---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk TAKUT RUSUH, TENAGA KERJA ASING SIAP-SIAP PULANG JAKARTA (SiaR, 21/4/99), Para tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia sudah bersiap-siap pulang ke negerinya. Mereka takut akan terjadinya kerusuhan besar di Indonesia dalam waktu dekat. Sejumlah perusahaan yang menggunakan tenaga kerja asing telah memberikan konfirmasi mengenai masalah ini. "Bahkan beberapa di antara mereka telah menjadwalkan kepulangannya dan buru-buru menyelesaikan tugas-tugasnya," kata sumber SiaR. Selain tenaga kerja asing, yang sekarang sudah melakukan booking pesawat ke luar negeri kebanyakan dari kalangan pengusaha dan warga keturunan Cina. Selain telah membeli tiket keberangkatan yang "open date" di sejumlah biro perjalanan, mereka juga telah memesan berbagai kamar hotel di Singapura, Hongkong, Australia, Amerika Serikat dan Eropa atau hotel-hotel di Bali dan beberapa tempat yang dianggap aman. Dengan alasan yang sama, Kedutaan Besar Amerika di Jakarta telah mengeluarkan pengumuman secara resmi kepada masyarakat Amerika agar menahan diri dan tidak berkunjung ke Indonesia sampai usai Pemilu atau akhir Juni 1999. Amerika konon juga telah menghimbau warganya yang masih tinggal di Indonesia untuk siap-siap pulang ke negerinya. Terakhir diperoleh kabar bahwa para pembeli (buyers) di luar negeri telah meminta kepada pengusaha Indonesia agar barang-barang pesanan yang diproduksi di Indonesia dikirimkan lebih cepat dari rencana semula. Mereka mengkuatirkan produsen di Indonesia tidak mampu menyerahkan barang pesanannya, karena situasi keamanan selama masa kampanye dan Pemilu. "Karena adanya permintaan itu," kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Djimanto dan Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Anton J Supit, "maka sejumlah produsen eksportir saat ini berusaha menggenjot volume produksinya guna memenuhi permintaan itu. Beberapa perusahaan sepatu anggota Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) yang semestinya akan menyerahkan barang pesanan pada Juli atau Agustus, akhirnya menggenjot produksinya agar bisa dikirimkan sebelum masa kampanye pemilu." Akibatnya, sejumlah perusahaan terpaksa menggenjot kapasitas produksinya dengan kerja lembur. Bahkan kerja lembur pun tetap tidak bisa memenuhi targetnya, sehingga banyak pekerjaan yang terpaksa dialihkan atau disubkontrakkan. Selain itu, menurut informasi, Bank Indonesia saat ini juga kerepotan menangani permintaan percepatan pembukaan L/C. Menurut Anton Supit, sejumlah pemesan dalam negeri pun meminta barang pesanan diserahkan sebelum masa kampanye. Misalnya, para pembeli makanan ternak di Jawa meminta kepada para penjual di luar Jawa mengirimkannya lebih awal. Begitu pula sejumlah penyalur sembako juga meminta para distributornya untuk mempercepat penyetorannya. Bahkan ada kecenderungan di antara mereka menimbun untuk massa-massa kritis yang kemungkinan timbul. Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia, Amirudin Saud, mengatakan, nilai impor tahun 1997 mencapai 41 milyar dollar AS lebih. Namun kemudian merosot drastis jadi $US 22 milyar sampai Oktober 1998, atau paling optimal mencapai $US 28 milyar hingga Desember 1998. Menurut Amirudin, krisis ekonomi menjadi salah satu penyebab tersumbat nya kegiatan impor. Namun gejolak kerusuhan-juga perampokan barang- barang dalam perjalanan-semakin memperdalam keparahan krisis tersebut. Kini, katanya hanya 40 persen importir yang masih melakukan kegiatannya. Selebihnya menghentikan kegiatan dan menyimpan dana di bank karena lebih untung.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Apr 1999 jam 13:29:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
