----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA
4 November 1999

Tiupan Angin Reformasi dari kalangan TNI . . . ? !

I) Belakangan ini negeri kita sering mengalami kejutan-kejutan. Dalam
suatu
gerakan yang menyangkut lapisan masyarakat yang luas, seperti gerakan
Reformasi dewasa ini, kejutan-kejutan, gebrakan-gebrakan, serta
terobosan-terobosan itu semua, adalah wajar-wajar saja. . Hal itu juga
menunjukkan  bahwa arus gerak Reformasi itu masih berlangsung terus.

Sebagai contoh, ambillah kebijaksanaan Gus Dur baru-baru ini. Dengan
alasan
bahwa beliau saat itu tidak bisa membaca teks sumpah yang meresmikan
dan
meridhoi terbentuknya   kabinet baru, maka dimintanya agar Mega,
sebagai
wakil presiden, yang membacakannya. Dengan demikian Megawati, Wakil
Presiden
RI yang adalah seorang perempuan, atas nama Presiden telah mengangkat
sumpah
dan meresmikan menteri-menteri yang terdiri dari  p r i -y a  dan
perempuan.
Bayangkan tokoh PPP seperti Hamzah Haz, dan Yusril Ihza Mahendra,
tokoh PKB,
yang belum lama begitu keras menentang seorang perempuan menjadi
pemimpin
atas laki-laki, tidak urung akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa
beliau-beliau itu diangkat sumpahnya oleh Wakil Presiden Megawati
Sukarnoputri, seorang perempuan.

Mungkin tidak banyak orang yang menganggap peristiwa ini punya arti
khusus.
Saya sendiri, menganggap bahwa tidak kebetulan  Gus Dur minta Mega
yang
mengangkat sumpah para menteri itu. Gus Dur ingin
meng-fait-accompli-kan,
membiasakan,  bahwa dalam realita kehidupan politik yang demokratis
hak dan
kewajiban warganegara adalah sama, baik laki-laki maupun perempuan.
Maka
seorang Wakil Presiden yang perempuan, punya hak untuk atas nama
kepala
negara mengangkat sumpah menteri-menteri dan kebinetnya, yang
amyoritasnya
adalah laki-laki. Kejadian ini sekaligus adalah kejutan, gebrakan dan
terobosan.

Contoh kejutan berikutnya: Sebagai presiden Gus Dur menyatakan bahwa
beliau
punya wewenang untuk membubarkan DepPen dan DepSos, karena beliau
"menang".
Ucapan itu,  lebih-lebih tindakan itu sendiri, adalah suatu  kejutan,
paling
tidak untuk mantan menteri penerangan kabinet Habibie. Bicara perkara
siapa
yang menang, memang betul Gus Durlah yang menenangkan pemilihan
presiden di
dalam sidang MPR yang lalu. Sebagai presiden beliau punya wewenang,
punya
hak prerogatif  untuk membentuk pemerintahan, membikin kementerian
baru
ataupun membubarkan kementerian yang dianggapnya tidak relevan atau
bahkan
tidak disukai masyarakat, seperti kementerian penerangan dan
kementerian
sosial yang banyak kutu KKN-nya itu.

II) . Namun, yang saya anggap "kejutan", "gebrakan" dan "terobosan"
yang
unik dan punya arti jauh adalah  gema 'suara yang lain' dari kalangan
TNI.
Apalagi suara itu datang dati jurusan TNI yang masih aktif dinas . . .
..
Suara tsb menimbulkan kejutan,  sekaligus juga terobosan. Betikan
suara
yang 'segar' senada dengan itu dari kalangan TNI, ada juga terdengar
sebelumnya, misalnya fikiran Mayjen Agus Wirahadikusumah untuk
mengamandemen
UUD 45. Tapi yang begitu vokal seperti yang dilantunkan kali ini baru
yang
sekarang inilah. Tidak kurang  17 orang perwira tinggi TNI  menyatakan
perlu-dihapuskannya Dwifungsi. Bisakah dikatakan gebrakan ini sebagai
suatu
pemula dari sikap yang tidak mau lagi dikekang oleh hierarki militer,
dalam
hal dan kasus masalah yang dinilainya  menyangkut haridepan  TNI dam
bangsa
serta megara sendiri?
Ada hal-hal benar sekali yang dikemukakan  Mayjen Agus Wirahadikusumah
<salah seorang penulis buku  yang berjudul "INDONESIA BARU DAN TA
NTANG AN
TNI'>, dan rekannya dalam diskusi peluncuran buku di Jakarta pekan
ini.
Dikatakannya bahwa Dwifungsi itu adalah "anak haram yang terlanjur
lahir"
.Agus  mengungkapkan bahwa ia telah mengajukan kepada panglima  TNI,
Laksamana Widodo, untuk segera mengadakan reformasi di kepemimpinan
TNI.
Agus mencanangkan selanjutnya bahwa dalam manejemen personil TNI sudah
lama
berlangsung proses pembusukan. Menurut Majyen Agus sejak dulu cukup
banyak
perwira TNI yang berfikiran reformis. Ia mengeritik keras suasana yang
berlangsung di kalangan perwira TNI, yaitu berlangsungnya "budaya
setoran"
dimana banyak perwira mencari "cantolan keatas", suatu logika air yang
terbalik, yang seharusnya mengalir kebawah. Dikemukakan selanjutnya
bahwa
bila perwira hendak aktif dalam politik maka ia harus berhenti jadi
tentara.
Satu hal amat positif yang dikemukakan oleh Agus ialah bahwa reformasi
di
kalangan TNI tidak bisa dibayangkan tanpa gerakan mahasiswa.

Salah seorang penulis lainnya dari INDONESIA BARU DAN TANTANGAN TNI,
Brigjen
Saurip Kadi, menegaskan bahwa jalan satu-satunya untuk mengakhiri
pembelotan
komando adalah diakhirinya Dwifungsi. Ia juga mengatakan bahwa
pendahulu-pendahulu kita tidak pernah mengajarkan untuk menembakkan
peluru
tajam terhadap rakyat kita sendiri.Ditegaskannya bahwa sekarang inilah
waktunya bagi TNI untuk mengkoreksi dirinya.

III). Dalam situasi di mana ada gerak ke arah disusutkannya peranan
tentara
dalam pemerintah, dengan diangkatnya untuk pertama kalinya seorang
sipil
sebagai menteri pertahanan,
ssuatu 'aksi bersama' seperti peluncuran buku INDONESIA BARU DAN
TANTANGAN
TNI bisa memainkan peranan untuk betul-betul terjadinya gerak yang
nyata dan
konsisten secara umum dan khususnya di kalangan TNI, untuk
dihapuskannya
"Dwifungsi".

Diharapkan Panglima TNI yang baru, Laksamana Widodo A.S. bisa
mengkhayati
motivasi baru yang ditujukan untuk mengembalikan pamor TNI sebagai
tentara
yang dilahirkan dari Revolusi Agustus 45, yang menyatu dan melindungi
rakyat, yang profesionil dan yang berada di bawah pemerintahan sipil
sebagaimana patutnya dalam masyarakat bangsa-bangsa yang
mematuhi prinsip-prinsip negara hukum yang demokratis. Diharapkan
Presiden
Gus Dur dan Wakil Presiden Megawati, dalam mengkhayati tuntutan rakyat
untuk
dihapuskannya Dwifungsi dalam praktek aktuil, tanpa ragu, tanpa
terlalu
banyak pertimbangan, mendorong lebih lanjut gerakan Reformasi yang
sudah
mulai membara di kalangan TNI.

Dengan demikian, kita bisa melihat hari-hari berikutnya dari
pemerintah Duet
Gus Dur-Megawati dengan pandangan yang lebih positif !

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Nov 1999 jam 08:41:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke