---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Sudah 3 hari ini Bonang gelisah.Bayangan Nisye yang biasanya mendominasi otak, perlahan mundur digantikan bayangan keluarga janda Supeni yang rumahnya tepat bersebelahan dengan rumahnya ini.Barangkali karena malam malam romantis yang sepi saat yang biasanya membuat Bonang selalu menjadi melankolis, berandai andai, berkhayal dan menulis buku harian tentang Nisye digantikan dengan serangkaian malam yang penuh isak tangis Ibu Supeni. Rintihan janda ini kadang berbarengan duet dengan suara ratapan khoidir dan isakan bayi. Irama sumbang mereka merambat menjelajahi dan mengetuk pintu demi pintu rumah rumah di Jalan Haji Sabeni. Tapi seperti biasanya -manusia kota besar memang jarang perduli dengan kesusahan orang. Jelas hampir semua pintu tetap terkunci.Pak Sarbini yang rumahnya pas bersebrangan menyalakan radio untuk mengalahkan saranade Bu Supeni. Ibu Naenggolan yang lumayan berharta, menyuruh anak anaknya masuk kedalam untuk nonton TV, -dari pada bengong bengong mendengari tangisan perempuan dan bayi. Di perkampungan miskin ini- manusia terpaksa harus menyelamatkan diri dan keluarga mereka sendiri. Ini jaman susah,kawan.. Bonang berusaha menutup kepalanya dengan bantal, Dia juga berusaha untuk menjadi cuek, dan beralibi dalam hati " Ah aku kan sudah menolong keluarga ini semampuku.." Tapi tangisan orang yang lapar adalah setajam sembilu mudah membelah dada orang yang berjiwa lembut. Perlahan dada Bonang koyak lagi.Bonang berdiri membuka jendela. Diperhatikan nya gubuk Bu Supeni dengan seksama.Tiba tiba dia merasa begitu kaya dibandingkan mereka. Bu Supeni cuma tukang binatu, semenjak kematian suaminya, penghasilan dia berkurang banyak.Anak anaknya jelas mulai kekurangan gizi karena jarang makan, beberapa diantaranya mulai sakit sakit, dan bayi itu..mulai sekarat karena selama beberapa bulan ini tidak mendapatkan nutrisi yang baik. Sekejab tanpa aba aba, Bonang merasa begitu marah, tapi dia tidak tahu harus marah pada siapa. Sebongkah bulan muncul dibalik awan, Seperti digerakan seseorang, cahaya peraknya memantul menerpa rumah Bonang, perlahan lahan pemuda Batak ini menyadari " ada yang memanggilnya untuk menjadi nabi " Lalu sambil menatap langit diantara cahaya spot light itu, Bonangpun bersumpah "Untuk membantu Bu Supeni dan orang orang yang terkapar di kampung ini sekuat tenaganya, dengan apapun ,dengan cara apapun" Nisye juga punya kesibukan yang sama. Bedanya beberapa hari ini dia menghabiskan waktu menemani Tanti dan keluarganya mendatangi Mabes ABRI dan polisi. Mereka terus menerus bertanya tentang keberadaan Ardy, Tapi jawaban klise selalu mereka dapatkan dari gerombolan preman berseragam ini, " Mungkin anak anda itu sedang kemping, atau naik gunung " Ketika sang Bapak marah besar dan berteriak " Anak saya kalian culik secara paksa dari sebuah Bajaj di senayan sana..!" Sang Abri malah melanjutkan " Kami akan pelajari lagi keberadaan anak anda nanti " sambil tersenyum tanpa perasaan bersalah. Sore itu Bonang menelpon Nisye, tapi ketika telepon Nisye berdering dia langsung mematikannya. Bonang merasa kurang mood untuk ngobrol dengan calon kekasihnya , Lebih baik diselesaikan dulu persoalan umat miskin di kampungnya, pikir dia. Bonang mengumpulan teman temannya. Dari Abung, Berto ( batak gila exs copet senen yang sadar, sekarang jadi kernet Kopaja ) Amir ( kerja jadi salesman air mineral ) Parjo ( Jawa proletar anti keraton , jabatan : Office boy di Pertamina ) Lim Auk Ah ( Cina miskin yang sangat medok betawi ) dan Buyung ( ingat Buyung? si anak Minang yang altruisme, baik hati, tidak pelit ?: mahasiswa Universitas Borubudur jurusan : Hukum dagang/ Dagang Hukum ) Seperti Voltarie, Plato, atau barangkali seperti aktor lenong Rumpi, Bonang berkhotbah pada mereka didalam gedung SMP 38 Filial yang sudah bubaran- tentang persoalan yang di hadapi oleh tetangga tetangga yang susah di kampung ini. Dengan kelembutan lagu pop Bimbo, Bonang mengajak mereka bersama sama untuk berbuat sesuatu. Irama Bonang menyentuh kalbu Berto, mata Batak tampang beton satu ini perlahan membasah, dan si Lim, cina singke ( singkawang ) malah tersedu sedu ketika mendengar cerita tentang bayi Bu Supeni.Begitu juga Abung, pilot Bajaj satu ini dipojokan sana matanya memerah dia mengepalkan tangan dan berteriak sambil menggebrak meja " ayo kita bantu Bu Supeni .." Mendengar raungan malaikat yang minggu lalu digebuki polisi ini, Buyung dan Parjo serentak berteriak seperti koor seribu manusia di sidang umum MPR . " Setujuuu.!!!" Bonang menatap para sahabatnya ini dengan hati terharu, dadanya terasa begitu lega, bahkan Tarjo, penjaga sekolahan yang ikut menyaksikan orasi Bonang dari luar jendela kelas juga mengakui " Ceramah Bonang memang lebih menyentuh dari pada ceramah Zainnudin MZ, yang dia tonton di TV, selain Bonang jelas jauh lebih ganteng dari Kyai Haji Dollariah yang matanya sering jelalatan mencuri dada para artis ini " Tapi setelah mereka membikin kebulatan tekad itu, mereka lalu sadar bahwa masalah dalam hidup ini bukan cuma bisa diselesaikan oleh niat baik belaka. Nabi di backing Tuhan dan umat yang rela mati berkorban, Robin Hood mempunyai masa dan skill berperang dikerajaan nya di Hutan Sherwood sana. sedang nabi nabi Tanah Abang ini apa sanggupnya? Setelah berunding demikian alot ( Parjo menyarankan untuk meminta duit JPS yang biasa disikat geng LSM pada Camat Tanah Abang, Buyung memberikan ide bisnis catering sate Padang ke kantor kantor ,Lim mengajak berburu Edi Tanzil untuk minta tanggung jawab cina sialan ini terhadap ulahnya menyengsarakan orang kecil, Berto mengajak merampok keluarga Cendana ) Tentu saja semuanya ide itu sulit di realisasikan karena hampir semuanya mustahil,sebelum Tarjo yang akhirnya ikutan duduk dan telibat dalam ihtijad suci ini menyarankan " Kite niru film Robin Hood aje, colong duit orang kaye plus pelit buat dibagiin sama orang suse.." Bonang tersentak, itu ide paling tepat.. Malam itu juga mereka merencanakan sebuah gerilya menyatroni para tetangga kampung yang cukup berada tapi kikir luar biasa. Untuk menghindari RAS dan friksi diantara sesama suku, Bonang mengusulkan agar Batak hanya mencuri Batak, Cina mencuri keluarga Cina,Begitu juga Jawa dan Padang. Malam itu mendung bergayut pekat di langit.Setelah seharian lelah mencari nafkah, penduduk kampung pasar Lontar ini tidak seperti biasanya tidur lebih cepat. Pak Muladi, bossnya Abung yang punya peternakan ayam di halaman belakang juga sudah mendengkur dipelukan istrinya yang mirip ulekan gado gado. Dia tidak menyadari sesosok tubuh berkelebat menyelinap ke kandang ayam piaraannya. Abung yang hapal denah rumah dengan cepat mengarungi selusin Ayam dibantu Parjo. Tidak puas juga, sambil lewat dia sikat juga burung perkutut kesayangan germo kikir ini. Malam itu juga warung Babah Goh-Tok-Tai,Pedagang Cina yang tidak mau membaur dengan pribumi, yang tidak pernah menyumbang iuran kebersihan ( Haiaaa..Lu orang mau meles gua ya? Gue olang bisa belsiin got rumah gue sendili..) Sedang bermimpi menjadi Konglomerat, Ketika sesosok tubuh berwajah sipit secara secara hati hati membongkar pintu warungnya. Seperti seorang ninja laki laki ini menyeret satu karung beras dan 2 pak indomie. Begitu juga Bu Nainggolan rentenir tidak berprikemanusiaan dan saingan beratnya Hasan Rasyidi, ketua RT yang tamak, rakus dan gila judi, mereka entah kenapa tidur lebih nyenyak malam itu , dalam kegelapan gang, lagi lagi mereka tidak merasakan bahwa kaca nako mereka dilepas seseorang. Kipas angin Bu Batak yang pernah merampas rumah orang miskin secara paksa gara gara hutang bunga berbunga itu pindah tangan, begitu juga TV kecil plus video Pak Rasyidi yang terkenal tukang malak pedagang kaki lima dengan alasan " uang perlindungan RT " lenyap bersama radio dan kaset gadaian milik Bonang. Sedang si Minang super pedit Abdul Latief tertidur di sofa di depan TV ketika si Buyung, anaknya sendiri memberikan isyarat pada kawan kawannya untuk menyikat mangga di pohonnya yang sedang berbuah lebat di pekarangan rumahnya sendiri. Malam itu adalah malam yang istimewa. Angin seperti berhenti,Tapi Udara dingin mengalir seperti selimut yang menyenyakan semua orang.Jelas malam selalu berpihak pada para pencuri. Tapi karena ini adalah pencuri yang saleh,Tuhan barangkali juga ikut meng amini tindakan nabi nabi kleptomaniknya ini. Subuh telah datang dan perlahan menghilang. Pagi itu adalah pagi paling istimewa di kampung Lontar. Pertama kali bangun, Pak Muladi meraung raung murka menemukan selusin ayamnya hilang. Kemudian Bu Latif terdengar memaki maki dalam bahasa minang " Cilako kito .. Maliang maliang indak tau diri mancuri semuo manggo kito da..!!" Jerit dia ketika menemukan pohon mangganya gundul , buah buahan yang biasa bergantungan lenyap dari pemandangan. Begitu juga Pak Rasyidi, dari kejauhan orang orang bisa mendengar arek arek Surabaya ini membanting banting bangku dan piring, marah lantaran TV dan Videonya nya hilang- Mulai sekarang dia tidak bisa menonton film BF lagi. Sedang Bu Nainggolan jelas tidak begitu merasakan kehilangan " Taiklah sama Kipas anginku itu..sebetulnya tiu juga kipas angin rusak kok,biar saja itu hilang bah " , Diantara korban itu, cuma Babah Gok- yang akhirnya sadar bahwa keselamatan dirinya tergantung pada perilakunya menghadapi orang kampung- sejak kecurian Itu Babah Gok berubah menjadi orang yang ringan tangan, ramah dan selalu menolong orang. Pagi ini juga adalah pagi yang istimewa bagi keluarga Supeni. Sehabis menanak beras kutuan terakhir di tungku kecil, dia berjalan sempoyongan dengan mata merah lantaran menangis semalaman melangkahi anak anaknya yang bergeletakan di tikar. Ketika dia membuka pintu rumah,dia tersentak hampir pingsan menemui sekarung beras yang teronggok di balik pintu bersama satu kotak Indomie, selusin susu bayi,enam ekor ayam yang telah di kupas siap masak, dan satu amplop berisi uang 200.000 rupiah. Setelah terpana demikian lama, dia lalu berlari kedalam membangunkan anak anaknya, menyuruh mereka membawa masuk bahan penyambung nyawa itu kedalam kamar. Setelah itu Bu Supeni pergi berwudhu lalu dia mengurung diri dalam kamar, Janda satu ini bersujud Syukur ke pada Tuhan. Sambil menangis dia mengucapkan terima kasih berulang ulang pada sang khalik yang telah mengabulkan doanya. Khaidir hari ini bisa berobat ke dokter, dan Muhammad Saleh bin Supeni, bayi mungilnya ini kini tidak perlu puasa dari susu lagi.. Setelah tidur siang semalaman karena kelelahan, para Robin Hood berkumpul lagi sore harinya dipekarangan rumah Bonang. Sambil memakan goreng ayam dan perkutut goreng mereka tertawa tawa menceritakan aksi semalam.Wajah Berto nampak berseri tampan, Parjo juga nampak sangat suci, Buyung tidak hadir sore ini lantaran sedang di intograsi bapaknya yang sok detektif itu.Sedang Lim memberikan satu pak Rokok Ji Sam Su buat Bonang. Bonang segera membagi bagikan rokok mahal itu secara adil. Dan Tarjo datang belakangan, dengan cekatan dia menyantap daging perkutut " juara koong se jakarta Timur yang pernah di tawar seorang penggemar burung seharga 5 juta" itu dengan lahapnya. Tarjo lalu berdiri dan mengangkat tangannya, " mulai hari ini, ijinkan gue menjadi geng nya Bonang " katanya sambil berkaca kaca. Mereka saling berpandangan dengan penuh haru. Satu hari dari kehidupan ini telah diisi oleh perbuatan baik penuh kebajikan . Merekalah nabi nabi yang sesungguhnya. Ya merekalah para Robin Hood Kampung Lontar. Malam itu Bonang kembali menemukan sebuah malam yang nyaman. Suara tangisan tetangganya hilang, samar samar dia malah mendengar derai tawa mereka menggema menghangatkan dinding jiwa. Bukan cuma Bu Supeni yang kembali bernyanyi melagukan lagu lagu keroncongan seperti kebiasaannya dulu, setiap kali suaminya pulang dengan dagangan martabak yang laris manis, bahkan bayi kecilnya itu jugai kut ikutan tergelak gelak setelah kembali menemukan susu dan digelitiki ibu. Malam itu Bonang kembali bisa memikirkan Nisye dengan tenang. Dibukanya dompet plastik kumel yang bergambar Burung Garuda Panca Sila dari saku celananya, dicabutnya kartu nama Nisye dengan hati hati,dengan kerinduan yang memuncak diciumnya kartu nama gold itu dengan lembut. Nisye..oh Nisye...aku merindukan kamu... [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Jun 1999 jam 05:17:50 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
