----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 30 September 1999

Interfet=Serigala Berbulu Domba!
Oleh: Dimyati

SIKAP dan ulah International Force for East Timor (Interfet) di
Timor Timur (Timtim) ternyata tidak terjauh berbeda dengan
pendahulunya: United Nation Assistance for East Timor (Unamet).
Tidak proposional dan gemar mencari kambing hitam atas kegagalan
yang mereka lakukan. Kesimpulan ini cukup beralasan apabila
menyimak sepak terjang keberadaan Interfet di Bumi Loro Sae, serta
bagaimana mereka menyikapi peristiwa dan permasalahan yang terjadi
di wilayah yang tengah dirundung penderitaan itu.

Indikasi dan perangai Interfet yang tidak bersahabat ini, terbukit
dari kejadian paling mutakhir, yakni: terbunuhnya wartawan The
Financial Time berkebangsaan Belanda bernama Sandler Thoenes.
Wartawan asing itu ditemukan tewas tergeletak dengan sejumlah luka
bacokan di Becora, salah satu perkampungan di Dili. Serta mereka
menghembuskan isu dan menuduh TNI berada di balik peristiwa itu,
tanpa alasan dan bukti yang akurat. Isu itu dihembuskan guna
menyudutkan TNI/Polri yang bertugas di Timtim.

Dikatakan bahwa Sandler Thoenes yang sedang berjalan di sekitar
Becora, dihadang pria enam bersenjata yang mengenakan seragam
polisi Indonesia. Suatu kebodohan apabila seorang prajurit baik
itu TNI maupun Polri melakukan pembunuhan dengan menggunakan
uniform resmi, misalnya. Tindakan itu mustahil dilakukan, karena
sangat berlawanan dengan kebijaksanaan pimpinan TNI yang akan
terus bekerja sama dan membantu Interfet untuk memulihkan situasi
keamanan di Timtim.

Isu yang dihembuskan lebih ngawur lagi, dikatakan bahwa Sandler
Thoenes meninggal akibat luka tembak. Padahal seperti yang
ditayangkan beberapa televisi swasta, dia tewas akibat bacokan
senjata tajam di beberapa bagian tubuhnya. Sebagai tentara
profesional, prajurit TNI tidak mngkin melakukan tindakan
pembunuhan sebodoh itu. Tuduhan pembunuhan kepada wartawan asing
di Timtim it tidak adil, terlalu tendensius, tidak logis dan lebih
bersifat provokatif untuk menyudutkan TNI dan pemerintah RI.

kemungkinan besar tewasnya Sandler Thoenes adalah dampak kehadiran
dan sikap Interfet dalam memulihkan kondisi keamanan di Timtim dan
merupakan luapan kebencian serta dendam masyarakat Timtim,
khususnya pro-integrasi kepada masyarakat "Bule". Mereka
berpandangan, bangsa kulit putih merupakan biang kerok yang
mengakibatkan masyarakat Timtim hidup dalam kesengsaraan. Setelah
menjajah lebih dari empat abad lamanya Portugal (termasuk
masyarakat Bule) meninggalkan masyarakat dalam kekacauan perang
saudara tahun 1975, kini mereka kembali lagi ke Timtim.

Bedanya kalau dahulu bertujuan untuk menjajah dengan berkedok
berdagang, saat ini mereka bertopeng memperjuangkan HAM berselimut
PBB untuk menancapkan pengaruh Barat di Bumi Loro Sae agar tetap
berkiblat ke Barat. Kali ini mereka datang dengan menggunakan nama
Unamet untuk melaksanakan jajak pendapat dan Interfet untuk
memulihkan kondisi keamanan pasca jajak pendapat.

Padahal, kecurangan Unamet dalam pelaksanaan jajak pendapat
beberapa waktu lalu, sebagian besar dilakukan oleh oknum
anggotanya yang berasal dari Australia. Namun PBB tidak menggubris
kelompok pro otonomi. Apabila PBB menindak lanjuti atau minimal
menanggapi protes pro otonomi, tentunya akan mempertimbangkan
komposisi pasukan PBB di Timtim, termasuk mempertimbangkan
keanggotaan pasukan Australia dalam Interfet. Bukan malah
sebaliknya, menunjuk Mayjen Peter Cosgrove dan pasukan Australia
sebagai pemimpin pasukan Interfet.

Dengan berbekal Resolusi PBB No. 1.264 tahun 1999, pasukan
Interfet khususnya dari Australia seakan-akan mabok kemenangan
karena dapat menyelesaikan tugas sehingga bisa berbuat apa saja di
Timtim. Sikap ini dapat kita lihat sesaat setelah pasukan Interfet
mendaratkan kakinya di Bumi Loro Sae. kecurigaan yang berlebihan
dengan senjata lengkap dan sikap siap menembak seperti film laga
Rambo, seakan-akan sekelilingnya penuh dengan musuh. Mereka lebih
tampak sebagai pasukan yang siap perang dan membunuh ketimbang
bersikap sebagai pasukan yang memiliki misi perdamaian.

Over Acting
Kebencian dan dendam dari milisi Aitarak, milisi kelompok pro
integrasi akan bertambah memuncak setelah melihat sepak terjang
pasukan Interfet. Betapa tidak, selain kecongkakan yang telah
mereka pertontonkan, pasukan Interfet juga bertindak over acting,
tidak manusiawi, tidak adil dan jauh dari sikap netral. Mereka
berpihak pada kelompok pro kemerdekaan dan tak terlihat ada usaha-
usaha untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai.

Interfet terus mencari dan memburu milisi Aitarak, milisi PPI dan
masyarakat yang dicurigai kelompok pro otonomi. Usaha pencarian,
perlucutan senjata dan penangkapan terhadap masyarakat pro otonomi
ini tidak hanya terbatas di jalan-jalan. Tetapi sampai ke kantong-
kantong masyarakat yang kalah dalam jajak pendapat. Berita
terakhir dari Timtim menyebutkan, pasukan Interfet melakukan
penyerbuan dan penangkapan ke kantong milisi pro otonomi di
Kabupaten Manatuto.

Dalam penyerbuan ini, pasukan Interfet menangkap delapan orang
yang diduga milisi pro otonomi. Kedelapan orang ini kemudian
disiksa dan dianiaya. Satu orang di antaranya tewas dibakar hidup-
hidup, setelah disiram minyak bensin dan dua orang lainnya belum
ketahui nasibnya. Sebaliknya pasukan Interfet membiarkan segala
tindakan yang dilakukan oleh kelompok pro kemerdekaan, termasuk
pelanggaran tindak pidana: Interfet tidak melaukan perlucutan
senjata kepada CNRT, membiarkan mereka melakukan pembakaran dan
penjarahan. Sikap dan tindakan pasukan Interfet jauh dari sikap
tentara perdamaian yang profesional.

Padahal sebelum pasukan PBB Interfet datang dan tanggung jawab
serta pengendalaian keamanan masih di tangangan pemerintah
Indonesia, mereka selalu menunding TNI tidak profesional dalam
memulihkan situasi keamanan pasca jajak pendapat di Timtim. Mereka
menuduh TNI berpihak kepada kelompok pro otonomi dan TNI berada di
balik semua kerusuhan yang terjadi di Timtim. Mengenai TNI yang
dinilai lamban dalam memulihkan kondisi keamanan, seperti
diungkapkan oleh Panglima TNI pekan lalu lebih disebabkan kendala
psikologis prajurit di lapangan. Alasan itu cukup logis dn
realistis. Selama ini masyarakat pro otonomi dan prajurit TNI
telah bekerja keras untuk membangun serta memajukan masyarakat
Timtim. Jadi sudah sewajarnya ada ikatan emosional antara kedua
belah pihak yang sulit dipisahkan dalam waktu sekejap.

Bagaimana dengan keberpihakan pasukan Interfet khususnya dari
Australia dengan kelompok masyarakat pro kemerdekaan? Keberpihakan
pasukan Interfet dari Australia tidak lebih dari kepentingan
politik pemerintah Australia sendiri, apabila Timtim telah terjadi
negara yang lepas dari RI. Seperti yang diungkapkan para pengamat
militer Indonesia, tidak menutup kemungkinan Timtim akan dijadikan
pos bagi kepentingan militer Australia. Para pengamat
memperkirakan, Australia akan mengadakan perjanjian militer
bersama dengan Timtim, setelah terbentuk pemerintahan di Bumi Loro
Sae dan selanjutnya Australia akan memata-matai kegiatan militer
Indonesia.

Prediksi seperti itu tidak terlalu salah, bila melihat sikap
Australia selama ini dalam menjalin hubungan kerja sama dengan
Indonesia, khususnya kerja sama militer. Meskipun di satu sisi
selama ini Australia selalu mengatakan Indonesia adalah mitra
terdekat dan terbaik Australia dan selalu mengatakan akan
meningkatkan hubungan bilateral, termasuk kerja sama militer.
Namun di sisi lain, Australia selalu mencurigai dan menganggap
Indonesia sebagai musuh utama. Indikasinya dibuktikan ketika
Australia melakukan latihan perang, Australia selalu memperagakan
musuhnya berasal dari arah utara. Dalam hal ini jelas Australia
menempatkan Indonesia sebagi ancaman dan musuh utama.

Bahkan dalam latihan perang militer Australia yang diberi sandi
"Kangoroo 88" diprotes Indonesia karena mengambil area latihan
sampai mendekati perairan pulau Bali. Dari situasi yang demikian
sebetulnya dapat diidentifikasi Australia menerapkan sikap bunglon
dan tidak lebih sebagai musang berbulu domba, berpura-pura baik
sementara ia juga siap menerkam.

Sikap musang berbulu domba ini tentunya akan diterapkan oleh
pasukan Australia yang menumpang kendaraan Interfet. Apabila
Interfet terpengaruh pendekatan yang dilakukan pasukan Australia,
kemungkinan kebencian masyarakat Timtim terhadap Interfet akan
menjadi-jadi. Fakta telah membuktikan, nuansa dendam masih membara
di Timtim, Sandler Thoenes menjadi sasaran pembunuhan.

Dengan sikapnya Interfet telah menabuh genderang perang terhadap
kelompok masyarakat Timtim melalui aksi sikap penangkapan,
penganiayaan dan pembunuhan terhadap kelompok pro otonomi. Apabila
pasukan Interfet tidak mau mengubah sikapnya, maka kasus
terbunuhnya Sandler Thoenes bukanlah yang terakhir. Tetapi akan
diikuti korban-korban lainnya dan merupakan perang babak baru
antara pasukan Interfet dengan milisi pro otonomi. Siapa yang akan
bertanggungjawab atas terjadinya kerusuhan di Timtim, tentu PBB
dengan Interfetnya. Apakah mereka mau, biasanya tidak.

Mengingat standar ganda yang mereka terapkan didukung oleh pasukan
serigala berbulu domba, sudah dapat dipastikan mereka akan mencari
kambing hitam. Sudah dapat diperkirakan sebelumnya dan biasanya,
yang akan dijadikan kambing hitam dan sasaran tembaknya adalah
TNI. Oleh karenanya, apabila terjadi kerusuhan, bentrokan antara
kelompok kemerdekaan melawan pro otonomi apalagi pasukan Interfet
dengan milisi pro otonomi dan sebagainya. Padahal semua itu akibat
ulah Interfet sendiri.

Melihat gelagat yang demikian, sebaiknya TNI segera menyerahkan
pengendalian keamanan sepenuhnya kepada Interfet dan menarik
seluruh prajurit TNI dari Timtim. Sehingga bila terjadi kerusuhan
di Timtim, Interfet tidak bisa mengelak dari tanggung jawab dan
mencari kambing hitam seenaknya.

(Penulis adalah pengamat politik, alumnus Fisipol UGM)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Oct 1999 jam 05:19:00 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke