----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Harian Serambi,  Kamis,  25  Nopember 1999
Mahasiswa Digranat dan Diberondong

* Dua Tembus Peluru
* TNI Temukan Dua Mayat

Serambi-Banda Aceh
Dua anggota SIRA (Sentral Informasi Referendum Aceh), Kamis dinihari (24/11) roboh 
bersimbah darah
setelah diberondong tembakan dan dilempari granat oleh lelaki berbaju loreng yang 
mengendarai trail
di kawasan Desa Geuceu Meunara Banda Aceh. Kedua korban yang sampai tadi malam masih 
dirawat
intensif di RSUZA Banda Aceh itu, mengalami musibah dalam tugas kemanusiaan membantu 
warga setempat
dari ancaman pemerasan dan perampokan oleh orang-orang tak dikenal.
Beberapa saat sebelum terjadi serangan terhadap mahasiswa, tak jauh dari lokasi 
insiden, para
anggota Batalyon 112/DJ menemukan dua mayat lelaki yang menurut Danrem 012/TU sebagai 
anggota GAM.
Kedua mayat lelaki itu sampai petang kemarin masih disemayamkan di Meunasah Batalyon 
112/DJ kawasan
Japakeh.
Koordinator Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA), Muhammad Nazar, kepada wartawan 
kemarin
menyatakan, kedua anggota SIRA yang jadi korban penembakan itu adalah Iswandi (20) 
mengalami luka
pada bahu kanan tembus ke belakang, dan Muksalmina (23) luka tembak pada punggung 
tembus ke paha
kiri. Sedangkan beberapa anggota lainnya mengalami luka-luka.
Menurut Muhammad Nazar, sekitar pukul 01.00 WIB, Kamis dinihari kemarin, pihaknya 
menerima pengaduan
melalui telepon dari seorang ibu di kawasan Geuceu Meunara Banda Aceh, yang meminta 
tolong agar
adik-adik dari SIRA dapat segera datang memberikan pertolongan, karena di depan 
rumahnya sudah
dikepung orang bersenjata yang mencoba memerasnya. Bahkan wanita tersebut selain 
meminta bantuan ke
SIRA juga meminta bantuan ke Karma, Taliban, dan Fokus Gampi.
"Pengaduan wanita itu kami terima sejak tiga malam terakhir. Tapi baru tadi malam kami 
turunkan
anggota ke rumah ibu tersebut, dan sebelumnya kami tidak datang karena takut dipancing 
pihak
tertentu," kata Muhammad Nazar.
Namun, Kamis dinihari itu, kata Nazar, setelah mengadakan koordinasi dengan sejumlah 
aktivis
lainnya, mereka sepakat untuk turun memberikan bantuan, dan menuju ke lokasi 
mengendarai dua mobil
berisikan sekitar 20 anggota.
Sesampai di mulut lorong, mobil diparkir di tepi jalan dan mereka jalan kaki ke rumah 
yang
menelepon. Belum sampai ke rumah yang dituju, mereka berpapasan dengan mobil Toyota 
Kijang dan
sempat dicatat nomor polisinya BL 953 KL berisikan penuh orang yang tak dikenal. 
Namun, belum sampai
ke rumah yang dituju, tiba-tiba datang dua sepeda motor trail warna hitam yang satu 
berbonceng tiga
dengan plat nomor polisinya BL 952 AH dan satu lagi tak sempat dicatat nomor plat 
polisinya.
Kedua pengendara trail itu, sempat berdialog dengan anggota SIRA di lorong tersebut. 
Setelah
dijelaskan bahwa mereka berasal dari mahasiswa yang tergabung dalam SIRA, kedua 
pengendara trail
balik ke belakang dan terus berlalu.
Ternyata beberapa anggota SIRA yang masih berada di barisan belakang, sempat melihat 
bahwa yang
mengendarai trail itu membawa senjata laras panjang. Tak ayal, mahasiswa pun sepakat 
mengejar. "Saat
itu, kami berkeyakinan bahwa pengendara trail itulah orang bersenjata yang dilaporkan 
masyarakat
melakukan pemerasan," kata Alfian yang diperkuat beberapa temannya.
Merasa dikejar, kedua pengendara trail melarikan diri ke arah sebuah rumah di tepi 
jalan raya
Lamteumen-Keutapang. Ketika anggota SIRA mendekat, saat itulah orang-orang bertrail 
tadi
memberondong tembakan dari senjata M 16 secara membabi buta. Akibatnya, rombongan SIRA 
yang tak
membawa senjata apapun terpaksa kucar kacir mencari perlindungan untuk menyelamatkan 
diri. "Mungkin
pelurunya habis, anggota yang berpakaian loreng itu kemudian melemparkan granat ke 
arah mobil kami.
Tuhan masih melindungi kami, dan granat itu jatuh di tanah sekitar 5 meter dari arah 
depan mobil,"
kata Alfian.
Setelah lemparan granat itu, lelaki berbaju loreng dan berjeket hitam itu, melarikan 
diri menaiki
trailnya yang dipacu dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Mata Ie.
Setelah suasana tenang, kata Alfian yang ikut dalam rombongan itu, para anggota SIRA 
keluar dari
persembunyian dan pada waktu itulah diketahui kedua temannya terkena tembakan, dan 
langsung
dilarikan ke RSUZA.
Menurut Alfian, sejam kemudian setelah kedua temannya diantar ke RSUZA, mereka kembali 
mendatangi
lokasi kejadian. "Setelah disisir, kami temukan enam butir kelongsong peluru M 16 
buatan Pindad, dan
satu kunci granat. Dua kelongsong peluru dan kunci granat itu telah kami pinjamkan ke 
polisi, untuk
bahan pengusutan selanjutnya," kata Alfian.
Menurut Alfian dan kawan-kawannya, mereka tidak pernah melihat adanya mayat dua lelaki 
yang
disebutkan kena tembak di kawasan Geuceu Meunara.
Atas kejadian itu, Muhammad Nazar menyatakan, apa yang kami takutkan ternyata 
terbukti. Kami memang
sengaja dipancing. Ini merupakan suatu bukti adanya keinginan supaya darurat militer 
diberlakukan di
Aceh.
"Saya minta seluruh masyarakat Aceh jangan sampai terpancing, untuk mengambil tindakan 
yang
merugikan kita semua, walaupun dua anggota SIRA telah menjadi korban penembakan," ujar 
Muhamamd
Nazar.
Bahkan Tgk Fadli, seorang pengurus Thaliban Aceh yang ikut dalam rombongan malam itu, 
kepada Serambi
tadi malam mengatakan, pada saat terjadi penghadangan ia ingin serbu langsung orang 
bersenjata yang
menggunakan kendaraan trail. Tetapi niat itu urung, sampai kemudian ia tak tahu 
apa-apa lagi
memikirkan apakah ada teman-teman mahasiswa yang tertembak setelah terdengar rentetan 
tembakan.
Nazar menyatakan, bahwa pihak GAM sendiri telah menyepakati untuk melakukan colling 
down dan terus
berupaya memperjuang kan referendum untuk Aceh secara politik baik di tingkat nasional 
maupun
internasional. "Kita mau lihat, dengan colling dow nya pihak GAM, siapa lagi yang 
bermain untuk
mengacaukan Aceh ini," kata Muhammad Nazar.
Dua mayat
Danrem 012/TU Kolonel Czi Syarifuddin Tippe, kepada wartawan kemarin di Markas 
Batalyon 112/DJ
mengatakan, bahwa Kamis dinihari di kawasan Desa Geuceu Meunara, anggota Batalyon 
112/DJ menemukan
dua mayat lelaki asal Pidie dengan luka tembak di tubuhnya. Dan, di lokasi itu juga 
ditemukan satu
mobil Toyota Kijang dengan plat nomor polisi terpasang BL 953 KL.
Kedua mayat lelaki itu, Ridwan Umar (42) warga Panteraja, Trienggadeng Pidie, dan Admi 
Anzid (33)
warga Desa Dayah Muara- Pekan Baru, Kecamatan Tiro-Pidie.
Menurut Danrem, kedatangan anggota TNI ke lokasi itu, setelah seorang anggota Batalyon 
menerima
telepon dari kemenakannya yang tinggal di kawasan tersebut. Si penelepon, kata Danrem, 
melaporkan
mendengar suara tembakan di depan rumahnya. "Beberapa malam sebelumnya, kemanakan 
anggota kita itu
juga menerima ancaman dari pihak yang mencoba memerasnya," kata Danrem.
Setelah menyisir lokasi, selain menemukan dua mayat itu, anggota Batalyon juga 
menemukan satu mobil
Toyota Kijang. Dari mobil itu, rinci Danrem, ditemukan sejumlah barang bukti berupa 
satu pistol
FN-46 dengan lima butir peluru, 15 butir peluru M-16, dua STNK mo- bil masing-masing 
BL 8034-AE atas
nama Kanwil Depag Aceh, STNK BL 475 AF atas nama PT Petrolindo Trantama, satu STNK 
sepeda motor BL
4022-AN, atas nama Asengko, dua handy talky (HT) merek Motorolla, satu hand phone 
merek Ericsson,
sebilah pedang panjang dan belati, dan dokumen lainnya.
"Kedua mayat itu adalah anggota GAM, mereka sengaja dibunuh di tempat itu oleh 
temannya sendiri,"
kata Danrem sambil menjelaskan beberapa alasan dugaannya.
Ketika ditanya tentang ditembaknya rombongan mahasiswa SIRA di lokasi yang tidak jauh 
dari temuan
mayat, Danrem menyatakan tidak tahu. "Saya tidak tahu apa kaitannya, antara penemuan 
mayat dengan
tertembaknya mahasiswa tersebut," kata Danrem.
Menurut Danrem, mayat kedua lelaki itu bersama barang bukti yang ditemukan sengaja 
dibawa ke markas
Batalyon, dan selanjutnya akan diserahkan kepada keluarganya di Pidie. "Saya sudah 
hubungi Dandim
Pidie, agar keluarga korban dihubungi untuk mengambil kedua mayat itu," kata Danrem.
Mengutuk
Pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEM) Unaya Aceh dalam siaran pers yang 
ditandatangani Sekretaris
Umum Afrizala dan disampaikan kepada Serambi kemarin, mengutuk penembakan yang 
dilakukan terhadap
mahasiswa. "Kami mendesak supaya kejadian tersebut diusut secara tuntas," kata 
Afrizala.
Kutukan terhadap penembakan mahasiswa itu, juga datang dari FP-HAM yang disampaikan 
Direktur
Executif Syaifuddin Bantasyam. Menurutnya, penembakan terhadap relawan kemanusiaan itu 
merupakan
bentuk perlawanan terbuka terhadap tugas-tugas membantu masyarakat yang tertindas.
Melihat urutan kejadiannya, kata Syaifuddin Bantasyam, kasus tersebut merupakan satu 
bentuk
provokasi terencana untuk memancing kemarahan dari relawan, aktivis mahasiswa dan 
masyarakat luas
untuk kemudian berlaku anarkis dan lantas dibasmi habis. Misalnya dengan pemberlakuan 
darurat
militer. "Ujung-ujungnya bisa mengarah ke situ," katanya.
Ia mengimbau agar relawan dan masyarakat untuk waspada terhadap pancingan-pancingan 
dari pihak
tertentu. "Kami tuntut agar pihak keamanan melakukan pengusutan resmi atas kejadian 
tersebut, dan
dapat dimulai dengan memeriksa keadaan TKP, saksi-saksi dan jenis peluru yang 
ditembakkan. Termasuk
jenis kendaraan yang digunakan pada malam itu. Jika pengusutan tidak dilakukan, maka 
rasa tak
percaya masyarakat kepada pihak keamanan semakin besar. Terlebih- lebih kejadian di 
Bakongan,"
katanya. (tim)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Nov 1999 jam 08:04:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke