---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- DOKUMEN, MINGGU II, Oktober 1999 RMS TIDAK PERNAH ADA KONFLIK antar agama di Maluku yang meletus bulan Januari 1999 lalu (konon tepat pada hari ulang tahun RMS) sampai saat ini belum berakhir. Korban jiwa dan harta antar pihak yang bertikai sudah tak terhitung. Tidak ketinggalan, fasilitas pemerintah juga jadi sasaran amuk massa. Kini, perekonomian di daerah Seribu Pulau itu lumpuh. Sentra-sentra perekonomian pun luluh lantak. MASYARAKAT SUDAH TIDAK LAGI BERPIKIR MENCARI NAFKAH, TETAPI YANG ADA DI BENAK HANYA PERANG, PERANG DAN PERANG. Tentang siapa dan pihak mana yang memulai konflik tersebut, sampai saat ini belum juga "terungkap", aparat terkesan begitu tak berdaya untuk menyelesaikan konflik Ambon ini. Upaya untuk mengungkap akar masalah tak kunjung berhasil. Tuding-menuding antara pihak merah (Nasrani) dan putih (Muslim) pun tak terhindarkan. Pihak merah menuduh kelompok putih sengaja mengobarkan perang dengan tujuan mengganti azas negara Pancasila dengan azas Islam. Sementara pihak putih menuduh kaum Nasrani mengusir dan membantai pedagang Muslim yang berasal dari luar Maluku untuk memudahkan tekanan mereka terhadap warga muslim asli Maluku. Targetnya, membangkitkan kembali semangat perjuangan Republik Maluku Selatan yang pernah diproklamirkan tanggap 18 Januari 1950. Artinya separatisme sangat gencar bermain dalam konflik berdarah ini. RMS BANGKIT Setiap tanggal 19 Januari sejak tahun 1982 bendera RMS dikibarkan, seperti Kec. Pulau Haruku, Kec. Saparua, Kec. Kairatu, Kec. Piru serta beberapa desa di Wilayah Pulau Ambon. Periode tahun delapan puluhan, seorang oknum pegawai negeri kantor kecamatan Pulau Haruku, Onggo Pattiwaelapia ditangkap. Lelaki asal Desa Kariu yang diketahui sebagai Sekretaris Wilayah daerah RMS ketika itu terbukti menyimpan arsip kegiatan organisasi separatis di Maluku itu. Ditahan selama hampir setahun, namun berkat jaringan RMS yang sangat kuat, PEMDA Tingkat I Maluku kemudian melepaskannya, bahkan kembali dipekerjakan sebagai pegawai negeri biasa. Upaya memperkuat perjuangan separatisme RMS juga dengan cara mempersenjatai diri. Baik dengan senjata api rakitan maupun senjata organik militer yang diduga dipasok dari luar negeri. Buktinya, sejak pecahnya kerusuhan yang telah berjalan hampir sembilan bulan banyak sekali senjata organik militer yang berhasil ditangkap. Isu anyar lainnya, sekitar operasi pemasokan senjata secara besar- besaran, (dua belas kontainer) dari Belanda, Belgia dan Israel di Desa Hutumuri 20 km selatan kota Ambon. Diperkirakan bagian terbesar dari senjata-senjata itu saat ini sedang menjalani proses modifikasi guna menghilangkan jejak penyebarannya. Adalah Dok Waiyame (Tanah Lapang Kecil), Laboratorium fakultas Teknik Universitas Pattimura serta beberapa tempat di luar Pulau Ambon diendus sebagai pusat kegiatan modifikasi persenjataan organik tersebut. Kenyataan itu diperkuat melalui aksi-aksi membumihangus kedua lokasi di atas. Nah, pada tatanan berikutnya, adalah keinginan membandingkan antara isu senjata dengan ketidakberdayaan pemerintah dalam hal ini TNI, kuat diduga peristiwa Ambon ini tidak berdiri sendiri. Lepasnya Timtim sudah bisa dipastikan akan menjadi daya dorong bagi rakyat Ambon (baca RMS) untuk memproklamirkan diri, karena bagaimana pun secara emosional antara RMS dan Timtim punya kesamaan, yakni ex negeri jajahan. Menyadari ada sesuatu yang bernuansa politis di balik peristiwa Ambon, berbagai potensi rakyat dengan poros Islam--tidak berarti semua kekuatan Kristen terlibat--selaku pengendali terdepan. Faktor terpenting adalah komitmen umat Islam yang mencapai setengah penduduk kepulauan Maluku maupun sebagian Ambon Kristen pun sebenarnya tidak menghendaki RMS kembali. RMS merupakan gerakan separatis, dan tentu saja secara hukum tidak bisa dibenarkan. SW/Tim Investigasi*LIP/SW. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 10:48:24 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
