----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

THUS SPOKE KUMBOKARNO

Indonesia mengalami perjalanan panjang, sejak pertengahan 1997, saat gigitan 
krisis ekonomi mulai mencekam krisis kultur negara soe.  Kumbokarno 
berteriak dan menjerit pada saat itu, dari sisi kultur  dan ekonomi.  Segala 
sesuatu terasa amat apek, karena seluruh negara dikuasai oleh seorang 
kemukusian jowo ndeso yang sangat licin memainkan kultur rakyatnya.
Ekonomi dipermainkan.  Seperti halnya semua hal dipermainkan.  Kehancuran 
kultur sangat luarbiasa, bagaimana anak2 soe bertindak seenaknya secara 
hukum dan ekonomi, sekedar untuk pamer bahwa mereka bisa seenaknya, konsep 
kultur jawa ndeso, bahwa kekuasaan sesungguhnya adalah bila bisa membuktikan 
secara �tenang� bahwa dirinya above the law.

KULTUR DAN AGAMA
Segala sesuatu tampak sangat hopeless saat itu.  Kehancuran ekonomi juga 
sangat imminent, karena sikap yang sama, seenak wudel soe, mau diterapkan 
pada suatu juggernaut ekonomi global, sebuah proxy denawa realita dunia 
mayapada.  Alam lugas dan mangkus, ini ucapan Kumbokarno selalu waktu itu.  
Batu dilepas jatuh kebawah, Hukum Besi Alam.  Hukum Kejadian, akan berlaku 
apapun yang  persyaratan berlakunya terpenuhi.   Semua yang lain adalah 
lapisan2 kultur, bagaikan kulit bawang.   Lapisan2 dalam, humanity�s core, 
telah di pre-emptive oleh agama2 besar (= Agama yang sukses dalam 
pertandingan dunia alam pikiran).  Sikap pre-emptive ini bukannya negative 
seperti tuduhan marxist dulu ataupun Richard Dawkins kini, agama adalah 
bagian dari kesejarahan manusia.  Yang pasti terjadi, karena dari 
pengkristalan watak sosial manusia dari dusun, kota ke negara, harus ada 
spiritual bonding.   Dalam percaturan dunia, agama2 levantine (Yahudi, 
Kristen, Islam) mendominasi pasar, bak Microsoft, Oracle dan Sun  di system 
software.  Penguasaan pasar ini dikekalkan dengan �pengabadian� melalui 
indoktrinasi sejak bayi dari anak2nya (=yang sangat disesalkan oleh Dawkins 
terhadap agama Katholik) dan penegasan2 luarbiasa atas kesakralan teks yang 
sesungguhnya secara rasional sangat insidental (=sak-ketibane, coro jowone). 
  Perjanjian Lama, yang menjadi basis levantine religions, adalah sangat 
amburadul seperti samkok.  Perjanjian Baru lebih terstruktur, karena di edit 
oleh redaksi (team Nicene) yang sudah koheren.  Quran lebih terarah lagi, 
karena sudah jelas maunya.   Ini tidak mengurangi keterbatasan dari agama2 
itu sebagai jawaban atas kemanusiaan.  Sekaligus tidak mengurangi pula 
�jasa� (ini dalam tanda petik, bukan karena seolah bukan jasa, tetapi karena 
secara kesejarahan kemanusiaan tidak ada sistem nilai baik dan buruk yang 
membedakan sesuatu adalah jasa atau kejahatan) dari agama sebagai �pemersatu 
manusia�.  Tanpa adanya universal religions, maka pemersatuan manusia akan 
sangat terbatas, tak dapat dibuat bangsa besar yang mempu membangun Angkor 
Wat, Borobudur, Taj Mahal, piramida ataupun Pax Romana dan Kebudayaan 
Modern.  Jadi peranan agama dalam kesejarahan kemanusiaan adalah faktuil, 
artinya ada.  Tak lebih dan tak kurang.   Agama sebagai fenomena kemanusiaan 
adalah sangat jelas ada.  Ini menjawab fungsi sosial diatas, sebagai basis 
agregat menusia, dan sekaligus menjawab pula pada level sangat personal, an 
individual personal yearning for the unexplainable.  Perasaan Numistik 
Manusia.  Dalam hal yang terakhir ini, Pandita mempunyai personal 
experiences.   Kesan Transeden, atau Perasaan Numistik Manusia, adalah suatu 
kenyataan nyata dalam alam pikiran manusia.  Dan jawaban atas hal2 numistik 
ini bukan hanya disuplai oleh kelompok agama Levantine diatas.  Dari 
shamanisme, animisme, pantheisme sampai monotheisme (yang perkembangannya 
juga dapat dipahami melalui perkembangan manusia, baca tulisan2 kultur 
Pandita 97 � 98).  Bahkan dualisme baik buruk dalam agama levantine, adalah 
�turunan� dari konsep agama persia (agama ini yang pertama memisahkan baik 
dan buruk dalam ahura mazda dan angra manyu, sebelum itu semua agama lain 
tidak memisahkan secara tegas, seperti pada Hindu dan Buddha).  Jadi agama 
itu sendiripun mengikuti proses perubahan sosial.   Bagi kalian yang ingin 
membaca hal2 lebih mengenai ini secara ringan namun sangatr jujur, sangat 
baik untuk membaca buku2 Carl Sagan, Demon Haunted World (setengah depan) 
dan Billions.  Bahwa pemikiran2 seperti ini sudah biasa.

Tentu saja, membawa pemikiran seperti itu kedalam situasi Indonesia saat 
ini, yang kacau balau Era Blawur pathing pecotot, seperti memberi cuka orang 
kehausan (komentar netter yang tidak terlalu bodo).  Ya.  Bahkan bicara 
kultur phase satu (=manusia alpaha male, satu raja � idi amin / saddam 
husein, penekanannya pada satu manusia), kultur phase dua (=oligarki 
kelompok family raja, biasanya pake kedok agama biar laku � kerajaan dinasti 
korut, brunei, saudi, soeharto, penekanannya pada kelompok kecil manusia), 
kultur phase tiga (= right or wrong my country / my religion / my group � 
pas tekek : nazi, fasis, komunis, sampai one-nation nya pauline hanson, 
penekanannya pada suatu kelompok (besar) manusia), kultur phase empat 
(humanisme universal : demokrasi, baik mau parlementer atau presidentiil, 
mau scandinavian atau american, penekanannya pada keuntungan manusia umum 
tanpa embel2).   Tampak �kemahalan� bagi situasi kini. Tetapi hanya dengan 
approach macam ini kita bisa tetap menjaga bird view dan tidak ikut2an kabur 
dalam kabut pemblawuran uwap jahat dasamuka dan ketololan.

SITUASI AKHIR

Kondisi sosial negara kita sedemikian parah, sehingga pengobatan tidak akan 
lancar dalam waktu lama (atau bahkan se-lama2nya !).  Jauh2 hari Pandita 
telah melihat dan bekoar bahwa bahaya sangat besar akan muncul dari faksi2 
dalam masyarakat yang akan mewakili salah satu kelompok2 kecil maupun agak 
besar yang akan kembali memaksa kultur bangsa ini ke level KPD(ua) atau 
bahkan KPS(atu).  Yaitu kelompok senjata (=ABRI, apa tni terserah kau lah) , 
kelompok minoritas Islam Fanatis (KISDI, ICMI dan what-have-yous) dan 
kelompok radikal-baru (yang dalam tulisan2 Pandita dari awal di 
personifikasi kan dengan srigala-baru adi-sasono, sekarang sangat terbukti 
dengan pe-de-er nya yang buas seperti komunisme.  Ya, radikal ini dimasa 
lalu biasanya komunis, sosialis, sekarang bukan lagi, karena komunis sudah 
jatuh merk, harus jual bendera baru.  Di Indonesia saat ini radikalist ini 
adalah pe-de-er dan �kelompok status-quo� yang akan berusaha dengan segala 
cara untuk menang). Maupun radikal lama ex-soe.

Dari berbagai tulisan terdahulu, tampak bahwa kaum hitam (kelompok Setan) 
ini sangat fluid ber-gerak2.  Para abri disusupi (atau menyusup diri 
sendiri) para ABG- ABRI Gila, yaitu orang2 kopassus nya pbw.  Pbw naik 
dengan membawa nama soe dan bendera Islam yang paling najis, kisdi.  
Kopassus mengobok abri, kisdi mengobok Islam, soe mengobok sisanya.   Lalu 
kaum srigala-baru sasono mengguris sisa2 bangkai regelan maling2 diatas.  
Sasono gang ini numpang si gibi buat melambung, ndompleng glokar yang 
merupakan �peralatan�nya soe, dan ngobok dalem, melalui kaum kisdi icmi 
cides ppm.  Pas semua orang bingung, sasono ngemplang duit negara gede2an  
buat mbangun platform, jualan nama �rakyat� � perdagangan simbol kultur 
phase empat ini yang membedakan srigala baru ini dari predecessor 
(=pendahulu) nya, jelas bliow adalah the most dangerous man, karena licinnya 
akan menipu kalian2 semua.

Dalam periode menengah, setelah mapannya setan cebol gibi, dan terbentuk 
keseimbangan semu baru, setelah november 98, outcome sangat jelek.  Abri 
main gila terus dan sukses terus, Pandita melayani ngobrol Perwira karena 
dia adalah eksponen mending dari organisasi wong edan abri itu, tetapi jelas 
kemudian, bahwa keracunan Islam bisa merasuk manusia2 tertentu, keracunan 
mabuk kuasa secara gampang2 ngawur ala abri juga incurable.  Perwira 
bukannya �orang sehat� tetapi �orang sumeng� alias yang lain demam berdarah 
dia cuma panas dalam, tetapi sama2 sakit.
(Sekarang kita lihat rombongan wong edan baru, para-handoyo di apakabar ini, 
manusia2 karbitan mirip khmer-rouge songka di kambodia dulu.  Anak2 muda 
yang disogok dan ditipu dengan slogan2 kosong soal kedaulatan rakyat demi 
pencurian uang negara guna pembangunan platform bagi sasono)

Ada beberapa saat dimana kaca lopian tampak tersiram darah merah, dan sayup2 
terdengan ketawa denawa yang sangat mengerikan dari balik gunung dan lembah. 
  Pada saat air sungai terasa hangat dimalam hari, hangat dan licin bagai 
air sisa mandi sarpakenaka.
Kesadaran akan masih aktifnya dimas dasamuka, aji2 rawarontek yang masih di 
kembang biakkan, dan juga beredarnya �kopassus gelap� diluar kopassus resmi 
yang semakin mirip organisasi banci.  Serta para ksatria hitam haus darah, 
baik berbaju jihad-najis maupun berbaju animistis ( sebenarnya keduanya sama 
saja, animisme juga tidak lebih rendah dari agama manapun, dua2 nya sama 
rendah karena sama2 digunakan untuk kejahatan).
Sementara para sekularis di pemerintahan gibi dengan tanpa tahu malu sama 
sekali menyabet semua keuntungan guna meniup terompet sendiri.  Dan sasono 
disisi kiri, ginanjar disisi kanan (gang rampog financial ini, yang sudah 
merekrut semua menteri non-sasono kini, termasuk si tanri gambreng ), 
habislah negeri ini.  Kejahatan diatas, kejahatan ditengah, rampog di sisi 
kiri dan kanan, bedil ngaceng kebawah kearah rakyat kecil, maka sangat tipis 
harapan simboke pertiwi kecuali mlumah terima sodomi lagi.

PEMILU 1999 SEBAGAI KESEMPATAN
Walau penuh retorika gombal abret2an manusia biasa, Gus Dur, Mega dan Amien 
Raies mampu menggalang kekuatan riil.  Yang naik secara amat lambat, karena 
tembre-nya mereka sendiri (Mega yang �bodoh tapi jujur� sang putri nunggu 
singgasana, si AR yang abret2an ala sasono tapi tidak jahat (so far), serta 
GD yang kaji ndeso keminter sufi level dua), akhirnya berhasil membentuk 
massa yang mendingan.  Teriakan gabungan tiga partai dari Pandita sebulan 
yang lalu : COBLOSLAH PAN PDI-P ATAU PKB,   adalah tetap sangat relevan dan 
sangat penting. Secara praktis.

Sekali lagi, bukan karena fanatisme apapun juga.  Rame2 kampanye ini 
sekarang menghibur juga, apalagi bagian boleh menghujat glokar en pdr nya 
mbak Wardah Hafidz.  Wiuh .. cantik tenan ..(disusul si botak Teten  ICW !!) 
Tapi itu tidak penting, yang penting adalah nyuoblos tiga partai itu, dan 
ngikuti saran embak mega, awasi hasil pencoblosanmu, jadilah suami siaga !. 
Jok kanti hasil coblosanmu di tuker bayi raksesa !!

Gemboran Pandita yang mengkritik tiga partai sering di salah fahami bahwa 
tiga partai ini juga ciloko.  Wah jauh rek !  Memang tiga partai itu tidak 
empere ideal, tetapi relatif ke partai2 lain jauh banget rek !!
Katakanlah idealnya plus 100, tiga partai ini average mean nya plus 50 lah.
Banyak partai adalah coblosan percuma, kaya nyoblos banci taman lawang, 
buang bijih percuma !! Tetapi karena efek �opportunity loss� yaitu coblosan 
terbuang berarti kerugian kesempatan, maka pointnya masih minus 20 .  Lha 
nyoblos glokar benar2 mampus tenan !! Minus 80 poin.  Nyoblos kaum radikal 
pe-de-er, pebebe sama aja minus 70 ! (yusril dan gang kisdinya yang ngaku 
moderat sekarang.  Lihat ciri2 ketua2nya, rata2 moto-maling kaya sasono. Tuh 
si ketum pe-de-er kalo main sinetron kudu antagonis terus, moto maling, ndak 
kaya kaji didinnya PK si gemuk adem, misalnya)   Nyoblos orang2 aneh, si 
miftah (lihat nih orang moto maling juga !) si probo dan ibnu-group cendana 
kroni juga minus berat, �yang meringankan� hanyalah bakalan sia2, jadi 
kearah nyoblos banci itu, minus 40 lah.

Lalu nyoblos partai netral2 non-cendana tapi non-sequitur, (termasuk disini 
PPP yang mondar mandir gibi � reformasi kaya anjing minta kawin, 
kebingungan)  mungkin ada baiknya buat latihan pencoblosan masa depan, jadi 
netral � 0.  PUDI, PRD lebih positif, bocah2 ini ada baik, tapi kurang 
ngelmu Kejadian nya, jadi pracuma sajah,  plus 10.  Nah, Pandita nyimpan 
satu eman2an, Partai Keadilan, bocah moslem lucu2 ini ada positip, dan 
orangnya ayem2, plus 20 deh.

Kita boleh saja ribut mau AR, GB atau MW (ini MegaWati, boleh khan ?) , ini 
adalah ribut mau beri ranking mana yang 55, 58 dan 62.  Tetapi ndak main 
kalao membandingkan dengen glokar yang �80  !!!
Jadi kalau kita ribut sama adik kakak, jangan malah ngundang yorris buat 
melerai !! Alhasil adik kakakmu diperkaos preman !

Having said all of that, kita kudu ingat, Reformasi belum pasti menang !!  
Bahkan dalam sejarah tidak ada reformasi ideal bisa menang guampang gitu 
saja.  Ndak mungkin tu !   Malah besar kemungkinan jago kita keok, amburadul 
di pemilu 99, dan kudu ngegroup secara lebih sadar tahun 2004 nanti.   Kalau 
begini, maka �reformasi� yang terjadi mirip dengan Skenario Operasi Lengser 
nya dimas dasamuka (oya, yang minta SOL supaya search d database apakabar 
saja), slo-mo democracy , alias demokrasi pelan2, pelepasan sesuai kemauan 
raja.  Slo-mo-demo inilah yang sejauh ini deterapkan oleh sang gibi , 
wiranto dan �nasehat agung � yang dirahasiakan oleh perwira alengka itu.  
Weleh�
Apapun itu, that is that.  Aja getun (hua ha ha, omongan si Butet itu makin 
lucu aja, gak patheken .. tapi getun � hua ha ).

Moral of the story adalah, begitulah kehidupan nyata.  Bukan idealisme 
konyol agamawi yang jelas2 tidak terealisir, dan hanya jadi kendaraan para 
tiran untuk menggaruk kekuasaan.  Kejahatan pasti akan ada terus, yang 
terpenting adalah sistem sosial yang me- recognize fakta ini dan memasang 
pengaman2 yang rasionil (amandemen UUD 45 jelas2, njiplak amerika saja !)

DARI SINI KEDEPAN
Mengapa untuk guyonan politik gini kudu di prolog-i dengan omongan panjang 
soal kultur dan agama ?  Ya, karena kita belum ketemu semua setan kita.  
Setan soe sudah kita gathuk-rai (=ketemu muka), tapi sisi denawa indrajit, 
anak dasamuka pbw, tetap tidak gathuk.   Setan birokrasi kita telanjangi 
dengan cantek daripada si gibi, ghalib dan slagorde lonte yang sekarang ada 
di pemerintahan.  (dimas2 bambangan, muladi, kikik kirik glokar, pada blawur 
kabeh � memang bahaya ngirim agen ke mafioso central).  Betapa wagunya 
pamong �praja gibi (janji2 sepur buat aceh � heheheh, kocak ni gila).  
Per-wagu-an ini merembet juga ke pe-de-er, sehingga kalo jaman dulu 
ngerampog bangsa sambil mengeluh �betapa beratnya kerjaku memikul duwit 
negara di rekeningku �. Oh.. betapa sumbangsih putra terbacot..�  sekarang 
kudu nyewa maling buat public relation.  Abri udah ngga usaha lagi saking 
konyolnya omongan wir dari dulu (�manunggalnya peluru abri dengan badan 
rakyat ��) terus jihad-najis para kisdi juga sudah keok, setelah ngerampog 
cina2 sampai mbleteng lalu ngumbar bacot kiri kanan atas bawah, para pekoar 
kisdi akhirnya lengser (kecuali satu dua ekor yang tetap menyamar di 
apakabar , apa bener ?).  Sekarang muncul new breed, lonte-sasono.  Yang ini 
memang lebih dangerous man, karena bisa mengobok dengan lugas, PDI-P PKB dan 
menjilat PAN, supaya pecah antara tiga, misalnya.  Lonte ini kelasnya lebih 
yahud.  Untung para kabarians bisa mendeteksi bau kentut para setan ini dan 
act accordingly.
Tetapi tidak semudah itu didunia luar.   Pengobokan 
the-most-dangerous-animal ini pasti ada efeknya, dan next year, para setan 
kisdi, setan abri dan setan soe (plus bie) pasti akan mengadop teknik 
pengobokan yang rada ngutheg ini.  Be ready.  Akhir masa karir sudomo, 
harmoko, baramuli sudah jelas, tetapi masa para setan tidak akan berakhir.   
Hilang johanes jakob, muncul felix, dengan dalang tetep daripada oc kaligis. 
   Sampai suatu kutika, robohlah kita ketepu maling canggih (moga2 sih ngga, 
itu gunanya bacaan �dalem�)

Setan2 ini terus muncul, dengan variant2 yang semakin canggih.  Apa pegangan 
kita melihat setan ?  Dulu sangat mudah, asal goblog tapi diberi kuasa, 
pastilah conggok-dewo (=harmoko, sudomo).  Kalo pinter tapi blas gak 
keliatan, nih dewo racun (beni, ali murtopo).  Kalo plonga-plongo tapi 
disuruh maju corong , nih tembre masa depan (syarwan dulu, suhandoyo 
kejagung sekarang).  Bajingan2nya tolol2.
Jaman gibi, lonte2nya mulus2, si anwar, si jimy kriket, agak sulit (dikit).  
Diluar itu adage goblog tetep, dengan baramuli itu, adage pinter agak 
relatif, cari moto-maling !  (=sasono, miftah, yusril, gogon, kolonel2 
kopassus).  Semakin �mirip wong waras�, after the fact � pemilu 99, para 
setan ini makin mbeling saja.

Perlu kajian lebih mendalem.   Agama tidak bisa dijadikan patokan mati 
seperti jaman nabi nuh (syahadat ? masuk � gak iso ? modiaro�) karena agama 
memang bukan untuk itu.  Gemboran juga hati2, bahkan gemboran plus tindakan 
juga harus tetap hati2.  Tindakan apa ?  Apa jenis kelompencapir ? Alias 
potemkin village ?  bagaimana mendeteksinya ?  perlu Wardah Hafidz mbakyu 
kita itu.
Lainnya yang sangat jelas adalah bagaimana menanggapi kritik , terutama 
kritik yang pake bacot, bukan popor bedil.  Ini crucial test, acid test, 
karena kalau mereka mambiarkan kritik padahal memang gombal, pasti ancur 
nantinya.  Jadi semua kadal pasti ngamuk kena kritik.  Abri dari dulu 
mbedili yang ngritik, karena kalau jujur2an mereka amblas (sampai sekarang ! 
jancukan ki si wiranto yang pasang skenario maling ratu,,, asu kowe wir..).  
  Soe sangat anti kritik.  Bagaimana daripada pe-de-er ?  Kalau berani buka 
soal jps pastilah partai ini daripada modar.   Jadi pasti jungkir walik 
daripada membacot sampai mengebom.  Si ketum yang moto-maling itu sangat 
tampak jelas.

Wawasan semacam ini sangat sulit dilakukan, apalagi kalau anda2 sudah 
�di-aprots� oleh ybs-ybs (=biasa, yang bersangkutan).  Kwik yang termasuk 
paling lugas soal ekonomi, waktu diundang daripada bliow sasono kempes juga, 
karena bliow pinter menekan dengan kata2.  Apalagi segala manusia miniatur.  
  Ini kerepotan masa depan.

Padahal situasi kita membutuhkan ketegasan terus, jangan bernuansa ria saat 
menang kalah aja belum jelas.  PAN PDI-P PKB.   Golkar gombal PDR edan.  
Lain2nya buang kartu !  PK lumayan ( he he lembek juga  si eyang)


PESAN2 PENUTUP

Dengan segala ke-amburadulan saat ini, di tingah ekonomi yang tetap kacao, 
berarti masa sulit khan ?  Sandyakalaning nuswantara ?  Ah gak tuh� kita 
justru masuk matahari pagi !!
Sesuai dengan pembukaan artikel ini, seluruh brouhaha saat ini adalah 
positif.  Bahkan sangat positif !!

Adanya Munir Kontras, Wardah Hafidz UPC, Teten ICW,  akan sangat mencerahkan 
suasana pagi ini.  Bangkitnya PAN PDI-P dan PKB di pemerintahan Indonesia 
akan mengunci kecerahan ini dalam periode yang lebih panjang.  Walau tidak 
akan jadi gemah ripah , tetapi kita akan bisa meninggalkan satu pahase hitam 
sejarah Indonesia secara definitif.  Mirip suasana Filipina setelah Marcos, 
bangkitnya Cory terbukti tidak mampu membangkitkan ekonomi, tetapi yang 
terpenting adalah membenamkan marcosisme (walau saat ini bahaya laten-marcos 
tampak bangkit lagi).   Itu pula yang terpenting terjadi kini di Indonesia.
Pengaco-beloan dengan agama, Islam khususnya, pasti berakibat besar di 
Indonesia.  Itu pula sebabnya semua yang bisa main kartu Islam pasti main.  
Bacot ting slawir pasti main.  Tetapi ingak ingak, yang paling penting 
adalah perubahan bertahap kearah kebaikan walaupun pelan.  Kebaikan dalam 
pluralisme Indonesia adalah Kultur Phase Empat yang sesungguhnya.  Dalam 
konteks ini,  Indonesia adalah suatu hal yang layak diperjaungkan oleh orang 
Indonesia.  Semua yang arahnya sesungguhnya kultur phase kurang dari empat, 
tiga : chauvinistik nasionalis, apalagi plus sosialis / Islam, fasis baru.  
Kultur agama tradisional (nyembah ulama, imam mahdi atau sufi picek, apalagi 
koplo edan kisdi).  Kultur phase dua, soehartois atau habibies jelas.  
Kultur Phase Satu, cita2 jowo2 asli jadi gung binantara.  Semuanya jelas2 
anti. Konsep kultur dan pandangan langit Pandita adalah satu2nya cara untuk 
mendeteksi kerusakan pada level kultur ini, area yang sampai kini sangat 
sepi pembahasan, dan selalu berhasil dikobok oleh para setan.

Indonesia masa depan yang berbasis pada Kultur Phase Empat, yang tidak 
menggolonglkan manusia dalam kotak2 karangan sendiri, dan tidak membedakan 
manusia, biar pemimpin atau orang biasa.   Masyarakat yang terbuka, semuanya 
open-ended.

Kita akan menghadapi banyak sekali tantangan, selain yang primordial2 
diatas, juga yang bersifat �intelektual� (palsu) misalnya yang terpenting 
adalah efisiensi.   Diktator modern menggunakan alasan ini, bahwa mendengar 
banyak suara itu tidak praktis, harus tegas saja (singapura misalnya), kalau 
tidak semua tidak jalan.   Ini pula alasan anak2 cendana dulu masuk semua 
proyek besar di Indonesia, untuk memotong red tape , katanya !.  Singapura 
masih mampu menjalankan hal ini, tangan besi dengan hasil baik, karena punya 
pemimpin konfucius sejati. Sangat jarang, dan impossible disini.
Apa implikasinya ?  Segalanya memang tidak harus terlalu efisien, dengan 
mengorbankan prinsip. Prioritas efisiensi dibawah demokrasi.

Jika perlu keputusan harus dibicarakan secara terbuka dan ber-tele2 !!!  
Kalau mau lebih baik bukan dengan memberi kekuasaan tak terbatas pada orang2 
terbatas (seperti rencana gibi dengan ber-dewan2 ria nya) , tetapi buatlah 
suatu bar-association !!! Kelompok manusia2 profesionil yang mengawasi diri 
mereka sendiri secara sangat transparan.  Dewan gubernur bank central adalah 
salah satunya, kurang transparansinya.  Gaji tinggi tetapi blos drong, 
celana dalam keliatan semua.  Pasti ada yang mau, sebaliknya bangsa 
moto-maling pasti tak mau dengan berbagai alasan.  Juga kelompok feudal 
modern (oxymoronic ?) yang mau enaknya saja.
Keputusan2 besar tetap harus dibuka di sidang dewan rakyat, betapapun tidak 
praktisnya.  Hilangkan semua backroom delaing, yang menjadi landasan dari 
Sistem Ekonomi Konglomerasi, baik Asli Jepang apalagi yang Setengah.   
Akibatnya ?  semua keputusan tidak bisa �distel� dulu, segala sesuatu bisa 
saja di jatuhkan pada menit terakhir.  Goreng-gorengan tidak boleh jalan 
lagi.

Dengan melihat Apakabar sebagai contoh, saat ini tampak jelas polaritas 
orang2 pinter dan orang2 goblog jiwa edan (yang akan selalu ada didunia yang 
fana ini).  Fakta bahwa para pe-de-er kudu berjibaku di Apakabar ala Kisdi 
dulu sebenarnya juga cukup menggembirakan, karena maling kudu usaha 
sekarang, ndableg wani isin minmal, sambil di-sepatani wong sak-jagad abuh 
sehingga resiko besar weteng�e mlendis.   Salam salut kepada para internaut 
Singo, Mangir, Lion, Mahesa, Proletar, yang terus berjalan dijalan yang 
asyik.  Berkembangnya cara penulisan dan kedalaman para internaut golongan 
putih ini sangat menggembirakan.  Secara pelan, kita harus menghargai otak 
lebih dari semangat wani-isin.  Bagaimana dengan perkembangan wong2 edan 
handoyo-kusuma-lestari-dewi ?  Biar saja lonte2 mbacot, asal kalian2 tahu 
who is who.


SALAM PERPISAHAN

Indonesia memasuki periode makin tidak pasti, tetapi makin baik.  Uwap 
jahat, bukan hanya dari kepala soe-dasamuka, tetapi juga dari cabang2 setan 
Militer (=kekuasaan fisik), Agama fanatik (=monopoli interpretasi keagamaan 
secara gila2an), neo-fasis (=kekuasaan pribadi atas nama orang banyak, jenis 
pdr).  Maupun dari ketololan2 pemimpin2 baik yang jahat maupun lurus.  Human 
stupidity ini termasuk gemboran emha yang semakin ngawur dengan paranoid 
amerikanya.  Nalangi kegoblogan juga termasuk pekerjaan super-ngelu.
***
Tetapi demikianlah mayapada.  Sampai kapanpun varibility manusia sedemikian 
sehingga distribusi orang baik sampai maling maksimum kurang lebih sama 
saja.  Jika Islam berhasil memaksakan diri, seperti di saudi atau brunei, 
maka para psikopat bernama arab, itu saja.  Perkosaan, penyembelihan sampai 
pengutilan sama saja.   Itu sebabnya kriteria kemajuan dalam dunia luas 
tidaklah linier atau simplisistik.  Seperti biasanya dijeplakan para agamawi 
politico, atau para politico ambisius.

Lalu semuanya relatif ?  Tentu saja tidak.  Trend saat ini di Indonesia 
adalah kearah positif.  Sangat berbeda dari tahun lalu.  Perjuangan masih 
panjang, ghalib tetap saja bercokol, walau semua orang sudah sangat tahu 
persogokan melalui istrinya untuk �titip pesan� bukan hanya oleh nin-king 
dan prayogo.  Tetapi demikianlah semua jajaran polisi dan polisi militer.  
Tetapi sekarang monyet harus njoget. Nantinya, OJ simpson tetap lolos di 
Amerika, tetapi dia kudu ndagel pol.

Apakah suatu saat ada gemah ripah ? Pandita cannot say. Sejarah menunjukkan, 
sebagaimanapun gemahnya amerika, trailer people tetap sangat menderita.  
Belum lagi alienasi kejiwaan, yang mendera kebahagian manusia dari dalam.  
Minta proletar bercerita lebih banyak tentang penderitaan di amerika. 
Berbeda, tetapi tidak lebih rendah rasa sakitnya.

One thing is for sure, Semuanya ini jauh lebih abaik dari setahun yang lalu 
!! dari Dua tahun yang lalu !! dari sepuluh tahun yang lalu !! Indonesia 
bangkit.  Dengan meninggalkan Kultur Phase Satu / Dua menuju Kultur Phase 
Empat (atau Tiga).

INDONESIA MEMANG BANGKIT SAAT INI !!
Saat ini adalah One of the Great Chances given to Indonesians.
Hiduplah biasa, datang ke TPS tanggal 7 Juni nanti dan cobloslah PAN, PDI-P 
atau PKB.  Bar coblos klinter2 sebentar ngobrol2 sama teman2 rakyat 
berdaulat (ojo coblos pdr, rek !!) lalu mulih.
Senin malam kita sholat tahajud semua seluruh Indonesia !!!

Catatan akhir :  Kemungkinan besar ini adalah catatan terakhir Kumbokarno 
untuk waktu yang lama.  Bangkitkanlah Kumbokarno � Sumantri kecil didalam 
hati kalian masing2.


Thus spoke Kumbokarno.
Kumbokarno.  Sang Pandita.  3 Juni 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Jun 1999 jam 15:12:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke