---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Info-PEMBEBASAN ------------------------- TERBENTUK, KOALISI BESAR GERAKAN MAHASISWA DI JAKARTA Oleh: Lani Cahyani Gerakan mahasiswa telah mencapai kemajuan satu langkah lagi, dengan ditandai berhasilnya organ-organ mahasiswa di ibu kota membentuk koalisi besar, yaitu Komite Mahasiswa Bersatu (KMB). KMB merupakan koalisis dari berbagai komite aksi mahasiswa di ibu kota, baik yang moderat maupun yang radikal. Diantara yang tergabung dalam KMB adalah Forum Kota (Forkot), Forum Bersama (Forbes), Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (Komrad), Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred), Keluarga Besar Universitas Indonesia (KB-UI), Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), Front Independen Mahasiswa Gunadharma (FIMA), Komite Aksi Mahasiswa Trisakti (Kamtri), Aksi Mahasiswa Perjuangan Rakyat (Ampera), Gerakan Mahasiswa IPB (Gema-IPB), dan lain-lain. Hal ini merupakan kemajuan, setelah koalisi besar yang terbentuk sebelumnya, Aksi Mahasiswa Bersatu (AKRAB), tidak bisa dipertahankan karena perbedaan metode aksi dan beberap tuntutan politik. Namun, adanya isyu baru yaitu tentang UU Pemilu, membuat para mahasiswa menemukan platform bersama lagi. AKRAB terbentuk berkat adanya isyu Sidang Istimewa MPR yang tidak aspiratif. Namun, koalisi tersebut terpecah karena adanya perbedaan sikap antara yang menolak Sidang Istimewa dan yang menerima dengan syarat Sidang Istimewa membahas agenda-agenda yang menjadi aspirasi rakyat, terutama pencabutan Dwi Fungsi ABRI. Namun, setelah akhirnya Sidang Istimewa tidak membuat perubahan yang esensial tentang Dwi Fungsi ABRI, baik mereka yang menolak dan menerima Sidang Istimewa dengan syarat bisa bersatu lagi. Walau, dalam aksinya di lapangan masih ada beberapa perbedaan, terutama dalam hal sasaran-sasaran aksi : sebagian ke Cendana, sebagian ke Kejaksaan Agung, sebagian ke Gedung DPR dan ada yang sempat ke Dephankam dan Istana Negara. Kini, setelah UU Pemilu yang dibahas DPR menghasilkan sebuah Undang-Undang yang tidak demokratis, para mahasiswa menemukan lagi platformnya, sehingga bisa membentuk koalisi besar, yang bernama KMB. Sudah terbukti, kunci keberhasilan aksi-aksi besar ada pada keberhasilan politik mahasiswa dalam merumuskan isyu yang diangkat dan keberhasilan organisasinya, yakni dalam membentuk wadah perlawanan. Pelajaran dari Bulan November lalu, yang paling berharga, adalah keberhasilan mahasiswa dalam menyampaikan tuntutannya, sehingga mayoritas rakyat mendukung pihak mahasiswa dan keberhasilan membentuk AKRAB, sehingga mampu menggerakkan massa dalam jumlah yang besar. Dengan berhasilnya mahasiswa menemukan isyu Pemilu dan berhasilnya membentuk wadah besar, KMB, membuat kita optimis bahwa aksi-aksi mahasiswa untuk masa-masa mendatang akan berhasil. Mereka yang pro-status qua dan oposisi loyal, mulai menghembuskan isyu bahwa mahasiswa sudah terpecah belah dan aksi-aksi mahasiswa sudah tidak mendapat simpati rakyat. Isyu-isyu semacam itu, seolah-olah benar, sebab dilontarkan oleh mereka yang punya akses besar ke media massa. Namun, kondisi perpolitikan masih membuktikan peranan penting aksi-aksi massa mahasiswa. Ini, terutama, disebabkan kegagalan para elit politik --baik rejim maupun oposisi-- mengambil kepemimpinan massa dan membuat inisiatif-inisiatif politik yang melibatkan massa. Tidak ada elit politik manapun, sampai sekarang, yang sudah berhasil memimpin massa yang resah. Selama ini massa yang resah masih dibawah kepemimpinan mahasiswa, selama ini hanya mahasiswa yang berani mengambil inisiatif-inisiatif politik massa. Para elit, lebih sibuk dengan mencari kesempatan dan mempersiapkan untuk menjadi penguasa baru, sehingga mengabaikan keresahan massa, dan tentu tidak akan berhasil mengambil kepemimpinan massa. Inisiatif yang sangat menarik ditawarkan oleh seorang aktivis Komrad, Ian, dengan seruan agar mahasiswa membentuk posko-posko di pinggir-pinggir jalan. Posko ini, secara jelas difungsikan untuk memimpin massa. Jelas, ini adalah inisiatif yang sangat bagus untuk memimpin massa yang resah. Artinya, massa di kota-kota yang marah namun tak terpimpin, dapat dipimpin untuk gerakan massa yang positif : menyerang rejim, agar tidak menjadi kerusuhan, lebih-lebih adalah kerusuhan SARA. Memang seruan-seruan saja tidak cukup. Terbukti, sudah sekian banyak seruan, bahkan juga seruan dari tokoh-tokoh yang dimitoskan sebagai pemimpin massa, tidak ada yang efektif. Ini berarti sangat jelas, seruan saja tidak cukup, yang lebih penting adalah membangun perangkat untuk memimpin massa, dalam hal ini posko-posko mahasiswa. Para tokoh-tokoh politik mainstream, baik yang pro-rejim maupun yang pro-status quo, jelas tidak bisa banyak diharapkan lagi. Sehingga, justru dengan demikian, peranan aksi-aksi mahasiswa masih sangat penting. Dan yang lebih penting lagi adalah: bagaimana mahasiswa menjadi sebuah kekuatan politik alternatif, disamping rejim dan kekuatan oposisi mainstream yang ada. Telah terbukti, bahwa menjadi kekuatan moral saja tidak cukup, karena kekuatan politik yang ada tidak mampu --dan tidak akan pernah mampu-- menghandle keresahan massa. Gerakan moral tidak akan mampu menghandle keresahan massa. Dengan demikian, berarti mahasiswa harus keluar dari kungkungan isolasi yang ada selama ini, menghilangkan sifat eksklusifnya, dengan cara mencari kawan aliansi yang tepat, yaitu : rakyat. Selama ini mahasiswa dibuat takut bergabung dengan rakyat karena adanya isyu-isyu kerusuhan. Tapi kenyataan membuktikan sebaliknya. Kerusuhan adalah akibat massa yang resah, tak terpimpin dan terprovokasi. Dengan memisahkan diri dari massa-rakyat, berarti mahasiswa tidak berusaha memimpin massa-rakyat dan "menyerahkan" kepemimpinan massa kepada para provokator. Dan ini terbukti, dengan terpisahnya mahasiswa dari rakyat, justru kerusuhan makin menjadi-jadi, di berbagai tempat. Pelajaran bulan November lalu sangat berharga. Pertama, bahwa para mahasiswa --bukan elit politik "Ciganjur"-- yang berhasil memimpin massa-rakyat dan mendapat legitimasi rakyat. Kedua, bersatunya rakyat dengan mahasiswa tidak menghasilkan kerusuhan, tapi justru sebaliknya. Selama berhari-hari rakyat relly bersama mahasiswa dan tidak ada kerusuhan, dan sehari sesudah Tragedi Semanggi, dengan turunnya mahasiswa memimpin massa, kerusuhan dapat dicegah, kerusuhan hanya terjadi di tempat-tempat yang jauh dari mahasiswa. Bukan seruan para elit politik dan bukan pula kekuatan militer yang mampu mencegah kerusuhan, tapi adalah inisiatif memimpin massa. Ketiga, rakyat yang dibelakang mahasiswa justru melindungi mahasiswa dari serangan gerombolan Pam Swakarsa dan militer. Sekarang, militer/Habibie sudah merekrut begitu banyak "neo Pam-Swakarsa", untuk menghadapi aksi-aksi mahasiswa. Sehingga, mahasiswa sendiri juga dituntut lebih mendekat pada massa-rakyat. Sekali militer/Habibie berhasil memisahkan mahasiswa dari rakyat, lebih-lebih berhasil memisahkan secara politis, akan sangat gampang bagi mereka untuk menggilas mahasiswa dengan militer/kamranya. Dan, kalau kita jeli sejak dulu militer memang selalu berusaha memisahkan mahasiswa dari massa-rakyat, baik dengan propaganda-propaganda maupun secara fisik. Dengan propaganda, sanga jelas: selalu menyerukan agar mahasiswa aksi di kampus saja dan agar tetap menjadi "kekuatan moral". Secara fisik, juga nampak jelas : setiap aksi, militer selalu mengusir dan memukuli rakyat yang mencoba bergabung dengan mahasiswa. Tadinya, para mahasiswa memang terpengaruh, sebab khawatir diantara mereka adalah para provokator. Namun, sekarang sudah jelas, siapa para provokator tersebut kalau bukan para intel, sehingga tidak perlu lagi mencurigai rakyat. Dengan demikian, adalah penting meninggalkan paradigma "gerakan moral", sebab "gerakan moral" berarti tidak memimpin massa-rakyat yang resah dan hanya memberi jalan para elit yang akan menjadi penguasa baru --yang belum tentu lebih demokratis dari penguasa lama. Yang lebih penting, adalah menjadikan mahasiswa sebagai kekuatan politik alternatif, disamping kekuatan politik mainstream yang ada. *** ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^ Salam Hormat Setinggi-tingginya Kepada Para Pahlawan Reformasi Yang Gugur di Pangkuan Rakyat Tertindas dan Kawan-kawan Seperjuangan yang Hilang di Tangan Penculik/Militer: Penjara tak membuat kau jera Penculik tak membuat kau panik Peluru tak membuat kau ragu Perjuanganmu dengan militansi tanpa batas ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^ ^ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Feb 1999 jam 04:42:08 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
