----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

150 Ribu Massa PDR di Stadion Senayan
'Jangan Sampai Adi Sasono Ketabrak Truk'
Reporter: Nurul Hidayati
Jakarta. Partai Daulat Rakyat akan mendeklarasikan diri di Stadion Utama
Senayan Jakarta, 17 April 1999. Sekitar 150 ribu massa PDR se Jabotabek,
diperkirakan hadir memenuhi stadion.

Kalimat di atas mungkin agak berlebihan, tapi itulah yang dijelaskan oleh
Ketua PDR Latief Burhan didampingi Sekjennya Jumhur Hidayat dalam jumpa
pers di Hotel Cempaka, Jakpus, Selasa (13/4/1999) pukul 9.30 WIB.

"Mereka datang tanpa paksaan, karena memang mereka simpatisan PDR," kata
Latief. Dari manakah massa itu, dan apakah mungkin partai yang baru dua
bulan berdiri memiliki massa sebanyak itu, Latief menyatakan bahwa
partainya jelas punya massa. "Siapa mereka, yakni para petani, nelayan,
buruh, kelompok seniman, pedagang kaki lima, dan guru," kata Latief.

Jumpa pers soal deklarasi, ternyata lebih dipenuhi pertanyaan soal kaitan
Adi Sasono dengan PDR. Sebab, selama ini banyak pihak menyatakan bahwa
keberadaan Adi Sasono sebagai pengagas PDR sudah menjadi rahasia umum.
Bahkan PDR diyakini banyak pihak adalah kendaraan politik baru Adi Sasono
yang kini menjabat Menkop dan PKM.

Tampaknya tidak secara tegas PDR membantah, atau mengamini keterkaitan Adi
Sasono dalam PDR.

"Secara fisik dia (Adi Sasono) tak ada di PDR, tapi spirit dan jiwa serta
gagasan Adi Saasono sama dengan kami," kata Jumhur. "Yang pasti, ibaratnya
jangan sampai kalau Adi Sasono ketabrak truk gagasan itu lantas mandeg.
[Gagaasan ekonomi kerakyatan] itu harus dikawal, sehingga rakyat mempunyai
kekuatan politik," kata Jumhur.

Jumhur selama ini dikenal sebagai orang dekat Adi Sasono. Dalam Cides
(tanki pemikiran ICMI - red) misalnya, Adi sebagai direktur eksekutif,
sedangkan Jumhur direktur pelaksana harian. Dan orang menyebut, orang
lapangan Adi adalah jumhur, mantan aktivis ITB yang dikenal 'akrab' dengan
Rudini gara-gara kasus pelemparan ban mobil pada awal 1980-an.

Latief menambahkan, bahwa ide ekonomi kerakyatan memang tumbuh dari Dawam
Raharjo, Adi Sasono dan kawan-kawan. "Tapi kami tak memiliki hubungan
struktural dengan mereka. Walau demikian kami tidak keberatan dikaitkan
dengan Adi Sasono, senang-senang saja. Kita memang memiliki suara yang
sama dengan Adi,'' akunya.

Tapi tetap saja antara PDR tetap ada perbedaan. "Kalau Adi berjuang dengan
dana negara, kita menggunakan kekuatan rakyat. Tapi ingat, kita mandiri
dari Adi Sasono dan kita tak akan mengkonsultasikan setiap keputusan
dengan Adi," elaknya.

Pengelakan lain dari Latief Burhan yang juga pentolan Kadin Jatim ini,
adalah bahwwa PDR bukan kendaraan politik Adi Sasono. "PDR juga bukan alat
untuk menaikkan karir politik Adi. PDR akan berjuang untuk memberdayakan
ekonomi rakyat, dan tak menggolkan seseorang jadi presiden. [Tuduhan] Itu
naif."

PDR, jelas Latief adalah Parpol modern dan tak berbasis ketokohan. "Kita
kita berkumpul karena mepunyai ide yang sama, dan bangunan yang sama,"
katanya. Bangunan sama yang dimaksud adalah Depkop, Ormas PDR pimpinan
Cacuk Sudaryanto, Partai PDR, dan para masyarakat bawah seperti pedagang
kaki lima, nelayan, petani, dan lain-lain.

Ditanya pembiayaannya, mereka mengaku biaya sendiri. Adanya dugaan mereka
menggunakan dana koperasi, tentu saja ditolaknya. Begitu pula sangkaan
bahwa PDR memanfaatkan setiap anggota koperasi dan penerima kredit untuk
masuk partai tersebut, itu juga di bantah. "Itu teror di lapangan."

Target massa PDR dalam Pemilu mendatang, kata Latief adalah 30 %.
Perhitungan jumlah target itu adalah begini: "Dulu Golkar kan target massa
pemilihnya 70 %, sekarang targetnya turun 40 %. Berarti kan ada 30 % massa
pemilih yang gentayangan. Itulah massa yang akan diraih PDR, sejumlah
itulah target kami."

Hitungan politik seperti menghitung koperasi saja.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Apr 1999 jam 11:18:00 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke