---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 22 Oktober 1999 PENYALAHGUNAAN NARKOBA Merebaknya penyalahgunaan dan perdagangan narkoba di Indonesia akhir-akhir ini, tidak terlepas dari situasi, negara dan bangsa Indonesia yang dialami dewasa ini. Carut-marut perekonomian, politik dan keamanan di Indonesia, merupakan faktor korelatif bagi merebaknya drug abuse dan drug elicit saat ini. Meningkatnya penyalahgunaan obat terlarang merupakan risuultante dari keadaan masyarakat yang mengalami distorsi sebagai akibat krisis multidimensi yang berkepanjangan. Krisis ekonomi yang parah menumbuhkan berbagai kesenjangan sosial dan membantu munculnya penyalahgunaan obat di Indonesia sekarang ini. Tatanan negara dan pemerintahan yang gonjang ganjing selalu dipergunakan atau dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan narkoba untuk meningkatkan kinerjanya guna mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Yang perlu diingat, bahwa perdagangan narkoba atau drug elicit pun selalu tunduk pada hukum pasar yakni adanya supply dan demands. Penawaran selalu berfluktunasi mengikuti gerak permintaan pasar, yang selalu meningkatkan dari waktu ke waktu, terlebih-lebih pada kondisi negara seperti saat ini. Sebagai komiditi, maka penyediaan bahan baku maupun pemasaran hasil produksinya, sangatlah tergantung pada aktifitas dari pada traffickersnya selaku pelaku utama pasar, disamping tentunya peran dari suppliernya. Kita dapat merasakan maraknya pasar gelap narkoba yang semakin besar volumenya dan keras gaungnya. Keadaan tersebut dipicu dengan semakin bervariasinya jenis barang dagangan yang ditawarkan kepada para pengguna. Banjirnya obat terlarang tersebut di pasaran gelap sekarang ini, selain diselundupkan dari luar negeri oleh para traffickersnya, juga merupakan hasil produksi dari laboratarium clandestin yang menjamuur di Indonesia akhir-akhir ini. Menjamurnya laboratorium gelap yang meracik obat terlarang merupakan fenomena baru yang baru diwaspadai dengan seksama, apakah ada tenaga dan modal asing yang terlibat di dalamnya. Kira- kira 2 tahun yang lalu, gejala ini belumlah dirasakan keberadaannya secara terang, tetapi menginjak tahun 1999 awal, mulailah dirasakan sengatannya, dan ini merupakan surprise yang mengejutkan bagi kita semua. Apa jadinya kalau sampai pil-kiplo atau nipam katakan, sangat mudah diperoleh dengan harga yang sangat murah. Alangkah terpuruknya citra bangsa ini, kalau sampai diberi predikat sebagai produsen barang haram oleh negara-negara lain. Konon kabarnya, barang terlarang tersebut produk-produksinya sudah mampu memasok ke negara-negara tetangga. Kalau fakta ini benar, kesimpulannya bahwa negara kita merupakan negara surplus, ironisnya kenapa bukan surplus beras. Akibat langsung dari kondisi seperti ini adalah meningkatnya korban obat haram tersebut sampai ke pelosok daerah. Ada buku terbitan 1984 tentang narkotika, yang hasilnya surveynya mendatakan, bahwa setiap pencandu yang dijumpai, maka disekitar korban tersebut ada 8 sampai dengan 10 korban-korban lainnya dengan klasifikasi sebagai kawan sekolah, kawan main atau gangnya. Kalau data ini benar, maka bagaimana dengan keadaan sekarang ini, berapa kira-kira prediksi anda? Saya kira kondisi ini menjadikan kita semua menekuk laher bertafakur dan bersedih. Sudah saatnya Polri dengan satuan anti narkobanya mengembangkan kemampuannya dengan bergegas-gegas untuk mengantisipasi masalahnya dengan sistim reguler dan non reguler dengan melibatkan seluruh potensi bangsa tanpa terkecuali. Satuan-satuan kepolisian anti narkotika yang bergerak dengan sangat sistimatis dengan pola operasional dinamika tinggi, hot pesuit, memiliki daya pukul tinggi didukung data saji akurat dari hasil proses komputerisasi yang canggih, akan mampu menjawab permasalahannya. Pola operasional dengan dinamika tinggi yang melibatkan seluruh kekuatan pendukungnya secara komprehensif terpadu, pernah kami saksikan dalam tayangan sebuah film dokumentasi dengan durasi 2x 75 menit. Film tersebut memberikan gambaran rinci tentang kemampuan polisi anti narkotika di Thailand dalam menekan dan mengendalikan jalur distribusi opium dari titik-titik kultivasinya ke pasar gelap dengan sangat efektif. Cara kerja polisi Thailand tersebut, mudah-mudahan bisa dipakai sebagai acuan bagi Kepolisian Republik Indonesia dalam upaya membrantas penyalahgunaan narkoba. Satuan-satuan polisi anti narkotika di Thailand sangat intens kepada tugasnyya dan memiliki kemampuan profesionalisme. Sebagai contoh kecil, namun berarti sekali bagi menilai tingkat profesionalisme seseorang petugas, yakni kemampuan menggunakan alat-alat teskit narkotika. Sri Tumulyo Jakarta Selatan ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Oct 1999 jam 11:26:32 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
