----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

KOMPAS, Senin, 28 Juni 1999

Ratusan Warga Timtim Masih Bersembunyi

Dili, Kompas
Sekitar 600 warga Timtim masih bersembunyi di hutan-hutan,
karena trauma aksi teror dan intimidasi kelompok prokemerdekaan.
Mereka umumnya diancam hendak dibunuh. Komandan Resor Militer
164/Wira Dharma Kolonel (Inf) Tono Suratman di Dili, Sabtu
(26/6) mengatakan, sekitar 600 warga Liquica masih berada di
hutan-hutan setelah kejadian tiga bulan lalu, di mana kelompok
Conselho Nasional de Resistencia Timorese (CNRT/militernya
Fretilin) di Liquica mengancam dan memaksa warga meninggalkan
tempat asal masing-masing,"kata Suratman.

Disebutkan, bisa terjadi warga dari kabupaten lain juga masih
bersembunyi di hutan. Mereka bersembunyi karena banyak isu dan
informasi antara sesama di hutan-hutan, bahwa mereka juga akan
dibunuh oleh TNI, Polri, dan milisi pro-integrasi. Ternyata isu-
isu serupa hanya bertujuan untuk memecah belah persatuan orang
Timtim dan merusak suasana damai yang tengah dibangun semua
pihak termasuk PBB di Timtim.

Namun demikian, pekan lalu sekitar 208 warga Suai yang
bersembunyi di hutan tiga bulan lalu, turun ke desa dan kampung
asal, setelah mendapat imbauan aparat Kodim setempat bersama
pihak gereja dan tokoh masyarakat.

Segera kembali

Semua pihak termasuk TNI melalui Kodim dan Koramil bekerja sama
dengan tokoh masyarakat, meminta agar siapa pun yang masih
berada di hutan, segera kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Bagaimanapun mereka harus mendaftarkan diri dan mengikuti proses
penentuan pendapat di Timtim Agustus 1999.

Sikap TNI dan Polri sangat netral; dan mengharapkan persoalan
Timtim segera diselesaikan secara aman, damai dan menguntungkan
kedua pihak yang bertikai. Dalam rangka ini, TNI secara
perlahan-lahan menarik pasukan dari Timtim. Selama bulan Juni
1999 sekitar 2.000 personel TNI telah ditarik ke pangkalan
masing-masing. Itu berarti, TNI mendukung aspirasi masyarakat
setelah situasi keamanan Timtim semakin pulih.

Menyangkut peletakan senjata, Polri telah menyiapkan sebuah
gudang khusus untuk meletakan senjata dari kedua pihak yang
bertikai. Soal prosedur peletakan, telah diatur bersama di
Jakarta 18 Juni 1999, dan akan dikoordinir Komite Perdamaian dan
Stabilitas (KPS), dimana wakil dari kelompok pro dan anti-
integrasi sama-sama duduk di dalamnya.

Menyangkut keberatan KPS bahwa United Nation Assistance Missions
East Timor (UNAMET) harus izin kepada KPS setiap kali pergi ke
daerah-daerah di Timtim, juru bicara UNAMET David Wimhurst
mengatakan, anggota UNAMET bebas pergi ke mana saja di daerah-
daerah di Timtim tanpa izin kepada KPS Timtim.

Kehadiran UNAMET di Timtim atas kehendak negara-negara
internasional, guna menyelesaikan secepat mungkin masalah
Timtim. "Keberadaan sebagai partner kerja UNAMET bukan menjadi
penghambat kegiatan UNAMET. Tanggung jawab utama proses
penentuan pendapat di Timtim adalah UNAMET. Karena itu segala
kebijakan yang ditempuh UNAMET selalu bermuara pada perdamaian
dan rekonsiliasi di Timtim," kata Wimhurst.

TNI ditarik

Sementara itu, satu batalyon TNI ditarik lagi dari Timtim.
Penarikan itu merupakan kelanjutan program penarikan TNI dari
seluruh Timtim, karena situasi keamanan semakin pulih. Sekitar
5.000 personel TNI di Timtim akan bekerjasama dengan Polri dan
staf UNAMET menciptakan situasi kondusif dalam rangka penentuan
pendapat Agustus 1999.

Komandan Resor Militer 164/Wira Dharma, Kolonel (Inf) Tono
Suratman saat melepaskan satu batalyon TNI di Pelabuhan Dili,
Sabtu, mengatakan, penarikan itu karena telah selesai masa kerja
yakni 10 bulan di Timtim karena itu jangan dipolitisir.
Sebelumnya, 12 Juni telah ditarik satu batalyon ke pangkalan
masing-masing. Dengan demikian, sekitar 2.000 personel TNI dalam
bulan Juni 1999 telah ditarik dari Timtim.

"Penarikan anggota TNI ke pangkalan masing-masing itu, tidak ada
motivasi politik. Ini program TNI, sehingga setiap anggota TNI
dapat ditempatkan di seluruh daerah. Mereka tidak perlu berlama-
lama di suatu tempat, tetapi selalu rotasi di seluruh wilayah,"
kata Suratman.

Lima batalyon teritorial dan dua batalyon organik masih di
butuhkan di Timtim. Mereka ditempatkan beberapa bulan dengan
tugas khusus dibidang pertanian, pembukaan jalan, pertanian,
kesehatan, pengadaan air bersih, pendidikan dan sebagainya.

Dalam rangka penentuan pendapat, personel TNI yang ada, akan
bekerja sama dengan Polri, anggota PBB, dan perwira PBB untuk
menjaga keamanan di seluruh situasi di Timtim. Untuk tugas ini,
akan datang Kepala Penghubung Militer yakni Brigadir Razaqul
Haider dari Banglades. Jumlah perwira PBB sekitar 50 orang dari
13 negara, bekerja sama dengan TNI, Polri, dan staf PBB di
Timtim.

"Ini menunjukkan TNI sangat dibutuhkan oleh PBB. Untuk itu
dibutuhkan kerja sama yang baik dan sikap saling pengertian satu
sama lain di lapangan," kata Suratman. (kor)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Jun 1999 jam 13:27:58 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke