----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Rabu, 2 Juni 1999  Berita Utama

Sukmawati: Keluarga Bung Karno Tetap Dukung Mega

SURABAYA - Sukmawati Soekarnoputri membantah keluarga Bung Karno
terpecah-belah. Sampai saat ini, katanya, seluruh putra Bung Karno masih
tetap satu dan mendukung Megawati untuk tampil sebagai calon presiden
mendatang.

''Pencalonan Guntur oleh beberapa parpol tidak pernah diakui, dan
keluarga Bung Karno tidak akan mau. Kami tetap mendukung Mbak Mega saja.
Biar orang lain bicara macam-macam, itu hanya trik politik untuk meraih
massa,'' katanya kepada wartawan, usai kampanye untuk PNI pimpinan Ny
Supeni di Gedung Go Skate Surabaya, kemarin.

Dikatakannya, meski berada di PNI, dirinya tetap mendukung Mega sebagai
capres. Bahkan partainya mencalonkan Mega. Lebih dari itu, suaranya
nanti juga akan digabung dengan PDI Perjuangan.

''Kami akan membikin semacam komunike antarpartai pendukung marhaen dan
pelestari ajaran Bung Karno. Kami akan bekerja sama dan mendukung sampai
Mega meraih kursi RI-1,'' tegasnya.

Tentang komentar Gus Dur bahwa dirinya lebih sreg memilih Sultan
Hamengku Buwono X sebagai capres daripada Mega, karena sebagian besar
umat Islam tidak akan mau dipimpin presiden wanita, Sukma mengatakan
pernyataan itu sangat diskriminatif. ''Saya sangat tidak setuju. Bisa
jadi itu salah satu upaya mengganjal Mega dalam upayanya menapak jalan
menuju presiden,'' tegasnya.

Kalau benar Gus Dur mengatakan seperti itu, ungkapnya, itu menunjukkan
ketidakkonsistenan dalam kiprah politiknya. ''Masak hari ini bilang A,
hari lain bilang B, nanti bisa berubah menjadi C. Tapi selama ini dia
memang seperti itu kok,'' tandasnya.

Sementara itu, dalam pidato kampanyenya, Sukma mengajak warga PNI
konsisten terhadap perjuangan Bung Karno yang ingin menegakkan negara
kesatuan RI, berdasar Pancasila yang dirumuskan dan dilahirkan 1 Juni
1945.

''Kami mengimbau agar 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.
Bukan untuk melahirkan paradigma lama, melainkan karena keinginan agar
pancaran Pancasila yang lahir pada tanggal itu tetap memancarkan
energinya bagi bangsa Indonesia,'' tegasnya.

''Status Quo''

Sementara itu, peneliti senior LIPI Dr Moechtar Pabottingi
mengkhawatirkan kemungkinan PDI Perjuangan terjebak pada pemikiran
status quo dengan keengganannya mengamandemen pasal-pasal UUD 1945 dan
mendukung dwifungsi ABRI.

''Saya setuju pemikiran Cak Nur (Prof Dr Nurcholish Madjid-Red) bahwa
indikasi kelompok pro-status quo adalah tidak bersedia mengamandemen UUD
1945 dan mendukung dwifungsi ABRI. Itu sangat tepat, sebab dengan
melestarikan UUD 1945 seperti sekarang, kemungkinan terjadinya
pemerintahan yang bobrok seperti Orba akan sangat mudah,'' katanya dalam
Seminar Pemilu untuk Rakyat di Surabaya, kemarin.

Kalau melihat dua indikasi itu, sebenarnya yang layak disebut partai
reformis hanya PAN dan PUDI. Sebab, dua partai itu sudah diketahui
sangat konsisten memperjuangkan amandemen UUD 1945 dan penghapusan
dwifungsi ABRI mulai sekarang.

Dikatakannya, PDI Perjuangan harus menjelaskan alasannya enggan terhadap
penghapusan dwifungsi ABRI dan mengamandemen UUD 1945. Kalau alasannya
strategi partai, bisa saja itu dipakai. Tapi itu tidak berarti mereka
menafikan tuntutan di era reformasi, yang menginginkan penghapusan
dwifungsi ABRI.

Sedangkan jika alasan enggan mengamandemen UUD 1945 karena khawatir
negara kesatuan RI akan runtuh, itu bukan alasan yang kuat. Sebab,
amandemen nanti lebih pada upaya pembatasan kewenangan presiden agar
tidak mengarah pada pemerintahan otoriter.

Dalam kesempatan itu, Moechtar mengkhawatirkan kemunculan Orba babak
kedua, yang aktor utamanya Habibie, dengan dua kakinya: ICMI dan Golkar.
Kalau dulu Soeharto memainkan peran dengan didukung dua kaki dwifungsi
ABRI dan Golkar, kini Habibie dengan Golkar dan ICMI.

''Dwifungsi ABRI bersama Golkar sudah terbukti menjadi alat rezim
Soeharto untuk menindas rakyat, mempraktekkan pemerintahan otoriter. Dan
itu kini dicoba dilestarikan Habibie dengan Golkar dan ICMI,'' katanya.

Semestinya ICMI tidak terjebak dan tergantung pada Habibie karena dia
akan bisa mengakibatkan kemunculan Orba babak kedua, dengan pemain
sentral Habibie, Golkar, dan ICMI.

Junta Militer

Sementara itu, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Matori Abdul
Djalil mengkhawatirkan kemungkinan terjadi junta militer di Indonesia
jika Habibie terpilih lagi sebagai presiden periode 1999-2004.

Jika Habibie terpilih, hampir pasti pemerintahan mendatang tidak akan
kredibel. Karena itulah, semua problem politik, ekonomi, budaya, dan
yang lain tidak akan terselesaikan. Akibatnya, stabilitas akan kacau.

''Dalam kondisi seperti itu, yang akan muncul adalah kekuatan militer.
Artinya, Indonesia akan bernasib seperti Myanmar dengan juta militernya,
yang sampai sekarang terus bergejolak. Yang lebih fatal, sampai sekarang
negara itu diasingkan dunia internasional.''

Karena itulah, bagi PKB, siapa pun presiden terpilih nanti, tidak akan
jadi masalah. Yang penting bukan Habibie. Hal itu demi kejayaan dan
kemakmuran masyarakat Indonesia. (an,-29cb)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Jun 1999 jam 11:03:21 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke