----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

DOKUMEN, MINGGU II, Oktober 1999

PEMBANTAIAN MASSAL ITU B O H O N G

KORAN terkemuka Inggris, The Guardian, membeberkan cerita seram
mengenai pembantaian massal di Timtim--termasuk pembunuhan lebih
dari 100 pastor dan suster oleh tentara Indonesia dan para milisi-
-hanya omong kosong yang dibesar-besarkan. Sejauh ini tidak ada
bukti-bukti mengenai pembanatian di Timtim.

*Symeon Antoulas dari Komite Palang Merah Internasional (ICRC)
menyetakan tidak dapat mengkonfirmasi laporan mengenai pembunuhan
massal.

*Koran terkemuka AS The Washington Post juga mengungkapkan hal
yang sama bahwa langkanya bukti atas pembantaian massal di Timtim
oleh TNI dan milisi. Wartawan koran itu, Doug Struck, yang juga
melakukan investigasi di Timtim, melaporkan bahwa isu pembunuhan
dan pembantaian massal berskala besar oleh kelompok pro-integrasi
tidak bisa dikonfirmasi dan terlalu dibesar-besarkan. Wartawan itu
menyusuri gedung dan rumah-rumah yang terbakar yang diduga tempat
pembantaian massal, namun ia mengaku tidak menemukan apapun yang
bisa dijadikan bukti. Tidak ada tulang belulang apalagi mayat-
mayat. Manurut dia memang telah terjadi pembunuhan tetapi yang
bersifat massal tidak ditemukan. Pastor-pastor di Dili hanya bisa
membenarkan empat orang pastor tewas di Timtim, yaitu tiga di Suai
dan satu di Dili.
------------------------------------------------------------------
Kabar bohong tentang keburukan RI di Timtim memang sedang gencar
dihembuskan oleh media-media massa Australia.
------------------------------------------------------------------

* Sampai saat ini hanya 15 mayat yang ditemukan di Dili yang
berpenduduk 130.000. Komandan pasukan Inggris di Interfet, Brigjen
David Richards, yang dikonfirmasi soal pembunuhan massal
menyatakan hal yang sama.

* Seorang sukarelawan dari Australia mengklaim bahwa ia pernah
melihat mayat-mayat berserakan di Markas Polda di Dili dan darah
mengalir sampai ke dinding-dinding sel tahanan. Tetapi selama tiga
hari investigasi di Dili wartawan Maggie O'Kanne hanya menemui
sampah dari sisa-sisa makanan di Markas Polda yang baru saja
ditinggalkan Polisi RI. Tak ada tanda-tanda bekas darah atau pun
usaha untuk membersihkan sel-sel tahanan.

*Pastor Fransisco dari Keuskupan Dili mengatakan bahwa laporan
milisi pro-integrasi menembaki para pengungsi dan menewaskan
lusinan adalah tidak benar. Hanya seorang yang tewas di rumah
Uskup Belo.

*Kabar bohong tentang keburukan RI di Timtim memang sedang gencar
dihembuskan oleh media-media massa Australia. Di lapangan, para
wartawan Australia bahkan melakukan konspirasi dengan serdadu
negara itu, yang memang ditunjuk PBB sebagai Ketua Interfet.

* Dubes RI untuk Australia, Wiryono Sastrohandoyo, sebelumnya
telah mengingatkan bahwa diplomasi melalui media massa Australia
sangat berbahaya, karena akan memicu sentimen dan kebencian rakyat
Australia kepada Indonesia. Ini terbukti ketika warga Australia
ramai-ramai menyerang dan membakar Konsulat RI di Darwin dan
Perth. Belum lagi ancaman yang diterima warga RI di negara kanguru
yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Timtim.

* Mantan Menlu Australia Gareth Evans mengecam pernyataan Perdana
Menteri John Howard mengenai doktrin pertahanan, yang membuat
hubungan bilateral Australia - RI maupun dengan tetangga Asia
lainnya semakin tercabik. Howard sengaja mengedepankan isu
kemerdekaan Timtim karena menilai secara domestik lebih populer
ketimbang hubungan bilateral dengan Indonesia. Tidak adil jika
yang terjadi di Timtim sekarang ini, menjadi tanggung jawab
Indonesia secara keseluruhan. Karenanya ia mengecam tindakan
sebagianmasyarakatAustraliayangbereaksi secara
berlebihan.*FITRI

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 10:48:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke