---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ISTIQLAL (29/9/99)# JALAN BAGI RAKYAT MAUBERE MERDEKA Oleh: Sulangkang Suwalu Sebuah berita (5/6) menyebutkan Sekjen PBB Kofii Annan membacakan hasil jajak pendapat di Timtim yang berlangsung 30 Agustus 1999 dihadapan Dewan Keamanan PBB. Hasilnya, 344.580 orang (78,5 persen) dari 451,792 pemilih terdaftar menyatakan pro-kemerdekaan. "Rakyat Timor Timur dengan demikian telah menolak otonomi khusus yang diusulkan dan memperlihatkan kehendak mereka untuk memulai suatu proses transisi menuju kemerdekaan," kata Kofi Annan dalam laporan pernyataanya kepada DK PBB Laporan kepada DK PBB ini amat signifikan berkaitan dengan kekuatan lembaga itu dalam struktur kewenangan organisasi internasional tsb. Pasalnya DK PBB pula yang memberi kewenangan melakukan pengiriman kontingen pasukan perdamaian ke sebuah wilayah konflik. Setelah konflik berlarut-larut selama 24 tahun di wilayah bekas koloni Portugis itu, Annan berharap ada proses transisi yang damai dan tertib menuju independen. Kepada DK Anann menyebutkan dalam hari-hari sekarang ini amat dibutuhkan kesabaran dan ketenangan rakyat Timtim. Kepada para pemimpin Timtim dari kelompok manapun dituntut bersikap bijak. Annan juga mengatakan proses jejak pendapat tidak lepas dari tangan peran pemerintah Habibie. Presiden Habibie dipuji karena mau melepaskan pilihan kepada rakyat Timtim sendiri untuk memutuskan massa depan mereka. Tetapi dia juga menyerukan pemerintah RI agar agar terus menjaga tanggung-jawabnya mempertahankan ketertiban dan hukum selama masa transisi sampai Timtim benar-benar lepas. Dalam pertemuannya dengan wartawan di New York, Annan berbicara lebih spesifik lagi. Dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada milisi pro otonomi yang selama ini dituding sebagai biang kerusuhan dan kekerasan di Timtim. Para pendukung integrssi diminta supaya menjauhkan manuver-manuver mereka dan menerima hasil jejak pendapat dengan hati lapang. Ucapan Kofi Annan, sekjen PBB, tentang hasil jajak pendapat di Timtim tsb sudah mengandung pengakuan kemerdekaan bagi Timtim. Peranan Habibie untuk terbukanya jalan bagi kemerdekaan Timtim tsb juga diakui Kofi Anann. Di pihak lain PBB melihat sumber kerusuhan di Timtim adalah ulah kelompok milisi pro integrasi, yang dibelakangnya bermain pihak TNI. Ucapan Kofi Annan tentu saja menimbulkan reaksi dari kelompok pro integrasi. Diantaranya dari Megawati, Akbar Tanjung dan Theo Syafei. Ini lah reaksi mereka. Megawati Sukarno putri sangat kecewa dan marah terhadap Habibie, yang dianggap terlalu mudah melemparkan opsi otonomi atau merdeka kepada rakyat Timtim. Dan mengakibatkan kalahnya pro-otonomi disana. Karena, masalah Timtim tidak bisa hanya diselesaikan dengan jejak pendapat. Kemarahan Megawati ini tercermin sejak diumumkannya kemenangan pro kemerdekaan dalam jajak pendapat kemarin. Seperti yang diumumkan sekjen PBB Kofi Annan di New York bahwa yang menolak otonomi sebanyak 344.580 (78,5 persen), sedangkan yang memilih otonomi hanya 94.388 (21,5 persen). Mega marah betul sama Habibie, kenapa begitu gampangnya. Tapi sudahlah. Sekarang yang harus dipikirkan bagaimana dengan nasib rakyat Timtim yang sedang dilanda rasa ketakutan, terus mengungsi keperbatasan, tutur salah seorang fungsionaris DPP PDI-P. Kekecewaan Mega juga terungkap ketika berada di kampus UGM, Yogyakarta. Dia menyatakan sedih dan prihatin terhadap hasil jajak pendapat di Timtim. Hasilnya rakyat disana selama berpuluh-puluh tahun sudah bergabung dengan wilayah kesatuan RI. Tentu saja saya sedih, karena dari dulu saya katakan bahwa kita mempunyai warga disana. Namanya saja PDI-P. "I"nya adalah Indonesia. Dari awal kata Mega sudah menyatakan bahwa Habibie yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam persoalan ini. AKBAR SAKIT HATI, KARENA YANG MENANG PRO KEMERDEKAAN Bukan hanya Mega saja yang mengecam Habibie, tapi Akbar Tanjung sudah menyatakan wanti-wanti pada Habibie. Dia meminta agar calon presidennya itu bersiap-siap untuk menjelaskan secara rinci tentang usulannya agar dilakukan jajak pendapat di Timtim di SU MPR 1999 mendatang. Terhadap hasil jajak pehdapat yang menyatakan-kemenangantpro kemerdekaan, Akbar menyatakan partai Golkar dan dirinya secara pribadi merasa sedih. Dia juga menyatakan bahwa hatinya sakit setelah mendengar pengumuman itu. Penjelasan Habibie ini, lanjut Akbar, menyangkut alasan-alasan konstitusional yang bisa memberikan penjelasan kepada rakyat tentang hasil jajak pendapat. Dengan harapan nantinya dapat menerima. Tapi kalau nantinya MPR tidak bisa menerima, ini akan menimbulkan problem. Sehingga Habibie harus siap-siap dari sekarang. Melanjutkan penjelasannya Akbar menyatakan pemerintah sudah pernah bilang kepada dunia internasional bahwa solusinya adalah melalui jajak pendapat dan ternyata hasilnya merdeka. Kita harus hormati itu, kalau tidak kita akan berhadapan dengan internasional. Sebab bisa saja besok PBB -akan kirimkan pasukan kesana untuk mengamankan hasil jajak pendapat, berarti kita akan berhadapan dengan mereka. Dikatakannya, bisa saja kita secara formal menolak hasil itu. Tapi secara de facto Timtim sudah merdeka dan bila sudah ada pasukan PBB bagaimana? Jadi wakil rakyat harus pikirkan dampaknya. Karena dampaknya amat besar kalau kita tidat menerima hasil jajak pendapat itu. Bila Megawati dan Akbar Tanjung dalam mengecam Habibie masih memakai kata-kata yang sedikit sopan, maka tanggapan Theo Syafei, yang juga dari kalangan PDI-P cukup kasar. Mungkin karena ia seorang militer. Bekas Pangkolakops Timtim Mayjen (pur) Theo Syafei ini mengatakaan Habibie telah membuang secara sia-sia salah satu provinsi di wilayah RI. "Dia (Habibie) sudah menyebabkan satu provinsi kita lepas. Itu namanya politik amputasi, tidak bisa dibiarkan begitu saja," tandas Theo. Menurutnya, keputusan dua opsi yang ditawarkan Habibie kepada rakyat Timtim adalah masalah serius. Persoalan besar seperti Tintim, sebenarnya tidak dapat diberikan kepada anak kecil seperti Habibie. Habibie itu anak kecil, karena dia tidak tahu apa-apa. Menurutnya, Habibie tidak mengerti mengenai persoalan Timtim, sekaligus harus bertanggung jawab atas semua penderitaan yang diderita rakyat Timtim menjelang jajak pendapat sampai pelaksanaannya. Hal ini tidak akan terjadi jika Habibie memiliki kadar nasionalisme yang tinggi. Kalau seorang pemimpin memiliki nasionalisme yang tinggi akan membela dan menjaga keutuhan negara. Habibie telah menyerah dibawah tekanan internasional. Di mata internasional, dia ingin dianggap pahlawan dan kepingin mendapat nobel perdamaian, tutut Theo. Politik amputasi Habibie lanjutnya, jangan terus dibiarkan. Sebab kemungkinan daerah-daerah lain menuntut kemerdekaan tetap ada. Jika ini terjadi, maka mungkin Habibie juga akan memberikannya kepada propinsi lain, tambah Theo. Dua opsi yang ditawarkan Habibie kepada rakyat Timtim, yang dikecam oleh pihak-pihak yang pro integrasi, yang mendukung serbuan militer Indonesia ke Timtim tahun 1975, adalah sesuai dan merupakan pengamalan isi Mukaddimah UUD 1945 mengenai hak menentukan nasib sendiri bagi setiap bangsa, termasuk bagi bangsa Maubere. Memang, dua opsi yang ditawarkan Habibie tsb merupakan satu tindakan yang berani dari Habibie untuk mengatasi tekanan internasional yang makin kuat bagi kemerdekaan Timtim. Dua opsi itu menunjukkan kepada rakyat Indonesia dan dunia bahwa ada perbedaan antara pemerintahan diktator jenderal Suharto dengan kekuasaan Habibie. Meskipun secara umum pemerintahan Habibie adalah kelanjutan dari pemerintahan Suharto. Orba merebut Timtim dengan kekerasan militer, sedang pemerintahan Habibie mengembalikannya kepada bangsa Maubere yang berhak dengan berdiplomasi. Dua opsi ini tentu akan dipertangsungjawabkan Habibie kepada SU MPR mendatang. Bila SU MPR itu berpegangan kepada Mukaddimah UUD 1945, yaitu mengakui hak menentukan nasib sendiri bagi setiap bangsa, termasuk bagi bangsa Maubere tentu SU MPR akan menerimanya dengan segala konsekuensinya. Sebaliknya jika SU MPR menolsknya, karena hendak mempertahankan hasil serbuan militer Indonesia tahun 1975 ke Timtim, tentu akan ditolaknya. Bila menolak, berarti Indonesia telah siap untuk berhadapan dengan PBB. Karena PBB telah mengakui hasil jajak pendapat tsb. Lepas dari persoalan apakah pertanggunganjawab Habibie akan diterima atau ditolak oleh SU MPR, yang pasti di dunia internasional nama Habibie naik dengan dilepaskannya Timtim sebagai wilayah Indonesia. Sekiranya Habibie tak disenangi lagi oleh para pendukung integrasi serta pengikut Suharto, tempat di dunia terbuka bagi Habibie untuk hidup. berbeda dengan Suharto yang kebanyakan tempat tertutup baginya bermukim, sekiranya meninggalkan Indonesia. Habibie tercatat sebagai seorang yang membukakan jalan bagi bangsa Maubere untuk merdeka. Sebaliknya bagi partai yang menolak hasil jajak pendapat rakyat Timtim tsb hanya menunjukkan mereka tidak mengenal isi Mukadimah UUD l945 apalagi mengamalkannya. Pemimpin-pemimpin partai yang menolak hasil jajak pendapat itu hanya akan mempercepat proses jatuhnya sebagai pemimpin, karena ia telah bertindak tidak konstitusional, tidak sesuai dengan Mukadimah UUD 1945. KESIMPULAN Meskipun oleh Theo Syafei, Habibie dinilai sebagai anak kecil di bidang politik, kadar nasionalismenya rendah, namun tak bisa disangkal, dia telah membukakan jalan bagi merdekanya bangsa Maubere. Sesuai dengan hak menentukan nasib sendiri dari Mukaddimah UUD 1945. Dalam hal itu rakyat atau bangsa Maubere tak akan melupakan Habibie. Tetapi dalam soal yang lain, hak hidup bagi PKI tetap ditutupnya, seperti ditutupnya oleh Suharto ketika masih berkuasa. Begitu pula Habibie masih berusaha dengan akal-akalnya yang seperti belut untuk tidak menyeret Suharto kemuka pengadilan, baik karena klik-nya, maupun karena pembantaian massal yang dilakukannya di masa tahun 1965/1966, maupun di masa Orde Baru berkuasa, seperti di Tanjung Priok, di Aceh, di Lampung dsb. Habibie adalah murid Suharto, kecuali dalam soal Timtim dan kebebasan pers, karena situasi dan kondisinya memang berbeda.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 29 Sep 1999 jam 20:31:46 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
