----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: Pandita Gohkarna

PERMAINAN CATUR NUSANTARA 1

Dengan selesainya negosiasi RUU politik, sekarang Catur bergerak ke fase
middle-game (permainan tengah).  Permainan tengah ini akan berjalan
cukup lama sampai endgame nanti mei   juni.  Ini akan merupakan seri
baru pengamatan perkembangan politik sampai pemilu.

PROLOG PERMAINAN PEMBUKAAN
Opening game kemarin, walau benar masih tidak memuaskan, dengan tetap
kuatnya posisi militer abri baik merah-putih, hijau maupun soe, yang
di-engsel-i oleh wiranto, sang broker-abri.  Namun pergeseran raja-hitam
habibi cukup menarik.  Kemungkinan besar karena gambit kuda gus Dur yang
byayakan (=gentayangan) membelusuk kedalam teritori lawan dengan
gerak-gerik engkol-nya.  Mematahkan suatu koalisi hitam soe-bie-wie.
Gambit ini ada baik en cantek.  Tetapi jika  golongan putih  tidak
segera membuka jalur logistik kepada kuda gus Dur ini, dia bisa mati
langkah ditengah2, dan njedhet, layu sebelum berkembang.  Karena itu
 jalur putih  harus tetap terbuka bagi gus Dur, sementara semua koalisi
pelangi jangan menekan si gus.  Walau tampaknya jadi keenakan gus Dur,
tetapi dia adalah engsel yang jauh lebih baik (kalau bisa jadi engsel)
katimbang direct-dealing dengan wiranto, apalagi soeharto.
Walaupun wali, si gus ini tampaknya mulai out-of-his-depth kalau dilepas
tanpa support.  Dan dasar sufi, katimbang mundur, dia kalau kepepet bisa
malah byayakan di lembah hitam.   Ini pesan utama.

Golkar menunjukkan permainan defensif yang tidak terlalu hebat, jelas
bahwa political machine ini sudah kropos.  Habibi yang mulai main
slimpet sebagaimana seorang presiden.  Dia masih dalam perjuangan
menaikkan nilai Engsel Dewa-nya, menjadi common ground untuk militer,
birokrat dan GPI (pseudo Islam).  Hanya tampaknya dia tak bisa lagi jadi
broker-soe.  Peran terakhir ini tampaknya jelas2 akan dikuasai  oleh
wiranto.  Soe sendiri pasti lebih suka untuk dealing direct dengan yang
punya pasukan, tanpa broker2an, sesuatu yang dia sangat fahami.
Kesimpulannya, abri yang menang dalam gambit pembukaan ini.  Selain
secara jelas masuk ke legislative, yang sangat penting juga bagi mereka
adalah peran eksekutifnya yang tidak diganggu gugat, armada kolonel di
bupati2 dan gubernuran serta berbagai dirjen.  Jarang dibuka, bahwa
sesungguhnya kekuatan dwifungsi abri yang paling besar adalah di jalur
eksekutif, bukan legislatif.  Dan yang lebih penting lagi, wiranto
berhasil menggolkan fungsi Engsel Besar nya, menjadi broker soeharto.
Bukti dari ketegasan ini adalah  sukses nya pelanggengan kekuatan wie
soe dalam pergantian abri terakhir.  Hegemoni wiranto akan
mengkristalkan (setidaknya usaha keras kesitu) kekuasaan abri menjadi
kekuasaan militer dan sipil yang paling menentukan nanti.    So far so
good.  Walau susah di prediksi apakah perwira staf macam wiranto ini
bisa menguasai medan belantara abri dalam waktu lama.
Dapat dipastikan secara tegas, bahwa abri berhubungan langsung dengan
semua kerusuhan selama ini.  Dengan jelas pula berarti wiranto memahami
sekali, walau jelas dia akan menjaga jarak dengan pelaksana langsung
(=secara juridis tak bisa dibuktikan).  Posisi kekuatan setan lama , ABG
(Abri gila) tampaknya akan terabsorb, kekanan masuk kubu wie, atau
kekiri masuk kalitan.   Secara jelasnya ini bisa dilihat pada diri
prabowo, jika dia minggat terus, maka habislah ABG.  Absorbsi ABG ini
sejenis dengan absorbsi pseudo Islam ke partai2 sosial.  Masuk meracuni,
berdiri sendiri terlalu toksik.
Wiranto sebagai headhoncho dari mafia-abri ini sangat meragukan.  Dia
mirip peran A. Yani dulu. Kemungkinan sangat besar dia akan terbawa arus
yang tak dikuasainya.  Tentu saja, jika dia bisa naik rodeonya 6 bulan
tidak jatuh nyungsep, kans sebagai wapres-capres yang diidamkannya
terbuka lebar.
Soeharto tetap bermain dalam fase akhir OL.  Kekuatannya saat ini
hanyalah kekuatan penghancuran, gambit saddam.  Segera setelah ini,
dalam middle-game kita akan lihat pelepasannya yang lain, partai
legitimet.  Gurita partai ini sudah merambah jauh, melalui jalur duit
anak dan kroninya.
Akan menimbulkan problem etis nanti, apakah daripada membiarkan soe main
diluar dengan menggorok manusia 100   200 setiap putaran (ketapang,
kupang, ambon) atau mengijinkannya main legitimet.  Secara teoritis ini
akan merupakan dilemma etis, tetapi kenyataannya nanti akan jauh lebih
mudah buat kita semua, apa yang terjadi terjadilah.  Gek sarate kelakon
ya kedaden.   Ini akan tergantung sekali pada dua orang : wiranto dan
habibi (in that order!).

Kartu hijau GPI juga merosot jatuh dalam gambit pembukaan ini.  Dan
prospeknya kedepan juga lemah, karena beda dari soe yang berduit tebal,
GPI jika sampai tidak disokong gibi pasti alot.  Tampaknya kini begitu.
Bahkan Partai Daulat Rakyat juga tidak akan bergaris agama Islam, yang
berarti sasono si slickie akan bermain di dua kuda.  Walau teoritis
memberi tunggangan pada jumhur untuk menyetor massa lewat bagi2 sembako
ini bagus, tetapi leveraging position pada saat masih lemah adalah
strategi buruk.  Ini memastikan secara sangat kuat bahwa Ekonomi
Kerakyatan (bukan Sistem Ekonomi Rakyat versi Pandita !) sasono jelas2
busuk.  Tampaknya dia melihat ke ginanjar gang.  Nah, gangster pinggiran
ginanjar ini perlu kita lihat sekilas.  Walau tampaknya irisan penampang
gie di politik sangat tipis, tetapi dia sangat dominan di Keuangan, yang
secara praktis adalah kasir dari semua partai.  Terobosan
 rekapitalisasi  dari bandit2 kerah putih ini benar2 mengerikan.
Gemboran iri hati sasono, walau itikadnya selfish, ada benarnya.  Gang
gie ini tetap maling raksasa.  Serobotan PP4 kearah Mo tie (=Lippo
ryadi) sungguh2 nekad.  Membuktikan once and for all, bahwa cina singkek
memang tetap diperlukan oleh para jawa sunda makasar.  Karena mereka
 profesional  tidak bakalan menikam dari belakang, dan kasir yang
reliable.  Ryadi akan menjadi mbah liem baru.  Yang menarik disini,
engsel gie-bie tampaknya tetap loncer.
Jika sasono berpikir bahwa dia menyaingi gie di lapangan duit ini, dia
salah besar.
Tentu saja, GPI belum tamat, karena eksponen-nya seperti si tirto masih
alive and well.  Mereka2 ini yang pasti berusaha menikam kuda gus Dur
setiap kali lena. Untung kebo edan soe agaknya juga tidak akur sama
setan-ijo ini.  Keep it that way.

Kesimpulan awal dari prolog Catur Nusantara , sambil Pandita menegaskan
posisi sebagai pengamat yang bias ke biji putih, reformasi total
kepentingan RKI, adalah : Lapangan bergeser sedikit, yang relatif ke
keuntungan kita. Tetapi overall lapangan masih tetap dikuasai kaum hitam
(lebih dari separo, mungkin masih 65 - 70 %).  Diantara para hitam itu ,
faksi Abri nomor satu, faksi gibi lalu GPI.  Faksi soe belum muncul,
tetapi semua perubahan adalah berkaitan dengannya.  Engsel utama
lapangan bergeser dari habibi ke wiranto.  Pada akhir Pembukaan tampak
wiranto mau membuka dasar di kalangan putih (rapat yani ciganjur plus).
Mau secure position minimal wapres. Harus diingat, bahwa sebagai pewaris
kultur soe, wie sangat abhor uncertainties, maunya politik itu di
 musawaroh  back-door dealing antar para vassal bagi2 perdikan, tanpa
sepengetahuan rakyat banyak.  Ini  kekuatan  faksi soe / wie, susah
menolak silver / gold or lead.   Tetapi sekaligus kelemahan terbesar
mereka juga, kalau sampai ada yang khianat.  Dan dengan era Blawur
samkok ini khianat adalah keyword.  Sekali2 judas bisa juga bekerja
baik.  Nanti kita lihat apakah bisa dilahirkan judas2 baik.

PERMAINAN TENGAH

Artikel awal ini merangkum prolog yang sangat panjang.  Dan sebaliknya,
dengan baru dimulainya Permainan Tengah, belum terlihat gerakan2 nyata.
Kita baru akan melihat kemungkinan2 dulu.

Dengan selesainya opening permainan politik yang melelahkan dan
me-ngelu-kan ini (karena harusnya semua mikiri ekonomi, malah semua
digantung pada strategi abri : kerusuhan ni yee..), kita harus secara
cermat mengamati pergerakan pamain untuk tidak kejeblos, atau sukur2 ada
kesempatan kere-ikut-main diluar penjarahan.  Seperti biasanya, Pandita
akan melihat dengan kacamat RKI   rakyat kecil Indonesia.  Secara lugas
dan kasaran saja.

Tidak mungkin ada lagi grand scenario seperti jaman soeharto.  Paling
hanya grand planning.  Dari abri , habibi , soeharto, sasono.  Sayangnya
grand planning dari proxy RKI , yaitu ABM (PAN-PKB-Mega) tampaknya belum
ada.  Dalam artian khusus ini saja, tidak adanya scenario  jadi  adalah
suatu kemajuan.  Demokrasi adalah pasar bebas, semuanya harus open-ended
(watak demokrasi ini juga susah diterima oleh kaum agama militan yang
absolutis), pemain tidak tahu hasil akhir.

Diluar punya soe yang gelap2an, grand scenario abri yang paling luas
cakupannya, inklusif.  Karena bisa memainkan banyak front.  Front paling
utama saat ini adalah jual-beli nyawa, kerusuhan.  Jika pihak2 lain
hanya dapat melihat kerusuhan sebagai moral-indignity (khususnya bagi
mereka yang tidak terkena langsung !) , abri dapat menarik keuntungan.
Bahkan double, pas masuk dan pas keluar.  Tentu saja anda perlu
jual-diri ke mephisto untuk main ini, dol-nyowo karo-belis.  Tetapi
politik memang tidak melarang mephisto main, regardless what the shits
say.  Saat ini wie main engsel2an sama soe, gibi, GPI dan sejak ciganjur
plus kemarin, para future balons (=bakal calon).  Kunci utama dari
perubahan di Indonesia separo lebih ada di keamanan, dan sesuai
Permainan Sevenskop yang Pandita dulu sebutkan, kartu keamanan ini lebih
ketengah (dekat 7) katimbang kartu ekonomi.  Kartu kunci.  Bahkan untuk
perbaikan politik pun.
Dengan memainkan kartu kunci keji ini, tarik ulur waktu, maka pemegang
kartu ini menguasai medan jangka pendek.  Moralita bukan chip politis,
jadi klop.  Yang paling berkepentingan dengan kartu ini sebenarnya
adalah soeharto, kalau tidak dibilang satu2nya kartu yang dia masih bisa
mainkan.  Tetapi dengan mengayun abri kearahnya, koalisi abri-soe ini
menguat menjadi simbiose mutualistis. .
Ancaman belis ini sesungguhnya tidak untuk dilaksanakan, kalau bisa,
sekedar kidnapper s bluff. Tetapi jika bluff dibeli, ya harus dijual.
Kalau dibayar, maka kekuatan (atau legitimasi kekuatan sesungguhnya)
akan kembali kepada kroni soe.  Cukup jika soeharto jadi nama jalan, dan
anak2 kajen, maka soe akan mati merem.  Bagi wiranti tentu lebih dari
itu.  Sambil lewat menuju kursi kepresidenan.

Kartu berikut dari kesejahteraan Indonesia, perbaikan ekonomi, adalah
yang diperebutkan oleh ginanjar dan sasono, dengan kemenangan masih
ditangan ginanjar.  Sayangnya bagi RKI, kedua ajag ini tidak ada yang
nggenah, menang yang mana aja akan cilaka buat RKI.  Ginanjar akan
menghidupkan lagi kroniisme, dengan  pengusaha2  baru   yang kere2 (baik
kere lama maupun kere baru).  Jual diri pada asing, sambil ngegerogoti
bareng2.   Ke sasono, akan dijadikan tumbal-hitler, yaitu bagi sembako
bagi kekuasaan politis.  Kekuasaan hasil pemerasan seperti sasono ini
sama saja mau Islam, mau Kristen mau Katolik atau Komunis Fasis ,
bedanya hanya mana yang di jadikan SS mana yahudi.  Dibawah pimpinan
non-ahli ambisius macam sasono, jelas jadi malapetaka ekonomi yang lebih
parah lagi bagi RKI.

Indonesia sudah amat telat dalam jadwal reformasi-nya, dibanding
Malaysia, Thailand dan Korsel.  Pemikiran2 serius tentang ekonomi bahkan
belum dimulai disini, apalagi tindakan.  Jika dulu dengan naiknya Chuan
di Thailand, ada phase denial, lalu tentangan perbaikan (penutupan
lembaga2 keuangan) sampai akhirnya maintenance (sekarang).  Kita masih
di fase 1 atau 2.  Tentangan perbaikan ekonomi, tampak dengan program2
rekapitulasi yang sangat membantu (ex) konglomerat, adalah luarbiasa
tololnya.  Retorika  mengundang investor asing  ,  hati2 mereka lari
padahal cuma mafioso (asli) yang berani invest di Indonesia di cuaca
seperti ini sebelum pemilu , baik mafioso cina, arab, india maupun
nigeria atau londo bule. Esensi dasar pengemisan dana asing baik melalui
loan maupun FDI adalah kesalahan strategi.  Ini adalah resep IMF yang
generik ngawuran itu (sungguh menarik melihat sang mandor pothok ngaku
salah, dari awal kita tahu salah, baiknya IMF kan cuma buat ngegertak
soe   ini bahan untuk ekonomi).

Tetapi memang perlu ada kestabilan relatif sebelum kita bisa secara
serius memikirkan Ekonomi Indonesia.  In the meantime, garong nusantara
seperti lippo maupun bakrie akan berebut duduk dikursi depan.  Ini
semacam jatuh tertimpa tetangga.  Memang Jagad Besar tidak ada keadilan
samasekali, konsepnya pun tidak kenal.  Hal2 ini harus kita accept as
facts. Pandita akan mempersiapkan lagi analisa ekonomi nanti.
Sementara ini baca saja dulu analisa2 Kwik di Kompas, yang tajam
terpercaya.

Kembali ke politik.  Ada kesan baik dari habibi, bahwa dia harus memberi
kesempatan kepada berbagai pihak.  Ini mungkin dilahirkan dari kesadaran
intelektualitasnya, atau kesadaran at last bahwa menjadi presiden
transisional adalah puncak karirnya (bukan presiden terpilih maksudnya)
alias kesadaran percuma mencaloinkan diri lagi.  Whatever the reason,
ini adalah his path to future lumayanan, atawa jadi nama gang di Makasar
(gang habibi XII).   Faktor2 yang menyebabkan perubahan ini sangat
unpredictable, sangat personal seorang njelimet.  Beberapa indikasi lagi
tentang hal ini adalah good news buat gerakan RKI.   Walau bagus, tanpa
follow up tindakan sejauh ini masih sangat kurang.  Perlu dipikir cara2
mendorong si cebol kurang pede ini kearah kebaikan.

Gerakan mahasiswa, adalah satu2nya kekuatan yang diametral ke abri
wiranto.  Itu sebabnya dianggap sebagai  real-enemy .  Dengan telah
adanya RUU politik, jalan terbaik adalah penguatan jalur partai.
Semacam Partai Keadilan, menunjukkan satu cara, yang asal tidak kejeblos
ketemu imam edan merebut mikropon, menjadi gerakan yang pantas.  Lebih
baik lagi gerakan intelektual yang non-agama.  PAN misalnya.  Seperti
telah disebut dulu, peraturan main tidak perlu terlalu njlimet, asal
dikenakan sama pada semua pemain sudah cukup.  Golkar punya sedikit
permalingan cincai2 lah. Pengawasan jauh lebih penting.

PENUTUP

Pada akhirnya, perjalanan politik suatu bangsa selalu ter-mehek2, jatuh
sekenanya.  Mengecewakan.  Idealisme platonis hanya perlu sebagai
senter, bukan tujuan nyata. Kita hanya ngelu dalam komparison.  Seperti
misalnya terhadap Thailand sekarang.  Banyak hal adalah keniscayaan
batara Syiwa.  Tak bisa di ganggu gugat.  Itu sebabnya kita harus tetap
optimis dan mengenali berkah Tuhan.  Count your blessing.
Menjadi seorang militan perlu pada waktu opresi sangat nyata, apakah
saat ini masih demikian ataau tidak itu bisa didebat (kalau anda baru
saja di rampog di jalanan alternatif Losari waktu pulang mudik
misalnya).
Yang terpenting adalah tonggak2 perubahan, betapapun kecilnya.  Pada
saat masih bisa diusahakan perubahan besar, harus ditekan terus.

Misalnya, semangat  musawaroh pancasila  yang sebetulnya adalah backroom
dealing mafioso, harus sangat dikurangi.  Jangan bersikap sangat
pragmatis, dengan mengalahkan suatu gerakan secara negosiasi dengan
komandan.   Penyelesaian masalah secara kosmetik belaka.  Ini semua
adalah tanggung jawab maril seorang pemimpin.   Dalam kacamata ini,
sangat terpaksa kita klasifikasikan pimpinan abri saat ini, feisal
wiranto dan sekondan2nya adalah tokoh2  belum bertobat  sampai kini.

Mereka punya kalkulasi mereka sendiri.  Kalkulasi setan.  Betapapun,
dengan berpikir terbuka, tanggapi permainan Catur Nusantara ini, dan
anggap saja pukulan2 abri  golkar   soe   bie adalah pukulan2 Tyson yang
bisa kita analisa dengan gembira atau menangis tersedu.  Sambil terus
mengusahakan permainan yang semakin fair.  Mungkin akan lama, dan
ekonomi akan hancur duluan.  Itu kita lihat nanti.  Ada hal2 positif
going our way.

Berpikir Lugas.

Kumbokarno.  Sang Pandita.  30 Jan 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Feb 1999 jam 05:06:19 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke