---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- DOKUMEN, MINGGU II, Oktober 1999 KONSPIRASI MENGHANCURKAN INDONESIA BETAPA banyak tokoh-tokoh politik saat ini bicara amat garang tentang pentingnya perubahan, menghujat betapa rusaknya Orde Baru. Tapi kalau dibuka file lama ternyata orang-orang ini dulunya adalah mantan pendukung Orde Baru. Memang, di masa reformasi sekarang ini mudah sekali orang menjadi bunglon. Dulu kerjanya menjilat Soeharto sekarang hobbynya menghujat Soeharto. Bahkan ada partai yang mengaku paling anti Golkar, tapi tokoh-tokoh pentingnya adalah mantan arsitek kemenangan Golkar. Para elit politik Indonesia ini tidak punya tujuan ideologis yang jelas, tidak punya visi perjuangan kebangsaan kecuali visi instriktif memperjuangkan hidup pribadi tetap enak, maka tidak aneh jika banyak orang menjadi bunglon, berubah warna tergantung pesanan ! Nasib bangsa itu tergantung pada perilaku elite-elitenya, dan kekuatan-kekuatan asing sudah menginfiltrasi, pemikiran-pemikiran jahat menyusup ke Indonesia lewat para elite masyarakat untuk memecah belah bangsa. Dana dan senjata masuk Ambon dan orang-orang Ambon baku bunuh. Lewat Singapura, Zionis mengirim senjata-senjata eks Inggris masuk ke Aceh. Sekelompok orang berjuang untuk Aceh merdeka, padahal Aceh adalah markas para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang pantang menyerah. Orang separatis itu lupa bahwa kalau tidak ada pemimpin kharismatik seperti Teuku Daud Bereueh, yang bisa diterima mempersatukan seluruh masyarakat Aceh, maka malapetaka di Aceh bisa terjadi seperti di Timtim, dimana dunia internasional menyalahkan Indonesia. Setelah setengah abad Barat ditendang keluar dari kawasan ini, Barat berusaha menaklukkan Indonesia melalui politik devide et impera, politik Balkanisasi Barat terhadap Indonesia, yaitu menjadikan Indonesia terpecah menjadi negara-negara kecil seperti di Balkan, telah tampak dalam prediksi John Naisbitt dalam Megatrends, bahwa Indonesia akan pecah menjadi 28 negara. Ketimpangan makro ekonomi hampir di seluruh sektor ekonomi nasional yang melahirkan kemiskinan struktural masyarakat pribumi akibat terbatasnya akses di sektor ekonomi dan keuangan. Ketika pendapatan nasional terbagi merata dan berkeadilan seorang pejabat setidaknya akan memperoleh gaji yang mencukupi. Tapi umumnya pejabat negara bergaji di bawah rata-rata pendapatan nasional. Maka tidaklah heran jika pejabat negara (sipil dan militer) mudah dibeli kalangan pebisnis (baik oleh pribumi, apalagi nonpri dan asing). Implikasi logisnya rakyat kecil yang seharusnya dibela para pejabat saat berperkara malah menjadi korban ketidakadilan. Masalah ini menimbulkan berbagai konflik laten yang akhirnya meledak, seperti belakangan terjadi. Betapa tidak, raibnya ratusan trilyun rupiah yang dikucurkan kepada konglomerat umumnya nonpri, lewat KLBI dan BLBI oleh Trio RMS (Radius, Mooy dan Sumarlin) sampai sekarang tidak tahu kemana rimbanya. Lebih seratus milyar US$ konon dilarikan ke Singapura. Sekarang rakyat Indonesia selain menanggung beban hutang, penderitaan dan kemiskinan, rakyat juga menghadapi ancaman bahaya kehilangan negara Republik Indonesia yang tercabik-cabik. Namun sayang para reformer, LSM-LSM, pakar- pakar keuangan maupun politik, para mahasiswa yang sering demo dengan mengatasnamakan rakyat tidak pernah menggugat para penjahat ekonomi di atas. Data politik, ekonomi dan keamanan itu ibarat suatu mozaik bahwa terjadi konspirasi besar antara kekuatan asing untuk memecah belah dan menguasai Indonesia. Kalau benar ramalan bahwa Indonesia terpecah menjadi 28 negara, yang menjadi Ibu Kota Nusantara bukan lagi Jakarta tetapi Singapura. Negara Cina perantauan itu akan berjaya sebagai pusat perekonomian negara-negara eks Indonesia. Perpecahan dimulai dari terlepasnya Timtim yang disponsori Australia, padahal AS lah yang mendorong Indonesia masuk ke Timtim. Dengan data itu kita tahu siapa yang bermain di belakang kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di tanah air. Konspirasi asing ini secara sistematis melemahkan TNI dengan berbagai opini yang negatif. Padahal siapapun tahu bahwa apabila Angkatan Bersenjata suatu negara ambruk maka negara itu juga akan ambruk. Di bidang moral, tiba-tiba bangsa ini seolah bebas nilai, tanpa kendali, termasuk mass media, tanpa memikirkan apa akibatnya terhadap persatuan bangsa. Dari prinsip kebebasan pers ini, sekarang istilahnya "kemerdekaan pers". Dengan kemerdekaannya, pers kadangkala memuat pemberitaan nyaris tanpa kendali dan terkesan tidak mendukung dan menjaga keutuhan nasional yang terancam disintegrasi. Penelanjangan dan isyu perpecahan di kalangan TNI dan Badan Intelijen tanpa ragu dimuat dalam berbagai media massa. Padahal jika organisasi intel melemah maka TNI pasti akan melemah.* Sulaiman W. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 10:48:15 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
