---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Pemilu 1999 tinggal hitungan hari lagi, hampir semua golongan ikut sibuk mensukseskan 'Pesta Demokrasi "(versi Soeharto) ini. Dari Mahasiswa dengan UNFREL-nya, Dosen dan Rektor dengan FORUM REKTOR-nya NGO's, ORMAS, OKP dan banyak lagi forum-forum pemantau Pemilihan Umum turut serta menyemarakkan hajatan besar bangsa ini (lagi-lagi versi soeharto) baik itu lembaga yang sudah dari dulu ataupun lembaga-lembaga kejutan ( yang masih tidak jelas keberpihakannya dan ideologinya ) ikut-ikutan mantau pemilu yang katanya biar pemilu sekarang berlangsung Jurdil karena yang mantau pemilu banyak. Tapi jika kita kilas balik, apakah benar-benar pemilu yang akan berlangsung ini sudah jurdil dan demokratis sejak awalnya. Dari pemerintah yang buat undang-undang sampai susduk di DPR saja sudah kelihatan kalau pemilu kali ini sangat jauh untuk dikategorikan kedalam pemilu yang demokratis, jujur dan adil. Tapi herannya, banyak kalangan yang sudah mengetahui kalau pemilu kali ini tidak jauh beda dengan pemilu-pemilu yang dijalankan oleh regim soeharto, masih juga mau melegitimasi pemilu ini dengan membentuk barisan pemantauan pemilu, sebenarnya apasih yang terjadi dikalangan oposan yang selama ini gencar-gencarnya mengkritik segala tindakan pemerintah yang tidak masuk akal. Apakah ini suatu fenomena munculnya ideologi baru yang kata anak-anak Palembang adalah IDEOLOGI PISAU SILET , ( silet itu matanya dua, dikanan dan dikiri keduanya bisa dipake'), apakah kaum oposan sudah memakai ideologi ini ? (ngak perlu dijawab) Kalo kita lihat yang terjadi di Sumatera Selatan, di Dusun Panglero, Desa Semangus, Kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan ( masih bagian negara Indonesia juga bung, walaupun dibilang pemerintah daerah mereka adalah indigenous people ) masyarakat disana malah melakukan boikot pemilu karena mereka menganggap pemilu ini tidak demokratis, ABRI ngak punya partai dapet 38 kursi, Presiden yang ngangkat presiden juga, dan masih banyak lagi. " Lemakla kami jadi ABRI, dak milih, dak katik partai dapet 38 kursi di DPR RI!" ( Enakan jadi ABRI, tidak memilih, tidak punya partai dapat 38 kursi di DPR RI ). " Kami galak milih kalo pemerintahan sudah bagus, demokrasi suda idup, idak pecak soeharto dulu, kasus tanah kami la selesai, baru kami ini milih kan katonyo pemilu itu hak bukan kewajiban " ( Kami mau milih kalau pemerintahan sudah bagus, demokrasi sudah hidup, tidak seperti soeharto dulu, kasus tanah kami sudah selesai, baru kami ini ikut memilih, kan katanya pemilu itu hak bukan kewajiban ).ujar Pak Rifa'i petani dari Panglero. Kalau dilihat, petani pun menolak pemilu yang sekarang ini akan dijalankan oleh pemerintahan Habibie yang nota bene adalah perpanjangan tangan soeharto, kenapa kaum intelektual kok ngak kepikiran sejauh itu (mungkin) apakah IDEOLOGI PISAU SILET itu memang benar-benar sudah jadi ideologi kaum intelktual bahkan NGO's ? Ngak usah dipikirin, cuma sekedar renungan kok !!! Salam, SAYA ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Jun 1999 jam 14:54:48 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
