---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Republika, 23 Nopember 1999 Tentang Temuan KPP HAM di Timtim JAKARTA -- Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sudrajat menyatakan, Mayjen Zacky Anwar Makarim tidak keberatan menjawab setiap pertanyaan yang akan diajukan Komnas HAM berkaitan dengan kerusuhan pasca jajak pendapat di Timtim. Hal yang sama, katanya, juga pasti akan dilakukan oleh Jenderal Wiranto, Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin dan Mayjen Adam Damiri. ''Memang harus dijelaskan kepada masyarakat apa yang sebenarnya terjadi di Timtim sehingga TNI tidak selalu menjadi bulan-bulanan politik,'' kata Sudrajat yang mengaku telah menghubungi Mayjen Zacky kepada Republika di Jakarta, Senin (22/11). Sudrajat dimintai tanggapan atas pernyataan Komisi Nasional Pencari Fakta Pelanggaran HAM (KNPP-HAM) di Timtim yang dibentuk Komnas HAM. Setelah melakukan tugasnya di Suai dan Dili, tim menyimpulkan bahwa TNI dan milisi telah terlibat dalam pelaksanaan tindakan bumi hangus dan pembantaian massal terhadap sejumlah masyarakat Timtim. Komnas HAM kemudian berencana meminta keterangan sejumlah pejabat dan mantan pejabat militer atas dugaan keterlibatan mereka dalam kerusuhan tersebut. Wiranto (mantan Panglima TNI), Sjafrie, Zacky (anggota P3TT) dan Adam (Pangdam Udayana) disebut-sebut termasuk dalam daftar pejabat yang akan dimintai keterangan. Sudrajat menyatakan, TNI sangat terbuka terhadap permintaan Komnas HAM untuk meminta keterangan berkaitan dengan kerusuhan. Dengan demikian, keterlibatan para jenderal dengan kerusuhan dapat terklarifikasi. ''TNI bersedia membuka semuanya,'' tambahnya. Tentang Wiranto yang kini menjadi salah satu menteri anggota Kabinet, Sudrajat menyatakan bila Gus Dur mengizinkan berarti Komnas HAM berhak meminta keterangan apapun. ''Satu yang harus dipahami adalah bahwa tidak ada kebijakan TNI untuk membuat kerusuhan di Timtim,'' ujarnya. Dalam pandangan Sudrajat, kerusuhan terjadi akibat ketidakpuasan kelompok pro-integrasi atas hasil jajak pendapat yang dimenangkan pro-kemerdekaan. Berbagai protes kelompok pro-integrasi juga tidak ditanggapi oleh pihak Unamet. ''Mereka ini ingin mencari keadilan dan kebenaran,'' lanjutnya. Menghadapi situasi ketidakpuasan tersebut, kata Sudrajat, TNI mengalami hambatan psikologis. Apalagi, katanya, tindakan para perusuh tersebut dinilai bukan merupakan kriminal murni. Sudrajat menyatakan menghormati temuan-temuan KNPP HAM tersebut, karena pada dasarnya TNI memang lebih suka pelanggaran di Timtim diselidiki Komisi dalam negeri daripada Komisi HAM Internasional. Dia berharap, temuan tersebut memang diperoleh dari sumber-sumber yang kredibel. Meski demikian, Sudrajat mengaku waspada dengan temuan itu. Menurutnya, masyarakat Timtim yang dijadikan sumber penelitian bersikap tendensius kepada Indonesia. ''Lebih-lebih dengan adanya rekayasa Portugal yang selalu menyudutkan bangsa Indonesia,'' katanya. Dalam pandangan Sudrajat, orang Timtim adalah orang yang sulit untuk dipercaya. Dia kemudian mencontohkan Clementino Dosreis Amaral (Sekjen Komnas HAM), Xaviere de Amaral (anggota Persatuan Persahabatan Indonesia-Portugal), Mario Veigas Carascalao (Gubernur Timtim dua periode, anggota DPA), Sisente Tilman (Bupati Okusi), dan Louis Lopez (Bupati Suai) sebagai agen-agen Portugal yang tidak bisa dipercaya. ''Mereka adalah oportunis yang kini tinggal di Portugal,'' katanya. Dengan berbagai contoh tersebut, Sudrajat menyatakan keyakinannya bahwa keterangan-keterangan orang Timtim yang dijadikan saksi oleh KPP HAM tersebut jauh dari kebenaran. ''Informasi mereka menyesatkan dan sama sekali tidak benar,'' lanjutnya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Nov 1999 jam 03:56:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
