----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 25 Nopember 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

DEKATI RAKYAT ACEH DENGAN UKHUWAH ISLAMIAH
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Tanggapan untuk Pres Gus Dur dan Rakyat Aceh.

SEBAGIAN PENDUDUK ACEH LARI DAN MENGUNGSI KELUAR ACEH

Rakyat pada lari dan mengungsi keluar dari Aceh. Pres Gus Dur sibuk
dengan diplomasi luar negerinya. Setelah berhasil menginjakkan kakinya
di negara-negara Asia, Amerika dan sekarang sedang melangkah di Timur
Tengah, sedangkan suasana dalam negeri seperti suasana di Aceh makin
rawan.

Rakyat yang sudah berdomisili di Aceh, yang sebenarnya pendatang dari
luar yang dahulunya datang ke Aceh karena mengikuti aturan dan
kebijaksanaan Penguasa Diktator militer Soeharto mengenai pemindahan dan
pemerataan penduduk di seluruh wilayah Daulah Pancasila. Ternyata tidak
selang tahun, hasilnya seperti yang kita saksikan dengan mata kepala
sendiri sekarang. Bagaimana pendatang luar yang telah lama berdomisili
di Aceh keluar dengan air muka yang penuh kesedihan, kemarahan dan
ketidak berdayaan menghadapi situasi yang sedang mencekam daerah Aceh
sekarang. Seperti yang digambarkan, "hingga tadi malam, Senin, 22
Nopember 1999, sudah hampir mendekati 16.000 Pengungsi dari Aceh yang
masuk ke Kabupaten Langkat (perbatasan Sumatera Utara dengan Aceh Timur)
atau (sekitar 93 km arah Barat dari Medan)" (
http://www.berpolitik.com/articles/99/11/22/2228241.shtml ).

REFERENDUM UNTUK PENERAPAN SYARIAH ISLAM, BUKAN UNTUK MEMISAHKAN DIRI

Ternyata akibat dari pada lari dan mengungsinya sebagian penduduk dari
wilayah Aceh mendorong "Minister of Defense Juwono Sudarsono said on
Monday (23 Nov 1999): " The government has agreed to hold a referendum
in Aceh, but it is limited to a vote on whether to adopt Islamic Law in
the province. The option for a separate state is not on the cards. Last
I heard from Pak President, and something which has not yet been
announced by the coordinating minister for political and security
affairs, is that the only referendum he (the President) wants is whether
or not to enact Islamic law in Aceh" (
http://www.thejakartapost.com:8890/iscp_render?menu_name=hitlist_details&id=639970
).

SIKAP SEBAGIAN RAKYAT ASLI ACEH TENTANG PENGUNGSIAN DAN LARINYA SEBAGIAN
PENDUDUK ACEH

Sedangkan sikap dari sebagian penduduk asli Aceh adalah seperti yang
dikatakan oleh Panglima wilayah Meureuhom Daya Abu Arafah yang
didampingi Biro Penerangan wilayah itu Abu Tausi: "Duek Pakat Rayeuk
Nanggrou (semacam mubes) GAM tingkat wilayah Meureuhom Daya, Aceh Barat
yang berakhir Kamis, 18 Nopember 1999 petang, (telah) melahirkan
kesepakatan yaitu, tetap ingin duduk bersanding dengan etnis lain yang
ada di wilayahnya. Adanya pelarian dan pengungsian warga non Aceh dari
wilayahnya hanya karena merasa takut sendiri setelah melihat semaraknya
pawai referendum. GAM tak pernah mengusir dan menakut-nakutinya. Baik
sekarang maupun setelah merdeka, GAM tak ingin hidup sendiri sesama suku
Aceh saja, akan tetapi juga ingin hidup bersama dengan suku lain yang
lebih heterogen di bumi Aceh. Karena itu mereka tak perlu takut dan
lari, Aceh tak sepicik itu". ( Waspada, LAMNOW, Senin, 22 Nopember
1999).

PEMBAKARAN SEKOLAH SUATU USAHA PEMBODOHAN UMAT

Terlepas dari siapa pelaku pembakaran sekolah, tetapi yang jelas menurut
saya perbuatan itu adalah suatu perbuatan pembodohan dan penghancuran
tempat dasar pendidikan generasi baru kaum muslimin yang tinggal di
Aceh. Yang rugi adalah kaum muslimin semuanya yang tinggal di Aceh
khususnya dan yang tinggal di luar Aceh pada umumnya.

Kepala Tata Usaha Dinas P dan K Aceh Drs. Anas M. Adam M.Pd yang
dihubungi di Banda Aceh, Senin, mengatakan: "Sedikitnya 105 unit SD
(Sekolah Dasar) di Provinsi DI Aceh dibakar orang tak dikenal dalam enam
bulan terakhir, termasuk empat unit SD yang dibakar di Kabupaten Aceh
Tengah Sabtu (20/11). Petugas masih berada di lapangan untuk mendata
kerugian berdasarkan jumlah ruang belajar dan mungkin rumah dinas
penjaga sekolah atau rumah kelapa sekolah. Kami baru saja mendapat
informasi tentang empat unit SD yang dibakar itu, namun belum ada
rinciannya. Mereka masih berada di lokasi kejadian. Sejak Juni hingga
November 1999 sudah 105 unit SD yang dibakar. Dinas P dan K Aceh saat
ini telah mendata 101 SD yang dibakar sejak Juni-September 1999 dengan
jumlah kerugian sebesar Rp20,121 miliar. Sebagian di antaranya telah
mendapat bantuan dana untuk pembangunan atau merehab kembali gedung
tersebut. Pihaknya tetap mendorong masyarakat untuk mengadakan kegiatan
belajar-mengajar agar murid-murid dapat memperoleh ilmu pengetahuan
meskipun harus dilakukan pada tempat-tempat yang memungkinkan.  Dinas P
dan K beberapa waktu lalu juga telah membantu sarana belajar seperti
buku tulis, tas belajar, pakaian seragam dan alat tulis lainnya sebagai
upaya mengantisipasi kegiatan belajar murid SD yang gedung sekolah
dibakar orang tak dikenal tersebut". ( Republika, 105 Unit SD di Aceh
Dibakar OrangTak Dikenal Banda Aceh, Antara, Senin, 22 November 1999 ).

DEKATI RAKYAT ACEH DENGAN UKHUWAH ISLAMIAH

Salah satu usaha dari Pemerintah Gus Dur dalam mengatasi krisis Aceh ini
adalah dengan melalui pendekatan ukhuwah Islamiah, yaitu suatu
pendekatan melalui persaudaraan di dalam Islam. Rakyat Aceh yang
mayoritas muslim harus didekati dengan cara Islam, melihat
adat-kebiasaan yang dipakai di Aceh, budaya yang berlaku di Aceh.
Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh salah seorang warga asli Aceh
Teuku Zilmahram dalam suratnya kepada saya tanggal 5 Nopember 1999 yang
lalu:

"Sesungguhnya Aceh tidak bisa dihadapi dengan kekerasan. Perlu diketahui
pula perjuangan rakyat Aceh memiliki ciri khas tersendiri. Orang Aceh
sangat mandiri sehingga apabila pimpinannya tewas atau takluk tidak
serta merta pengikutnya ikut takluk pula, hal inilah yang membuat
Belanda pusing tujuh keliling. Mendekati rakyat Aceh tidak cukup dengan
menaklukan pimpinannya saja tetapi yang perlu dilakukan adalah dengan
merebut hati rakyat Aceh. Pendekatan religi, psikologi dan budaya
merupakan kunci menyelesaikan masalah Aceh. Kita tidak bisa datang ke
Aceh dengan kepala tegak dan membusungkan dada apalagi dengan membawa
senjata". (Teuku Zilmahram, 5 Nopember
1999).

Inilah sedikit tanggapan untuk Pres Gus Dur dan Rakyat Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Nov 1999 jam 11:40:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke