----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

DOKUMEN, MINGGU II, Oktober 1999

MENGHADANG HEGEMONI AS

Setelah bubarnya Uni Siviet, peta plitik Internasional cenderung
dikuasai oleh Amerika Serikat melalui imperium dolarnya. Konflik
yang dulu mewarnai hubungan Internasional antara Amerika-Uni
Soviet kini dialihkan ke negara Asia Afrika dan Amerika Latin.
Industri berat Amerika Serikat (AS) di bidang persenjataan yang
mengharuskan AS menciptakan perang-perang lokal yang bersifat
modial demi pasar senjata kini telah berubah beralih kepada
industri penguasaan teknologi tinggi. Operasi militer yang
dilakukan di Semenanjung Korea, jazirah Timur Tengah dan tanduk
negara-negara Afrika serta Amerika Latin dirasakan sangat beresiko
tinggi bagi perekonomian AS belakangan ini.

Kebijakan mengintervensi peta percaturan politik internasional
melalui penggunaan kekuatan militer dengan dukungan persenjataan
perang yang modern, itu semakin efektif, bersamaan disepakatinya
ketetapan menggunakan institusi keuangan yang dimilikinya sebagai
pendekatan akhir-akhir ini. Uji coba tersebut selanjutnya
dibuktikan dengan keberhasilan--non militer--Amerika mengakhiri
kejayaan Uni Soviet selaku seteru bebuyutan utama kala itu. Wall
Street dengan cepat menilai operasi tersebut paling sukses, itulah
pula yang dilakukan AS ke negara-negara lain di dunia.

Namun ternyata derajat destruktif dari diplomasi pendekatan
Amerika- arsitek utama Zionisme Yudaisme tersebut, lantas
membangunkan rasa sadar bangsa Eropa (membentuk EEC) yang
disponsori oleh Jerman dan Perancis. Hasilnya memberlakukan satu
mata uang Eropa (Eropien Currency)--dengan suatu alasan karena
keduanya merasa paling tidak suka kepada AS. Hal itu tak hanya
menyangkut masalah ekonomi, politik melainkan juga budaya. Bagi
negara-negara Eropa tersebut mereka merasa dipecundangi oleh AS
paska Perang Dunia II negara-negara bekas jajahan mereka secara
ekonomi telah dikuasai AS. Nah, guna menghadapi seraya menjawab
tantangan AS, maka negara-negara Eropa mencoba mengulurkan bantuan
untuk negara-negara bekas jajahannya. Suatu aliansi antara MEE dan
liga Arab telah terjalin sementara AS mengajak Inggris untuk
menantang konsep tersebut dengan membuat catatan MEE akan terpecah
dan kemudian dapat diekspoitasi atau setidak-tidaknya MEE tidak
sebagai saingan yang berarti namun cukup sebagai saingan formalis,
seolah-olah AS dan Inggris secara empirik akan mendukung dengan
merubah kebijaksanaan dari pemerintah liberal demokrat (Helmut
Coll) ke pemimpinan sosialis demokrat (Oscar Lavonteine)--saat
ini. Demikian pula AS menghendaki perang Asia Tenggara menghadapi
dominasi Jepang dan Tiongkok Daratan. AS menghidup-hidupkan
gerakan demokrasi dengan dalih kondisionalitas global (Demokrasi,
Rule of Law).

Menurut parameter empirik, tatanan nilai-nilai Barat pada dasarnya
ditujukan untuk lebih mengutamakan keberuntungan sebagai subjek.
Sesungguhnya reformasi adalah suatu proses perubahan menuju
struktural ajusment menurut tatanan nilai-nilai AS baik politik,
ekonomi maupun segala aspek kehidupan untuk diberlakukan secara
universal dalam rangka melestarikan hegemoninya di dunia.
Menghadapi hegemoninya Amerika dalam proses aneksasi terdapat dua
pilihan melakukan koalisi politik, ekonomi dan pertahanan bersama:

1. Republik China yang memiliki reputasi persenjataan modern.
China dapat dipastikan menjadi kekuatan super power Asia di
samping India dan Pakistan yang mampu menghadapi Amerika--
terlebih-lebih setelah runtuhnya Uni Soviet saat ini. Belum lama
ini Cina, Rusia telah menjajaki kemungkinan suatu kerjasama
pertahanan keamanan intinya tidak terjadi kekuatan tunggal AS.

2. Mengingat hubungan MEE yang disposnsori oleh Pemerintah Jerman
& Perancis dengan Liga Arab menjadi hubungan tri-parti yang
melibatkan Indonesia di dalamnya. Hal ini dapat di awali dengan
proyek-proyekyang menyangkut lingkungan hidup,karena
perbedaan pola pikir Eropa telah meninggalkan jauh pragmatisme AS
yakni berdasarkan kepada kembalinya natur dan lingkungan hidup
sebagai sumber kehidupan. Melalui kerjasama tri-parti inilah
dampak terhadap human right dan demokrasi yang lebih tinggi
nilai sprituilnya bagi kerangka keamanan dunia yang akan datang.
Tahapan ini bermuara ke arah peningkatan koalisi pakta pertahanan,
suatu kerjasama militer Jerman, Perancis (MEE), Liga Arab,
Indonesia (ASEAN) dalam kerangka membendung dominasi tunggal
Amerika.#BIML

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 10:48:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke