----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Realise berita Harian Serambi Indonesia Senin,  16  Agustus 1999


Pidie Manakutkan, Mobil Koran Dibakar
Mayat Dalam Kulkas


Serambi-Sigli

Aktivitas sosial kemasyarakatan di Kabupaten Pidie, kemarin lumpuh total
serta mencekam menyusul terulang kembali aksi mogok massal secara
dadakan. Rentetan dari aksi itu, satu unit mobil ekspedisi koran Harian
Serambi Indonesia, dibakar sekelompok orang tak dikenal di kawasan Kota
Uleegle Kecamatan Bandardua.


Pantauan Serambi di Kota Sigli dan sejumlah kecamatan, terlihat tidak
satu angkutan umum pun beroperasi. Seluruh pertokoan, pusat pasar, warung
nasi/kopi, kios-kios kecil pada tutup alias tak satu pun yang buka.
Masyarakat, lebih banyak berdiam dirumah.

Berbagai isu yang tak dapat dipertanggungjawab, termasuk isu bakar dan
bunuh merebak di tengah-tengah masyarakat. Sehingga membuat pemilik
angkutan umum, toko, warung nasi/kopi, serta jenis usaha lainnya takut
menjalankan roda usahanya. Praktis, membuat perekonomian dan kegiatan
sosial masyarakat menjadi lumpuh.


Disimak dengan aksi mogok pelajar satu hari sebelumnya, roda perekonomian
dan kegiatan sosial lainnya tidak terganggu. Namun, kemarin macet total.
Selain itu, suasana tegang dan menakutkan membaur kejiwaan masyarakat.
Sementara aksi mogok massal ini, disebut-sebut akan berlangsung hingga 20
Agustus mendatang.


Sejumlah pedagang ikan kepada Serambi mengatakan, mereka menjaja usahanya
dengan perasaan cemas dan takut. "Kami harus berjualan, jika tidak ikan
akan membusuk karena tidak ada es pengawet. Selain itu, butuh uang untuk
membeli beras buat keluarga di rumah," sebut Usman.


Beberapa kecamatan seperti Mutiara dan Meureudu bagaikan kota mati.
Denyut nadi pusat perdagangan mati total. Tak satu pun toko yang buka.
Suasana kabupaten tersebut sangat mencekam dan menakutkan. Tak satu pun
labi-labi yang beroperasi mengangkut penumpang.

Pasukan angin Terjadinya mogok massal dadakan, menurut sejumlah pedagang
karena aktifnya ,pasukan angin, melakukan operasinya dari pintu ke pintu
sejumlah toko. "Kami memang didatangi orang tertentu yang meminta jangan
buka toko hingga tanggal 20 Agustus. Semuanya mogok," kata seorang
pedagang, menirukan perintah pasukan angin tersebut.


Karena adanya perintah dari orang-orang tak dikenal, kata pedagang itu,
sehingga mereka terpaksa tidak membuka tokonya. Para pedagang dan
masyarakat juga merasa heran, karena sebelumnya tak ada perintah resmi
sebagaimana mogok massal yang dilakukan tanggal 4-5 Agustus 1999 yang
diprakarsai mahasiswa dan LSM.


Sejumlah pedagang ikan dan sayur di Kota Sigli, mempertanyakan mogok
massal yang kedua kalinya ini. Sebab, menurut mereka, karena tak pernah
diberitahu terlebih dahulu. "Kalau mogok sampai sekian lama, kami tak
tahu harus makan apa," sebut seorang wanita penjual kangkung.


Sementara Dandim 0102 Pidie, Letkol Inf Iskandar MS kepada Serambi,
kemarin mengatakan pihaknya tak dapat berbuat banyak tentang terjadinya
mogok massal secara dadakan itu. Sebab, semua masyarakat sudah
meresponnya. "Tak ada perintah dari siapa pun untuk mogok. Masyarakat
hanya memperturutkan perintah angin," ungkapnya.

Pihaknya, menurut Dandim Iskandar, tak mungkin bergerak sendiri untuk
mengatasi mogok massal. Untuk itu, perlu adanya kesepakatan Muspida,
bagaimana caranya. "Kalau kami minta pedagang buka toko, nanti sudah
dianggap macam-macam. Dibilang lagi militer sudah maksa pedagang,"
katanya.


<bold><bigger>Mayat di kulkas

</bigger></bold>Setelah dua malam diawetkan dalam kulkas Rumah Sakit Umum
(RSU) Sigli, akhirnya mayat seorang pemuda luka tembak dijemput
keluarganya, kemarin. "Kalau hari ini tak ada keluarganya yang menjemput
akan kami kebumikan," kata salah seorang petugas kamar mayat.


Pemuda malang itu bernama Sulaiman Abdurrahman alias Sanusi Abdurrahman
(17) warga Desa Cot Tunong Kecamatan Glumpangtiga, diduga tewas ditembak
aparat di kawasan areal persawahan belakang Puskesmas Luengputu Bandar
Baru, Jumat (13/8) dini hari.

Menurut ayah kandung korban, Abdurrahman kepada Serambi, anaknya dalam
kondisi tak waras, setelah ibunya meninggal tiga tahun lalu. "Saya baru
tau jika anak saya itu sudah ditembak aparat. Sebelumnya, saya sudah
mencari kemana-mana, tapi tak ada yang tau keberadaannya." ungkapnya
sedih.


Dandim Letkol Inf Iskandar membantah bila pemuda tersebut dikatakan
kurang waras. Sebab, aparat terpaksa menembak karena korban ingin merebut
senjata pada aparat. "Pemuda itu salah seorang yang sedang mengamal ilmu
perabon( menghilangkan diri)," kata Dandim Iskandar.


Ketika itu, pemuda tersebut bermaksud merebut senjata aparat yang
bermarkas di bekas rumah camat Bandar Baru. Dalam posisi terjepit aparat
menembaknya yang berlari ke areal persawahan belakang Puskesmas. "Saat
itulah pemuda itu roboh, sedangkan temannya lari setelah beberapa kali
membalas tembakan aparat," kata Iskandar.


Abdurrahman ditemani beberapa tokoh masyarakat setempat dengan cucuran
air mata membawa pulang jenazah anaknya. Namun, ia sangat sedih bila
anaknya diduga sebagai anggota AGAM. "Ia itu anak saya yang sudah kurang
waras. Saya tak percaya kalau dibajunya ada lambang bendera Aceh Merdeka.
Ini mungkin ada pihak tertentu yang merekayasa," katanya sedih. (da/tu)


<bold><color><param>ffff,0000,0000</param><bigger><bigger><bigger><bigger><bigger>Wilayah
Bireuen Masih Mencekam

</bigger></bigger></bigger></bigger></bigger></color></bold>

Serambi-Bireuen

Suasana kota-kota di wilayah Pembantu Bupati Wilayah Bireuen, Aceh Utara,
sampai kemarin masih saja mencekam, yang tampak di Jalan Negara hanya
panser, dan truk militer yang sarat dengan aparat keamanan.


Pengamatan Serambi, kota besar di wilayah Bireuen seperti,
Matanggeulumpang Dua, dan Bireuen tampak lebih sepi dibandingkan hari
pertama, menyusul adanya selebaran yang melarang masyarakat melakukan
aktifitas dengan radius 100 meter dari sisi kiri dan kanan Jalan Negara,
sejak 14-20 Agustus 1999. Akibatnya, roda perekonomian, perhubungan,
pemerintahan, serta pendidikan lumpuh total, sejak 14 Agustus 1999.

Sepanjang Jalan Negara di wilayah Bireuen, kemarin tidak satupun angkutan
umum yang lewat, terkecuali hanya satu-dua mobil pribadi, dan kenderaan
roda dua. Jika, Sabtu (14/8) tampak puluhan truk tronton yang sarat
dengan muatan dengan arah Banda Aceh, namun kemarin, nyaris tidak
kelihatan sama sekali. Sedangkan seluruh pertokoan di ibukota kecamatan,
tidak satupun yang buka.


Denyut perekonomian hanya berputar di daerah pedesaan, maupun ibukota
kemukiman. Sehingga suasana desa lebih marak, dibandingkan kota
kecamatan, yang bagaikan kota hantu, khususnya di malam hari. "Kami harus
ke warung desa, jika mau minum kopi maupun berbelanja untuk kebutuhan
rumah tangga," ujar Mulyadi, warga Matanggeulumpang Dua.

Sementara itu, di jalan negara yang tampak sepi dan lengang, beberapa
warga kota sempat tertegun dengan meluncurnya beberapa panser polisi, dan
TNI, serta truk berpenumpang aparat keamanan yang meluncur ke arah
Bireuen. Sehingga berbagai prediksi bermunculan dari mulut warga,
menyangkut kehadiran panser dan aparat keamanan.


Namun sumber Serambi menyebutkan, kehadiran panser dan aparat keamanan,
dalam rangka PAM Rute. Artinya melakukan patroli keamanan sampai ke
Samalanga, mengingat adanya truk angkutan barang yang akan membawa
kebutuhan pangan. Sehingga diperlukan aparat keamanan untuk
mengamankannya, agar jika ada truk angkutan barang tidak sampai
tersendat, walaupun dalam suasana mogok.


Begitupun, setelah dua panser milik polisi meluncur pulang dari arah
Bireuen, sejumlah warga Peusangan sangat kaget, mengingat adanya
pengumuman lewat pengeras suara dari dalam panser yang mengatakan, tidak
satupun bendera merah putih yang berkibar di Kota Matanggeulumpang Dua.
Lewat pengeras suara itu, memerintahkan warga setempat untuk menaikkan
bendera merah putih, dan warga nyaris saja bubar, namun urung, setelah
warga melihat panser terus berlalu ke arah Lhokseumawe.


Himbauan itu, tentu membingungkan warga sejumlah warga yang kebetulan ke
kota untuk melihat situasi. Karena, pemilik toko maupun pemilik rumah
dengan radius 100 meter dari kiri kanan jalan negara, umumnya sudah
mengungsi ke rumah tetangga maupun familinya. "Orangnya tidak ada, siapa
yang harus mengibarkan bendera," tutur salah seorang warga.


<bold><bigger><bigger>Butuh Bantuan

</bigger></bigger></bold>Sementara itu, ribuan pengungsi di Salamanga,
Aceh Utara sangat membutuhkan bantuan pangan, apalagi dalam menghadapi
aksi mogok yang sedang berlangsung, sejak dua hari lalu.


Hal itu, diutarakan Sekretaris Satgana PMI Wilayah Bireuen H AR Juli
menjawab Serambi, Minggu (15/8) yang mengatakan, sekitar 5.000 lebih
pengungsi yang mendiami Mesjid Baro, Simpang Ie Rhop, dan Simpang Mamplam
Samalanga, sangat butuh bantuan pangan, dan obat-obatan. Apalagi dalam
suasana mogok, sehingga butuh batuan pangan. "Sebelumnya, masih bisa
mendapatkan bantuan dari pemilik kenderaan yang lewat," tuturnya.

Dikatakan, tentang pelayanan kesehatan tentu tidak mengalami kendala
berarti, mengingat ada dua puskesmas di kecamatan itu, yang akan melayani
para pengungsi yang sakit. Pihak Satgana PMI Wilayah Bireuen, sebut AR
Juli, memang masih memiliki obat-obatan, hanya saja mengalami kendala
dalam membawanya. "Ada oknum aparat yang tidak mengerti dengan tugas
kemanusian yang kami emban," jelasnya. Pihaknya, ujar AR Juli, sedang
berupaya mendapatkan bantuan obat-obatan untuk pengungsi, termasuk
bantuan pangan. Namun, ada saja aparat keamanan yang tidak mengerti, yang
seolah-olah bantuan yang kami berikan, bukan untuk pengungsi. "Kami
sedang memikirkan cara dalam menyalurkan bantuan dari Bireuen ke
Samalanga, sehingga tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan, apalagi
dalam suasana mogok," urainya.(tim)



<bold><color><param>ffff,0000,0000</param><bigger><bigger><bigger><bigger><bigger>Aparat
Turunkan Bendera AM

</bigger></bigger></bigger></bigger></bigger></color></bold>

Serambi-Tapaktuan

Kapolres Aceh Selatan, Letkol Pol Drs Gatot Subroto menyatakan,
bendera-bendera Aceh Merdeka (AM) yang dinaikkan orang tak dikenal di
sejumlah tempat sudah diturunkan aparat Polsek dan Koramil masing-masing
kecamatan.

Untuk menurun bendera seperti di pucuk pohon kelapa dilakukan dengan
memanjat, malahan ada pohon yang harus ditebang dengan gergaji mesin guna
menurunkan bendera, semisal di Kecamatan Sawang.


Kapolres Gatot Subroto mengimbau masyarakat jangan terpengaruh terhadap
hasutan, tapi tetap menjalankan kegiatan seperti biasa. Dalam hal ini,
pihaknya telah mengerahkan personil untuk melakukan patroli menjaga
keamanan dan ketertiban dalam masyarakat.

Keterangan yang dikumpulkan, Minggu (15/8) pagi, kemarin masyarakat
dikejutkan dengan berkibar bendera yang diidentifikasikan sebagai bendera
"AM" di sejumlah tempat di Kecamatan Tangan-Tangan, Manggeng, dan
Meukek.


Di Tangan-Tangan, berdera warna dasar merah dengan gambar bulan dan
bintang di tengahnya dilaporkan berkibar di salah satu tiang telepon Desa
Lhang. Sementara di Kecamatan Manggeng bendera berkibar di pucuk kelapa
lokasi samping masjid Jamik Desa Meurandeh.


Bendera serupa juga berkibar di salah satu pucuk kelapa di belakang rumah
penduduk Desa Tarok, dan Masjid Jamik Kuta Buluh II.

Sehari sebelumnya, Sabtu (14/8) pagi masyarakat terkejut dengan
berkibarkan bendera "AM" di sejumlah tempat kawasan pinggir jalan raya
dari Kecamatan Kuala Batee sampai Kecamatan Blangpidie. Beberapa di
antaranya bertengger di pucok pohon kelapa. Pada hari yang sama, juga
ditemukan bendera serupa di sejumlah tempat di Kecamatan Sawang, antara
lain di atas pohon aren di Desa Ujung Padang.


Sehubungan isu tersebut membuat aparat keamanan melakukan siaran keliling
dengan kendaraan roda empat. Malalui pengeras suara masyarakat diimbau
turut memeriahkan HUT 17 Agustus, termasuk memasang bendera RI di halaman
rumah masing-masing. Masyarakat juga diminta tidak terprovokasi dengan
beredar isu tak jelas. Peristiwa berkibarnya bendera "AM" di pucuk pohon
kelapa di sejumlah tempat membuat sibuk aparat keamanan. Karena untuk
menurunkannya memerlukan waktu agak lama. Soalnya, penurunan dilakukan
harus dengan memanjat pohon kelapa, di samping mengerah sejumlah aparat
menjaga ketat lokasi.(tim)


<bold><color><param>ffff,0000,0000</param><bigger><bigger><bigger><bigger><bigger>Tiga
Warga Buloh Sudah Kembali

</bigger></bigger></bigger></bigger></bigger></color></bold>

Serambi-Lhokseumawe

Tiga dari tujuh warga Buloh Blang Ara Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara,
yang dilaporkan hilang di kawasan Krueng Pase SP II PTP V oleh
keluarganya, sudah kembali dalam keadaan selamat, Sabtu (14/8) sore.
Namun kuasa hukum keluarga korban, Mohd Yacob Hamzah SH, Senin (16/8)
hari ini tetap akan melakukan penggalian sebuah lokasi yang sebelumnya
diduga berisi mayat.



Tiga orang yang sudah dilepas masing-masing Ishak Yusuf (19) penduduk
Desa Alue Nago, Saiful Jalil (22) warga desa Cot Seuni, dan Muhammad
Yakob (26) penduduk SP-I. Demikian laporan Direktur Eksekutif LPLHA Aceh,
Yusuf Ismail Pase SH berdasarkan laporan relawan yang bertugas di sana.


Sedangkan tiga korban lainnya yang masih ditahan pos keamanan PTP V
Krueng Pase adalah Banta Yusuf (22), Jalil Meuntui (26), dan Hasan Basri
(22). Satu korban lagi, Tgk Daud (50), menurut laporan relawan tidak
terlihat dalam kelompok yang masih ditahan.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Iskandar Muda sekaligus kuasa hukum
keluarga korban, Mohd Yacob Hamzah SH, mengatakan rencana penggalian
lokasi yang diduga tempat korban dikubur akan tetap dilaksanakan.


"Alhamdulilah kalau memang sudah ada yang kembali. Tapi kami belum
menerima laporan dari keluarga korban," jelas Mohd Yacob Hamzah, Minggu
(15/8) siang. Penggalian ini, katanya, penting dilakukan untuk
menghindari fitnah.

Menurut Yusuf Ismail Pase, ketiga warga yang dilepas tiba di rumah Sabtu
(14/8), sekitar pukul 17.00 WIB. Kepulangan mereka disambut suka cita,
bahkan ada beberapa keluarga mereka yang sudah mengadakan kenduri atas
hilangnya mereka. Kondisi Ishak Yusuf, Saiful Jalil, dan Muhammad Yakob
dilaporkan sangat lemah. Selain itu juga terdapat luka-luka memar di
wajah mereka, kata Yusuf Ismail Pase.


Mengenai sepeda motor milik para korban, tambah Yusuf Pase, belum
diperbolehkan untuk dibawa pulang. Pemilik kendaraan diminta membawa
surat-surat yang lengkap dan silakan mengambil ke tempat mereka. Namun,
mereka (pemilik kendaraan), tidak berani untuk datang ke sana. "Mereka
bersedia datang, apabila didampingi LSM dan tim relawan," katanya.


Seperti diberitakan sebelumnya, (Serambi, 12/8) delapan warga Kuta Makmur
mencari durian di kawasan PTP Krueng Pase, Senin (9/8) lalu. Mereka
dihadang sekelompok orang berpakaian militer dan sipil. Kemudian para
korban dipukuli dan dibariskan di depan sebuah lubang besar dengan tangan
terikat ke belakang.


Tapi, seorang di antaranya (IK) meloloskan diri dan berlari ke hutan
sambil berupaya melepaskan simpul ikatan. IK sempat ditembak beberapa
kali tapi tidak mengenai tubuhnya. Saksi insiden tiba di desanya dalam
kondisi yang memprihatinkan.

Mendapat keterangan yang demikian merisaukan, keluarga para korban sudah
memberikan kuasa kepada LBH Iskandar Muda Lhokseumawe bersama LSM dan
mengajak tokoh masyarakat untuk melakukan penggalian pada lokasi yang
diduga tempat dikuburnya.


Mohd Yacob Hamzah SH selaku kuasa hukum keluarga korban sudah meminta
bantuan pada masyarakat sekitar, pihak kepolisian, ICRC, Pemda, juga
keluarga korban untuk melakukan penggalian tersebut. "Mereka sudah
menyatakan kesediaan untuk membantu," ujarnya.(tim)


<bold><color><param>ffff,0000,0000</param><bigger><bigger><bigger><bigger><bigger>Mobil
Diambil, Pemilik Didor

</bigger></bigger></bigger></bigger></bigger></color></bold>

Serambi-Lhokseumawe

Muhammad Nur (46), kasir PT Asean Aceh Fertilizer (PT Pupuk AAF) Krueng
Geukuh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, tewas ditembak setelah mobil
Toyota Kijang-nya diambil sekelompok orang tak dikenal. Tragedi itu
terjadi pukul 20.30 WIB, Sabtu (14/8), dan korban tewas di tempat
kejadian.


Menurut keterangan yang diperoleh di TKP, Minggu (15/8), korban yang
sehari-hari dikenal banyak kalangan dan pendiam, malam itu didatangi enam
orang bermobil Suzuki Escudo. Empat di antaranya turun dari mobil dan
memasuki ke halaman rumah, sedangkan anak korban yang sedang duduk di
teras bersama dua kawannya diperintah masuk kemudian semuanya berkumpul
di ruangan tamu tanpa boleh bergerak. Mereka meminta kunci kendaraan
milik korban dengan alasan untuk operasi.


Melihat gelagat kurang menguntungkan, korban menyerahkan kunci mobil
Kijang kepada orang tak dikenal sambil korban keluar membuka garasi.
Dalam hitungan detik, kunci mobil berpindah tangan. Keempat oknum
mengambil kendaraan, saat mobil dikeluarkan dan mau mundur, pemilik rumah
mendengar suara benturan dengan besi pagar pintu rumah.

Mendengar suara benturan tersebut, korban keluar lagi dan melihat apa
yang terjadi, saat itulah korban ditembak dalam jarak dekat, mereka
langsung kabur dengan dua kendaraan. Para tetanga korban membawanya ke
klinik perusahaan. "Korban ditembak dalam jarak dekat, dengan satu kali
tembakan, ini terlihat dari rusaknya wajah, dan terbakar wajah korban,"
ujar dokter klinik PT AAF.


Dokter menambahkan, pelurunya masih tersarang di kepala korban bagian
belakang, sesuai konfirmasi antara dokter klinik dan Kapolsek Dewantara,
peluru itu tidak usah diambil.

Versi lainnya menyebutkan, sebelum kejadian, ada orang yang melihat mobil
tersebut sudah berputar-putar beberapa kali, sebelum masuk lorong rumah
korban kendaraan tersebut masuk ke lorong lainnya. Bahkan sejumlah remaja
yang sedang duduk ngobrol di pinggir jalan desa, sekitar pukul 20.00 WIB
dibentak kelompok tersebut.


Korban meninggalkan seorang istri dan empat orang anak, satu di antaranya
laki-laki. Mayat korban dikebumikan Minggu (15/80 dalam suasana duka yang
dalam.

Direktur Utama PT AAF, Zainal Soejais yang berada di Jakarta, mendapat
laporan dari stafnya menyebutkan, "Kami kehilangan karyawan yang
mempunyai dedikasi tinggi, baik sesama karyawan maupun dengan masyarakat
tempat beliau bermukim dan lingkungan sekitarnya."


Dirut menambahkan, kejadian tersebut tidak mempunyai kaitan dengan
isu-isu ancaman sebelumnya yang berkembang diluar. (tim)



<bold><color><param>ffff,0000,0000</param><bigger><bigger><bigger><bigger><bigger>GAM
Tolak Amnesti

</bigger></bigger></bigger></bigger></bigger></color></bold>Serambi-Banda
Aceh

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menolak rencana pemberian amnesti umum karena
mereka merasa bukan sebagai pihak bersalah yang perlu diberikan
pengampunan oleh pemerintah Indonesia. Penolakan itu ditegaskan juru
bicara Markas Besar (MB) GAM Eropa, M Yusuf Daud alias Yusda.


Dalam e-mail (surat elektronik) yang diterima Serambi, Jumat (13/8),
Yusda mengatakan, GAM dan rakyat Aceh adalah "korban keganasan TNI".
"Bagi kami amnesti tak punya arti apa-apa. Jadi, kami tidak perlu amnesti
dari rejim Habibie-Wiranto, sebab kami bukan pihak yang bersalah yang
perlu diberi pengampunan," tandasnya.


Yang dimaksud 'amnesti' dalam konteks Indonesia, menurutnya, adalah
penangkapan sewenang-wenang dan pembebasan untuk keperluan tertentu.
"Anggota-anggota atau simpatisan GAM yang sudah dibebaskan dari
penangkapan biasanya kapan saja dapat ditangkap lagi, malah banyak yang
dibunuh," ujar Yusda.


Sebagian anggota GAM, tambahnya, sudah sering ditangkap tiga sampai lima
kali, kalau mereka banyak uang. "Jadi untuk apa amnesti (umum itu
diberikan) kalau cuma untuk ditangkap lagi?," katanya mempertanyakan.


Ia memberi contoh, "belum lama ini, Teungku Bantaqiah yang pernah ditahan
di Medan dan mendapat 'amnesti'. Tapi tanggal 23 Juli lalu, beliau
bersama puluhan muridnya dibantai dengan kejam oleh peluru TNI," katanya
mencerita "Tragedi Jumat Berdarah di Beutong Ateuh".


Selasa lalu, Menkeh/Mensesneg Muladi mengatakan, pemerintah sudah
menyiapkan rumusan amnesti umum bagi tokoh-tokoh gerakan pengacau
keamanan (GPK) atau gerakan-gerakan bersenjata di DI Aceh sebagai suatu
solusi penyelesaian tindak kekerasan di "Serambi Mekkah". "Saya sudah
mengusulkan, tinggal menunggu persetujuan Menhankam/Panglima TNI,
sedangkan MA dan sebagainya sudah setuju," kata Muladi waktu itu.


Menjawab pertanyaan apakah usulan ini juga dikenakan kepada para tokoh
GAM, Muladi mengatakan, "ya... yang 'warnanya' seperti itu". Tetapi dalam
kesempatan itu, Muladi berkali-kali menegaskan bahwa pemerintah tidak
mengenal GAM.


Ketika ditanyakan bahwa faktanya GAM itu ada, Muladi mengatakan, kalau
memang gerakan itu ada, itu adalah gerakan separatis atau gerakan makar.
"Kalau gerakan Aceh Merdeka itu adalah separatis, gerakan makar, dan itu
melanggar hukum pidana, yaitu kejahatan terhadap keamanan negara,"
katanya.


Namun, Yusda menegaskan bahwa bentuk perjuangan GAM adalah untuk
"mewujudkan successor state (negara sambungan) daripada Negara Islam Aceh
dulu yang paling bersejarah." Untuk sementara, katanya, roda perjuangan
dikendalikan oleh Majelis Pemerintahan (MP) GAM beranggotakan 11 orang.
"Pembentukan kabinet GAM yang baru masih dalam perencanaan," jelasnya.


Untuk menyelesaikan kasus Aceh yang semakin berlarut-larut, Yusda
mengatakan bahwa sejak awal perjuangan kemerdekaan Aceh selalu menempuh
jalur politik. Persoalan Aceh, tuturnya, hanya dapat diselesaikan melalui
jalur politik, diplomatik, dialog atau perundingan.


Tapi, dalam perundingan itu musti dilibatkan pihak ketiga yang bisa
netral, seperti organisasi (internasional), negara ataupun langsung PBB
yang turun tangan. "Sebab tanpa pihak ketiga, rakyat Aceh pasti akan kena
tipu lagi," tandasnya.


Tentang rencana pemberlakuan Syariah Islam di Aceh, Yusda mencurigainya
sebagai "suatu tipu muslihat rejim karena mulai terdesak dengan tekanan
di dalam dan apa yang didengungkan di luar negeri." "Selama berdirinya
RI, sudah tiga kali Aceh ditipu dengan janji syariat Islam dan rakyat
Aceh tidak akan terjebak lagi," ujarnya.


Lagi pula, GAM berjuang bukan hanya mau memberlakukan hukum Islam, tetapi
banyak faktor penting lainnya. "Kita bergerak karena mempunyai hak
sejarah untuk merdeka, kekayaan alam kita yang sudah dan sedang dikuras,
budaya kita dirusak, pendidikan anak-anak disesatkan dan lain
sebagainya," tegasnya.


MB GAM Eropa, yang diklaimnya, sebagai penyambung lidah rakyat Aceh di
luar negeri, bertugas menyakinkan kepada masyarakat internasional tentang
perjuangan rakyat Aceh agar memperoleh kembali haknya untuk merdeka.


Soal berapa banyak negara yang mendukung GAM, Yusda menolak untuk
menyebutnya. "Itu perkara bilateral yang tak dapat kami sebutkan, sebab
semua negara di dunia mempunyai hubungan diplomatik dengan Indonesia,"
tutur Yusda.


Menyangkut masalah pengungsian di Aceh, Yusda menyatakan, pengungsi
timbul akibat operasi TNI. "Supaya perkara pengungsi dapat diatasi dengan
segera, TNI/Polri musti ditarik dari desa-desa agar warganya kembali,"
ujarnya. Guna membantu para pengungsi di kamp-kamp penampungan,
perusahaan-perusahaan raksasa di Aceh dituntut untuk mengembalikan
sebagian hasilnya kepada rakyat Aceh. (nuh)


---------------

Campaign & Network

Koalisi N.G.O-HAM Aceh

N.G.O's Coalition for Human Rights

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Aug 1999 jam 09:36:03 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke