----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

HUKUM KARMA - SUATU INTROPEKSI MENDALAM (3)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Hukum Karma - ulah para pemimpin bangsa Indonesia

Beberapa ilustrasi sifat2 kebanyakan para pemimpin pada
masa Kalabendu, yang penulis salin dari Serat Centini
jilid IV, Pupuh 257 (Pocung):

Tembang 28 :

- Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng
pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana
wahyu kang sanyata.

Artinya: Para pemimpinnya berhati jail, bicaranya ngawur,
            tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang
            sejati.

Tembang 36:

- Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita,
pranayaka tyas basuki, panekare becik-becik, cakrak
cakrak.

Artinya: Para pemimpin mengatakan se-olah-olah bahwa
            semua berjalan dengan baik padahal hanya
            sekedar menutupi keadaan yang jelek.

Menurut pengamatan penulis, selama 32 tahun terakhir,
dan masih berjalan saat ini, banyak ciri2 sifat para
pemimpin bangsa Indonesia yang sangat negatif dan
tercela - terutama pemimpin formal menjalankan roda
pemerintahan baik masa lalu ataupun pada saat kini,
yaitu:

- mayoritas pemimipin hatinya tidak ikhlas berjuang
untuk kepentingan rakyat banyak, lebih banyak
mementingkan kepentingan dirinya, keluarganya, dan
para teman2 dekatnya dengan memupuk kekayaan
secara tidak halal alias korupsi (dengan berbagai cara
yang seolah-olah tidak melanggar hukum).
- mayoritas pemimpin dipilih bukan berdasarkan
kemampuan tapi semata-mata berdasarkan relasi
antara teman, ataupun hubungan keluarga sehingga
kemampuan menjalankan tugas yang dibebankan
sangat diragukan kwalitas kemampuannya - karena
itu terjadi krisis kredibilitas.
- mayoritas pemimpin berhati tidak jujur, alias senang
berbohong, menutupi atau menyembunyikan fakta yang
jelek sehingga se-olah2 semua berjalan dengan baik,
padahal banyak hal yang penuh kebobrokan.
- mayoritas pemimpin bersikap 'feodal' dalam pengertian
mengharapkan banyak hak-hak penghormatan yang
ber-lebih2-an maupun hak-hak istimewa lainnya
dibandingkan dengan rakyatnya.

Dengan sifat2 yang diatas, akibatnya yang kita rasakan
bersama saat ini, krisis ekonomi yang sulit diatasi, tidak
adanya ketenangan dan ketentraman dalam masyarakat.
Kalau anda adalah salah satu pemimpin bangsa
Indonesia dan punya sifat2 seperti diatas, pada akhirnya
hukum karma tidak pilih bulu apakah anda rakyat jelata
ataupun pemimpin ataupu raja sekalipun , 'becik ketitik,
ala ketara', akibat baik dan buruk tidak akan bisa lepas
dari anda, hanya menunggu waktu saja, bahkan mungkin
pada saat ini sudah mulai banyak yang tidak bisa tidur,
dan hidup dalam kegelisahan. Dan kalau anda mengalami
banyak kesulitan pada saat ini jangan salahkan siapa2,
mengaca pada diri sendiri, bahwa semua kesulitan dan
kegelisahan saat ini se-mata hanyalah hasil karma
perbuatan anda dimasa lalu sebagai pemimpin yang
banyak memanipulasi kepercayaan rakyat.

Hukum Karma - ulah mayoritas kelompok bangsa
Indonesia.

Secara keseluruhan apa yang terjadi saat ini, krisis
ekonomi, krisis kepercayaan, krisis kepemimpinan,
krisis budaya, terjadinya banyak kerusuhan tanpa ABRI
mampu mengatasi, disintegrasi bangsa dengan banyak
tuntutan 'otonomi', dsb. tidak bisa lepas dari kesalahan
mayoritas bangsa Indonesia secara keseluruhan, baik
individu, para pimpinannya, dan kelompok2 dalam
masyarakat dalam periode 32 tahun terakhir ini yang
ikut mendukung sistem 'orde baru' yang jelas-jelas
menjalankan konsep budaya 'KKN' yang sangat akut,
plus sistim kenegaraan yang 'feodal', 'fasisme
terselebung' dengan 'dwi fungsi ABRI' dan kenyataannya
walaupun kita tahu bahwa banyak hal-hal yang tercela
telah terjadi selama 32 tahun masa pemerintahan 'orde
baru', dengan dukungan utama dari kelompok organisasi
Golkar dan ABRI, mayoritas rakyat diam saja bahkan
ikut2-an mendukung sistim KKN sekedar untuk menarik
keuntungan bagi dirnya sendiri. Mohon diingat bahwa
budaya korupsi / KKN yang jelas2 merugikan atau istilah
kasarnya 'mencuri' uang rakyat tidak saja dijalankan oleh
pimpinan pemerintahan dari jenjang teratas sampai
jenjang terbawah (presiden, menteri, dirjen, direktur
BUMN, gubernur, bupati, camat, lurah, dsb.) tapi juga
dilakukan oleh banyak rakyat jelata : satpam, polisi lalu
lintas, petugas imigrasi, petugas pajak, petugas
adminastrasi kependudukan, petugas kelurahan, dsb.
Boleh dikatakan lebih dari 80% penduduk Indonesia ikut
terlibat atau 'ikut edan takut kalau tidak kebagian' untuk
ramai-ramai mempraktekkan korupsi dari yang sekedar
'sepuluh ribu' rupiah sampai dengan trilyun rupiah yang
harus disimpan di bank2 di luar negeri. Dengan apa yang
telah terjdai selama 32 tahun terakhir ini, apakah kita
bisa mengharapkan karma baik akan terjadi terhadap
bangsa Indonesia ? Sebagai bangsa yang mengakui
beragama dengan sila pertama dari Pancasila adalah
'Ketuhanan Yang Maha Esa' saya kira ini adalah
'bebendu' atau azab/hukuman dari Allah SWT kepada
bangsa Indonesia untuk mengalami masa kekalutan
saat ini karena mayoritas bangsa Indonesia telah lupa
akan arti 'etika' berbudi luhur ataupun 'moralitas' perbuatan
baik.

Kalau kelompok formal dalam masayarakat bangsa
Indonesia menjadi pendukung utama sistim yang bobrok
dari 'orde baru' diwakili oleh kelompok dari fraksi dalam
MPR, kelompok dibawah ini beserta keseluruhan para
pendukungnya yang paling berdosa dengan mendukung
konsep pemerintahan 'orde baru'  yang telah membawa
kejurang malapetaka bangsa Indonesia tanpa ada
sedikitpun usaha untuk merubah:

- kelompok keluarga besar Golkar dan pendukung
utamanya KORPRI (kalangan pegawai negeri dan
keluarganya).
- kelompok militer (ABRI) dan keluarganya.
- kelompok PPP (walaupun ada kelompok kecil yang
vokal)
- kelompok PDI (diluar PDI Perjuangan)
- kelompok utusan daerah (yang pada hakekatnya para
gubernur, pejabat pemerintah daerah, dan kelompok
pemimpin daerah yang ditunjuk oleh pemerintah).

Pendukung golongan ini secara umum mungkin mencapai
80% dari bangsa Indonesia yang secara langsung atau
tidak mendukung kosep KKN 'order baru' sedangkan yang
20% bangsa Indonesia yang masih murni dan tifak terlibat
dalam sistim KKN 'order baru' ataupun pihak2 yang tidak
mendukung bahkan berusaha untuk melakukan
perombakan adalah:

- kelompok mahasiswa yang menuntut reformasi
- kelompok kecil LSM pembela hak2 azasi manusia.
- kelompok petisi 50.
- kelompok partai penentang yaitu PDI Perjuangan,
dan dua partai baru PUDI, dan PRD.

(Note: kelompok PAN - yang lahir dari pecahan ICMI -
dan NU - yang sempat kompromi dengan Golkar/Tutut -
baru belakangan ikut serta kedalam barisan reformasi)

Jelas bahwa pada awalnya, kelompok yang
menginginkan perubahan adalah hanyalah sebahagian
kecil dari rakyat Indonesia yang terwakili oleh kelompok
diatas dengan mengambil risiko besar (ada yang sampai
saat ini masih hilang karena diculik), yang pada saatnya
telah berhasil menjatuhkan Soeharto, tapi belum berhasil
melakukan perubahan secara tuntas, dikarenakan
memang pendukung dari sistim yang bobrok 'orde baru'
masih banyak yang tetap menginginkan agar sistim itu
berjalan sebagai mana dimasa lalu. Karena dengan sistim
ini, mereka bebas ber-korupsi dan mencuri uang rakyat
semau hati - sepertinya uang negara/rakyat boleh diambil
semaunya sendiri ibarat harta nenek moyangnnya..

Bahwa golongan minoritas telah berhasil menjatuhkan
rezim yang didukung oleh militer, preman, dan mayoritas
masyarakat pencinta korupsi menandakan ada kekuatan
moral yang besar yang mengizinkan hal ini bisa terjadi
dan penulis percaya bahwa ini adalah izin dari Tuhan
Yang Maha Esa bahwa sudah waktunya bangsa
Indonesia menegakkan kembali 'etika' dan 'moral' yang
terpuji dan menuju jalan yang lebih benar.

Hukum Karma - 'bebendu/kekalutan' akibat dari ulah
tercela dari 'order baru' apakah akan terus terus
berlangsung?

(Bersambung)

Mei 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 04:21:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke