----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Republika, 13 Juli 1999

Fachry Ali: Wajar ICMI Nilai Habibie Capres Terbaik

JAKARTA -- Pengamat politik Fachry Ali MA menilai wajar
pemilihan BJ Habibie sebagai calon presiden (capres)
terbaik versi ICMI. Menurutnya, penilaian itu karena
organisasi cendekiawan yang berdiri di Malang pada 1990
itu memiliki kesamaan semangat sebagai gerbong
intelektual. Dan karena posisi Habibie seperti sekarang
maka dengan gampang ICMI dapat membagi pandangan
dengan Habibie.

Fachry melihat penilaian ICMI terhadap Habibie tak
semata-mata karena dekat Habibie, atau Habibie masih
menjadi ketua umum ICMI. ''Andai saja, Amien Rais
dalam posisi seperti Habibie sekarang ini, niscaya ICMI
juga akan dapat dengan mudah membagi pandangan
dengan Amien Rais,'' paparnya.

Menurutnya, ICMI adalah organisasi intelektual,
sedangkan sosok Habibie tak bisa diragukan kapasitas
intelektualnya. ''Dan justru aneh, kalau ICMI memilih
Mega misalnya,'' ujar Fachry Ali yang dihubungi Republika
di rumahnya kemarin.

Fachry justru malah meminta semua pihak agar fair dan
ksatria melihat dan menilai prestasi kerja Habibie
mendorong demokratisasi selama setahun memegang
pemerintahan. Menurutnya, andai saja pascareformasi
itu yang diberi kekuasaan amanat bukan Habibie,
Indonesia tidak akan sedemokratis seperti sekarang ini.

''Harus kita akui, Habibie-lah yang telah membawa
Indonesia ke alam demokrasi yang sebenarnya, dari
presiden sebelumnya,'' tegas Fachry.

Ia melanjutkan, kini semua orang dapat merasakan dan
melihat bagaimana suasana kebebesan bisa terjadi
seperti sekarang ini. Sebagai orang berlatar pendidikan
Barat (Jerman --Red), menurut Fachry, Habibie sudah
akrab dengan nuansa demokrasi. Fachry menuturkan
Jerman merupakan satu dari lima negara Anglo-Saxon
yang kini menjadi lokomotif demokrasi di dunia. Selain
Jerman, juga AS, Inggris, Kanada, dan Australia.
''Negara-negara Itulah yang oleh Barat disebut sejatinya
demokrasi itu,'' papar Fachry.

Faktor lain yang menjadikan Habibie sebagai simbol
demokrasi adalah latar belakang kultural dari luar Jawa.
Dibanding budaya Jawa yang selama ini menjadi simbol
feodal, menurut Fachry, kultur luar Jawa mewakili
masyarakat yang egaliter. ''Dua alasan inilah yang secara
kebetulan bertemu dengan tuntutan reformasi yang
menghendaki adanya pemencaran kekuasaan, tidak
pemusatan, agar Indonesia menuju demokrasi,'' kata
Fachry.

Karena itulah, begitu Habibie menjadi presiden hal
pertama yang dilakukan adalah membebaskan tahanan
walaupun orang tersebut yang membahayakan dirinya,
seperti Mukhtar Pakpahan. ''Bahkan, saya membaca di
Time, ketika Muchtar keluar dan ada undangan untuk ke
luar negeri, sementara dia tidak punya uang, Habibie
memberinya uang. Akibat sikapnya itu, Habibie diprotes
oleh orang dekatnya, mengapa justru Muchtar diberi
uang, jangan-jangan justru di luar negeri dia
menjelek-jelekkan Habibie sendiri,'' ungkap Fachry.

''Habibie malah menjawab, tidak apa-apa Indonesia ini
kan negara demokrasi,'' papar Fachry mengutip
pembicaraan Habibie dalam Time tersebut.

Soal kebebasan ini, harus diakui semua pihak, kata
Fachry, sebagaimana juga diakui Cak Nur -- Nurcholish
Madjid-- bahwa Habibie telah membuka jalan kebebasan
bagi Indonesia seperti sekarang ini, terutama dalam
kebebasan persnya. Sisi lain keberhasilan Habibie masih
banyak lagi, namun keberhasilan-keberhasilan itu
memang dalam wacana politik tak pernah diungkapkan.
Karena angin kebebasan yang telah dibuka oleh Habibie
sendiri, ternyata tidak berpihak kepadanya.

Unsur luar Jawa, kata Fachry, harus menjadi penekanan
semua pihak. Jusru dia melihat kemenangan Golkar di
luar Jawa bisa dijelaskan melalui kasus ini. Fachri
melihat, masih kuatnya dukungan terhadap Golkar dari
orang-orang luar Jawa, karena ada unsur luar Jawa yang
direpresentasikan Habibie. Keberadaan Habibie dalam
perekatan persatuan Indonesia, nyaris sama dengan Bung
Hatta, yaitu menjadi representasi luar Jawa.

''Jadi sungguh deviasi luar biasa, kalau Marzuki
Darusman mengatakan karena faktor Habibie Golkar
lemah," kata Fachry. (zis)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Jul 1999 jam 08:39:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke