---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk JENDRAL SUBAGYO MENOLAK DIDUBESKAN JAKARTA (TNI Watch!, 23/11/99). Mantan KSAD Jenderal TNI Subagyo HS, sebelum diberi jabatan Presiden Gus Dur sebagai Ketua DPA, menolak tawaran sebagai Duta Besar Malaysia. Subagyo menolak jadi Dubes karena tak lancar berbahasa Inggris. Subagyo dicopot dari KSAD dan digantikan Letjen TNI Tyasno Sudarto, Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais). Tyasno adalah perwira intelijen yang sebelum ini melancarkan operasi-operasi menyerang Subagyo. Informasi yang diterima media massa tentang penangkapan Letda (Inf) Agus Isrok, anak lelaki Subagyo karena terlibat perdagangan narkotika, bersumber dari Bais. Tyasno, yang dekat dengan kubu Megawati Soekarnoputri, belakangan ini juga melancarkan perang intelijen melawan Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) yang dipimpin Letjen (Purn) ZA Maulani, yang dekat dengan Habibie. Ada dugaan kuat, misalnya beredarnya rekaman percakapan telepon antara Habibie-Ghalib adalah hasil kerja agen-agen Bais. Ini diketahui misalnya dari informasi seorang agen Bais kepada sebuah kantor tabloid di Jakarta. Demikian pula rekaman rapat yang dipimpin Baramuli dalam kasus korupsi bank Bali. Pergantian Subagyo ini sebenarnya sudah menjadi pembicaraan sejak Mei 1998, yakni ketika terjadi kerusuhan besar di Jakarta, Solo dan Medan menjelang jatuhnya Soeharto. Saat itu ia diduga keras sebagai anggota klik politik Letjen TNI (Purn) Prabowo. Namun entah mengapa jabatan KSAD tetap berada di tangannya. Goncangan kedua soal keterlibatan anak lelaki Subagyo dalam peredaran narkotika dan pelecehan seksual yang dilakukannya kepada tiga wartawati. Namun kedua kasus itu juga tak membuat Subagyo metal dari KSAD. Kendati akhirnya dicopot, Subagyo masih menempati jabatan yang tinggi sebagai ketua sebuah lembaga tinggi negara, Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Jabatan ini merupakan "hadiah" pensiun yang amat besar bagi jendral yang tidak terlalu pintar seperti Subagyo. Dengan tampilnya Subagyo di DPA, sekali lagi Pemerintahan Gus Dur memberi peluang lagi kepada TNI, setelah membuka pintu kabinet untuk sejumlah jendral yakni Jendral TNI Wiranto (Menko Polkam), Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono (Menteri Pertambangan dan Energi), Letjen TNI Agum Gumelar (Menteri Perhubungan) dan Letjen TNI (Purn) Surjadi Sudirdja (Menteri Dalam Negeri). Pos-pos "hadiah" untuk para jendral menjelang pensiun yang jadi tradisi Soeharto, tampaknya akan terus berlanjut di Pemerintahan Gus Dur. Penunjukkan Subagyo jadi Dubes Malaysia dan kemudian jadi Ketua DPA, adalah lanjutan tradisi Soeharto itu. Seharusnya, Subagyo dinilai secara obyektif, apakah ia layak jadi Dubes, yang seharusnya diisi oleh para diplomat karier, atau apakah ia layak jadi ketua DPA. Setelah ada penilaian, baru ditentukan apakah ia layak memperoleh jabatan itu atau pensiun saja. Tampaknya kekuatan tawar-menawar Subagyo cukup kuat, buktinya ia bisa memperoleh jabatan tinggi, kendati ia punya banyak cacat.*** _______________ TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Nov 1999 jam 06:03:18 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
