----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 29 September 1999

ICRC Bantah Laporan Pembantaian Massal di Timtim

NEW YORK -- Lagi, laporan bahwa telah terjadi
pembunuhan massal di Timtim terbukti bohong. Setelah
koran Inggris The Guardian, giliran koran terkemuka AS
The Washington Post mengungkapkan langkanya bukti
atas tuduhan pembantaian massal di Timtim oleh TNI dan
milisi.

''Kami tak dapat mengkonfirmasi laporan mengenai
pembunuhan massal,'' kata Symeon Antoulas dari Komite
Palang Merah Internasional (ICRC) seperti dikutip The
Washington Post edisi Senin (27/9).

Wartawan koran itu, Doug Struck, yang juga melakukan
investigasi di Timtim, melaporkan bahwa isu
pembunuhan massal dan pembantaian berskala besar
oleh kelompok prointegrasi tidak bisa dikonfirmasi dan
terlalu dibesar-besarkan.

Pengakuan serupa juga dikemukakan Komandan
Pasukan Inggris di Interfet, Brigjen David Richards. ''Di
Sierra Leone, mayat bergelimpangan di mana-mana dan
kuburan-kuburan massal yang masih baru ditemukan.
Saya tidak melihat dan menemukannya di sini,'' kata
jenderal itu seperti dikutip The Washington Post.

David, veteran pasukan penjaga perdamaian di beberapa
krisis dunia, sepekan terakhir ini berusaha menyisir
tempat-tempat yang diperkirakan menjadi tempat
pembuangan mayat korban. Tapi, itu tadi, sejauh ini tidak
ditemukan bukti nyata berupa kuburan atau semacamnya.

Dengan begitu, cerita seram mengenai pembantaian massal
tetap menjadi misteri bagi pasukan multinasional di Timtim.
Kelompok hak asasi manusia (HAM) dan kalangan diplomat,
umumnya dari Australia, melaporkan ribuan orang
diperkirakan tewas terbunuh sejak hasil jajak pendapat
diumumkan pada 4 September 1999.

Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto juga telah
membantah laporan pelanggaran HAM dalam skala besar
dan sistematik di Timtim. Wiranto hanya mengakui kurang
dari 100 orang tewas akibat bentrokan antara kelompok
prointegrasi dan prokemerdekaan.

Wawancara selama empat hari yang dilakukan Doug Struck
dengan penduduk di Dili dan para pengungsi menunjukkan
bahwa mereka tak bisa membuktikan secara spesifik
tuduhan-tuduhan tersebut. Wartawan itu menyusuri gedung
dan rumah-rumah yang terbakar yang diduga tempat
pembantaian massal, namun ia mengaku tidak menemukan
apa pun yang bisa dijadikan bukti. ''Tak ada tulang-belulang
apalagi mayat-mayat,'' tulis Doug Struck.

Menurut dia, memang telah terjadi pembunuhan, tetapi yang
bersifat massal tidak ditemukan. Sebagai contoh, laporan
Yayasan Hak Asasi dan Keadilan (HAK) mengenai adanya 25
orang tewas ketika gedung Keuskupan Diosis Dili terbakar
sangat diragukan. ''Gedung Keuskupan, sebagaimana juga
ratusan bangunan lain di Dili memang dilalap api, tapi
pengamatan hari ini tidak menemukan bukti adanya
orang-orang yang mati,'' tulis wartawan itu lagi.

Yayasan HAK juga melaporkan adanya pembantaian di
rumah Uskup Belo, yang ternyata juga tidak benar. ''Rumah
Uskup memang terbakar, tetapi empat suster yang tinggal di
halaman rumah Belo mengatakan tidak ada pembantaian,
dan milisia hanya membunuh satu orang di tempat itu sejak
jajak pendapat dilaksanakan,'' tulis koran bacaan utama
Presiden Clinton dan politisi di AS itu.

Organisasi-organisasi yang berkaitan dengan gereja juga
melaporkan bahwa para pastor dan suster menjadi sasaran
milisi dan setidaknya enam pastor terbunuh dalam
kekerasan belakangan ini. Laporan ini pun tidak berdasar.
''Pastor-pastor di Dili hanya bisa membenarkan empat orang
pastor tewas di Timtim, yaitu tiga di Suai dan satu di Dili,''
tulis The Washington Post.

Begitu juga hasil penyelidikan wartawan Amerika itu
terhadap laporan adanya pembantaian besar-besaran di
Markas Polda, di Hotel Tropica, Hotel Tourismo, dan tempat
lain di Dili -- tak ada bukti-bukti pembubuhan skala besar.
''Tak ada darah, tak ada tulang, tak ada konfirmasi dari para
penduduk sekitarnya,'' tulis wartawan itu lagi.

Kesimpulannya, seperti dikemukakan Menlu Ali Alatas,
berita-berita yang terjadi di Timtim terlalu dibesar-besarkan.
''Dulu media Barat yang memberitakan ayah Xanana mati
dibunuh milisi. Sekarang mereka juga yang memberitakan
orang itu masih hidup. Dulu mereka yang memberitakan
Uskup Basilio tertembak dan dibawa ke luar negeri, kini
mereka juga yang memberitakan itu tidak benar,'' kata
Alatas.

Informasi yang dibesar-besarkan tentang Pemerintah RI soal
Timtim oleh media massa Australia juga telah memperkeruh
hubungan kedua negara. Itu diperparah dengan sepak terjang
serdadu Australia yang memang ditunjuk PBB memimpin misi
di Timtim (Interfet).

Padahal, untuk program ambisius itu Pemerintah Australia
harus menambah beban anggaran pertahanan sedikitnya 500
juta dolar Australia (Rp 2,5 triliun) hingga akhir tahun
anggaran Juli 2000. Jumlah itu, kata Menhan John Moore,
kemungkinan akan terus bertambah karena pemerintahnya
akan mendukung berapa pun kebutuhan pendanaan
pasukan di Timtim.

Suara bernada simpatik datang dari PM Malaysia, Mahathir
Mohamad, yang berpendapat masyarakat internasional
seharusnya membiarkan Indonesia 'menjayakan'
demokrasinya dulu, daripada menekan Indonesia
mengadakan referendum di Timtim.

''Tak adil melakukan tekanan sewaktu seseorang
menghadapi masalah. Indonesia sama sekali tidak
berpeluang berkampanye di kalangan rakyat Timor Timur,''
katanya dalam wawancara dengan Public Broadcasting
System yang disiarkan di New York Senin lalu, dan
dilaporkan kantor berita Malaysia, Bernama, kemarin.

''Jika kita memberikan Indonesia waktu untuk menyukseskan
demokrasinya, sudah tentu penduduk Timor Timur bisa
memperoleh manfaat menjadi sebagian Indonesia,'' tegas
Mahathir, yang sedang berada di New York memimpin
delegasi Malaysia pada Sidang Umum PBB.

PM vokal itu ditanya mengapa mayoritas masyarakat Timtim
memilih merdeka dalam jajak pendapat 30 Agustus lalu.
Jawabnya, pihak anti-Indonesia telah berkampanye
mendesak rakyat Timtim menolak Indonesia. Ia mengatakan
orang asing telah menakut-nakuti penduduk Timtim. ''Jika
kamu merdeka, kami akan membantu kamu, kami akan
memberikan kamu perlindungan, kami akan memberikan
kamu uang.''

Menurutnya, masalah Timtim tidak dikendalikan dengan
betul oleh pelbagai pihak yang diketahui telah mendesak
bagi pemisahan daerah itu dari Indonesia. Banyak pihak
yang tidak mau penyatuan Timtim ke dalam wilayah
Indonesia dan mereka senantiasa menghasut dan mendesak
Timtim memperoleh kemerdekaan, sambungnya.(ant)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Oct 1999 jam 04:17:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke