkinan besar karena Aceh juga Indonesia itu akan bubar. Saya mempunyai satu idi untuk menghindarkan Negara Kesatuan Indonesia daripada disintegrasi total, kalau memang ada pihak2 yang meng-ingin-nya. Dirikan satu "Negara Indonesia Baru" dengan tidak memasukkan Aceh, Timor-Timur dan Papua Barat kedalam nya! Mudah2an semuanya akan berjalan dengan lancar dan negara yang baru ini pun akan lebih mudah diatur tanpa tiga 'hot spots' atau 'troubled areas' ini. To the brave people of East Timor: congratulations! To the courageous peoples of Acheh and West Papua: it's coming soon.Just wait for your turn! Stockholm, 31 Januari 1999 Salam Merdeka Yusda ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Feb 1999 jam 04:21:02 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
