----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

KOMPAS, Kamis, 22 Juli 1999

Tentang Propaganda Hitam di Timtim
Masyarakat tidak Perlu Gelisah

* Pemalsuan Surat Asmenko

Dili, Kompas

Rakyat Timor Timur (Timtim) yang sedang menghadapi penentuan
pendapat, tidak perlu gelisah dengan suburnya propaganda hitam
di wilayah Timtim belakangan ini. Propaganda hitam memang
bertujuan untuk membingungkan masyarakat agar mempertimbangkan
masa depannya dengan asumsi-asumsi yang keliru. Demikian
Dino Patti Djalal, juru bicara Satgas Pelaksanaan Penentuan
Pendapat di Timor Timur (P3TT) dalam keterangan pers, Rabu
(21/7), di Dili, menanggapi beredarnya dokumen yang seolah-olah
berasal dari Asisten Menko Polkam (Asmenko)/Poldagri
tertanggal 3 Juli 1999.

"Satgas P3TT sangat prihatin terhadap berita yang sekarang
beredar di media massa mengenai 'bocoran surat' yang diduga
dikirim oleh Satgas P3TT kepada Polkam yang menyampaikan suatu
'rencana darurat' dramatis jikalau usulan otonomi ditolak dalam
penentuan pendapat bulan Agustus," kata Dino.

Menurut Dino, tindakan memunculkan surat palsu seperti itu,
mencerminkan sikap yang tidak sehat dalam pelaksanaan penentuan
pendapat di Timtim. "Penentuan pendapat seharusnya merupakan
ajang sportif untuk persaingan ide, argumentasi, dan persuasi
jujur," tuturnya.

100 persen palsu

Dino menegaskan, surat yang beredar dan seolah-olah bocoran dari
dokumen P3TT itu 100 persen palsu. Sementara Wakil Ketua
Pelaksana Penentuan Pendapat di Timor Timur (P3TT), Asmenko
Polkam Mayjen (Purn) HR Garnadi yang namanya tertera dan seakan-
akan menandatangani surat itu, ketika ditemui Kompas di Dili,
Selasa malam, menegaskan, dirinya tidak pernah membuat surat
seperti itu.

"Dokumen rahasia" yang dikatakan dari Asisten Menko Polkam
Garnadi itu berisi tentang gambaran umum dan sikap Indonesia
bila opsi pertama dalam penentuan pendapat Timtim gagal.

"Itu bukan dari saya. Di sini, saya tidak berhak membuat analisa
seperti itu, tugas saya di sini hanya melaporan kejadian,
terserah bagaimana Jakarta nanti. Dan itu sama sekali bukan
dokumen yang saya bikin, termasuk isi-isinya," tegas Garnadi.

Penegasan itu diperkuat Dino Patti Djalal. Dilihat dari format,
file, dan nomor surat, Dino menegaskan, seluruhnya ditulis
dengan cara tidak benar. Misalnya, tulisan Memo yang dalam surat
tersebut ditulis dengan ketikan. Padahal, umumnya, surat yang
bersifat memo ditulis dengan tangan. Bahkan ia menekankan tidak
pernah melihat surat dengan format seperti itu.

"Satgas telah melihat surat tersebut, dan bahkan dengan sekilas
pandang dapat segera menyimpulkan bahwa format, logo, gaya,
bahasa, dan tanda tangan yang tertera pada surat tersebut tidak
cocok dengan yang biasanya digunakan oleh Satgas dalam surat-
menyurat," kata Dino.

Dino juga menunjuk masalah tembusan. "Masak surat resmi hanya
kepada satu menteri, mestinya tembusan itu kepada menteri lain
juga," ujarnya. Selain itu, juga kata dan kalimat yang
digunakan. Menurut dia, surat resmi yang dikeluarkan, tidak
pernah menggunakan kata-kata yang kurang proporsional, misalnya,
kata "sadis". "Sudah pasti kita tidak akan menggunakan kata-kata
seperti itu," katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, surat yang dikeluarkan dari Dili, tidak
menggunakan kop Kantor Menko Polkam, melainkan Satgas P3TT. "Dan
juga aneh, mengapa ditulis oleh Pak Garnadi. Padahal, surat yang
penting itu semuanya ditulis oleh Ketua Satgas, bukan Wakil
Ketua Satgas," kata Dino.

"Aneh juga kenapa kita menulis surat semacam itu. Itu bukan
mandat kita. Mandat kita di sini adalah untuk membantu dan
mendukung UNAMET dan melakukan koordinasi terhadap aspek-aspek
yang menjadi tanggung jawab Indonesia dalam menentukan
pendapat," lanjutnya.

Ditegaskan, mengusulkan evakuasi besar-besaran, seperti
tercantum dalam surat tersebut bukanlah mandat P3TT. "Jadi nanti
kalau jajak pendapat selesai, tugas kita harus selesai. Apa yang
terjadi selanjutnya, itu urusan lain. Jadi, surat itu sama
sekali tidak masuk akal. Saya berani menjamin, kami tidak pernah
mengeluarkan atau menulis surat itu. Dan Pak Garnadi juga tidak
pernah menulis surat itu. Saya yakin itu surat palsu," tegas
Dino Djalal.

Dokumen itu sendiri beredar dalam bentuk foto kopi sebanyak lima
lembar. Lembaran paling awal merupakan pengantar berita rahasia
kepada Bapak Menko Polkam dengan tembusan Sesmenko Polkam selaku
Sekretaris P4-OKTT. Dokumen ditulis di atas kertas surat dengan
kop Tim P4-OKTT, Posko Dili. Surat dari Asmenko/Poldagri, hal
gambaran umum bila opsi I gagal, dan dikeluarkan tanggal 3
Juli 1999. Disebutkan, surat dibuat oleh HR Garnadi dan
diketahui Pejabat Legislatif yang juga ditandatangani HR Garnadi
dengan stempel Kantor Menko Polkam.

Menjawab pertanyaan tentang kebocoran dokumen rahasia itu, Jubir
Unamet David Wimhurst di Markas Besar United Nations Mission in
East Timor (Unamet), Dili, menilai, surat itu merupakan
pandangan seseorang. Ia mengaku, saat ini Unamet juga telah
memiliki dokumen tersebut, tetapi ia menolak berkomentar lebih
jauh. "Maaf saya tidak bisa berkomentar lebih," kilahnya.

Dilimpahkan ke pengadilan

Sementara itu berita acara pemeriksaan (BAP) dari enam tersangka
pelaku insiden Liquica, delapan tersangka pelaku di Maliana dan
12 tersangka pembunuhan di Ermera telah dilimpahkan ke kejaksaan
untuk diproses di pengadilan. Para pelaku terdiri kelompok pro
dan anti integrasi. "Tidak benar bahwa Polri tidak menegakkan
hukum selama proses penentuan pendapat," kata Kapolda Timtim
Kolonel (Pol) Drs GMT Silaen di Dili, Selasa.

Menurut Silaen, tersangka pelaku insiden Liquica sebanyak enam
orang dari kelompok pro-integrasi, di Maliana delapan orang dari
pro-integrasi, dan di Ermera 12 orang dari kelompok
prokemerdekaan.

"Pihak mana saja, mereka yang melanggar hukum dan peraturan
harus diproses di pengadilan. Polri tidak membedakan kelompok
pro atau anti integrasi. Polri bertindak sungguh-sungguh," kata
Silaen. (kor/rie/nas)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Jul 1999 jam 06:10:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke