---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk FREM TUNTUT POTONG UTANG RI JAKARTA. (SiaR,23/7/99) Kekhawatiran korupsi bantuan asing oleh Rezim Habibie mendorong mahasiswa yang tergabung dalam Forum Reformasi Ekonomi Mahasiswa (FREM) melakukan aksi di Bappenas menuntut pemotongan hutang luar negeri Indonesia sebesar 30 persen. FREM adalah gabungan mahasiswa dari Perbanas, UPN, Akindo, STEI, UnTar, STIE Trisakti, FORDISAM-Budi Luhur, ABA-ABI, IBiI, UKRIDA, ISTA dan IBEK. Kamis pagi (23/7), sekitar pukul 10.00 WIB, ratusan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam FREM mendatangi kantor Bappenas, Jakarta Pusat. Ratusan mahasiswa FREM dalam aksinya membawa spanduk dan poster-poster yang mengecam Bappenas. Beberapa poster yang menonjol seperti: Bappenas = Badan Penyengsara dan Perusak Ekonomi Nasional, Stop Kapitalis International, CGI = Penjajahan Gaya Baru. Para aktifis FREM berorasi secara bergantian menyoal bantuan CGI (Consultative Group on Indonesia) yang menurut mereka selama ini dirampok Golkar untuk dana taktis kelompok status quo. Dalam orasinya, FREM menengarai, utang luar negeri kita telah melewati ambang batas psikologis sebesar $147,6 miliar atau Rp 1.033 trilun (U$ 1 =Rp7.000). Itu berarti tiap penduduk Indonesia yang baru lahir pun terkena kewajiban hutang Rp 5 juta. Menurut jubir FREM, Agung, mahasiswa STIE Perbanas, ini akibat dari tingginya tingkat korupsi di jajaran birokrasi dan pengusaha nasional di bawah perlindungan militer. "Anehnya, negara donor yang katanya anti kprupsi terus-menerus mengucurkan pinjamannya serta selalu menutup mata terhadap kebocoran tersebut," ujarnya. Sejalan dengan pernyataan itu, Dondi , mahasiwa STIE Rawamangun menegaskan, negara donor turut berperan dalam menciptakan penjajahan baru kapitalisme intrnational berupa ketergantungan ekonomi. "Meski negara donor tahu bahwa penyelewengan dana seperti JPS yang salah alamat sebesar Rp 9 trilyun karena birokrasi rezim Habibie masih Soehartois, tapi bantuan turun terus", ujarnya. Akhirnya aksi protes ini ditutup dengan dua tuntutan dari FREM, yakni tunda pengucuran hutang luar negeri sampai adanya pemerintahan yang legitimate dan bersih. Kedua, potong utang luar negeri Indonesia sebesar 30 persen karena sadar atau tidak negara negara donor telah menghidupi budaya korupsi di Indonesia.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Jul 1999 jam 15:11:08 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
