----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 11 Nopember 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

ACEH DILEMA BESAR BAGI REZIM GUS DUR-MEGA
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Jawaban untuk saudara Sagir Alva (Banda Aceh, Indonesia) dan saudari Ros
Shahrir (Jeddah, Kerajaan Saudi Arabia).

Dalam jangka waktu kurang dari satu bulan di atas singgasana Daulah
Pancasila, Rezim Gus Dur-Mega sedang menghadapi situasi sulit yang harus
menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak
menyenangkan, tidak menguntungkan dan sangat membingungkan, yaitu dilema
Aceh.

Tulisan ini merupakan satu tanggapan terhadap hasil pemikiran saudara
Sagir Alva dari Banda Aceh dan saudari Ros Shahrir dari Jeddah, Kerajaan
Saudi Arabia.

PERTANYAAN SAGIR ALVAR

Berdasarkan uraian yang anda berikan kepada saya untuk menjawab
pertanyaan saya tentang kemampuan kabinet bentukan Gus Dur, disitu anda
menjawab bahwa kebijakkan pemerintahan Gus Dur terhadap Aceh tidak akan
jauh berbeda dengan pemerintahan Habibie, namun saya melihat bahwa bahwa
Gus Dur telah mengambil langkah yang berani dalam menangani masalah Aceh
yaitu dengan kemungkinan akan dilaksanakannya referendum di Aceh.

Menurut anda apakah langkah yang diambil Gus Dur ini merupakan keharusan
yang harus segera untuk dilaksanakan dan bagaimana dengan nasib beberapa
propinsi yang lainnya yang kemungkinan akan mengikuti jejak Aceh.
Wassalam. (Sagir Alva, 10 Nopember 1999).

PIKIRAN DAN PERTANYAAN ROS SHAHRIR

Dalam kesempatan ini kami ingin menanyakan beberapa hal yang menjadi
ganjalan dalam pemikiran kami dari keterbatasan pengetahuan kami. Kami
mendapat khabar dari Al Jajeera TV International yang berbahasa arab,
tanggal 3 Nopember 1999 bahwa, Gus Dur akan membuka referendum buat
Aceh. Dan pada tanggal 9 Nopember kemarin, Gus Dur mengatakan bahwa Aceh
tak akan lepas dari NKRI (Kompas, 9 Nopember 1999).

Akhi Ahmad  pernah mengatakan bahwa Aceh akan menjadi Pusat DIR.
Pertanyaan saya  adalah,

1. Akankah rakyat Aceh memenangkan referendum nanti? (maksud saya
lepas/merdeka dari NKRI).

2. Apakah dari referendum itu hasilnya dapat dipertanggung jawabkan?
Sebab Gus Dur telah mengataka bahwa Aceh takkan lepas dari NKRI dan tahu
benar tentang rakyat Aceh. Mengingat gagasan rakyat aceh agar dibukanya
segera referendum dan sebagian dari rakyat Aceh menginginkan Aceh
merdeka, jika yang terjadi nanti adalah sebaliknya ( tetap dibawah
daulah pancasila ) bukankah ini akan timbul perang antar saudara di Aceh
dan akhi Ahmad sendiri pernah menuliskan bahwa Gus Dur licinnya bagai
belut. Dan kejadian Tim-Tim tempo hari akan terulang kembali pada
Indonesia? Kasihan saudara-saudara kita muslimin yang berada di Aceh.
Pasti akan mengalami seperti saudara-saudara muslimin kita yang berada
di Tim-Tim.

3. Jika rakyat Aceh lepas dari NKRI apakah mereka akan menerapkan
syariah Islam sesuai yang telah dicontohkan Rosulullah Muhammad saw
sebab saya pernah membaca artikel anda yang mana GAM terpecah menjadi
dua golongan, yang satu murni dan yang lainya ada hubunganya dengan CIA
ditambah lagi seingat saya Aceh adalah tempat ladang ganja. Mengapa
tidak memperkuat pondasi akhlak islam lebih dahulu kepada masyarakat
Aceh, sebelum membangun negara Islam yang mereka rencanakan sejak
beberapa tahun lamanya ? (agar kuat).

4. Atas kemenangan Aceh tsb. berarti membiarkan muslimin tercerai dari
saudara muslimin lainya ? seperti yang terjadi pada Tim-Tim kini. Lain
halnya jika Aceh menerapkan Islam dengan berpedoman kepada UUM nya
Rasulallah Muhammad.

5. Mengapa pemerintahan pusat tak memberi kekuasaan otonomi lepas dan
memberi wewenang untuk menjalankan pemerintahan mereka (Aceh) sesuai
kehendak rakyat Aceh ?(sebagai jalan penengahnya),  agar tidak
terjadinya kemungkinan diluar kehendak. Dan sudah pasti rakyat
Iindonesia tak ingin aceh lepas dari NKRI (rela tak rela tak bisa
berbuat apa).

6. Apa, kasihan wong cilik, ya?. Jika terjadi hal-hal diluar kehendak.
Bukankah yang rugi kita bangsa Indonesia, khususnya muslimin
(pertumpahan darah demi kepentingan perorangan atau golongan saja). Yang
senang pasti yang menginginkan hal ini (bangsa lain yang tak
menginginkan adanya keutuhan, khususnya buat muslimin se-Indonesia,
sedunia umumnya).

7. Dan siapa/negara mana sajakah yang membantu Aceh dalam pergerakan
mereka ? sebab setahu saya dunia barat dan Amerika  (yang ditunggangi
yahudi), juga negara-negara yang berpenduduknya mayoritas muslim dengan
pemerintahanya yang sekuler tak ingin Islam kuat dan bangun dari
tidurnya. Khususnya dari negara-negara tetangga yang berpenduduk
mayoritas muslim. Secara tidak langsung akan mengikuti langkah aceh
sebab muslimin haus dengan syariah Islam dan daulah Islam yang selalu di
rindukan itu. Dan jika benar terjadi, Aceh menjadi negara Islam secara
langsung aceh adalah pelopor bagi negara-negara muslim lainya dan saya
yakin hal ini akan terjadi, insha Allah!

Dan ini adalah satu-satunya pekerjaan yang terbaik yang pernah dilakukan
oleh Gus Dur bagi umat Islam. Diakhir kalimat ini atas segala kekhilafan
kata dan kalimat saya, mohon dimaafkan dan banyak terima kasih". (Ros
shahrir K.S.A. Jeddah, 10 Nopember 1999).

Baiklah saudara Sagir Alva dan saudari Ros Shahrir, saya insya Allah
akan berusaha memberikan jawabannya.

DILEMA BAGI GUS DUR

Memang Gus Dur telah mengambil langkah yang berani dalam menangani
masalah Aceh yaitu dengan kemungkinan akan dilaksanakannya referendum di
Aceh, tanpa mengetahui sebenarnya keinginan rakyat Aceh yang sebenarnya.

Dimana langkah referendum ini merupakan satu langkah yang sudah
dipikirkan matang oleh Gus Dur, seperti yang dikatakannya di Pnom Penh,
Kerajaan Kamboja, Senin, 8 Nopember 1999, setelah bertemu dengan Raja
Norodom Sihanouk, Pangeran Ranaridh dan PM Hun Sen, yang isinya:

"Waktu itu saya ngomong boleh referendum karena ketika itu, pertama,
Pangdam Bukit Barisan mengatakan semua penghasut rakyat itu separatis.
Kedua, Gubernur Aceh melarang orang untuk mengadakan Musyawarah besar di
kuburan, karena itu saya berpihak pada mereka, bukan pihak Gubernur atau
pihak Pangdam, (Gus Dur sebelum menjadi Presiden dan berkunjung ke Aceh
beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa, pemerintah sudah meminta kepada
panglima TNI agar mengganti Pangdam I Bukit Barisan dan sedangkan
masalah pergantian Gubernur Aceh, tergantung pada DPRD di Aceh). Tidak
pernah ada pertemuan dengan Hasan Tiro. Saya sendiri mengatakan
proreferendum. Dua juta itu belum separo, jika sudah referendum apakah
Aceh lalu lepas dari Indonesia. Saya tahu rakyat Aceh. Kalau ada
referendum di Timtim, kenapa di Aceh tidak boleh, itu namanya tidak
adil. Sekarang situasi sedang cair, belum ada yang berbuat apa-apa bagi
siapa pun. Saya tidak menyangsikan karena Aceh adalah salah satu
diantara (daerah) pendiri republik ini. Tidak akan Aceh meninggalkan
Indonesia. Mengapa tidak. Keputusan akhir bagaimana, ya namanya
keputusan harus dihormati, tetapi saya yakin tidak akan lepas. Mereka
Pemerintah Kamboja peduli sekali soal Aceh. Bagi Kamboja apakah Aceh
akan bersatu dengan Indonesia atau tidak. Mereka paling peduli agar
Indonesia bisa bersatu" (
http://www.waspada.com/110999/headline/headline.htm ).

REFERENDUM MERUPAKAN LANGKAH PENENTUAN SIKAP RAKYAT ACEH

Langkah referendum yang dikehendaki oleh rakyat Aceh adalah sebagai
salah satu jalan keluar untuk menentukan sikap apakah ingin tetap
bergabung dengan Daulah Pancasila atau memilih berdiri sendiri sebagai
suatu Daulah yang merdeka.

Nah disini, Gus Dur menurut pandangan saya adalah belum memahami benar
keinginan rakyat Aceh, dengan mengatakan bahwa, "Saya sendiri mengatakan
proreferendum. Dua juta itu belum separo (yang ikut pawai referendum),
jika sudah referendum apakah Aceh lalu lepas dari Indonesia. Saya tahu
rakyat Aceh".

Saya melihat justru, baik dari pihak ulama, pelajar, mahasiswa, rakyat
biasa, GAM/AGAM, mereka semua walaupun ada perbedaan konsepsi kenegaraan
(misalnya GAM/AGAM tidak ingin menjadikan Aceh sebagai negara Islam,
sedang dari pihak Ulama menghendaki negara yang berdasarkan dan
menerapkan syariah), tetapi sebenarnya mereka adalah satu yaitu ingin
melakukan referendum.

Apabila referendum ditetapkan, maka saya menggambarkan bahwa mayoritas
rakyat Aceh memilih keluar dari kesatuan Daulah Pancasila. Dan ini yang
menurut saya Gus Dur masih belum memahami benar keinginan rakyat Aceh.
Gus Dur masih yakin kepada orang-orang yang duduk dibelakang meja
pemerintah, yang masih dianggap loyal kepada pemerintah.

Dan saya yakin, bahwa Daulah Pancasila apabila tidak berhasil
penguasanya, yaitu Gus Dur dan kabinetnya, ditambah MPR/DPR-nya, maka
falsafah pancasila yang dijadikan alat pemersatu bangsa ternyata tidak
mampu dijadikan sebagai alat pemersatu, yang akhirnya mengalami
kehancuran total bersamaan dengan pecah-belahnya Daulah Pancasila
menjadi kepingan-kepingan kecil yang satu sama lain saling menganggap
bahwa kesukuan dan kebangsaan merupakan identitas negara.

SEDIKIT PEMBUKA JALAN UNTUK KABINET GUS DUR-MEGA

Jalan keluarnya, menurut pemikiran saya adalah Gus Dur dengan dibantu
staffnya harus mampu mengetahui dengan sebenar-benarnya apa sesungguhnya
keinginan dari rakyat Aceh, sehingga rakyat Aceh ingin memisahkan diri
dari Daulah Pancasila.

Kemungkinan saya akan memberikan sedikit pembuka jalan yaitu,

1. Rubah taktik strategi kekerasan senjata dengan taktik strategi dialog
dan perdamaian yang adil dalam menghadapi rakyat Aceh.
2. Rubah sikap kebijaksaan politik militer dengan cara menarik kekuatan
TNI yang sekarang ada di Aceh dan diserahkan serta memberikan
kepercayaan kepada pihak keamanan daerah Propinsi setempat untuk
mengatur keamanan di daerahnya.
3. Siap untuk mengusut dan mengadili mereka yang terlibat dalam berbagai
tindakan kejahatan dan pembunuhan rakyat Aceh, terutama yang dilakukan
oleh pihak militer, kemudian diberitahukan hasilnya kepada seluruh
rakyat Aceh dan rakyat Indonesia.
4. Lakukan dengan cara pendekatan melalui aqidah Islam, ukhuwah Islam,
adat kebiasaan dan budaya rakyat Aceh.
5. Siap memberikan kebebasan kepada rakyat Aceh untuk menerapkan,
melaksanakan dan mengawasi hukum Islam secara menyeluruh.
6. Siap untuk berunding dengan semua pihak dan golongan yang terlibat
dalam krisis Aceh.
7. Harus mengerti dan memahami keinginan seluruh rakyat Aceh, dimana
dari berbagai macam keinginan yang timbul harus diperhatikan keinginan
mana yang dikehendaki oleh sebagian besar rakyat Aceh.
8. Jangan sekali-kali menggunakan politik pecah belah rakyat Aceh.
9. Berikan kekuasaan otonomi yang luas kepada pemerintah istimewa
otonomi Aceh untuk mengelola, mengatur dan menetapkan anggaran biaya,
ekonomi dan keuangan daerahnya.
10. Jangan sekali-kali menjalankan politik dialog dengan tujuan untuk
menipu rakyat Aceh.

SEDIKIT KOMENTAR SAYA TERHADAP GAM

Sehubungan saudari Ros Shahrir menyinggung bahwa, "pernah membaca
artikel anda (Ahmad Sudirman) yang mana GAM terpecah menjadi dua
golongan, yang satu murni dan yang lainya ada hubunganya dengan CIA
ditambah lagi seingat saya Aceh adalah tempat ladang ganja".

Komentar saya adalah dalam tulisan "Menurut deklarasi kemerdekaan Aceh
Sumatera 4 Desember 1976 bahwa Aceh bukan menjadi daulah Islam Aceh,
melainkan menjadi daulah Aceh Sumatra", saya menyatakan bahwa,
"Sebenarnya saya tidak ada hubungan langsung dengan Gerakan Aceh
Merdeka. Pertanyaan saudara Bima sepantasnya langsung ditujukan kepada
pihak yang berwenang dari GAM. Karena itu tentang pertanyaan saudara
mengenai apakah dalam kalangan intern GAM  ada pertentangan politik dan
apakah ada hubungan dengan CIA dan USA, disini saya tidak memberikan
komentar". ( http://www.dataphone.se/~ahmad/990514a.htm ).

SELAMA TIDAK ADA NEGARA LAIN YANG TERLIBAT DALAM MASALAH ACEH, SELAMA
ITU BISA DISELESAIKAN DENGAN JALAN PERUNDINGAN

Sejauh yang saya lihat dalam krisis Aceh sekarang adalah belum adanya
keterlibatan langsung negara lain. Nah disini saya beranggapan, bahwa
apabila telah ada satu atau lebih negara lain ikut melibatkan diri
langsung dalam penyelesaian krisi Aceh, maka saat itulah akan timbul api
pergolakan yang hebat di bumi Daulah Pancasila. Sebagaimana terjadi di
Timor Timur.

Apabila ada dari pihak-pihak rakyat Aceh melibatkan PBB untuk membantu
penyelesaian krisi Aceh, maka kemungkinan besar menurut pemikiran saya,
yang akan ditangggapi oleh PBB adalah masalah-masalah pelanggaran hak
asasi manusia, seperti pembunuhan masal rakyat Aceh oleh TNI, baik
selama Rezim militer diktator Soeharto dan Rezim Habibie.

Nah, kalau pihak Gus Dur tidak jeli dalam mengamati masalah pelanggaran
hak asasi manusia, maka pelanggaran hak asasi manusia akan dijadikan
senjata tajam oleh rakyat Aceh untuk memukul pemerintah Gus Dur. Apalagi
nantinya melibatkan badan PBB dan badan Hak asasi manusia-nya.

Karena menurut pemikiran saya, lewat jalan pelanggaran hak asasi manusia
yang telah dilakukan oleh rezim Daulah Pancasila inilah yang akan
dijadikan landasan perjuangan Rakyat Aceh di dunia Internasional.

DAULAH PANCASILA TIDAK MAMPU MEMPERTAHANKAN DIRI DARI PERPECAHAN, DIR
BELUM DICOBA

Kelihatan, setelah Tim-Tim lepas, Aceh sedang mencoba, Riau sudah
bersiap, Sulawesi selatan telah mencoba, Irian Jaya telah bergerak, Bali
tidak mau ketinggalan, Maluku selatan terus makin panas, semuanya sudah
tidak peduli lagi dengan apa yang dinamakan pancasila. Pancasila
sekarang hanyalah sekedar tulisan yang masih belum terhapus dari catatan
buku-buku sejarah.

KESIMPULAN

1. Gus Dur telah mengambil langkah yang berani dalam menangani masalah
Aceh yaitu dengan kemungkinan akan dilaksanakannya referendum di Aceh,
tanpa mengetahui sebenarnya keinginan rakyat Aceh yang sebenarnya.

2. Langkah referendum yang dikehendaki oleh rakyat Aceh adalah sebagai
salah satu jalan keluar untuk menentukan sikap apakah ingin tetap
bergabung dengan Daulah Pancasila atau memilih berdiri sendiri sebagai
suatu Daulah yang merdeka.

3. Gus Dur menurut pandangan saya adalah belum memahami benar keinginan
rakyat Aceh, dengan mengatakan bahwa, "Saya sendiri mengatakan
proreferendum. Dua juta itu belum separo (yang ikut pawai referendum),
jika sudah referendum apakah Aceh lalu lepas dari Indonesia. Saya tahu
rakyat Aceh".

4. Daulah Pancasila apabila tidak berhasil penguasanya, yaitu Gus Dur
dan kabinetnya, ditambah MPR/DPR-nya, maka falsafah pancasila yang
dijadikan alat pemersatu bangsa ternyata tidak mampu dijadikan sebagai
alat pemersatu, yang akhirnya mengalami kehancuran total bersamaan
dengan pecah-belahnya Daulah Pancasila menjadi kepingan-kepingan kecil
yang satu sama lain saling menganggap bahwa kesukuan dan kebangsaan
merupakan identitas negara.

5. Jalan keluarnya, menurut pemikiran saya adalah Gus Dur dengan dibantu
staffnya harus mampu mengetahui dengan sebenar-benarnya apa sesungguhnya
keinginan dari rakyat Aceh, sehingga rakyat Aceh ingin memisahkan diri
dari Daulah Pancasila.

6. Dalam krisis Aceh sekarang adalah belum adanya keterlibatan langsung
negara lain. Nah disini saya beranggapan, bahwa apabila telah ada satu
atau lebih negara lain ikut melibatkan diri langsung dalam penyelesaian
krisi Aceh, maka saat itulah akan timbul api pergolakan yang hebat di
bumi Daulah Pancasila. Sebagaimana terjadi di Timor Timur.

7. Pelanggaran hak asasi manusia akan dijadikan senjata tajam oleh
rakyat Aceh untuk memukul pemerintah Gus Dur. Apalagi nantinya
melibatkan badan PBB dan badan Hak asasi manusia-nya.

8. setelah Tim-Tim lepas, Aceh sedang mencoba, Riau sudah bersiap,
Sulawesi selatan telah mencoba, Irian Jaya telah bergerak, Bali tidak
mau ketinggalan, Maluku selatan terus makin panas, semuanya sudah tidak
peduli lagi dengan apa yang dinamakan pancasila. Pancasila sekarang
hanyalah sekedar tulisan yang masih belum terhapus dari catatan
buku-buku sejarah.

Inilah sedikit jawaban saya untuk saudara Sagir Alva (Banda Aceh,
Indonesia) dan saudari Ros Shahrir (Jeddah, Kerajaan Saudi Arabia).

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Nov 1999 jam 11:53:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke