----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 29 September 1999

Australia, Timtim dan Pers

Oleh: Basofi Soedirman - Mantan Gubernur Jawa Timur

The pen is mightier than the sword -- Pena itu lebih tajam
dari pedang. Itu ungkapan lama dari Bulwer Lytton,
novelis kawakan asal Inggris, yang lama kelamaan
tambah nyata kebenarannya. Bahkan di era globalisasi
sekarang ini, ketajaman pena kian tak tertandingi.
Bukankah pena yang digores di sebuah negara kerapkali
membuat banyak orang di negara lain ''berdarah''? Emosi
sepihak memang gampang dimainkan lewat pena. Sebuah
bukti bahwa ia memang tajam.

Contoh konkritnya, bisa ditengok di Australia dalam
beberap hari terakhir, di mana pena merek yang
membabi buta telah membuat ''luka'' yang pedih buat
bangsa Indonesia. Bahkan sampai menusuk nurani
kebangsaan kita. Mengapa sampai begitu karena pena
mereka --baik yang digores di media cetak maupun
elektronik-- telah memutarbalikkan banyak cerita
mengenai Timtim.

Perhatikanlah apa yang dikemukakan pers di sana, di
antaranya ada yang mengatakan prilaku TNI di Timtim
bak holocaust, disamakan dengan perbuatan Hitler yang
membabibuta membunuh warga Yahudi. Apakah
demikian yang dilakukan TNI? Saya tahu persis tidak
demikian, karena saya sendiri bertugas tiga kali di sana.

Semua sentimen tersebut memang menyebalkan, apalagi
ternyata ternyata berbagai fitnah itu secra langsung atau
tidak langsung syiarnya difasilitasi oleh negara jiran.
Tengoklah, misalnya yang dikemukakan Ramos Horta,
atau rohaniawan Anna Forbes, dalam pernyataannya yang
disiarkan pers Australia. Dari pernyataannya jelas
kelihatan maksud yang tak baik. Ada indikasi bahwa
keduanya ingin memanfaatkan ''pena'' untuk menarik
sentimen internasional. ''Pena'' yang obyektif mestinya
memuat pandangan yang berimbang. Apalagi semua tahu
bahwa Ramos Horta dan kelompoknya, semenjak awal
sudah anti Indonesia.

Yang mengusik perasaan kita, mengapa Pers Australia,
larut dalam provokasi mereka? Terkesan jika mereka
tampaknya ingin mengambil momen dan isu
ketidakstabilan di Timtim sebagai ''komoditi''. Sehingga
tatkala Ramos Horta, suster Anna Forbes atau sejumlah
pelarian lain mengatakan bahwa yang terjadi di Timtim
adalah sebuah pemusnahan masal yang dilakukan atas
dasar agama, berita itu ditelan mentah-mentah. Bahkan
terakhir dikembangkan lagi fitnah bahwa prilaku tentara
Indonesia tak ubahnya dengan tentara Serbia yang
saenak'e dewe membombardir orang Timtim. Naudzubillah.

Lalu apa maksud di balik itu semua? Indikasinya jelas,
mereka ingin merusak imej bangsa Indonesia di dunia
Internasional. Mereka tutup mata sama sekali terhadap apa
yang dilakukan pemerintah Indonesia di sana. Walaupun
setahu saya sebelum berintegrasi dengan Indonesia, Timtim
adalah daerah yang mengenaskan dalam berbagai hal. Kala
itu nyata benar kalau Timtim adalah bekas jajahan yang tak
ada apa-apanya. Dan ketika itu --maaf saja-- tak ada negara
lain peduli, termasuk Australia.

Kala itu Timtim yang sudah ratusan tahun dijajah Portugal
amat sengsara. Ia hanya punya jalan raya sepanjang 12
kilometer, satu sekolah menengah, dan sekitar 92 persen
masyarakatnya buta huruf. Dan semua fasilitasnya serba
minim. Bandingkan dengan sekarang, di mana jalan raya ada
di mana-mana, angka buta huruf bisa ditekan, lantaran
sarana pendidikan dikembangkan dengan luar biasa
pesatnya. Sampai dengan tahun 1991 saja, sudah berdiri 570
SD (sebelumnya hanya ada 70 saja), 90 SMP, dan 33 SMA.
Belum lagi kondisi perekonomian, sarana prasarana umum
dan sebagainya yang dibangun.

Namun semua itu dinafikan begitu saja. Pena di sana tutup
mata. Tapi, beginikah mestinya sebuah pers yang bebas dan
profesional? Pertanyaan ini layak dikedepankan dengan
serius mengingat berbagai hal di antaranya: Pertama, karena
seperti yang kita maklumi, media elektronik dan cetak yang
terbit di sana berbahasa Inggris, sebuah bahasa yang relatif
mengglobal dan mudah diserap di belahan bumi mana pun.
Dengan demikian, apa yang diberitakan lewat ''pena''
mereka, akan mudah diserap masyarakat internasional.

Kedua, secara geografis Australia adalah jiran non Asia yang
paling dekat dengan Indonesia. Posisi ini, sedikit banyak
telah menempatkan Australia sebagai ''orang kepercayaan''
negara Barat. Sehingga apa yang dikemukakan pers dan
masyarakat Australia mengenai Timtim dan Indonesia akan
diposisikan sebagai informasi yang layak. Ketiga, karena
kultur politik masyarakat Australia yang bersifat kompetitif,
konfrontatif, dan pragmatif. Sifat politik yang demikian,
kerap membuat sebuah isu --baik lokal maupun global--
mudah menjadi komoditi politik yang serius, Khususnya
dalam rangka mencari dan mempertahankan dukungan
politik. Kenyataan sosial ini, bukan tidak mungkin akan
membuat konflik di Timtim menjadi dagangan politik rama di
Australia. Terlebih lagi, dalam tradisi politik di Australia ada
kelompok kepentingan yang daya tekannya bisa
mempengaruhi reputasi partai politik yang ada.

Dalam hal yang berkaitan dengan masalah Timtim, semenjak
awal berbagai kelompok kepentingan di sana, telah
menjadikan Timtim sebagai ''proyek HAM'' mereka. Dalam
prespektif ini, jelas ada kepentingan yang dimainkan,
khususnya dalam rangka mempromosikan diri sebagai
negara demokrasi dan penjunjung HAM. Sikap seperti ini
sedikit banyak memang bisa menutupi perhatian pihak lain
terhadap sikapnya yang selama ini kurang ''HAM'' terhadap
suku Aborigin.

Tiga kenyataan tersebut pada perkembanganya telah
membuat Australia kepalang basah dalam mencampuri
urusan Timtim. Apalagi di luar tiga hal itu, Australia juga
tetap memperlihatkan sikap kurang sepahamnya dengan
Indonesia --dalam hal Timtim-- terutama di meja perundingan
PBB. Sikap ini tercermin ketika Komite Perwakilan PBB di
sekitar 1975-an meminta Indonesia untuk meninggalkan
Timtim. Australia mendukung penuh resolusi ini.

Dalam hal Timtim, Australia sebenarnya menerapkan standar
ganda. Selain sikapnya tidak sepaham dengan Indonesia
yang ditunjukkan dalam sidang PBB, ternyata sikap
''bersahabat'' pernah diperlihatkan PM Australia Gough
Whitlam atau Malcom Fraser ketika berkunjung ke Indonesia
yang bisa ditafsirakan sebagai dukungannya kepada
Indonesia dalam masalah Timtim.

Tanda-tanda yang memperlihatkan sikap kepalang basah
dari Australia ini, sebaiknya diwaspadai. Sebab, bukan tidak
mungkin ia butuh dasar pembenaran atas keterlibatannya di
Timtim selama ini. Di samping itu, pertimbangan untuk
mewaspadai Australia, juga berangkat dari prilaku
masyarakatnya yang belakangan ini memperlihatkan sikap
tidak simpatik. Bahkan dalam kasus Timtim, selain terkesan
''menfasilitasi'' gerakan anti Indonesia, masyrakat dan
berbagai kelompok di Australia juga tidak lagi
mempertimbangkan kaidah-kaidah manusiawinya tatkala
berhubungan dengan warga Indonesia yang ada di sana.

Semua sikap ini, sekali lagi, di kemudian hari akan
membutuhkan legitimasi sosial atau pembenaran. Mungkin
itu sebabnya, di pasca jajak pendapat mereka
berkepentingan sekali untuk terlibat lebih jauh. Kita tahu
bahwa kondisi konflik di Timtim tidaklah sederhana, dan
mustahil diselesaikan begitu saja lewat jajak pendapat.
Kondisi seperti ini sudah barang tentu mustahil dihampiri
dengan pendekatan yang 100 persen militer. Sebab, tindakan
ini bisa melahirkan dua dampak sekaligus.

Pertama, apa ada jaminan kalau Australia bisa netral? Apa
iya sikap membakar hidup-hidup seorag warga Timtim yang
pro integrasi masih bisa dijadikan cermin untuk melihat
netralitas tentara Australia? Kedua, apa ada jaminan kalau
dengan masuknya tentara PBB yang dipimpin Australia akan
dengan sendirinya menghentikan aksi massa di Timtim? Di
situ letak kekuatiran kita, karena jangan-jangan fakta aksi
akan diputarbalikkan untuk menyudutkan Indonesia.

Terlepas dari semua uraian sebelumnya, tentu kita tak
bermaksud suudzhon terhadap Australia yang memimpin
pasukan multinasional PBB di Timtim. Kita hanya
berjaga-jaga saja, mengingat pengalaman pahit selama ini
cukup menjadi pelajaran. Di samping itu, kita tak mau Timtim
kembali sengsara, setelah lepas dari tangan Indonesia.
Apalagi kalau sampai ada yang mengusik harga diri bangsa
Indonesia dengan terus menerus ''mengail'' di air keruh yang
ada di Timtim.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Oct 1999 jam 04:17:09 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke