---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Budi Rukminto KOK SUDAH JUGA CARI PEMIMPIN Tidak ada suatu masa, dimana Bangsa dan Negara menghadapi permasalahan seperti sekarang ini tiap hari terdapat kerusuhan , bahkan kerusuhan yang menyinggung yang hal paling peka dan mengancam desintegrasi bangsa. Ditengah kerusuhan ditambah dengan kesulitan ekonomi masih ada sementara pemimpin yang statementnya dapat mengeruhkan suasana dengan dengan melontarkan berbagai issue , yang kalau ditelusuri demi untuk keuntungan sesaat baik untuk mencapai kemenangan dalam pemilu nanti atau untuk kepentingan lainnya. Yang namanya pendidikan politik bagi rakyat sudah berobah menjadi mendidihkan (memanaskan) hati rakyat . Hal ini disebabkan karena rendahnya moralits sementara elite politik yang berdasarkan curiga satu dengan yang lainnya, keraguan dalam menjalankan hukum oleh penegak hukum dan keraguan birokrasi dalam menjalankan kebijaksanaanya baik disebabkan karena rasa takut salah atau ada kepentingan lainnya. Demokrasi yang diperjuangkan lebih banyak merupakan pemaksaan kehendak yang menimbulkan perpecahan bangsa, hak asasi manusia yang dijungjung tinggi menghasilkan pengorbanan rakyat yang sia sia , kepentingan rakyat yang diperjuangkan menghasilkan hancurnya sarana perekonomian. Semua ini sudah didepan mata kita , data terakhir 60 % 120 JUTA) rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan dan untuk merehabilitasinya memerlukan waktu 30 tahun, kerusuhan yang memakan korban jiwa dan harta telah terjadi setiap saat dimana dan kapan saja dengan sebab apapun. Apakah ini tidak menyadarkan para elite politik baik yang di Birokrasi, pemimpin partai dan ormas , pengamat dan pemuka masyarakat untuk merenungkan kembali semuanya hal ini. Dalam hal ini fikiran saya teringat kepada sebuah firman Allah,yang maksudnya, apabila apabila kezaliman berlaku terus menerus tanpa rasa malu tanpa rasa takut MAKA Allah Allah akan menghacurkan negeri itu sehancur hancur-nya. Kita tidak perlu melihat sejarah Nabi terdahulu, lihat saja bagaimana kukuhnya blok komunis pada tahun lima puluhan dahulu sekarang hidupnya berkeping, lihat saja hancurnya kekuasaan Raja Diraja Syah Pahlevi . Contoh didalam Negeri mengenai kejatuhan dua presiden RI yang sangat dramatis siapa yang dapat membayang sebelumnya. Sumber dari malapetaka ini karena kita semua , ya semua, telah meninggalkan moralitas dalam berbangsa dan bernegara dengan dengan hilangnya rasa malu dan karenanya juga harga diri, saling curiga , pemaksaan kehendak dan hypokrit. Apa yang diharapkan dari pemimpin yang sedemikian ini, tidak menuju kehancuran saja sudah bagus. Dari pembicaraan informal dengan beberapa orang dari pelbagai profesi, kesannya hampir sama tidak tahu akhir dari semua ini, keadaan sudah sangat tidak menentu semuanya mementingkan diri/kelompok sendiri bahkan ada yang lebih ekstreem lagi berpendapat karena dari 200 JUTA rakyat Indonesia BELUM ADA seorang pemimpin SEBAGAI negarawan. Ditengah suasana seperti itu ditambah dengan kesengsaraan rakyat dan rasa cemas seperti itu rakyat menghadapi Pemilu , apa yang bisa diharapkan PEMILU INI. Bisa saja ajang kampanye yang sebenarnya merupakan adu program Partai menjadi arena adu jotos dan kerusuhan massal Mungkin saja karena rasa kepercayaan diri sementara partai berlebihan (atau lebih tepat sifat congkak) yang sementara ini mengggap partainya mendapat dukungan massa yang besar apabila ternyata pada pemilu yang akan datang tidak datang tidak mendapat suara seperti yang diharapkan bukan mustahil akan menyatakan bahwa pemilu itu tidak jurdil atau alasan lainnya . Belum lagi ulah dari mereka yang tidak ingin pemilu diadakan ATAU yang partai tidak memenuhi syarat untuk ikut pemilu. Setelah melawati perjalanan waktu yang walaupun singkat sejak reformasi , rakyat sudah bisa melihat dan menilai CHARACTER, INTEGRITAS DAN KAPABILITAS dari pemimpin dan menamakan dirinya pemimpin atau dianggap sebagai pemimpin. Terus terang dari pemimpin yang nongol setiap hari di media belum ada satupun yang memenuhi kualifikasi sebagai Pemimpin Bangsa Indonesia pasca pemilu nanti. Pemimpin sejati adalah mereka yang bersikap demokratis, mempunyai etika yang tinggi mengedepankan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan kelompok/golongan dan ditempa melalui pengalaman berorganisasi didalam masyarakat , mereka mempunyai visi yang jelas dan konsisten serta teguh dalam pendirian. Dalam setiap masa transisi memang biasa timbul pemimpin dadakan dan dalam perjalanan waktu akan lenyap Lihatlah founding father Republik ini yang telah memberikan contoh berpolitik yang elegant penuh rasa hormat terhadap perbedaan pendapat tanpa penyerangan pribadi, pendapat fihak lawan dihadapi pendapat berdasarkan pandangan yang bersifat filosofis, lihat saja argumentasi yang diberikan masing fraksi dalam sidang konstituante yang lalu. Ini disebabkan yang sarat pengalaman berorganisasi ditengah masyarakat SEJAK usia muda , bukan dadakan timbul. Dalam perjalanan sejarah demokrasi liberal dulu walaupun terdapat perbedaan pendapat yang tajam antara presiden Soekarno dengan beberapa partai tidak ada satu partaipun yang meminta Soekarno turun. Lihat saja misalnya pemilu tahun 1955 yang lalu, dalam kampanyenya tidak satupun partai mengajukan calon PRESIDEN dan Wakil Presiden , bahkan sampai sidang konsituantepun issue calon presiden dan wakil presiden tidak dibicarakan yang mereka bahas adalah yang bersifat prinsip yaitu Undang-2 Dasar. Tidak seperti sekarang Undang 2 pemilu saja BELUM DISYAHKAN sudah MENCALONKAN DIRI JADI presiden, yang anehnya lagi tidak satupun dari Calon Presiden tersebut yang mempunyai calon wakil presiden, APA DIA mau menjadi Presiden tunggal tanpa wakil. Lihak juga UU politik,sebenarnya kalau partai yang ada intens mengikuti ,memberikan masukan dan tekanan-2 terhadap Undang-2 Pemilu sejak awal dari mulai dari draft MUNGKIN hasilnya tidak seperti sekarang, baru pada pada saat akhir pembahasan di DPR mereka berlagak seperti patriot demokrat. Demikian juga soal calon presiden , LEBIH BAIK bicara bagaimana pembagian tugas dan kerjasama antara Presiden DAN Wakil Presiden daripada membicarakan siapa presidennya. Yang diinginkan rakyat ADALAH PROGRAM dari yang akan memerintah nanti , bukan siapa presidennya dan program itu dilaksanakan oleh suatu team yang terdiri dari pemimpin-2 yang mempunyai moralitas dan integritas serta kapabilitas yang tinggi, yang seperti ini kok susah juga dicarinya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Feb 1999 jam 04:41:01 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
