---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk AMIEN RAIS YANG KE"AMERIKA-AMERIKA"AN Oleh: Sulangkang Suwalu Koran Merdeka (l4/4) memberitakan bahwa di tengah gencarnya usulan perlu debat terbuka bagi calon presiden (capres), tokoh PDI Perjuangan Yahya Nasution mengemukakan keyakinannya bahwa PDI Periuangan dalam pemilu mendatang bakal mampu meraih kursi di DPR 52,5%. Jika ini menjadi kenyataan, tidak usah debat dengan Amien Rais dan AM Syaefuddin dan Akbar Tanjung, Megawati Sukarnoputri akan menjadi presiden menggantikan BJ Habibie. Yahya menyampaikan hal ini kepada wartawan kemarin. Dia berani mengemukakan keyakinannya setelah melihat kondisi riil di lapangan, yakni di seluruh pelosok desa di tanah air bendera PDI Perjuangan berkibar. Dengan kata lain menurut Yahya, "Buat apa debat denBan Amien Rais dll, karena itu akan membusng waktu dan energi saja. Tokh yang penting menang dalam Pemilu." DEBAT SERU SI MEONG DALAM KARUNG Dengan gaya yang lain, Tajuk Rencana Merdeka (15/4) juga tak bisa menerima debat terbuka para capres tsb. Judul Tajuk Rencana Merdeka ialah "Debat Seru si Meong Dalam Karung". Ini lah di antaranya yang dikatakan Tajun Rencana tersebut: Sekarang dikumandangkan debat terbuka bagi para tokoh politik yang mencalonkan diri sebagai presiden diantara mereka, disaksikan publik lewat stasiun-stasiun TV seantero Nusantara, akan dilembagakan sebagai bumbu penyedap yang tidak boleh dilupakan, menjelang dilakukannya coblosan tanda gambar. Argumentasinya sepele. Budaya demikian sudah lama dilembagakan di AS, termasuk negara-negara maju yang getol meniru AS, dan menganggapnya sebagai yang aduhai afdhol, untuk melihat, apakah publik nanti tidak kecele atas pilihan mereka, karena terhindar dari kecerobohan membeli "si meong dalam karung". Demokrasi memang bagus, apakah asas itu dilembagakan di Amerika, di Perancis, di Somalia, di Nepal, bahkan jika dilembagakan di Rusia atau di Cina sekalipun, demokrasi tetap menarik dan merupakan syarat mutlak jika suatu bangsa ingin disebut sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban adiluhung. Akan tetapi, cara penyelenggaraanya, tetap merisaukan jika dilangsungkan dengan kebebasan adu jotos gontok-gontokan dan intrik-mengintrik dan jegal-menjegal. Itu barangkali sebabnya, kemungkinan besar akan timbul segudang pertanyaan dan keragu-raguan apakah suatu debat terbuka di depan penonton TV seluruh Nusantara bisa diseyogiakan, sementara penyelenggara pemilu di Indonesia belum secanggih AS, baik dalam tatacara, aturan permainan, rambu-rambu yang harus diperhatikan dan ditaati, serta sanksi-sanksi yang diperlakukan bagi para pelanggar " konsensus", katakan saja begitu. Sekiranya hanya timbul pertanyaan dan keragu-raguan saja, tidaklah merupakan persoalan gawat, akan tetapi jika terjadi miskomunikasi karena publik kurang ngeh terhadap isi dan inti yang diperdebatkan, maklum publik di Indonesia baru pekan-pekan ini menikmati demokrasi yang bukan demokrasi jadi-jadian seperti selama tiga dasawarsa ini, maka miskomunikasi akan menimbulkan rentetan salah paham yang tidak berkesudahan. Itu pertama. Kemudian masalah hasil debat terbuka di AS sendiri, misalnya. Apakah cara demikian sudah bisa dipastikan akan membuahkan pemimpin yang "top"? Nyatanya tidak. Dwight Eisenhower, misalnya yang mantan jenderal dan panglima perang Eropa, akhirnya terbukti seorang presiden yang bakat politiknya nol. Demikian pula peringkat kenegarawanannya. Presiden Nixon menang debat, akhirnya terbukti seorang kriminal politik. Ronald Reagen yang terpilih sampai dua kali, ternyata sangat mengecewakan rakyat Amerika sendiri. Dan masih banyak contoh lain yang membuktikan bahwa hasil debat terbuka tak urung juga sama dengan "membeli Meong dalam karung". Di Indonesia, di mana sentimen kesukuan begitu sensitif, kesenjangan sosial ekonomi begitu tajam, primordialisme kesukuan sangat menonjol, prasangka serta fanatisme ditempatkan pada Jajaran terdepat, apakah arif jika debat terbuka diantara para capres dan caleg misalnya diadakan sekarang ini? Perhitungkan akibat-akibat yang tidak bisa diantisipasi lebih dulu, jika debat kebablagan menjadi debat "kusir", dan menjadi saling ejek. Massa yang fanatik bisa meluap emosinya, beringas , dan sesal dahulu pendapatan, sebab sesal kemudian sama gekali tidak ada artinya. Demikian Merdeka. UNTUK MENGATAHUI KUALITAS DAN VISI Cukup jelas kiranya tajuk rencana Merdeka menilai tidak tepatnya ide debat terbuka para capres seperti yang dikemukakan Amien Rais, Ketua PAN. Tetapi apa sesungguhnya yang hendak dituju Amien Rais dengan debat terbuka para capres tersebut. Menurut Merdeka (ll/4) debat terbuka dengan Habibie, Akbar Tanjung itu dimaksud Amien Rais agar masyarakat mengetahui kualitas dan visi pimpinannya. Bahkan Amien Rais debat terbuka itu perlu digagas secepatnya. Ini penting supaya jangan sampai kita membeli kucing dalam karung. Meski debat terbuka terkesan liberal dan ke Amerika-Amerikaan, kata Amien Rais, itu penting supaya setiap capres bisa dibedah kemampuannya, dibedah wawasannya mengenai berbagai persoalan krusial di negeri ini. Sangat ideal kata Amien Rais jikalau semua capres dikroyok dengan berbagai pertanyaan. Mulai dari soal hukum, hubungan luar negeri, sosial, ekonomi sampai ke soal-soal mikro. "Saya ingin berdebat dengan Habibie dan Akbar Tanjung. Ini penting digelar sehingga masyarakat dalam memilih capresnya tidak hanya didasarkan fanatisme buta, tetapi benar-benar atas kualitas sang pemimpin itu," ujar Amien. Amien Rais mengakui tidak ada motif politik apapun yang melatar belakangi dirinya ngotot menggulirkan debat terbuka bagi capres. Meskipun dirinya dijagokan PAN, bila nanti dalam perdebatan tidak masuk kualifikasi sebagai pemimpin yang memiliki visi dan wawasan ke depan, dia bersedia mengundurkan diri sebagai capres. Demikian Amien Rais. Benar kah tidak ada motif politik yang melatar belakangi gagasan debat terbuka bagi capres dari Amien Rais? Dari seorang politisi semacam Amien Rais rasanya tidak masuk akal tak ada motif politik melatar belakangi usul politik debat terbuka bagi capres itu. Mari lah kita dalami. YANG TERKANDUNG DALAM GAGASAN AMIEN Sesungguhnya gagasan debat terbuka bagi capres dari Amien Rais tak ada relevansinya bila diketahui bahwa pemilihan presiden di indonesia tidaklah melalui pemilu, seperti di Amerika Serikat~ Berdasarkan UUD 1945, maka pemilihan presiden di lndone6ia dilakukan oleh MPR Jadi, meskipun melalui debat terbuka capres si Suto dapat dikatakan memenuhi kualifikasi dan visi ke depan, namun tidaklah menentukan apa ia akan dipilih oleh MPR atau bukan. Untuk pemilihan presiden akan terjadi "permainan" antar fraksi yang satu dengan yang lain, kecuali bila yang menang debat terbuka tadi, menang mutlak dalam Pemilu. Dan yang lebih mengherankan lagi Amien Rais dengan gagasannya itu hanya hendak menonjolkan tokoh secara perseorangan, bukan ketokohan secara kolektif atau bersama. Itu tergambar dari kalimatnya "agar masyarakat mengetahui kualitas dan visi pimpinannya". Artinya bila kualitas dan Visi pimpinan tersebut telah memenuhi kriteria, kepercayaan yang penuh perlu diberikan kepadanya. Bila hal itu tarjadi, akan muncul Soeharto baru, kekuasaan tunggal ditangannya. Hitam katanya hitam, putih katanya putih. Dengan demikian yang berkembang bukan demokratisasi, melainkan fasisme. Apa yang dikatakan pimpinan harus dipatuhi, tak boleh ada kritik dari bawah. Gerakan reformasi total dengan demikian menjadi gagal total. Selain itu tidak lah dapat dipastikan bahwa yang piawai dalam debat terbuka bagi capres itu akan melaksanakan apa yang dikatakannya di dalam debat terbuka. Tidak sedikit diantara capres yang pendiriannya suka berubah-rubah, termasuk diri Amien Rais sendiri. Apa yang teringat dalam hatinya sesaat, itulah yang dimunculkannya, meskipun sebelumnya ia sudah menyatakan yang lain. Masyarakat pada umumnya tidak menghendaki debat terbuka para capres. Yang diingini rakyat banyak ialah para apa yang dinamakan capres menunjulkkan dengan perbuatannya, tidak hanya dengan kata-kata, bahwa dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga mereka senantiasa memihak rakyat banyak, meskipun akan berhadapan dengan aparat keamanan. KESIMPULAN Meski Amien Rais mengatakan bahwa debat terbuka itu diperlukan supaya kita jangan sampai seperti"membeli kucing dalam karung", sesungguhnya seperti yang terjadi di AS, juga rakyatnya seperti"membeli kucing dalam karung" dengan debat terbuka capresnya itu, seperti yang ditunjukkan tajuk rencana Merdeka itu. Debat terbuka para capres yang berbau Amerika itu seakan-akan hendak memberikan pendidikan politik bagi rakyat, tapi sesungguhnya justru mengakali dan membodohi rakyat, supaya yang dipilih sebagai presiden itu ialah seorang yang pintar debat, seorang "pokrol bambu". Bukan seorang yang sudah terbukti membela dan memihak rakyat banyak dalam segala keadaan.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Apr 1999 jam 19:43:31 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
