---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Media Indonesia, Senin, 28 Juni 1999 Tak Tahan Diteror, 400 Warga Asal Timtim Mengungsi UJUNGPANDANG (Media): Sekitar 400 eksodus asal Timor Timur (Timtim) tiba di Pelabuhan Makassar Sabtu dini hari dengan menumpang kapal motor milik PT Pelni yang berpenumpang 900 orang. Sebagian besar dari 400 pengungsi itu adalah warga pendatang, ada juga penduduk pribumi asal berbagai daerah di Timtim seperti Kabupaten Viquequee, Lotem, Liquica, dan Baucau. Bahkan terdapat di antaranya guru SD, SLTP, dan SMU. Mereka menyatakan tidak betah tinggal di sana akibat aksi teror yang disertai ancaman pembunuhan oleh kelompok prokemerdekaan. "Ada sekitar 40% guru di Kabupaten Lotem terpaksa meninggalkan daerah tersebut. Kami dan rekan-rekan merasa ada perasaan tidak aman mengajar," kata salah seorang guru sekolah dasar (SD) asal Sulawesi Selatan di Kabupaten Lotem. Abdul Rauf Kadir, 40 kembali ke kampung halaman bersama empat rekan sesama profesi sebagai guru SD. Sejak Timtim masuk dalam sengketa wilayah internasional, menurut dia, rasa aman para guru sangat mengkhawatirkan. "Selain ancaman dari pihak prokemerdekaan, juga perilaku kebanyakan siswa sudah tidak simpatik. Kadang mereka sudah main pukul," ujarnya. Abdul Rauf Kadir yang beristri warga pribumi Timtim, mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. "Daripada melawan, lebih baik kembali ke kampung halaman," ujarnya sembari menambahkan sejak 20 tahun terakhir mengabdi sebagai guru di sana. Ditanya apakah berniat kembali ke Timtim, Abdul Rauf Kadir mengatakan. "Terus terang saja saya ke Sulsel sekaligus mengurus kepindahan mengajar." Dalam kaitan itu, ia bersama rekan-rekan yang lain minta sikap pengertian pihak pemerintah agar memberi kemudahan untuk pindah mengajar di daerah ini. "Keinginan kami pindah ke sini hanya karena terpaksa. Kami tidak ingin menanggung risiko besar," jelasnya. Soal aksi teror dan intimidasi, juga dialami seorang warga pribumi Ruben PA. Menurut dia, menyingkir ke daerah aman jauh lebih baik guna menghindari terjadi pecah perang saudara pascajajak pendapat. "Kami belum tahu pasti apakah akan kembali ke tanah kelahiran saya. Yang jelas kami menunggu hasil jajak pendapat," ujarnya. Menurut kedua kaum pengungsi itu, intensitas terjadinya bentrokan fisik mulai meningkat sejak pemerintah menawarkan opsi tentang penyelesaian masalah wilayah Timtim. "Pertikaian hampir setiap hari terjadi antara prointegrasi dan prokemerdekaan," katanya. Tentang situasi terakhir di Kota Dili, mereka mengatakan, kendati suasana tegang masih meliputi warga setempat, namun situasi keamanan sudah mulai berangsung-angsung normal. Berbeda dengan eksodus yang datang lebih awal menilai kehadiran wakil PBB di sana telah menimbulkan kekecewaan kelompok prointegrasi karena melihat ada perlakuan khusus kepada yang prokemerdekaan. (HE/N-1) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 29 Jun 1999 jam 13:04:36 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
