----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 29 September 1999

Tajuk: Konspirasi Ketidakadilan

Siapa pun yang mengamati sikap negara-negara Barat
tentang Indonesia dan melihat kenyataan yang
sebenarnya terjadi pasti akan merasakan adanya
'ketidakadilan internasional'. Sikap tidak adil
negara-negara Barat itu bahkan sangat tajam saat
mereka melihat kasus Timtim. Indonesia hampir selalu
dipojokkan dan harus berada pada posisi yang kalah.

Dengan menyimak berbagai peristiwa,
pernyataan-pernyataan sejumlah tokoh dan pemberitaan
banyak media massa Barat, dengan gampang orang akan
menduga adanya semacam 'konspirasi internasional'
untuk menyudutkan Indonesia. Sedihnya, ibarat gurita
jaringan konspirasi itu pun sudah merentangkan
belalainya sampai jauh merasuk ke dalam negeri sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum, salah satu kegiatan kaki
tangan persekongkolan itu di dalam negeri adalah
'menjual borok-borok negeri sendiri' ke lembaga-lembaga
donor di luar negeri guna mendapatkan dana besar.
Bahkan, kalau perlu mereka memanipulasi fakta atau
mendramatisasi persoalan, agar permohonan dananya
punya kekuatan untuk mengeruk isi dompet lembaga
donor.

Tak heran, jika dalam sebuah diskusi di Jakarta belum
lama ini seorang aktivis LSM tidak dapat menjawab
ketika seorang peserta menuduhnya sebagai pengkhianat
bangsa karena rela 'menjual negerinya sendiri' ke luar
negeri. Bahkan, kabarnya, ada sejumlah aktivis LSM yang
menjadi broker 'proyek kemanusiaan'. Dengan
mengharuskan 'proposal proyek mesti lewat tangannya'
LSM tidak lagi menjadi lembaga bantuan kemanusiaan,
tapi sudah menjadi 'lembaga bisnis kemanusiaan' dengan
komoditas penderitaan manusia dan borok negara.

Dalam posisi seperti itulah, kurang lebih, cabang belalai
konspirasi internasional terus berupaya keras
memojokkan Indonesia. Tentu, konspirasi ini juga
mendapat dukungan dari LSM negara-negara tertentu.
Sebut misalnya, dalam upaya mempengaruhi opini dunia,
seorang sukarelawan -- aktivis LSM -- Australia tega
berbohong dengan mereka-reka peristiwa yang
sesungguhnya tidak pernah terjadi, seperti dibongkar oleh
koran terkemuka Inggris, The Guardian, dua hari lalu.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara televisi,
'sukarelawan' itu mengabarkan telah terjadi pembantaian
massal di Timtim -- termasuk pembunuhan lebih dari 100
pastor dan suster oleh TNI dan para milisi. Tetapi, setelah
wartawan The Guardian, Maggie O'Kanne, melakukan
investigasi langsung ke Dili, kabar menyeramkan itu
tidak terbukti. Pastor Fransisco dari Keuskupan Dili juga
menyebut pembantaian massal itu tidak pernah terjadi.

Terlebih kalangan LSM dan pers Australia gencar
menyebarkan berita bohong tentang Indonesia, terutama
melalui video-video dokumentasi yang dimanipulasi, dan
internet yang aksesnya mendunia. Ketika berada di
Australia, dosen Unpad Antar Venus Khadiz sempat
menyaksikan video semacam itu.

Tak pelak, opini dunia menjadi negatif dan terus
menyudutkan Indonesia. Dan, ini berlanjut dengan
tekanan dan intervensi internasional terhadap
penyelesaian kasus Timtim. Kuatnya tekanan itu, tentu,
terus menyeret negara ini dalam posisi yang serba
dikalah-kalahkan. Misalnya, Indonesia kalah bargaining
dengan Komisi Tinggi PBB untuk Hak-hak Asasi Manusia
dalam pembentukan tim penyelidik dugaan pelanggaran
HAM di Timtim.

Australia sendiri, negara yang mengaku menjunjung
tinggi HAM, kenyataannya kini justru tak segan
melanggar HAM di Timtim. Di Bumi Lorosae itu pasukan
Interfet asal Australia berkali-kali melakukan
penyiksaan terhadap warga Timtim prointegrasi bahkan
disebut-sebut tentang pembakaran hidup-hidup seorang
anggota PPI.

Kita memang tidak dapat menafikan begitu saja berbagai
tindak kekerasan yang dilakukan selama Orde Baru --
dengan pendekatan militernya -- di Timtim, juga di Aceh
dan Ambon. Tetapi, sikap adil dan objektif tetap lebih
penting dalam menyelesaikan persoalan. Bagaimanapun,
manipulasi fakta untuk menyudutkan pihak tertentu
adalah fitnah yang keji. Apalagi, jika itu dilakukan oleh
aktivis LSM terhadap negaranya sendiri.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Oct 1999 jam 04:17:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke