----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 23 Nopember 1999

Rekonsiliasi Aceh Diadakan sebelum HUT GAM

Bila Dialog Gagal, Darurat Militer

JAKARTA -- Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan Presiden
Abdurrahman Wahid telah mengambil putusan politik bagi penyelesaian soal
Aceh, dengan mengedepankan pendekatan rekonsiliasi (dalam bentuk dialog).
Jika rekonsiliasi dalam dua setengah pekan ke depan ini ternyata buntu,
darurat militer yang pernah dilontarkan akan dipertimbangkan.

"Kita mengedepankan permintaan Presiden agar pendekatan rekonsiliasi
diutamakan," jelas Juwono kepada wartawan, seusai rapat kerja dengan Komisi
I DPR-RI di Gedung DPR/MPR, Jakarta, kemarin.

Juwono mengiyakan ketika didesak apakah pertemuan akan diusahakan sebelum 4
Desember, HUT Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menurutnya, Abdurrahman sudah
menegaskan bersedia berdialog. Demikian juga dari GAM.

Keputusan itu diambil Abdurrahman setelah melakukan pertemuan beberapa kali
dengan para tokoh Aceh, baik yang berada di Jakarta maupun yang dari Aceh.
"Presiden sendiri sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan
tokoh-tokoh Aceh di Istana. Itulah yang sekarang menjadi keputusan politik
dari pemerintah yaitu mencari solusi politik rekonsiliasi," katanya.

Rekonsiliasi ini, lanjutnya, adalah dalam bentuk dialog seperti yang telah
dilakukan Presiden dengan tokoh-tokoh Aceh. Dan Abdurrahman berharap, itu
bisa dikembangkan dalam pertemuan besar. Hanya saja, Juwono tak bisa
memastikan kapan pertemuan besar itu dilakukan. "Kita menunggu sampai
Presiden kembali. Masih ada waktu," katanya.

Kendati keputusan politik saat ini adalah dengan rekonsiliasi, tak berarti
kemungkinan diberlakukannya darurat militer telah tertutup. "Ini tidak
berarti bahwa daya tangkal penggunaan dan penggelaran TNI dan Polri sama
sekali tidak digunakan, tidak mungkin," ujarnya.

Apalagi keadaan di Aceh saat ini kian memburuk. Karena itu kalaupun
mengedepankan rekonsiliasi, maka darurat militer menjadi salah satu jalan
yang dipertimbangkan. "Keadaan saat ini kian buruk, terutama bagi
pengungsi, keluarga polisi yang diancam dibunuh, dan sebagainya. Jadi
walaupun mengedepankan pendekatan rekonsiliasi, pendekatan dengan aparat
keamanan tidak bisa dihindari," jelasnya.

Juwono menjelaskan pendekatan rekonsiliasi diberi porsi 70 sampai 80
persen. "Maka kita harus memisahkan 20 persen untuk kalau perlu menguatkan
kehadiran aparat keamanan dengan mengutamakan polisi dan marinir,"
tegasnya.

Darurat militer ini dimungkinkan jika jalan utama rekonsiliasi tak
membuahkan hasil. "Karena kita mengharapkan pendekatan rekonsiliasi dan
dialog akan membuahkan hasil, sehingga tidak perlu diberlakukan darurat
militer. Manakala rekonsiliasi tidak membuahkan hasil dan keadaan semakin
memanas di lapangan, tentu harus dipertimbangkan (darurat militer),"
ungkapnya.

Sejauh mana rekonsiliasi dilakukan, Juwono menjelaskan sampai saat ini
masih ada waktu kurang lebih dua setengah minggu sebelum darurat militer
itu dijalankan. "Kalau waktu nanti memaksa kita untuk mempertimbangkan itu
dan menggelarkannya kita akan ambil keputusan," ujarnya, seraya menambahkan
keputusan itu ada di Presiden.

Mengenai opsi referendum, Juwono menegaskan referendum yang dimaksudkan
Presiden adalah menjalankan Syariat Islam di Aceh. "Sampai saat ini itulah
rumus beliau tentang referendum," tegasnya.

Juwono juga meluruskan adanya pendapat bahwa Presiden tidak peduli dengan
Aceh. Pendapat ini semakin menguat karena Presiden sendiri selalu melakukan
perjalanan ke luar negeri dan seolah melupakan masalah di dalam negeri yang
membutuhkan penanganan segera. "Presiden sangat peduli dengan Aceh.
Kepergian Presiden ke luar negeri sama sekali tidak ada kaitannya dengan
ketidakpedulian terhadap Aceh," tegasnya.

Dalam perkembangannya, situasi di Aceh belakangan makin panas. Tujuh gedung
sekolah dan lima kantor pemerintah di Kab Aceh Tengah dilaporkan dibakar
oleh kelompok tak dikenal pada Sabtu (20/11) malam hingga Ahad (21/11)
dinihari.

Gedung sekolah yang dibakar tersebut terdiri atas satu SMP dan enam gedung
SD. Sedangkan kantor pemerintah yang dibakar adalah Kantor Departemen
Perdagangan dan Perindustrian, Departemen Agama, Kantor Camat Kota
Takengon, Kantor Pembantu Bupati, Puskesmas Pante Raya, dan Kantor Bappeda.

Kapolres Aceh Tengah, Letkol Pol Drs Misik Natari, ketika dihubungi di
Takengon, Senin, membenarkan peristiwa tersebut. Kapolres menjelaskan pada
aksi pembakaran itu, kelompok tersebut pertama-tama membakar Kandep
Perindag, Kandep Agama, dan Kantor Camat Kota, pada Sabtu malam pukul 20.30
WIB waktu setempat. Meskipun lokasi kantor tersebut agak saling berjauhan,
pembakarannya dilakukan pada waktu yang bersamaan. Pada kejadian tersebut,
listrik di seluruh kota Takengon pada malam itu sedang padam lebih kurang
selama 15 menit.

Antisipasi HUT GAM

Atas dasar situasi yang kian rawan itulah, Komandan Korem Teuku Umar
Kolonel Czi Syarifudin Tippe minta pimpinan TNI untuk mendesak pemerintah
agar segera memberlakukan status darurat sipil di Aceh. "Saya telah
mengirimkan surat kepada Pangdam dan Panglima TNI untuk diteruskan ke
Presiden agar segera dilakukan status darurat sipil di Aceh. Bahkan bila
perlu Darurat Militer bila eksalasi terus meningkat," kata Tippe pada
Republika yang menghubunginya tadi malam.

Menurutnya, hampir seluruh aparat pemerintahan dan keamanan di Aceh kini
tak berfungsi lagi di provinsi itu. Dalam menangani berbagai kejahatan,
katanya, polisi setempat tidak berani lagi bergerak. Sementara pihak
militer sendiri, tambahnya, kini berada dalam situasi dilematis dan
tertekan oleh ancaman pelanggaran hak asasi manusia (HAM) bila melakukan
tindakan proaktif.

"Kami tidak tahu lagi bila dengan sedikit provokasi masyarakat Aceh mulai
menurunkan Bendera Merah Putih dan menggantinya dengan Bendera Aceh
Merdeka. Mati saja kami di sini," kata Tippe.

Selain lumpuhnya pemerintahan, gelombang eksodus dilaporkan juga terus
berlangsung. Menurut Tippe, keluarga TNI dan Polri kini bahkan mulai ikut
mengungsi karena situasi yang terus memburuk. "Setiap hari saya juga
menerima laporan dari para pengusaha yang merasa diteror dan diperas oleh
kelompok yang mengaku sebagai GAM," urainya.

Kelumpuhan yang terjadi juga diakibatkan terancamnya anak sekolah
--terutama dari keluarga TNI/Polri, dilepasnya tahanan dari LP oleh para
sipir simpatisan GAM, dan keluarnya hakim dari pengadilan-pengadilan yang
ada. "Dengan jumlah pasukan yang ada sekarang, kami tidak bisa berbuat
apa-apa," katanya.

Tippe menjelaskan sejak ditarik dari desa-desa --atas perintah Panglima
TNI-- pada 24 Agustus 1999 lalu, kini pasukan hanya ada di Markas Korem dan
Markas Kodim setempat. Dari pasukan yang ada, katanya, itu pun hanya
sekitar 70 persen yang nyata. "Kami hanya bisa mempertahankan diri bila GAM
menyerang markas kami. Selebihnya tidak," tuturnya.

Menghadapi peringatan ulang tahun GAM, 4 Desember mendatang, Tippe
menjelaskan TNI belum menerima tambahan pasukan dari mana pun. Untuk itu,
katanya, pasukan yang ada akan dikonsentrasikan untuk menjaga objek-objek
vital negara seperti Kantor Gubernur Aceh, Gedung DPRD Aceh, Markas Korem,
Markas Polda, Markas Polres, dan Markas Kodim di Aceh.

"Itu lambang-lambang negara yang harus kita pertahankan. Kami tidak tahu
bila kantor-kantor tersebut direbut massa," kata Tippe.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Nov 1999 jam 03:56:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke