---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk METODE PENGAKUAN UNTUK MENGUNGKAP KASUS PENEMBAKAN MAHASISWA JAKARTA, (TNI Watch!, 20/10/99). Sebagaimana sudah diduga banyak pihak, Habibie tetap belum bisa menjelaskan secara memuaskan kasus penembakan mahasiswa (Penembakan Trisaksti, Penembakan Semanggi I dan Semanggi II). Dalam rapat paripurna ke-11 MPR, dengan agenda jawaban Presiden terhadap pemandangan umum fraksi-fraksi MPR, pada bagian yang menyangkut kasus penembakan mahasiswa, tidak ada penjelasan yang lebih maju dari Habibie. Alasan-alasan yang dikemukakan Habibie, adalah alasan yang basi, sama saja dengan yang dikemukakan aparat beberapa bulan, bahkan setahun yang lalu. Mengenai penembakan "Kasus Trisakti", Habibie mengakui uji balistik belum tuntas, hingga sampai sekarang "belum dapat bukti kuat untuk menentukan siapa penembak korban". Alasan senada dikemukan Habibie, ketika menjawab tentang kasus penembakan Semanggi Melihat jawaban Habibie seperti itu, masih penuh harapkah kita pada niat pemerintah menuntaskan kasus-kasus penembakan mahasiswa selama ini? Tampaknya harapan tinggal harapan. Apa yang bisa diharapkan dari rezim "muka badak", seperti rezim Habibie. Soal penembakan warga sipil, tampaknya bukanlah beban moral yang terlalu berat bagi Habibie. Sama dengan "gurunya" Soeharto, Habibie memandang nyawa warga sipil sekadar bangunan angka. Itu terlihat ketika Habibie dengan entengnya mengatakan, korban yang tewas semasa pemerintahannya tidak sebanyak korban di masa Soeharto. Terlepas dari benar tidaknya data korban yang dikemukan Habibie pada acara "Talk Show" TVRI beberapa hari lalu, kita bisa melihat, Habibie enteng saja berkoar soal angka-angka korban. Ini merupakan indikasi, rasa kemanusiaan Habibie sangat rendah. Habibie boleh pintar dalam iptek, tapi apa artinya kalau tidak memiliki rasa kemanusiaan. Bisa-bisa bukan manfaat yang kita peroleh, tapi kengerian yang tak terperikan. Jelas lebih baik kita peroleh pimpinan yang kurang pandai (ketimbang Habibie), namun dia seorang yang humanis. Sungguh tak bisa dibayangkan, bila kita kembali memiliki pemimpin yang bukan seorang humanis. Kalau pemimpinnya saja "bermuka badak", tentu perilaku itu akan menular ke eselon di bawahnya, termasuk aparat pelaksana di lapangan. Itu terlihat dari lambatnya upaya pengungkapan kasus penembakan Yun Hap, oleh tim penyelidik resmi dari Polri. Meski telah ada temuan-temuan penting dari Tim Pencari Fakta Independen (TPFI), hal itu tidak mendorong tim dari Polri untuk bekerja lebih giat. Kalau prosedur konvensional tak mampu membongkar kasus penembakan tersebut, sebenarnya masih ada jalan terakhir, yang diharapkan mampu mengungkap siapa sebenarnya penembak-penembak mahasiswa tersebut. Cara ini merupakan bagian dari tradisi TNI, yaitu etika ksatria, yang menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Cara dimaksud adalah, pengakuan secara ksatria atas kesalahan yang dilakukan, oleh pelakunya sendiri. Kalau tidak salah, "metode pangakuan" ini diperkenalkan oleh bala tentara Jepang ketika menginvasi Indonesia dulu (1942-1945). Metode pengakuan ini erat kaitannya dengan hukuman kolektif, yang biasa berlaku di kalangan satuan prajurit. Begini penjelasannya, jika ditemukan indikasi seorang prajurit berbuat kesalahan, yang tak diketahui atasannya. Maka untuk menemukan pelakunya, satuan prajurit di mana prajurit itu tergabung (tingkat regu atau peleton), akan dipanggil komandannya (Danyon atau Danki). Di depan satuan itu, sang komandan akan bertanya secara lantang, siapa prajurit yang berbuat kesalahan. Biasanya prajurit yang berbuat kesalahan akan mengaku (sesuai dengan etika ksatria), sebab kalau tidak mengaku, seluruh anggota satuan di mana prajurit itu bergabung, akan dihukum semua. Menghindari hukuman kolektif inilah yang mendorong prajurit yang bersalah, untuk mengakui kesalahannya. Karena kalau sampai terjadi hukuman kolektif, itu merupakan beban moral yang berat bagi prajurit pelaku kesalahan. Ini akan berlanjut pada hubungan yang tidak enak dengan anggota lain di kesatuannya. Bagaimana penerapan metode pengakuan untuk kasus penembakan mahasiswa, taruhlah untuk kasus penembakan Yun Hap. Karena saksi sudah banyak, dan umumnya mereka melihat, bahwa yang menembak Yun Hap adalah tentara. Berarti penembaknya adalah salah satu anggota dari satuan tentara yang malam itu konvoi melintasi di Jl Sudirman. Kalau regunya sudah teridentifikasi, maka regu itu bisa dipanggil, dan diminta mengaku siapa anggota yang malam itu melakukan penembakan sembarangan (random shooting). Untuk sampai tingkat satuan jelas bisa diidentifikasi, karena ada koordinasi antar satuan, dan masing-masing satuan tentu dikontrol komandannya. Singkatnya, seluruh gerakan tentara adalah gerakan yang terkoordinasi. Jadi bohong kalau sampai tingkat regu atau peleton saja, tidak teridentifikasi. Beberapa waktu lalu sempat terlontar, bahwa kemungkinan penembak Yun Hap, adalah anggota satuan Kompi Penembak Mahir dari Kostrad. Kalau sampai tingkat regu atau peleton saja tidak diketahui, betapa ambur-adulnya koordinasi antar satuan pada tentara yang sedang bertugas. Kalau anggapan ini benar, ini sangat berbahaya, karena tentara bisa bertindak seenaknya, tanpa ada kendali dari komandan satuan yang lebih tinggi, dan tidak ada koordinasi dengan satuan lainnya di lapangan. Kalau memang begitu kondisinya, penembakan-penembakan mahasiswa dan warga sipil lainnya, niscaya akan terjadi lagi. Dan niscaya tak akan pernah terungkap. _______________ TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan ketentaraan para perwiranya pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Oct 1999 jam 02:51:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
