----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Stockholm, 1 Juli 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SIAPA MENJADI KHALIFAH ?.
Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA.


Tanggapan untuk saudari Shanti (Australia) dan saudara Dr Hasan Arifin
(Indonesia).

Pagi tadi saudari Shanti, yang sekarang sedang berdomisili di Australia,
yang selalu aktif memberikan tanggapan terhadap tulisan-tulisan saya,
telah menyampaikan kembali tanggapannya terhadap tulisan "[990630]
Kedaulatan Allah vs kedaulatan rakyat". Kemudian pada tanggal 22 Juni
1999 saudara Hasan Arifin yang saya kenal di Padhang-mbulan telah
menyampaikan tanggapannya terhadap tulisan "[990621] Daulah sekuler
barat menjadi dambaan sebagian besar rakyat daulah pancasila dengan
UUD'45-nya yang sekuler". Dimana tanggapan dan pertanyaan mereka saya
simpulkan dibawah ini,

Saudari Shanti menulis, "Man's capacity for justice makes democracy
possible, but man's inclination to injustice makes democracy necessary.
Mengomentari diskusi anda dengan beberapa rekan disini, ada beberapa hal
yang sangat menarik sekali untuk di bahas lebih lanjut. Esensi yang saya
tangkap dari diskusi anda kali ini adalah sbb: "selama Islam yang
menerapkan kedaulatan Allah masih dicampur adukan dengan kedaulatan
rakyat yang merupakan inti yang asasi dalam demokrasi, maka selama itu
usaha untuk menegakkan Islam secara menyeluruh hanyalah merupakan
fatamorgana."  Juga anda katakan (quote): 'Adapun tentang contoh negara
yang saya cita-citakan sampai sekarang memang belum ada selain Daulah
Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW dan diteruskan serta
dikembangkan oleh Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab,
Khalifah Usman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib (11 H-40H, 632
M-661 M).'

Francis Fukuyama dalam hipotesanya yang terkenal dengan 'the end of
history' menjelaskan tentang berakhirnya segala 'isme' dunia selain
'demokrasi liberal'. Dasar teorinya adalah kenyataan yang terjadi.
Hampir semua negara di dunia ini secara de yure memilih 'demokrasi'.
Penyebabnya adalah jelas sekali, yaitu 'sifat dan kecenderungan
manusia'. Pula dalam teori politik , jelas sekali disebutkan bahwa :
'jika manusia memiliki sedikit kekuasaan, maka ia akan cenderung
menyalahgunakan kekuasaan, tapi kalau manusia mempunyai kekuasaan
mutlak, maka sudah pasti ia akan menyalah gunakan kekuasaan'.

Saya sependapat dengan anda bahwa tak ada yang lebih besar dari Allah,
tak ada kuasa yang lebih besar dari kuasa Allah. Namun jika itu
diterapkan, dalam kehidupan bernegara. Kekuasaan Allah yang Maha Besar
dan Maha Mutlak tidaklah layak didelegasikan pada manusia biasa. Pada
masa Nabi masih hidup, beliau lah yang layak untuk memerintah, sebab
Allah 'berbicara' pada 'telinga' nya, menuntun 'langkah' dan 'keputusan'
nya. Permasalahannya untuk zaman modern sekarang ini adakah pemimpin
sekaliber Nabi dalam masalah keimanan Nya ? Maafkan saya jika terlalu
pesimis mengharapkan 'manusia luar biasa' lahir di abad ini memerlukan
satu keajaiban.

Karena itu jika tidak ada pemimpin kalifah yang benar-benar sekaliber
Nabi, maka tidak ada manusia yang layak untuk memerintah rakyat atas
nama Allah, sedangkan di negara kita yang berdasar atas kerakyatan saja
masih banyak pemimpin yang tega-teganya menggunakan ayat-ayat suci demi
kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Jadi inti permasalahan anda sekarang, bukan hanya bagaimana mendirikan
negara Islam berdasar daulah Islam, namun siapa yang akan memimpin
bangsa dan mewakili Allah. Kedua, langkah pragmatis apakah yang mungkin
di tempuh untuk mewujudkan hal tersebut. Jika hal ini tidak terjawab,
maka diskusi anda ini hanyalah tinggal diskusi saja, utopis (Shanti, 1
Juli 1999).

Kemudian saudara Hasan Arifin menulis,

"Anda benar, bahwa peperangan dan pertumpahan darah Turki (Hanafi)
dengan Iran (Imamiah) selama 400 tahun bukanlah peperangan agama, tapi
peperangan politik kekuasaan dari penguasa dinegara tersebut dengan nama
agama, bahkan perang salib antara Islam dan kristenpun bukanlah perang
antar agama, karena kepentingan penguasa dari kerajaan-kerajaan pada
masa itu yang ingin melebarkan sayap kekuasaan dengan nama agama.

Bahkan dalam sejarah kita dikejutkan dengan perang Jamal kecil dan besar
antara Amir-almukminin Ali bin Abi Thalib dengan Ummul-Mukminin Aisyah
binti Abubakar, dan dalam perang shiffin antara Amir-almukminin Ali bin
Abi Thalib
dengan Muawiyah bin Abi Sofyan yang menyebut dirinya Hal-almukminin
(salah seorang isteri nabi adalah saudara kandung Muawiyah), tapi disini
juga bukan perang agama, tapi kepentingan kekuasaan dan kepuasan pribadi
dan kelompok dimana puluhan ribu orang islam tewas.

Pertentangan antar mazhab sudah membunuh jutaan muslim, bahkan benturan
PPP dan PKB saja dalam kampanye telah membunuh sesama muslim.

Memang saya sekarang tidak melihat seorang tokohpun di Indonesia atau di
dunia yang mampu menjalankan Piagam Madinah seperti apa yang selalu
digembar-gemborkan oleh bapak Ahmad Sudirman, Sudikah bapak
memberitahukan
kepada saya siapakah orang nya, sehingga saya setelah meneliti dengan
seksama dapat menjadi pengikutnya. Atau mungkinkah bapak Ahmad Sudirman
sendiri yang berambisi menjadi "PEMIMPIN" DAULAH ISLAMIYAH dunia dengan
menjalankan Piagam Madinah ?" (Dr Hasan Arifin, 22 Juni 1999).

Baiklah, saudara Hasan Arifin dan saudari Shanti.

Setelah saya membaca dan memikirkan tulisan-tulisan anda diatas, maka
lahirlah suatu kesimpulan yaitu, tidak melihat seorang tokohpun di
Indonesia atau di dunia yang mampu menjalankan Piagam Madinah dan
terlalu pesimis mengharapkan 'manusia luar biasa' lahir di abad ini.

Memang benar, menjadi seorang pemimpin ummat tidaklah semudah dan
seringan menjadi pemimpin perusahaan, atau pemimpin keluarga. Tetapi
tentu saja, keadaan dan kesulitan untuk menemukan seorang pemimpin yang
akan menjadi Khalifah di Khilafah Islam tidaklah dijadikan sebagai suatu
alasan untuk tidak berusaha menegakkan agama Allah dan mengangkat serta
melaksanakan semua hukum-hukum-Nya secara menyeluruh. Sehingga akibatnya
kalau tidak berusaha ke arah persatuan, maka ummat makin menjadi
cerai-berai dibawah puluhan, ratusan bahkan ribuan pemimpin yang
masing-masingnya membawakan kepentingan golongan-golongannya,
sebagaimana yang telah terjadi sampai detik ini.

Keadaan dan kesulitan untuk menemukan pemimpin ummat janganlah
menjadikan kaum muslimin menjadi seorang yang pasrah, yang menyerahkan
kepemimpinan kepada siapa saja. Ingat "Dan Allah telah berjanji kepada
orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh
bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah dibumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka
khalifah, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar ketakutan
menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tidak
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang kafir
setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik" (An Nuur,24:
55).

Dimana "Khilafah bukanlah monarkhi dan bukan pula sultan. Khilafah ialah
pimpinan umum kenegaraan untuk rakyat buat membawa mereka kepada agama
yang suci, menekan golongan yang kuat jangan sampai berbuat
sewenang-wenang terhadap golongan yang lemah didalam tugas kewajibannya
dalam negara, sedang terhadap keluar dia melindungi agama Islam dan
menolak serangan dari luar, dan dia tidaklah dapat berdiri melainkan
dengan kemauan rakyat", sebagaimana ditulis oleh Amir Sjakib Arselan
dalam bukunya Hadhirul 'Alamil Islami. Dengan memiliki dasar-dasar pokok
yang asasi yaitu, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum diantara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah
Allah dan ta'atilah Rasul dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika
kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnah Nabi), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih
baik akibatnya" (An Nisaa: 58-59).

Kalau kita telusuri lebih jauh selepas Rasulullah SAW wafat, Daulah
Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW, diteruskan dan
dikembangkan oleh Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab,
Khalifah Usman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib (11 H-40 H, 632
M-661 M). Dimana para Khalifah tersebut tidak sehebat Rasulullah SAW,
tetapi karena Daulah Islam harus berjalan dan hidup, maka perlu adanya
Pemimpin Daulah Islam yang menjalankan roda pemerintahan. Sehingga para
Khalifah tersebut dengan kekurangannya masing-masing dan dengan segala
tangtangan yang dihadapinya telah mampu meneruskan dan mengembangkan
Daulah Islam yang telah dibangun Rasulullah SAW.

Jadi, sebagai seorang Khalifah di Khilafah Islam bukanlah seorang yang
hebat sehebat Rasulullah SAW (karena tidak mungkin ditemukan seorang
manusiapun yang sehebat Rasulullah SAW), melainkan seorang manusia biasa
yang laki-laki, muslim, bebas, dewasa, bijaksana dan adil.

Tentu saja akan timbul pertanyaan, siapa yang akan menjadi Khalifah di
Khilafah Islam? Jawabannya adalah Allah SWT yang Maha Tahu. Sebenarnya
yang menjadi persoalan bagi kaum muslimin sekarang adalah bukan
mendahulukan mencari siapa yang akan menjadi Khalifah, melainkan
berusaha untuk melakukan seperti yang telah dicontohkan Rasulullah SAW
dengan melakukan ikrar Aqabah pertama dan ikrar Aqabah kedua semasa
masih di Mekkah pada tahun kesebelas dan keduabelas kenabian.

Dimana dalam mencontoh ikrar Aqabah ini kaum mulimin di seluruh dunia
harus mengarahkan gerakannya kepada satu arah yaitu, menyatukan visi dan
misi perjuangannya. Dimana visi untuk membangun persatuan dengan
berlandaskan
keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa
dan mengharap ridha Allah SWT dengan misi membangun kembali satu
masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan
Islam dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan
menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil dalam naungan Daulah Islam
yang berdasarkan akidah Islam dengan konstitusi yang mengacu kepada
Undang Undang Madinah yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan,
kesukuan dan ras." Untuk yang di Indonesia bisa dimulai dari Darul Islam
dengan NII-nya, Hizbullah, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir,
Muhammadiyah,  Al Wasliyah, Jamaah Salafi, NU, MUI, KISDI, ICMI,
Partai-partai politik yang berasas Islam dan organisasi-organisasi masa
lainnya yang berasas Islam.

Tentu akan ada orang-orang yang mengatakan bahwa pemikiran ini adalah
pemikiran yang mustahil dilaksanakan, yang hanya terjadi dalam hayalan.

Tetapi, yang tilmbul dalam pikiran saya adalah, justru melalui penyatuan
visi dan misi inilah nantinya akan melahirkan Khalifah (walaupun
sebenarnya hanyalah Allah SWT Yang Maha Tahu). Mengapa ? Karena tidaklah
mungkin kita akan mengetahui siapa yang akan menjadi Khalifah, apabila
tidak melakukan penyamaan arah perjuangan, visi dan misi dari seluruh
kekuatan kaum muslimin. Bagaimana mungkin akan lahir seorang Khalifah
apabila satu kelompok menidakan kelompok lain, satu pemimpin kelompok
menidakan pemimpin kelompok yang lain.

Terakhir, saya akan menjawab pertanyaan saudara Hasan Arifin yaitu "Atau
mungkinkah bapak Ahmad Sudirman sendiri yang berambisi menjadi
"PEMIMPIN" DAULAH ISLAMIYAH dunia dengan menjalankan Piagam Madinah ?".

Jawaban saya adalah, saya hanyalah seorang muslim yang berusaha dengan
sebaik-baiknya untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT
serta mendambakan hidup di alam Khilafah Islam yang menerapkan hukum
Allah secara menyeluruh. Tidak ada ambisi lain.

Inilah sedikit tanggapan dari saya untuk saudara Hasan Arifin dan
saudari Shanti.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Jul 1999 jam 17:46:21 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke