----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA
6 Oktober 1999
---------------------
Bagaimana �Nasib'
Gerakan Reformasi Kita?
<Menanggapi Sidang Umum MPR, hasil Pemilu 1999>

1.  MPR hasil pemilu 7 Juni 1999, telah memulai pekerjaannya. A.l. yang
penting:  pada tanggal 4 Oktober kemarin telah memilih ketua MPR yang
baru, Dr Amien Rais, ketua PAN  calon �Poros Tengah'yang disokong
Golkar.  Apakah benar bahwa dengan terpilihnya Amien Rais, yang
partainya dalam pemilu y.l. hanya memperoleh kurang lebih 7% dari jumlah
suara dalam pemilu, namun  bisa mengalahkan calon dari PKB dan PDI-P,
yang bersama-sama berhasil meraih hampir 50% dari jumlah total suara
pemilih, mempertandakan bahwa mekanisme demokrasi �ada soal'? Mengapa
bisa begitu? Pertama-tama tentu, karena calon Amien Rais, didukung oleh
fraksi-fraksi lainnya. Tokh orang bertanya, mengapa , calon PKB yang
partainya memperoleh suara lebih banyak dari calon PAN yang memperoleh
suara lebih kecil dalam pemilu, bisa menderita kekalahan?

Ada  yang menganggap hal ini bukan saja suatu�kekalahan' di fihak PKB,
tetapi lebih gawat lagi, merupakan �kekalahan' di fihak PDI-P, bahkan
merupakan �kekalahan' dari usaha reformasi. Karena Amien Rais dianggap
telah berpelukan dengan Golkar yang �Statusquo' itu, dan parpol-lainnya
yang juga dianggap merupakan kekuatan atau menyokong �Statusquo'.

Ditinjau secara rasionil, proses pemilihan ketua MPR adalah sesuai
dengan mekanisme demokrasi. Memang, tidak jarang terjadi dalam kehidupan
politik sistim demokrasi parlementer, suatu  partai kecil , yang di
dalam masyrakat juga memang kecil pendukungnya, tetapi bisa memperoleh
posisi penting dan sedikit banyak dalam sementara hal juga bisa
menentukan. Ini bisa dilihat, misalnya semasa pemerintahan Jerman yang
dikepalai olehKanselir Kohl. Ketika itu, dua partai besar, CDU <Kristen
Demokrat>dan SPD <Sosial Demokrat>, tidak cocok untuk berkoalisi .
Masing-masing sendirian juga tidak cukup kekuatannya di dalam Bundestag
<DPR-nya Jerman> untuk memerintah. Maka. FDP,  sebuah partai liberal
yang kecil, bisa dan mau ditarik oleh Kohl sebagai partner dalam koalisi
pemerintahannya selama bertahun-tahun.CDU memerlukan sedikit saja
tambahan suara di Bundestag, untuk mencapai mayoritas untuk bisa
membentuk pemerintahan. Akibatnya SPD yang merupakan partai pemenang
kedua menjadi oposisi.

Kita, yang sesudah 32 tahun lebih baru memulai lagi, baru belajar lagi
mempraktekkan prinsip-prinsip kehidupan politik yang demokratis, bisa
saja agak �terkejut' mengalami keadaan seperti yang terjadi dua hari
yang lalu, di mana Matori Abdul Jalil dari PKB yang partainya punya
suara cukup besar, bisa dikalahkan oleh calon Amien Rais dari PAN, yang
jumlah kursinya di MPR jauh lebih sedikit. Sesudah pengalaman ini orang
menjadi sedar, bahwa kehidupan demokratis itu bukan saja melakukan
pemilu yang �jurdil' dan demokratis, tetapi juga memberlakukan proses
mekanisme kerja demokratis sesuatu dewan perwakilan. Dalam hal ini
proses mekanisme demokratis pemilihan pimpinan MPR, DPR, presiden baru,
dll.
Kiranya adalah terlalu sederhana untuk mengatakan proses pemilihan Amien
itu telah berlangsung dalam suasana �dagang sapi'.Di negeri manapun dan
dalam keadaan yang bagaimanapun, jika sesuatu parpol di parlemen tidak
cukup dukungan untuk sendirian membentuk pemerintahan, maka akan
berlangsunglah proses �give and take', proses kompromi,  dalam usaha
sesuatu partai yang ingin membentuk pemerintahan itu, dengan
partai-partai lain yang ingin diikutsertakannya dalam pemerintahan yang
hendak dibentuk di bawah pimpinannya . Partai yang besar yang hendak
membentuk pemerintahan, demi menarik dukungan dari partai lain, sering
harus mengubah program politiknya yang di dalam kampanye pemilu,
dijanjikannya akan dilaksanakan. Partai tsb harus memberikan �konsesi'
tertentu. Sedikit-banyak mempertimbangkan program dari parpol yang ingin
ditariknya itu.
Soalnya ialah, apakah memberikan konsesi sedemikian rupa sehingga
mengorbankan programnya yang fundamentil.

Dalam hal ini apakah  Amien Rais, demi memperoleh dukungan dari Golkar
dan yang bernaung di bawah  nama  �Poros Tengah' itu, telah meninggalkan
ide, politik dan program �Reformasi'. Suatu cita-cita  yang sejak
maraknya perjuangan Reformasi sebelum Suharto jatuh, disuarakannya
dengan begitu lantang. Lagipula ide dan program tsb secara pokok-pokok
sudah pula dikukuhkan di dalam �Deklarasi Ciganjur' yang ditandatangani
oleh Gus Dur, Megawati, Sultan Jogya dan oleh Amien Rais sendiri? Kalau
Amien Rais, yang memang dikenal masyarakat Indonesia dan dunia luar
negeri , sebagai seorang �reformis yang vokal', tidak mengubah
pendiriannya, dan  akan melaksanakan tuntutan-tuntutan gerakan
�Reformasi', maka terpilihnya Amien sebagai ketua MPR, pantas memperoleh
sambutan positif.

II. Mungkinkah terpilihnya Amien Rais sebagai ketua MPR, adalah produk
dari suatu �commitment' yang tidak terbuka untuk umum. Itu berarti
adanya  semacam saling pengertian di antara pelbagai fraksi. Bisa saja
mereka berpendapat: Meskipun PAN mendapat suara 7% saja dari jumlah
total angka pemilih, namun dalam konstelasi dan struktur perpolitikan
Indonesia pasca pemilu, Amien Rais wajar memperoleh �tempat', dimana ia
bisa memberdayakan segala kebolehan dan pengetahuannya demi kelancaran
lajunya usaha Reformasi. Dan tempat itu diperhitungkan yang paling
cocok, ialah sebagai ketua MPR. Disitu ia diharapkan akan memainkan
peranannya untuk mengamandemen UUD-45 RI, meletakkan dasar untuk
hapusnya Dwifungsi ABRI,  dalam menyusun Garis-garis Besar Haluan Negara
yang transparan dan demi kesejahteraan dan kemajuan rakyat banyak.
Pokoknya, dalam ambil bagian dalam usaha besar dan historis untuk
mereformasi seluruh sistim kekuasaaan di Indonesia, agar menjadi
betul-betul transparan, terkontrol oleh rakyat dan demokratis, di mana
masyarakat secara maksimul bisa memainkan peranannya sebagai partisipan
dari sistim demokrasi yang baru.

Dalam sidangnya kemarin, MPR telah memilih ketua Golkar, Akbar Tanjung,
sebagai ketua DPR. Dari proses pemilihan itu, tampak lebih jelas
adanya�saling pengertian' antara pelbagai fraksi. Termasuk adanya
pengertian antara Golkar dan PDI-P.  Akbar Tanjung memperoleh 411 suara.
Tanpa menjadi akhli hitung, bisa diketahui bahwa di diantara 411 suara
yang mendukung Akbar Tanjung menjadi ketua DPR, terdapat suara dari
PDI-P.
�Power sharing' atau bukan, proses yang telah berlangsung selama
beberapa hari ini, menunjukkan perkembangan ke arah suatu �koalisi
nasional' antara pelbagai parpol pasca pemilu. Ini suatu perkembangan
baik, bila benar asumsi tsb diatas.

Masih diperlukan  perkembangan dan proses lagi untuk memastikan apakah
benar-benar akan terbentuk suatu pemerintahan koalisi nasional. Proses
itu adalah terpilihnya Megawati Sukarnoputri, ketua umum PDI Perjuangan,
sebagai presiden ke-4 Republik Indonesia, dan seorang dari PKB sebagai
wakilnya.

Dengan sendirinya ini berarti bahwa tidak ada tempat bagi BJ Habibie.
Sebagai seorang presiden �transisi' ia sudah melalui masa dinasnya.Ada
hal-hal positif yang terjadi selama masa jabatannya, seperti membebaskan
sementara tahanan politik, dimulainya kebebasan berbicara dan
berorganisasi, menyetujui dibebaskannya pers dari segala macam kontrol
dan kekangan, dibolehkannya berdiri berbagai parpol serta
dilangsungkanya pemilu, dsb.  Hal-hal yang harus dikerjakannya tetapi
tidak dituntaskannya juga cukup banyak dan penting. Seperti penanganan
KKN, khususnya terhadap mantan presiden Suharto. Langkah-langkah untuk
mengakhiri Dwifungsi juga tidak nampak. Lalu, Habibie masih bikin soal
baru, yaitu keterlibatannya dalam kasus Bank Bali.

Jika �saling pengertian' dan �commitment' ke arah suatu koalisi nasional
betul-betul berlangsung, maka itu berarti bahwa Golkar akan melepaskan
rencana semula mencalonkan Habibie sebagai presiden dan Jendral Wiranto
sebagai wakilnya.

Menjelang pemilihan presiden pada tanggal 20 Oktober yad, bisa saja
Amien Rais ataupun Akbar Tanjung, atau siapapun membuat pernyataan
begini atau begitu, yang bisa diartikan bahwa mereka masih tetap akan
mengajukan calonnya sendiri untuk presiden. Tetapi, entah kapan persis
saatnya dan entah bagaimana caranya, harus ada langkah dan move dari
Amien Rais, Akbar Tanjung, Gus Dur  dan PKB untuk menciptakan syarat
yang cocok guna terpilihnya Megawati sebagai presiden RI. Tentu,
terlebih penting lagi ialah PDI-P mengambil inisiatif dan
langkah-langkah mantap ke arah itu.

Yang tidak diharapkan ialah menghidupkan kembali atau meneruskan usaha
untuk �menjegal' terpilihnya Megawati.   Atau lebih buruk lagi,
andaikata meskipun sudah ada �saling pengertian' dan �commitment' itu,
tetapi pada saat yang menentukan ada yang membelot.

III. Dalam salah satu pernyataannya, Megawati pernah menegaskan bahwa
bila ia terpilih sebagai presiden, ia bukan lagi milik PDI tetapi sudah
menjadi milik seluruh bangsa. Ia akan  sepenuhnya bekerja demi
kepentingan seluruh bangsa. Beliau juga akan memilih orang-orang yang
jujur, mampu dan dipercaya rakyat  untuk duduk di dalam pemerintahannya,
tanpa memandang dari partai mana. Ini suatu sikap yang bijaksana dan
memperkuat semangat dan rasa persatuan demi usaha menyelamatkan bangs
dan tanah air.

Rakyat kita sudah cukup lama menderita, khususnya sesudah terjadi
krismon dua tahun y.l., dan dengan masih berlangsungnya kekerasan di
Aceh, serta ada tanda-tanda muncul lagi kerusuhan dan kekerasan di Ambon
dan Kalimantan. Belakangan masih lagi terjdi kekerasan yang
mengakibatkan jatuhnya korban mahasiswa-mahasiwa yang berdemonstrasi
menentangn rencana u.u.d PKB. Amat diharapkan  suatu masa stabilitas
tanpa kekerasan, dimana pemerintah dan seluruh masyarakat bisa
memusatkan perhatian pada usaha mengatasi pelbagai kesulitan yang
dihadapai oleh rakyat, baik di bidang ekononi maupun sosial.

Namun, itu bukan berarti bahwa keperluan akan stabilits itu,
mengharuskan arus gerak Reformasi �diistirahatkan'. Sama sekali tidak.
Arus gerak �Reformasi' malah harus dimantapkan, jika sungguh-sungguh
hendak mencapai dan memantapkan kestabilan.

Dalam suasana pasca pemilu dimana terbentuk suatu �pemerintahan koalisi
nasional', suatu badan  legeslatif dan judiktif yang sudah direformasi
sesuai hasil pemilu, hanya bisa terjadi bila ada perpaduan dari usaha
dan perjuangan yang sungguh-sungguh dari seluruh kekuatan politik
�Reformasi' dan �Demokratis' baik yang ada di dalam kekuasaan maupun
yang di dalam masyarakat. Terbentuknya suatu �pemerintahan koalisi
nasional' samasekali tidak berarti bahwa parpol-parpol yang berketetapan
memperjuangkan tujuan �Reformasi' seperti PDI-P, PKB dan PAN, dll,  bisa
menyerahkan usaha tsb semata-mata pada para wakil mereka yang sudah
duduk di DPR., MPR maupun di pemerintahan.  Fungsi sebagai partai
politik yang hidup ditengah-tengah masyrakat, tetap harus dibina dan
dihidupkan serta diaktifkan. Agar dengan demikian bisa memainkan
peranannya sebagai penyalur perasaan dan kehendak rakyat, sebagai
penggerak kekuatan massa, dan �last but not least' sebagai pengawas dan
pengontrol para wakil yang sudah duduk dipelbagai lembaga
kekuasaan.Untuk menjaga agar transparansi tetap dipertahankan. Jangan
sekali-kali dilupakan, usaha "Reformasi" masih jauh dari  sepenuhnya
terrealisasi. Masih cukup jauh. Lagipula kekuatan politik �Statusquo'
juga masih ada. Mungkin saat-saat ini mereka masih belum buka suara.
Tetapi itu bukan berarti mereka tinggal diam. Bahkan di saat-saat
krusial menghadapi pemilihan presiden dan usaha untuk membentuk suatu
pemerintahan �koalisi nasional' seperti yang tampaknya diinginkan
sekarang ini, mungkin sekali, manuver, rekayasa, dan money politics
mereka itu masih berjalan terus dan masih akan digalakkan lagi. Kekuatan
politik �Statusquo' sadar betul bahwa dengan terbentuknya seuatu
pemerintahan �koalisi nasional' yang melaksanakan program �Reformasi',
itu akan menggerowoti terus kekuasaan dan pengaruh mereka di segala
bidang, dan akhirnya mengakhirinya samasekali.

IV. Bisakah diharapkan akan terbentuk suatu sistim pemerintahan yang
�Reformatif' dan �Demokratis' , dimulai dengan  suatu pemerintahan
�koalisi nasional' dengan program Reformasi yang jelas .Ini amat
mungkin.

Salah satu syarat penting dan krusial adalah ikut sertanya semua
kekuatan Reformasi itu sendiri dan kekuatan politik yang menyatakan
bertekad untuk berusaha demi Reformasi, ke dalam sistim dan struktur
kehidupan dan kekuasaan politik negeri. Dipilihnya Megawati menjadi
presiden RI yang baru, akan menciptakan syarat yang diinginkan itu.
Memilih atau menentang terpilihnya Megawati sebagai presiden, dewasa
ini, adalah pertanda dan bukti apakah betul-betul ada niat kuat dan
tulus di kalangan fraksi-fraksi di MPR,  untuk menciptakan suatu
pemerintahan �koalisi nasional'. Mudah-mudahan!

Janganlah sampai terjadi  usaha untuk menyisihkan Megawati masih terus
berlangsung,  sampai terjadi situasi dimana Megawati, sebagai tokoh
utama pimpinan PDI-P yang sejak masih berkuasanya presiden Suharto,
sudah berani berjuang mengangkat panji-panji demokrasi, dalam kenyataan
betul-betul disisihkan. Situasi seperti itu akan menciptakan keresahan
dan ketidak percayaan masyrakat akan kehendak baik dari para wakil yang
sudah mereka pilih. Akan menimbulkan kekisruhan dan ketidak-percayaan
pada usaha reformasi dan demokrasi. Keresahan akan menimbulkan perasaan
tidak punya  haridepan yang baik. Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa
situasi seperti itu adalah  e k s p l o s i f. Dalam keadaan demikian
apa saja akan mungkin terjadi. Keadaan seperti itu, dimana usaha gerakan
reformasi menjadi terseret mundur,  tentu harus dihindari dengan segala
usaha.

Kearah mana perkembangan akan berlaku, sebagian besar hal itu juga
tergantung pada kesadaran, hati nurani dan tindakan nyata dari para
wakil yang sudah dipilih rakyat untuk duduk di MPR..

Maka tanggung jawab mereka adalah besar. Sejarah akan mencatat apakah
sikap politik dan pendirian serta tindakan nyata mereka itu sesuai
dengan kepentiongan dan harapan seluruh masyarakat.

* * * * *

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 04:16:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke