---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Republika, 13 Oktober 1999 Tajuk: Kita Protes Australia Pemutarbalikkan fakta telah terjadi berkenaan dengan serangan pasukan Intrefet terhadap pos Brimob di Motaain, Timor Barat, NTT. Tak ada, sebenarnya, istilah 'peta yang salah, mengejar milisi' dan semacamnya dalam penyerbuan di 'tengah hari bolong' hari Ahad lalu itu. Lalu, teks foto kantor berita Barat yang menyebut korbannya adalah 'seorang milisi tewas dan dua lainnya cedera' idem ditto. Sebab, seperti dipaparkan oleh Komandan Brimob Brigjen A Wenas kemarin, kesatuan Brimob dan TNI yang mengawal sisi dalam perbatasan dengan Timor Timur, sebenarnya sudah beberapa kali melakukan kontak dengan komandan Interfet yang bertugas di daerah itu. Jadi tak benar kalau pasukan Interfet belum tahu-menahu di mana letak pos Brimob dan TNI. Yang terpenting, di 'luar' pos itu sudah ada tugu pembatas kedua wilayah. Berbagai pihak di Australia berkukuh membela kelakuan pasukannya. Baik PM John Howard maupun Menteri Pertahanan John Moore menyebut pasukan Interfet hanya membela diri dari serangan kaum milisi. Dikatakan aksi itu terjadi di dalam wilayah Timtim yang menjadi mandat pasukan Interfet. Apalagi Xanana Gusmao, pentolan Fretilin yang sudah mulai menjelek-jelekkan Indonesia di Melbourne menyebut-nyebut tentang provokasi pihak TNI yang 'ingin melihat kesiapan tempur pasukan Australia'. Tidak jelas apakah benar ada serangan milisi seperti disebutkan, tetapi bahwa pada akhirnya komandan pasukan yang disebut bernama David minta maaf dan mengakui pasukannya telah memasuki wilayah RI serta akhirnya mundur menunjukkan kesalahan ada pada pihak Interfet. PM Howard mengatakan pemerintahnya memandang aksi pembunuhan oleh pasukan Interfet ini sangat serius dan 'menunjukkan bahwa beberapa elemen TNI mungkin tidak menghiraukan resolusi Dewan Keamanan PBB No 1264 dan terus mendukung kelompok milisi'. Seserius itu Australia, seserius itu pula Indonesia. Kita menyertai protes keras Menlu Ali Alatas terhadap kepongahan pasukan Interfet yang sudah sampai melakukan aksi brutal seperti itu. Jelas, aksi para anggota Interfet sangat, sangat, istilah Ali Alatas, disesalkan. Dan, mengingat peralatan canggih yang konon dimiliki pasukan multinasional, plus intel-intel sumbangan Amerika, masih sulit benarkah melihat tugu pembatas dan siapa yang ada di balik tugu itu, milisikah atau polisi dan tentara Indonesia? Apa iya, pos yang sudah ada sejak berhari-hari lampau dengan awaknya yang berseragam Brimob (polisi) dan tentara Indonesia masih juga disalahkenali sebagai kemah kelompok milisi? Tak masuk di akal sehat kita. Pendapat umum di Indonesia sudah sanga negatif terhadap perilaku pasukan Interfet yang dipimpin Australia dan insiden yang sampai merenggut nyawa anggota Brimob dan mencederai beberapa lainnya akan lebih lagi merugikan hubungan kedua negara. Sungguh kita tak bisa memahami jalan pikiran pasukan Interfet saat dan selama mereka berada di Timtim ini. Terlebih lagi jalan pikiran Canberra. Apakah mereka memandang tugas di Timtim dan kepemimpinan Australia di bekas provinsi ke-27 RI ini sebagai tugas perang atau pengamanan; juga apakah ada keuntungan politik yang mau mereka raih dari aksi dalam Interfet? Kalau memang tugas perang, siapa yang dihadapi? Para milisi prointegrasi --sementara yang prokemerdekaan bisa menikmati perlindungan dam mendapat hak istimewa termasuk menyandang senjata? Tak pernahkah terpikir bahwa asal-muasal kerusuhan pasca jajak pendapat adalah ulah UNAMET yang curang, dan tindakan berat sebelah ini dilanjutkan oleh pasukan Interfet? Kalau mereka tidak kunjung memahami situasi yang berkembang sejak jajak pendapat --ulah berat sebelah UNAMET dan Interfet-- dan kerangka pikir mereka sudah terpatri bahwa segala yang berbau Indonesia adalah jahat --milisi maupun TNI dan polisinya-- maka benar sekali kata anggota DPR Aisyah Aminy bahwa tindakan tentara yang seharusnya profesional itu ''sangat naif. Bukan lalai, mereka sengaja''. Jadi mereka menciptakan citra yang negatif atas diri mereka sendiri. Yang lebih tidak dapat diterima lagi, ulah mereka seperti itu malah bisa memercikkan api perang saudara yang selama ini masih terus merupakan api dalam sekam. Takkan dapat dielakkan munculnya pandangan bahwa kalau sampai terjadi perang saudara maka pihak Interfet-lah yang justru jadi biang keladinya. Sikap demikian jelas sama sekali tidak profesional. Dan, inilah yang tecermin di Canberra dan kepanjangan tangannya, Timtim.(n) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Oct 1999 jam 10:30:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
