----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:

        KEKALAHAN TELAK PAN DAN AMIEN TRAGIS BAGI REFORMIS

        UUD DAN KUHP DARI ERA PRA-MAGNA CARTA 1215 BECOKOL TERUS

Tidak ada yang menduga bahwa PAN dan Amien Rais akan menderita kekalahan
yang begitu telak sehingga jatuh paling bawah dalam urutan big five.

Pertama, Amien adalah pelopor utama - sesudah Bintang dibekukan dalam pen-
jara oleh Suharto - pengecam tunggal rejim fasis militer yang korup dan telah
me-
ngakibatkan kesengsaraan kolosal/massal rakyat jelata.

Kemudian Amien menjadi pemimpin reformasi total yang pertama pula. Dengan
berani Amien memelopori amandemen UUD 45 yang telah "dikeramatkan" golo-
ngan statuskuo, bahkan berani pula merombak Hukum Pidana yang masih diceng-
keram oleh era pra-Magna Carta 1215 itu.

Program Politik Amien umumnya paling reformis, paling progresif. Golongan
inte-
lektual menyetujuinya hampir 100%.
Dia menjadi harapan semua pihak yang benar benar mendambakan reformasi to-
tal.

Kampanye Amien di seluruh Indonesia bersemarak besar besaran, baik di jalanan
maupun dalam rapat rapat umum. Kalau ada diskusi atau pertemuan yang diha-
diri oleh Amien sebagai pembicara selalu penuh sesak di seluruh Indonesia.
Perdebatan di UI Salemba meledak sampai sampai kejalanan, orang orang naik
atap karena antusiasme yang meluap luap.
Saya meliput hampir semua kegiatan Amien di Jakarta itu dan mendapat kesimpu-
lan bahwa dialah tandingan PDI Mega dalam pemilu.
Walaupun penghitungan hasil pemilu belum selesai, perbandingan suara sampai
lk 70% ini tidak akan banyak berubah, Mega tetap leading lk 140 kursi lawan
lk 7
kursi PAN, suatu hal yang cukup mengagetkan.

Apakah sebabnya?
Menurut hemat kami, pertama,  Amien telah terjebak strategi lawan. Ada parpol
yang sengaja memberikan kesan sebagai pengikut PAN padahal bukan. Disam-
ping itu mungkin juga ada "floating masses" yang pada waktunya mencoblos
parpol lain karena money politics, dsb.

Kedua, Amien telah membuat blunder fatal: ia meninggalkan massa Muhamadiyah
yang berjumlah puluhan juta itu dan berupaya menjadi pendiri dan pemimpin PAN
sebagai parpol baru yang sekular dan merangkul orang orang Kristen. Anggota
Muhammadiyah merasa dikhianati lalu meninggalkan Amien dan menyeberang ke
PPP dan PKB atau malah ke parpol parpol kecil lainnya.

Ketiga, Amien membuat blunder strategi yang fatal: ia seolah oleh membentuk
Kabinet dan meraup segala golongan yang bertentangan ideologinya seperti fun-
damentalis Fatwa yang telah dipenjarakan oleh Suharto karena dituduh mau men-
dirikan negara Islam dengan golongan golongan yang samasekali tidak "kompa-
tibel" dan bukannya membina parpol baru yang mempunyai "grassroots" bukan
floating masses atau pendukung "freelance" yang "non-committal".

Menjadi pertanyaan pula, mengapa PKB yang telah meninggalkan massa NU ma-
sih mendapat kembali jutaan pengikutnya padahal banyak di antara mereka itu
ju-
ga merasa ditinggalkan oleh Abdurrachman Wahid dengan PKB-nya.

Mengherankan juga, parpol Golkar yang selama ini terkenal sebagai kuda tung-
gangan Suharto kemudian Habibie yang merupakan kepanjangan tangan Suharto
dan bergelimang dosa yang telah menghancurkan rakyat dan negara, masih mam-
pu menggebug Amien dan PAN-nya dengan perbandingan suara 100:7 ! (Saya
telah tulis bahwa pengalaman organisasi, dana, memang telah dijadikan pega-
ngan para pencipta UU Pemilu 1999 untuk memenangkan Golkar).
Demikian juga PKB yang jauh ketinggalan perjuangan reformasinya oleh Amien
dan PAN jauh sekali meninggalkannya di belakang.

Ini merupakan hikmah bagi Amien dan PAN agar supaya menghadapi pemilu 2004
bisa menciptakan politik pembinaan parpol bukan sekedar pembinaan citra Amien
sebagai capres belaka.


Sesungguhnya tidak ada yang mengherankan dalam politik yang bersemboyan:
"Never say never in politics" dan "There are strange bedfellows in politics",
"Anything is possible in politics", etc. etc.

Tapi jelas kekalahan Amien adalah tragis bagi reformis, termasuk mahasiswa.
Apakah ini berarti mereka akan turun kejalan lagi mengakibatkan stabilisasi
sebagai syarat mutlak pembangunan kembali ekonomi terhambat atau gagal
samasekali?

Kita, golongan reformis total, merasa dirugikan dengan kekalahan telak Amien
dan
PAN karena kita tidak tahu setback apa yang harus kita telah setelah pemilu
ini.
Sayang Amien yang pinter keblinger tidak mau menganggap pembinaan partai
reformis, dia overwhelmed, preoccupied dengan ambisinya untuk menjadi presi-
den padahal tadinya dia pemimpin rakyat menentang rejim fasis militer yang di-
kepalai Suharto.

AMIEN TERGILAS LAWAN LAWANNYA
Amien tergilas Megawati yang menjadi simbul baru anti-Suharto, tergilas
Habibie
yang mempunyai mekanisme pemilu jitu lewat Golkar, tergilas Abdurrachman
Wahid yang berhasil mencuri gagasan Amien untuk membentuk partai sekular
yang "quasie reformis" dan last but not least tergilas oleh umat grassrootsnya
sendiri, Muhammadiyah yang merasa ditinggalkan untuk merangkul golongan
sekular yang terbukti hanya jebakan semata karena mereka semuanya lebih
percaya kepada PDI Mega daripada kepada Amien.

Karena blunder Amien yang fatal ini maka rakyat Indonesia terjerumus ke dalam
neo-statuskuo, namun masih memberikan harapan karena kerakyatan PDI-P
mungkin bisa menghidupkan kembali perekonomian rakyat yang sudah mati.
Inilah satu satu harapan kita dari Mega.
Masalah amandemen UUD dan KUHP yang keduanya dari era pra-MagnaCarta
1215 itu terpaksa harus menunggu 5 tahun lagi, itupun kalau kita berjuang
dengan
taktik, strategi dan prinsip yang tepat.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Jun 1999 jam 14:03:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke