----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

 AKANKAH PEMBENTUKAN TIM AUSTRIA PENUHI TUNTUTAN OPOSISI?

INTRO: Menanggapi seruan sejumlah partai besar yang menilai Presiden
tidak sungguh-sungguh memberantas KKN-nya Soeharto, maka Habibie kemarin
membentuk tim untuk mengusut uang Soeharto. Tim tersebut ternyata tidak
dipimpin Jaksa Agung Andi Ghalib yang oleh masyarakat dinilai pro
Soeharto. Laporan koresponden Djohan Talisipat dari Jakarta:

Presiden B. J. Habibie nampak lebih percaya pada Menteri Kehakiman
Muladi sehingga selain memimpin tim lima orang itu, Muladi juga akan
memimpin Andi Ghalib selama diadakan penyelidikan ke Austria itu.
Habibie tampaknya sudah menyadari bahwa menyerahkan kepemimpinan kepada
seorang tentara untuk menyelidiki harta kekayaan Soeharto akan sia-sia
saja. Muladi yang mantan rektor Undip serta bekas anggota Komnas HAM
tersebut diharapkan akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik ketimbang
Ghalib. Hanya pada saat-saat terakhir kekuasaannya, Soeharto menyerahkan
kursi Jaksa Agung kepada orang-orang sipil. Sebelumnya sejak awal
berkuasa Soeharto selalu memakai jenderal-jenderal yang setia pada alma
mater mereka. Baik Soegih Arto, Ali Said, dan Ismail Saleh selalu
menjaga agar kepentingan bisnis dan birokrat tentara terjamin. Karena
itu menarik untuk melihat bagaimana Muladi akan menangani perkara
pensiunan Jenderal besar Soeharto ini.

Muladi perlu unjuk gigi demi menyelamatkan karier politik Habibie yang
agak goyah ini, kata seorang DPR RI. Di samping itu Muladi pun harus
membersihkan namanya karena pada waktu lampau ia dikenal sebagai salah
satu orangnya mBak Tutut sehingga berhasil masuk dalam kabinet terakhir
Soeharto. Muladi pernah dijuluki pihak LBH sebagai orang yang paling
sering melanggar HAM dalam berbagai pernyataannya. Bagi Habibie misi
Muladi dan Ghalib ke Austria sangatlah penting. Paling tidak untuk
menunjukkan ke masyarakat bahwa ia sungguh-sungguh mau melaksanakan
mandat rakyat melalui Sidang Istimewa MPR tahun lalu yang dituangkan
dalam Tap Sebelas MPR.

Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung yang baru-baru ini digeser sebagai
Menteri Sesneg dan diganti oleh Muladi, sudah mengeluarkan ultimatum.
"Partai Golkar akan menarik dukungannya terhadap pencalonan Habibie
sebagai presiden, jika pemerintahan Habibie tidak sungguh-sungguh
melakukan pengusutan terhadap mantan Presiden Soeharto. Pada Sidang Umum
mendatang Partai Golkar akan menilai pertanggungjawaban yang disampaikan
Habibie", kata Akbar."Kalau baik, Golkar akan memberikan dukungan dengan
baik. Jika ditolak, bagaimana Golkar bisa mendukungnya", ujar Akbar
Tandjung. Berbicara di Surabaya kemarin dulu Akbar Tandjung mengatakan
pertanggungjawaban B.J.Habibie dalam Sidang Umum MPR sangat menentukan
karena di dalamnya terdapat TAP MPR No XI tentang pemberantasan KKN
serta pengusutan harta mantan Presiden Soeharto.

Gus Dur dalam kampanye PKB di Banjarmasin kemarin juga menyinggung
kekayaan Soeharto yang diimbaunya agar diserahkan kepada rakyat miskin
untuk dibelikan sembako. Para jurukampanye Partai Persatuan Pembangunan
juga sudah berjanji jika PPP yang menang dan memerintah maka Soeharto
akan diadili. Amien Rais dari PAN juga tak henti-hentinya menyalahkan
pemerintahan Habibie yang kurang serius menangani kasus Soeharto ini.
Maka Menteri Kehakiman Muladi kemarin sudah mengakui bahwa bahan-bahan
yang dikemukakan majalah Amerika, Time, baik dan berguna. Ia juga
mengatakan bahwa langkah Habibie membentuk tim Austria adalah suatu
political will (kemauan politik, Red.) pihak pemerintah yang luar biasa.
Tetapi ia tetap saja mengatakan bahwa kunjungannya ke Austria bersama
Ghalib hanyalah untuk mengetahui apakah berita Time benar atau tidak.

Ghalib sendiri mengatakan bahwa ia akan meminta power of attorney atau
surat kuasa dari Soeharto sebagaimana pernah dijanjikan mantan presiden
tersebut tahun lalu. Maukah Soeharto menepati janjinya? Bagaimana jika
uang itu ternyata berada atas nama dua putrinya? Apa langkah Muladi dan
Ghalib selanjutnya. Mungkinkah mereka meminta kepada pemerintah Austria
untuk memblokade dana-dana keluarega Soeharto tersebut? Dan yang masih
menjadi pertanyaan, benarkah bahwa dalam tiga bulan terakhir ini Habibie
sampai tiga kali berusaha menemui Soeharto. Bahkan menurut sumber-sumber
Cendana, Habibie pernah datang ke Cendana tetapi Soeharto menolak
berbicara dengannya. Soeharto hanya bersedia berbicara dengan Akbar
Tandjung yang berlangsung beberapa pekan lampau. Selain berbicara
mengenai organisasi Golkar, dana Golkar dan calon presiden mungkinkah
masalah pengadilan Soeharto ketika itu juga mereka singgung?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 May 1999 jam 06:16:26 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke