----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Stockholm, 21 Oktober 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

UJIAN PRESIDEN GUS DUR DI HARI PERTAMA
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Masih tanggapan untuk Presiden Daulah Pancasila Gus Dur.

Dalam tulisan "PBB+Golkar dukung Habibie, Gus Dur tak mundur" yang ditulis
pada tanggal 12 Oktober 1999, dimana saya menulis:

"Memang, orang yang satu ini, yang senang orang memanggilnya dengan sebutan
Gus Dur, susah dipegang dan diterka, licinnya seperti ikan belut. Diminta
untuk jadi calon presiden, dijawab ya. Diminta untuk menyampaikan pesan
sponsor, dijawab ya. Diminta untuk jadi ketua MPR dijawab ya, walaupun untuk
kursi ini telah diduduki oleh Amien dengan restunya. Tetapi untuk diminta
mundur, apalagi diancam, jawabnya nanti dulu. Bahkan sempat keluar ucapan
tanpa lewat saringan otaknya: "Saya tidak takut pada musibah apapun, jika
kita takut akan musibah itu, sikap keras itu, artinya Indonesia lama-lama
akan terus mereka sandera pake ancam-ancaman, bukan demokrasi namanya, jadi
nggak pake ancaman, demokrasi, kalau saya jadi presiden, kalau mereka
berontak, saya tangani dengan tangan, bersiap-siap saja, nggak peduli mereka
siapapun" (Tempo Jum'at 8/10/99). (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991012.htm ).

Ternyata, saya melihat satu hari ini hampir setiap setengah jam sekali
muncul berita dengan disuguhi gambar-gambar yang menunjukkan pertarungan
antara segerombolan mereka yang masih merasa tidak puas dengan dipilihnya
Gus Dur sebagai Presiden ke-4 Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya yang
sekuler dengan pihak aparat keamanan yang dipersenjatai dengan gas air mata
dan pentungan yang terbuat dari karet yang keras. Dimana kedua belah pihak
kelihatannya begitu agresive, keduanya tidak mau mengalah.

Setiap saya mendengar dan melihat gambar yang terpampang dilayar tv,
terbayang dikepala saya, apa yang telah saya tulis pada tanggal 12 Oktober
yang lalu yaitu, seperti yang saya kutif diatas. Dimana, pikiran saya
teringat kepada ucapan yang keluar dari mulut Gus Dur yang menurut pemikiran
saya ucapan Gus Dur waktu itu tidak disaring dengan saringan otaknya yang
jernih.

Dimana Gus Dur mengatakan: "Saya tidak takut pada musibah apapun, jika kita
takut akan musibah itu, sikap keras itu, artinya Indonesia lama-lama akan
terus mereka sandera pake ancam-ancaman, bukan demokrasi namanya, jadi nggak
pake ancaman, demokrasi, kalau saya jadi presiden, kalau mereka berontak,
saya tangani dengan tangan, bersiap-siap saja, nggak peduli mereka siapapun"
(Tempo Jum'at 8/10/99).

Kemudian saya hubungkan dengan apa yang diucapkannya waktu pelantikan
menjadi Presiden Daulah Pancasila, dimana ia mengatakan: "pemerintah pada
dasarnya harus memberikan pertanggungjawaban yang jujur pada rakyat. Dan
bukannya membohongi mereka.". (
http://www.detik.com/berita/199910/19991020-2017.htm ).

Nah sekarang, yang muncul dalam kepala saya adalah, benarkah Gus Dur akan
melakukan dan melaksanakan ancamannya terhadap mereka yang dianggapnya tidak
mengikuti demokrasi (dimana sistem demokrasi barat ini begitu diangkat
tinggi-tinggi oleh Gus Dur dan dijadikan salah satu sendi kehidupan rakyat
Daulah Pancasila, seperti diucapkannya dalam pidato pertamanya setelah
disumpah sebagai Presiden Daulah Pancasila, padahal Islam tidak mengajarkan
umatnya untuk menjadi seorang demokrat, silahkan baca tulisan-tulisan saya
yang menyinggung masalah demokrasi) dengan menggunakan tangan?.

Memang, boleh kita tafsirkan arti kata Gus Dur tesebut yang berbunyi, "saya
tangani dengan tangan, bersiap-siap saja, nggak peduli mereka siapapun"
dengan dua pengertian.

Pengertian yang pertama adalah dihadapi dengan kekerasan sebagaimana yang
telah dilakukan dan terjadi ketika dibawah Regim Diktator Militer Soeharto.

Dan pengertian yang kedua adalah dengan melalui jalan musyawarah dan cara
damai.

Nah, kita lihat dan tunggu saja dalam beberapa hari ini, cara dan metode apa
yang akan dipakai oleh Presiden Gus Dur dalam menghadapi lawan-lawan
politiknya, baik lawan politik dalam lembaga legislatif, maupun lawan
politiknya di luar gedung parlemen.

Memang, menjadi seorang Presiden adalah tidak semudah dan seringan menjadi
seorang kepala keluarga. Dan Gus Dur telah mengetahuinya.

Dan nanti siang, siapa yang akan mendampingi Gus Dur? Yang terbayang dalam
pikiran saya adalah, kalau tidak Mega mungkin Akbar. Tetapi yang penting
menurut saya adalah siapapun yang akan menjadi wakil Presiden adalah harus
mempunyai visi untuk membangun persatuan berdasarkan kepada landasan untuk
beribadah, bertaqwa dan mencari ridha Allah SWT.

Inilah sedikit jawaban saya untuk Presiden Daulah Pancasila Gus Dur.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Oct 1999 jam 00:39:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke