----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 28 Nopember 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

KESULTANAN ACEH, RI, NII-ACEH DAN NLFAS
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Tanggapan untuk rakyat Aceh dan rakyat Daulah Pancasila.

SEBELUM DINASTI USMANIYAH DI TURKI BERDIRI, KERAJAAN ISLAM
SAMUDERA-PASAI DI ACEH TELAH BERDIRI

Sebelum Dinasti Usmaniyah di Turki berdiri pada tahun 699 H-1341 H atau
bersamaan dengan tahun 1385 M-1923 M, ternyata nun jauh di belahan dunia
sebelah timur, di dunia bagian Asia, telah muncul Kerajaan Islam
Samudera-Pasai yang berada di wilayah Aceh yang didirikan oleh Mara Silu
yang segera berganti nama setelah masuk Islam dengan nama Malik ul Saleh
yang meninggal pada tahun 1297. Dimana penggantinya tidak jelas, namun
pada tahun 1345 Samudera-Pasai diperintah oleh Malik ul Zahir, cucu
Malik ul Saleh.

KETIKA SRIWIJAYA-PALEMBANG-BUDDHA LEMAH, MUNCUL
SAMUDERA-PASAI-ACEH-ISLAM

Kedaulatan kerajaan Sriwijaya (684 M- 1377 M) dibawah dinasti Syailendra
dengan rajanya yang pertama Balaputera Dewa, yang berpusat di Palembang
Sumatera Selatan makin kuat dan daerahnya makin luas, setelah daerah dan
kerajaan Melayu, Tulang Bawang, Pulau Bangka, Jambi, Genting Kra dan
daerah Jawa Barat didudukinya

Ketika Sriwijaya sedang mencapai puncak kekuatannya, ternyata mengundang
raja Rajendrachola dari Cholamandala di India selatan tidak bisa menahan
nafsu serakahnya, maka pada tahun 1023 lahirlah serangan dari raja India
selatan ini kepada Sriwijaya. Ternyata dinasti Syailendra ini tidak
mampu menahan serangan tentara Hindu India selatan ini, raja Sriwijaya
ditawannya dan tentara Chola dari India selatan ini kembali ke
negerinya. Walaupun Sriwijaya bisa dilumpuhkan, tetapi tetap kerajaan
Buddha ini hidup sampai pada tahun 1377.

Disaat-saat Sriwijaya ini lemah, muncullah kerajaan Islam Samudera-Pasai
di Aceh dengan rajanya Malik ul Saleh dan diteruskan oleh cucunya Malik
ul Zahir.

POLITIK SAMUDERA-PASAI-ISLAM BERTENTANGAN DENGAN POLITIK GAJAH
MADA-MAJAPAHIT-SYIWA-PALAPA

Gajah Mada yang diangkat sebagai patih di  Kahuripan (1319-1321) oleh
raja Jayanegara dari Majapahit. Dan pada tahun 1331, naik pangkat Gajah
Mada menjadi Mahapatih Majapahit yang diangkat oleh raja Tribuana
Tunggadewi.

Ketika pelantikan Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit inilah keluar
ucapannya yang disebut dengan sumpah palapa yang berisikan "dia tidak
akan menikmati palapa sebelum seluruh Nusantara berada dibawah kekuasaan
kerajaan Majapahit".

Ternyata dengan dasar sumpah palapanya inilah Gajah Mada merasa tidak
senang ketika mendengar dan melihat bahwa Samudera-Pasai-Islam di Aceh
makin berkembang dan maju.

Pada tahun 1350 Majapahit menggempur Samudera-Pasai dan mendudukinya. 27
tahun kemudian pada tahun 1377 giliran Sriwijaya digempurnya, sehingga
habislah riwayat Sriwijaya sebagai negara buddha yang berpusat di
Palembang ini.

GILIRAN MAJAPAHIT-HINDU DIGEMPUR DEMAK-ISLAM

Ketika raja Hayam Wuruk dari Majapahit meninggal tahun 1389, digantikan
oleh putrinya Kusumawardani dan suaminya. Ternyata pada masa ini timbul
perang saudara antara Kusumawardani dengan Wirabhumi (putra Hayam Wuruk
dari selirnya). Dalam perang saudara yang dikenal dengan nama Paregreg
(1401-1406) Wirabhumi bisa dikalahkan.

Akibat dari perang saudara ini Majapahit menjadi lemah dan mundur dan
titik lemahnya adalah ketika Girindrawardana memegang tapuk pimpinan
Majapahit dan pada tahun 1525 digempur oleh Kerajaan Islam Demak yang
dibangun oleh Raden Patah yang tertarik dan belajar Islam di Sunan
Ngampel, yang juga sebenarnya Raden Patah ini masih keturunan raja
Majapahit yaitu Brawijaya.

ACEH LAWAN PORTUGIS

Ketika kerajaan Islam Samudera-Pasai lemah setelah mendapat pukulan
Majapahit dibawah Gajah Mada-nya, maka Kerajaan Islam Malaka yang muncul
dibawah Paramisora (Paramesywara) yang berganti nama setelah masuk Islam
dengan panggilan Iskandar Syah. Kerajaan Islam Malaka ini maju pesat
sampai pada tahun 1511 ketika Portugis dibawah pimpinan Albuquerque
dengan armadanya menaklukan Malaka.

Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, kembali Aceh bangkit dibawah
pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528). Yang diteruskan oleh
Sultan Salahuddin (1528-1537). Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar
(1537-1568). Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573). Sultan Seri Alam (1576.
Sultan Muda (1604-1607). Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam
(1607-1636). Semua serangan yang dilancarkan pihak Portugis dapat
ditangkisnya oleh Sultan-sultan Aceh ini.

Selama periode akhir abad 17 sampai awal abad 19 keadaan Aceh tenang.

SEBAB TIMBUL PERANG ACEH LAWAN BELANDA

Tahun 1873 pecah perang Aceh melawan Belanda. Perang Aceh disebabkan
karena,
1. Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari perjanjian Siak 1858.
Dimana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan dan
Serdang kepada Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar
Muda ada dibawah kekuasaan Aceh.

2. Belanda melanggar Siak, maka berakhirlah perjanjian London (1824).
Dimana isi perjanjian London adalah Belanda dan Inggris membuat
ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara
yaitu dengan garis lintang Sinagpura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.

3. Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal
Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan Aceh. Perbuatan Aceh ini
disetujui Inggris, karena memang Belanda bersalah.

4. Di bukanya terusan Suez oleh Ferdinand de Lessep. Menyebabkan
perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalulintas perdagangan.

5. Dibuatnya Perjanjian Sumatera 1871 antara Inggris dan Belanda, yang
isinya, Inggris memberika keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil
tindakan di Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat
Sumatera. Belanda mengizinkan Inggris bebas berdagang di Siak dan
menyerahkan daerahnya di Guinea Barat kepada Inggris.

6. Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik
dengan Konsul Amerika, Italia, Turki di Singapura. Dan mengirimkan
utusan ke Turki 1871.

7. Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia dan
Turki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk
menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Nieuwenhuyzen dengan 2 kapal
perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah
tengtang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan
Machmud menolak untuk memberikan keterangan.

PERANG ACEH DARI TAHUN 1873 SAMPAI TAHUN 1904

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Perang
pertama yang dipimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah
melawan Belanda yang dipimpin Kohler. Kohler dengan 3000 serdadunya
dapat dipatahkan, dimana Kohler sendiri tewas pada tanggal 10 April
1873.

Perang kedua, dibawah Jenderal Van Swieten berhasil menduduki Keraton
Sultan dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda.

Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku
Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri.

Perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi'sabilillah.
Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904.

Dalam perang gerilya ini Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan
terus tanpa pantang mundur. Tetapi pada tahun 1899 ketika terjadi
serangan mendadak dari pihak Van Der Dussen di Meulaboh Teuku Umar
gugur. Tetapi Cut Nya' Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi
komandan perang gerilya.

SIASAT SNOUCK HURGRONYE

Untuk mengalahkan pertahanan dan perlawan Aceh, Belanda memakai tenaga
akhli Dr Snouck Hurgronye yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh
untuk meneliti kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Hasil kerjanya
itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh ( De Acehers). Dalam buku itu
disebutkan rahasia bagaimana untuk menaklukkan Aceh.

Dimana isi nasehat Snouck Hurgronye kepada Gubernur Militer Belanda yang
bertugas di Aceh adalah, Supaya golongan Keumala (yaitu Sultan yang
berkedudukan di Keumala) dengan pengikutnya dikesampingkan. Menyerang
terus dan menghantam terus kaum ulama. Jangan mau berunding dengan
pimpinan-pimpinan gerilya. Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya.
Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan
langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan
sosial rakyat Aceh.

Ternyata siasat Dr Snouck Hurgronye diterima oleh Van Heutz yang menjadi
Gubernur militer dan sipil di Aceh (1898-1904). Kemudian Dr Snouck
Hurgronye diangkat sebagai penasehatnya.

TAKTIK PERANG GERILYA ACEH DITIRU VAN HEUTZ

Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz, dimana dibentuk
pasukan marsuse yang dipimpin oleh Christoffel dengan pasukan Colone
Macannya yang telah mampu dan menguasai pegunungan-pegunungan,
hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan mengejar
gerilyawan-gerilyawan Aceh.

Taktik berikutnya yang dilakukan Belanda adalah dengan cara penculikan
anggota keluarga Gerilyawan Aceh. Misalnya Christoffel menculik
permaisuri Sultan dan Tengku Putroe (1902). Van Der Maaten menawan
putera Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan menyerah pada tanggal 5
Januari 1902 ke Sigli dan berdamai. Van Der Maaten  dengan diam-diam
menyergap Tangse kembali, Panglima Polem dapat meloloskan diri, tetapi
sebagai gantinya ditangkap putera Panglima Polem, Cut Po Radeu saudara
perempuannya dan beberapa keluarga terdekatnya. Akibatnya Panglima Polem
meletakkan senjata dan menyerah ke Lo' Seumawe (1903). Akibat Panglima
Polem menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yang menyerah mengikuti
jejak Panglima Polem.

Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang
dilakukan dibawah pimpinan Van Daalen yang menggantikan Van Heutz.
Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) dimana 2922 orang
dibunuhnya, yang terdiri dari 1773 laki-laki dan 1149 perempuan.

Taktik terakhir menangkap Cut Nya' Dien istri Teuku Umar yang masih
melakukan perlawanan secara gerilya, dimana akhirnya Cut Nya' Dien dapat
ditangkap dan diasingkan ke Cianjur.

SURAT PERJANJIAN PENDEK TANDA MENYERAH CIPTAAN VAN HEUTZ

Van Heutz telah menciptakan surat pendek penyerahan yang harus
ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan
menyerah. Dimana isi dari surat pendek penyerahan diri itu berisikan,
Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia
Belanda. Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan
di luar negeri. Berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yang
ditetapkan Belanda. (RH Saragih, J Sirait, M Simamora, Sejarah Nasional,
1987)

ACEH TIDAK TERMASUK ANGGOTA NEGARA-NEGARA BAGIAN RIS

41 tahun kemudian semenjak selesainya perang Aceh, Indonesia
diproklamasikan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Ternyata
perjuangan untuk bebas dari cengkraman Belanda belum selesai, sebelum
Van Mook menciptakan negara-negara bonekanya yang tergabung dalam RIS
(Republik Indonesia Serikat).

Dimana ternyata Aceh tidak termasuk negara bagian dari federal  hasil
ciptaan Van Mook yang meliputi seluruh Indonesia yaitu yang terdiri
dari,
1. Negara RI, yang meliputi daerah status quo berdasarkan perjanjian
Renville.
2. Negara Indonesia Timur.
3. Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta
4. Negara Jawa Timur
5. Negara Madura
6. Negara Sumatra Timur, termasuk daerah status quo Asahan Selatan dan
Labuhan Batu
7. Negara Sumatra Selatan
8. Satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri, seperti Jawa Tengah,
Bangka-Belitung, Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Dayak Besar,
Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur.
9. Daerah.daerah Indonesia selebihnya yang bukan daerah-daerah bagian.

Yang terpilih menjadi Presiden RIS adalah Soekarno dalam sidang Dewan
Pemilihan Presiden RIS pada tanggal 15-16 Desember 1949. Pada tanggal 17
Desember 1949 Presiden Soekarno dilantik menjadi Presiden RIS. Sedang
untuk jabatan Perdana Menteri diangkat Mohammad Hatta. Kabinet dan
Perdana Menteri RIS dilantik pada
tanggal 20 Desember 1949.

PENGAKUAN BELANDA KEPADA KEDAULATAN RIS TANPA ACEH

Belanda dibawah Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Drees, Menteri
Seberang Lautnan Mr AMJA Sassen dan ketua Delegasi RIS Moh Hatta
membubuhkan tandatangannya pada naskah pengakuan kedaulatan RIS oleh
Belanda dalam upacara pengakuan kedaulatan RIS pada tanggal 27 Desember
1949. Pada tanggal yang sama, di Yogyakarta dilakukan penyerahan
kedaulatan RI kepada RIS. Sedangkan di Jakarta pada hari yang sama, Sri
Sultan Hamengkubuwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota AHJ Lovink dalam suatu
upacara bersama-sama membubuhkan tandangannya pada naskah penyerahan
kedaulatan. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara
RI, 1986)

KEMBALI KE NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Tanggal 8 Maret 1950 Pemerintah RIS dengan persetujuan Parlemen (DPR)
dan Senat RIS mengeluarkan Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950
tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS. Berdasarkan
Undang-Undang Darurat itu, beberapa negara bagian menggabungkan ke RI,
sehingga pada tanggal 5 April 1950 yang tinggal hanya tiga negara bagian
yaitu, RI, NST (Negara Sumatera Timur), dan NIT (Negara Indonesia
Timur).

Pada tanggal 14 Agustus 1950 Parlemen dan Senat RIS mengesahkan
Rancangan Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik
Indonesia hasil panitia bersama.

Pada rapat gabungan Parlemen dan Senat RIS pada tanggal 15 Agustus 1950,
Presiden RIS Soekarno membacakan piagam terbentuknya Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Pada hari itu juga Presiden Soekarno kembali ke
Yogya untuk menerima kembali jabatan Presiden RI dari Pemangku Sementara
Jabatan Presiden RI Mr. Asaat. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964,
Sekretariat Negara RI, 1986)

MAKLUMAT NII ACEH OLEH DAUD BEUREUEH

3 tahun setelah RIS bubar dan kembali menjadi RI, Daud Beureueh di Aceh
memaklumatkan Negara Islam Indonesia di bawah Imam SM Kartosoewirjo pada
tanggal 20 September 1953.

Isi Maklumat NII di Aceh adalah,

Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah
sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah
sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam.

Dari itu dipermaklumkan kepada seluruh Rakjat, bangsa asing, pemeluk
bermatjam2 Agama, pegawai negeri, saudagar dan sebagainja.

1. Djangan menghalang2i gerakan Tentara Islam Indonesia, tetapi
hendaklah memberi bantuan dan bekerdja sama untuk menegakkan keamanan
dan kesedjahteraan Negara.

2. Pegawai2 Negeri hendaklah bekerdja terus seperti biasa, bekerdjalah
dengan sungguh2 supaja roda pemerintahan terus berdjalan lantjar.

3. Para saudagar haruslah membuka toko, laksanakanlah pekerdjaan itu
seperti biasa, Pemerintah Islam mendjamin keamanan tuan2.

4. Rakjat seluruhnja djangan mengadakan Sabotage, merusakkan harta
vitaal, mentjulik, merampok, menjiarkan kabar bohong, inviltratie
propakasi dan sebagainja jang dapat mengganggu keselamatan Negara.

Siapa sadja jang melakukan kedjahatan2 tsb akan dihukum dengan hukuman
Militer.

5. Kepada tuan2 bangsa Asing hendaklah tenang dan tentram, laksanakanlah
kewadjiban tuan2 seperti biasa keamanan dan keselamatan tuan2 didjamin.

6. Kepada tuan2 yang beragama selain Islam djangan ragu2 dan sjak
wasangka, jakinlah bahwa Pemerintah N.I.I. mendjamin keselamatan tuan2
dan agama jang tuan peluk, karena Islam memerintahkan untuk melindungi
tiap2 Umat dan agamanja seperti melindungi Umat dan Islam sendiri.
Achirnja kami serukan kepada seluruh lapisan masjarakat agar tenteram
dan tenang serta laksanakanlah kewadjiban masing2 seperti biasa.

Negara Islam Indonesia
Gubernur Sipil/Militer Atjeh dan Daerah sekitarnja.

MUHARRAM 1373
Atjeh Darussalam
September 1953

DESEMBER 1962  DAUD BEUREUEH MENYERAH KEPADA PENGUASA DAULAH PANCASILA

Bulan Desember 1962, 7 bulan setelah Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo
Imam NII tertangkap (4 Juni 1962) di atas Gunung Geber di daerah
Majalaya oleh kesatuan-kesatuan Siliwangi dalam rangka Operasi
Bratayudha, Daud Beureueh di Aceh menyerah kepada Penguasa Daulah
Pancasila setelah dilakukan "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" atas
prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin. (30 Tahun
Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986)

HASAN DI TIRO MENDEKLARASIKAN NEGARA ACEH SUMATERA 4 DESEMBER 1976

14 tahun kemudian setelah Daud Beureue menyerah kepada Penguasa Daulah
Pancasila, Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976
mendeklarasikan kemerdekaan Aceh Sumatra. Dimana bunyi deklarasi
kemerdekaan Negara Aceh Sumatra yang saya kutif dari buku "The Price of
Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro" (National
Liberation Front of Acheh Sumatra,1984)  yang menyangkut " Declaration
of Independence of Acheh Sumatra" (hal: 15-17) adalah,

"To the people of the world: We, the people of Acheh, Sumatra,
exercising our right of self-determination, and protecting our historic
right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves
free and independent from all political control of the foreign regime of
Jakarta and the alien people of the island of Java....In the name of
sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro.
Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State
Acheh, Sumatra, December 4, 1976". ("Kepada rakyat di seluruh dunia:
Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri,
dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini
mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik
pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat
Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua
National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4
Desember 1976") (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku
Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984, hal :
15, 17).

Inilah sedikit tanggapan untuk rakyat Aceh dan rakyat Daulah Pancasila.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Nov 1999 jam 22:43:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke