----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Akbar: Jangan Soeharto, tapi Periksa Benny-Try

Kamis, 25 November 1999
Jakarta, Buana

Ketua DPR Akbar Tandjung menegaskan, Panitia Khusus (Pansus) Aceh hendaknya
lebih memfokuskan pemeriksaan pelanggaran HAM di Aceh semasa Daerah Operasi
Militer (DOM) pada aktor-aktor militer, selain Soeharto. Alasannya, selain
yang bersangkutan sudah sepuh dan kondisi kesehatannya saat ini
memprihatinkan, mantan presiden Soeharto juga secara politis sudah
mempertanggungjawabkan segala kebijakannya di MPR.

Hal itu ditegaskan Akbar yang juga Ketua Umum Golkar di Jakarta, Rabu
(24/11). "Mengenai pemanggilan mantan presiden Soeharto untuk didengar
keterangannya berkaitan dengan pemberlakuan DOM di Aceh, saya pikir itu
tidak manusiawi dan tidak perlu. Sebab, kondisi Pak Harto sekarang ini tidak
memungkinkan lagi untuk diajak berkomunikasi," kata Akbar.

Hal semacam ini, menurut Akbar, perlu dijadikan pertimbangan oleh Pansus.
Meski begitu, Akbar mengakui, sangatlah wajar kalau ada pihak yang
menganggap Soeharto sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas
penderitaan rakyat Aceh saat ini. Sebab, yang bersangkutan adalah presiden
saat DOM diberlakukan. Hanya saja, kata Akbar lagi, mengingat kondisi
kesehatan Soeharto yang kian memburuk, ini menjadi pertimbangan DPR untuk
memintai keterangannya.

Akbar menambahkan, secara politis, sebenarnya Soeharto telah
mempertanggungjawabkan segala kebijakannya selama menjadi presiden yang
telah diterima MPR. Namun, masih kata Akbar, kalau ada yang dianggap
melanggar hukum, termasuk soal Aceh, mesti diselesaikan secara hukum. Akbar
sendiri lebih setuju, kalau DPR lebih memfokuskan diri pada pemanggilan para
mantan bawahan Soeharto. Misalnya Jenderal (Purn) Benny Moerdani, Jenderal
(Purn) Try Soetrisno, dan Jenderal TNI Wiranto.

Ultimatum UI

Pada kesempatan terpisah, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas
Indonesia (UI) mengultimatum pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Megawati
untuk mundur, apabila keduanya selama tiga bulan ke depan tidak mampu
menyelesaikan Aceh. BEM UI sendiri melihat, sampai sejauh ini, pemerintah
belum menampakkan keseriusan menangani masalah Aceh. Malah, terkesan
meremehkan.

"Ada arogansi kekuasaan dari Presiden yang dengan lancangnya tetap ke luar
negeri, meski ada pendapat-pendapat yang menyarankan agar dia menunda
kunjungannya itu," tegas Aswin, Ketua Senat Fakultas Teknik UI, saat mereka
bertemu dengan Pansus Aceh DPR di Jakarta, kemarin. Dalam pernyataan
sikapnya, BEM-UI menyatakan, presiden menomorduakan masalah Aceh dengan
lawatan-lawatannya ke luar negeri.

"Gus Dur asyik ke luar negeri. Malahan, dia menawarkan diri untuk ikut
membantu menyelesaikan masalah Muslim Moro. Ini kan terkesan mengecilkan
kasus yang ada di dalam negeri. Khususnya, Aceh. Wapresnya sendiri terkesan
terjebak dalam diam yang berkepanjangan," kata Bachtiar Firdaus, Presiden
BEM UI.

Saat itu, Sekjen BEM UI Arie Wibowo mendesak agar DPR segera mengingatkan
pemerintah. "Gus Dur bukan menara gading yang tidak bisa disentuh. Mega juga
bukan seorang putri," tegasnya.

BEM UI juga menuntut agar para aktor intelektual yang diduga terlibat dalam
kasus penindasan di Aceh, seperti Soeharto, LB Moerdani, Try Sutrisno, Edi
Sudrajat dan mantan Gubernur Aceh Ibrahim Hassan segera diadili. Mereka lalu
mempertanyakan kinerja Pansus DPR yang terkesan hanya melakukan klarifikasi
saja dalam pemanggilan tokoh-tokoh tersebut.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Nov 1999 jam 09:35:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke