----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 28 September 1999

Serdadu Australia Sobek Merah-Putih

ATAMBUA -- Daftar pelecehan pasukan PBB di Timor Timur (Interfet)
terhadap harga diri bangsa Indonesia makin panjang. Informasi
terakhir menyebutkan serdadu Australia yang tergabung dalam
Interfet merobek bendera nasional RI merah-putih. Insiden itu
terjadi di Desa Tibar, Kec Liquisa, 38 km barat Dili, dan tersebar
kepada wartawan kemarin.

Pada pagi hari kemarin, juga berlangsung serah terima kendali
operasi keamanan di Timtim dari Komando Penguasa Darurat Militer
Timtim Mayjen TNI Kiki Syahnakri pada Panglima Interfet Mayjen
Peter Cosgrove. Upacara berlangsung di ruang tertutup di Makorem
164 Wiradharma, Dili.

Bersamaan dengan itu, TNI menarik habis kekuatannya di Timtim,
kecuali satu batalyon AD, satu kompi Paskhas AU, Brimob, dan
Marinir. Untuk sementara, mereka bertugas menjaga objek vital
milik Pemerintah RI seperti PLN, gedung Pemda, dan gedung Makorem,
hingga November nanti.

MDNM�Komandan Interfet Mayjen Peter Cosgrove menyangkal bahwa
Indonesia telah melakukan alih kekuasaan wilayah Timtim kepada
pasukan yang dipimpinnya. ''Ini masih kawasan kedaulatan Indonesia
dan berdasarkan resolusi PBB, Indonesia dan rekan-rekan lainnya,
termasuk masyarakat dunia, setuju bahwa Indonesia memegang
tanggung jawab keamanan atas provinsi tersebut,'' tutur Cosgrove,
Senin.

Mengenai peristiwa perobekan merah-putih, Panglima Pasukan Pejuang
Integrasi (PPI) Joao da Silva Tavares, kepada wartawan di Atambua,
NTT, kemarin, membenarkan laporan anggotanya tentang kejadian
tersebut. Menurut Tavares, penyobekan merah-putih oleh tentara
Australia itu disaksikan anggota PPI yang tertangkap Interfet tapi
kemudian berhasil lolos.

''Kita sabar karena mengikuti kemauan negara kita dan turut
mengangkat harkat dan derajat negara kita, Indonesia ini. Tetapi,
kita tidak sabar karena merah-putih dirobek. PPI rela mati untuk
merah-putih,'' kata Tavares.

Mengenang peristiwa perobekan bendera itu, Tavares berulang kali
mengusap air mata dengan sapu tangan berwarna biru. Sambil
mengepalkan tangan kanannya, Tavares yang kini berusia 68 tahun
itu menyatakan PPI tidak takut membela merah-putih agar tetap
berkibar di Timtim.

''Orang-orang Timtim prointegrasi tak takut menghadapi kapal,
pesawat, maupun helikopter perang yang canggih yang dikirim
pasukan PBB. Bahkan, kami siap bergerilya selama seratus tahun,''
katanya sambil memukulkan kedua telapak tangan pada kedua pahanya.

Wakil Komandan Peleton Pos Kiper 3 Pasukan Aitarak (sayap PPI)
Thomas do Rosario Fatima mengaku jadi saksi mata kejadian itu. Ia
melihat anggota Interfet asal Australia mengambil bendera merah-
putih dari mobil kijang putih yang ditumpanginya bersama sejumlah
kawan di Desa Tibar, Liquisa, pada Sabtu (25/9) sekitar pukul
14.00 WITA.

Selain merobek merah-putih menjadi beberapa serpihan, tentara
Interfet asal Australia juga menangkap empat anggota Aitarak,
mengikat mereka dengan tali plastik, menodong, dan memukulinya.
Sebanyak 12 anggota Aitarak pada Sabtu (25/9) mendatangi tempat
tersebut untuk membebaskan sekitar 10 warga prointegrasi yang
disandera di Tibar.

Namun, empat orang ditangkap Interfet dan lainnya berhasil
meloloskan diri lalu menuju ke perbatasan Timtim-NTT. Keempat
anggota Aitarak itu adalah Thomas do Rosario Fatima, Domingos
Pereira, Fernando, dan Paulino.

Sejumlah anggota Dewan Nasional Pertahanan Timor Leste (CNRT)
pimpinan Xanana Gusmao juga berada di tempat tersebut, ketika
keempat anggota Aitarak itu disiksa dan diinjak-injak di jalan
beraspal.

Provokasi oleh warga Timtim yang prokemerdekaan juga mengakibatkan
penangkapan oleh Interfet terhadap 10 warga prointegrasi di Ermera
yang sedang dalam perjalanan mengungsi ke Atambua, NTT, Kamis
pekan lalu. Sepuluh orang itu disiksa oleh anggota CNRT dalam
kondisi kedua tangan diikat. Dan, hingga saat ini nasibnya belum
diketahui.

''Ketika kami disiksa pasukan Australia itu di jalan aspal, saya
bisa melihat orang banyak di gudang kopi, pintunya terbuka dan
saya lihat secara jelas mereka ada di sana,'' kata Thomas.

Menurut pengakuan Thomas, 20 anggota Interfet asal Australia
berada di Tibar dengan menggunakan tiga mobil milik misi PBB di
Timtim (UNAMET). Sementara sejumlah anggota prokemerdekaan juga
berada di tempat tersebut membantu pasukan PBB untuk mencari dan
menangkap warga prointegrasi, khususnya anggota PPI.

''Mereka bukan sebagai pasukan perdamaian yang harus netral di
Timtim, melainkan tentara Australia yang bekerja sama dengan CNRT
dan Falintil (sayap militer prokemerdekaan) untuk melawan
prointegrasi. Pasukan perdamaian seharusnya mengamankan dua
pihak,'' kata Thomas.

Kekejaman kembali diperlihatkan serdadu Australia, ketika mereka
menangkap dan menyiksa pengungsi Timtim dan warga NTT yang hendak
membantu pengungsian. Dari enam korban, tiga berasal dari Atambua,
dan tiga lainnya anggota PPI dari Dili, Aitarak. Tiga warga
Atambua tersebut Jonny R Eden (24), Yani Ndoen (35), dan Luis Seru
(36). Sedangkan tiga anggota Aitarak adalah Lorenso Gomes (38),
Caitano da Silva (38), dan Joao Ximenes (39).

Jonny mengaku enam orang itu ditangkap Rabu (22/9) saat hendak
mengambil beberapa barang dengan mobil dari markas Aitarak di
kompleks Tropical Dili. Tapi, belum sampai melakukan niatnya,
mereka keburu tertangkap Interfet yang bekerja sama dengan para
anggota CNRT.

Enam orang tersebut pada sekitar pukul 20.00 WITA dibawa ke
Lapangan Tenis Melati, disiksa dan disuruh tidur tertelungkup di
tempat itu dengan penjagaan ketat dan todongan senjata. ''Di situ
saya juga lihat mayat dibungkus dalam satu karung dan dua lainnya
tergeletak,'' katanya.

Jonny juga diperlakukan secara kasar antara lain dipukul dengan
popor senapan pada bagian punggung serta ditendangi oleh pasukan
Interfet. Pada Kamis (23/9) enam orang itu kemudian dibawa ke
Stadion Municipal Dili, diinterogasi dan disuruh berlutut di atas
kotoran manusia serta dijemur di terik matahari selama satu jam.

Pada saat melakukan penyiksaan, tentara-tentara Australia itu
menutup tanda nama pada seragamnya dengan lak ban berwarna hitam,
sehingga tidak bisa diketahui identitasnya. ''Tetapi jelas dari
kulitnya mereka bule dari Australia,'' katanya.

Jonny melanjutkan seorang serdadu wanita Australia ikut dalam
proses interogasi itu. Selama berada di kota Dili dan ditangkap
enam orang tersebut dijaga ketat oleh pasukan Interfet dengan
selalu menodongkan senjata pada bagian leher, kepala, dan perut.

Jonny dan kawan-kawannya kemudian dibawa ke Bandara Comoro Dili
Barat, namun di tempat tersebut mereka sudah tidak melihat
keberadaan Caitano da Rilva, komandan Peleton Aitarak. Pada Jumat
(24/9) malam Interfet membebaskan Luis, Jonny, dan Lorenso di
Bandara Comoro.

Namun, Jonny dan Lorenso tidak bersedia keluar dari kompleks
Bandara Comoro pada malam itu karena takut diculik dan dibunuh
oleh warga prokemerdekaan. Sedangkan Luis, yang tampak ketakutan
keluar dari tempat itu dan hingga saat sekarang ini tidak
diketahui nasibnya.

Begitu juga tiga orang lainnya -- Yani Ndoen dan Joao Ximenes,
Caitano Da Silva. Yang pasti, ujar Jonny, pada Jumat (24/9) malam
mereka masih diinterogasi Interfet.

Selama tiga hari ditangkap dan disiksa, keenam orang tersebut
tidak diberi makan. Selama berada di kota Dili ia mengaku melihat
sejumlah anggota prokemerdekaan -- CNRT dan Falintil-- turut
berpatroli di dalam kota Dili dengan menumpang kendaraan milik
Interfet.

''Setiap truk maupun tank pasukan Interfet pasti di situ duduk
paling depan orang CNRT dengan membawa senjata, sementara di
sepanjang Pantai Farol anggota Falintil dengan senjata api juga
berjaga-jaga,'' katanya.

Diduga, sepak terjang yang berlebihan oleh pasukan Australia
lantaran mereka panik dan tegang menghadapi medan di Timtim.
Dugaan lainnya, mereka memang harus melakukan itu sesuai standar
keamanan.(n nri/yyn/abc/ant)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Oct 1999 jam 04:17:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke