----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Golkar Desak Kasus Tanjung Priok Diusut Tuntas

Aparat Kemananan Mengelak tanggung jawab

Jakarta, JP.-

Entah mimpi apa, tiba-tiba Partai Golkar dalam kampanye putaran terakhir
di Tangerang, mendesak pemerintah hasil Pemilu 1999 agar mengusut tuntas
kasus Tanjung Priok 1984 yang menelan ratusan jiwa. Padahal saat itu
Golkar sedang jaya-jayanya sebagai mesin politik Orde Baru yang
seharusnya bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut.

Alasan partai berlambang pohon beringin ini mengungkit kembali kasus
Tanjung Priok karena sampai sekarang belum ada titik terang tentang
penyelesaian hukum terhadap kasus tersebut. 

Desakan Golkar tersebut Jurkamnas Ali Yahya di hadapan puluhan ribu
massa beringin yang menghadiri kampanye monologis putaran akhir di
lapangan Balajara, Tangerang, kemarin.

Menurut dia, tragedi Tanjung Priok di masa rezim Soeharto harus
dituntaskan lewat jalur hukum. Untuk itu, dia minta pemerintah segera
memberikan kepastian tentang kelanjutan pengusutan kasus Tanjung Priok
tersebut. Salah satu fungsionaris DPP Golkar itu juga mengecam tindakan
para penanggungjawab keamanan yang sepertinya mengelak dari
tanggungjawab. Namun dia tidak secara eksplisit menyebut nama Try
Sutrisno yang dulu menjabat sebagai Pangdam Jaya, kala peristiwa itu
terjadi.

��Tragedi Tanjung Priok tak boleh dilupakan begitu saja tanpa
diselesaikan lewat jalur hukum, termasuk mengadili para pelakunya. Sebab
akibat kasus Priok masih dirasakan masyarakat sampai saat ini, terutama
anggota keluarganya yang ditinggalkan,�� katanya.

Sementara itu Jurkamnas Golkar lainnya Slamet Effendi Yusuf dalam
kampanye monologis mengingatkan Partai Golkar senantiasa konsisten
dengan pembangunan sistem politik yang bersifat rasional. Karena itu,
Golkar menolak kekuasaan yang berdasarkan kultus individu. Sebab
bangunan kekuasaan yang didasarkan atas kultus individu cenderung
menumbuhkan dukungan yang irasional, fanatisme buta, emosional dan
memunculkan anarkisme. ��Golkar juga berpandangan, sistem kultus bisa
membuka kemungkinan lahirnya kembali otoritarianisme, sentralisme,
absolutisme, bahkan totaliterianisme,�� katanya.

Menurut Slamet, dua periode kekuasaan di Indonesia masa lalu, memberikan
pelajaran berharga, betapa pemujaan terhadap pemimpin telah membawa
bangsa Indonesia kepada sistem kekuasaan yang sentralistik dan
eksploitatif. Akibatnya melahirkan penyalahgunaan kekuasaan sehingga
melahirkan praktek KKN. (nev)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Jun 1999 jam 11:03:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke